
Untuk kesekian kalinya, Arini menolak mengikutinya. Paksaan Aleta yang sempat terjadi di rumah sakit, membuat Arini sempat hilang kendali dan hampir saja melompat dari mobil. Untung saja Pak Rafi—supir Salsa—dengan sigap mengunci pintu. Kalau tidak, mungkin saja saat ini Aleta harus ke rumah sakit membawa Arini yang bersimbah darah karena terjatuh di aspal.
Aleta menyerah, membawa kembali Arini ke rumahnya dan menidurkannya di tempat tidur. Ada Mbok Minah di sana, datang ke kamar dengan segelas air hangat yang sempat Aleta pesankan untuk Arini. Dengan bantuan Salsa, Aleta mengangkat kepala Arini dan memintanya untuk meminum obat. Arini menurut, dan kembali berbaring setelah obat dari dokter, berhasil dia minum.
Tida butuh waktu lama obat itu bereaksi, kedua mata Arini sudah terpejam menyambut mimpi. Perlahan, Aleta menyelimutinya dan mendaratkan kecupan di keningnya. Keluar menyusul Salsa dan yang lainnya yang kini sudah duduk di ruang tamu, sembari memakan cemilan ringan yang sengaja dibuat Mbok Minah tadi pagi.
Mbok Minah tampak kaget saat mendapati memar di pipi kanan Aleta. Jemarinya terarah ke pipi Aleta, yang membuat Aleta menutupnya dengan telapak tangan sembari tertawa kecil.
“Jatuh, Mbok,” jawab Aleta berbohong.
“Majikan Mbok yang satu ini mah, lasak banget!” tambah Salsa yang membuat Mbok Minah percaya dan langsung tertawa.
“Mbok kirain dipukul, soalnya lukanya mirip kayak waktu non dipukulin sama Bapak.”
Aleta terdiam. Kejadian itu kembali teringat di kepalanya. Kejadian saat Aleta melawan Ferdy yang baru pulang dengan keadaan setengah mabuk. Aleta mengusirnya dari rumah. Ya... rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggal Aleta. Rumah yang dulu menjadi tempat pertama bagi Aleta terlelap setelah lahir ke dunia. Rumah yang dulu, yang kinidirampas Reta bersama Diandra tanpa peduli ada kenangan yang sudah terjalin sejak lama di sana.
Dengan kalap, Ferdy menghajar Aleta habis-habisan. Memukulnya, menendang perutnya, menjambak rambutnya dan membenturkannya ke dinding. Kejadian itu membuat Arini histeris. Ditambah lagi tindakan terakhir Ferdy yang mendorong Aleta hingga menabrak ke vas bunga besar di dekat tangga, membuat vas bunga kesayangannya pecah dan juga Aleta yang tersungkur ke lantai dengan kepala, membentur anak tangga paling bawah. Aleta hilang kesadaran, hingga sempat koma beberapa hari di rumah sakit.
“Al,” panggil Salsa, Aleta tersadar dan tersenyum. “Jangan diingat.”
Seolah Salsa tahu apa yang kini dia pikirkan, Aleta kembali menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Tidak ingin melukiskan keharuan, Aleta kembali mengalihkan pandangan ke Mbok Minah yang masih berdiri di hadapannya.
“Kenapa Mbok gak datang lagi ke rumah sakit?”
“Maafin Mbok, Non. Kemarin pada saat Mbok pulang, rumah berantakan. Bapak pasti pulang dan mengobrak-abrik rumah. Jadi Mbok membereskannya dan memutuskan untuk tetap di rumah. Mbok takut Bapak datang lagi dan malah mengambil sertipikat rumah ini.”
__ADS_1
Aleta ingat ucapan Bimo waktu itu, yang mengatakan bahwa Ferdy sudah bangkrut. Entah apa yang menjadi penyebab kebangkrutannya. Yang pasti Aleta mampu menebak kalau Ferdy datang untuk mengambil sertipikat rumah agar bisa dia jual sesuka hatinya. Sama seperti dulu, saat Ferdy mencuri sertipikat tanah yang sengaja dibeli Arini untuk Aleta di Bogor, malah digadaikan Ferdy di bank. Dengan alasan, ketidakwarasan Arini.
“Mana sertipikat itu, Mbok?”
“Sebentar, Non.”
Mbok Minah berlalu menuju kamar tempat Arini tertidur. Salsa mengalihkan pandangannya ke Aleta yang kini menatap lurus ke meja di hadapannya. Genggaman tangan Salsa membuat Aleta tersadar dan mengalihkan pandangan ke Arini.
“Sa, benar dari vlog, bisa dapat uang?”
Salsa mengangguk, “Kamu mau buat?”
“Aku harus cari uang, apa pun caranya.” Aleta menarik napas panjang, lantas mengembuskannya perlahan.
Salsa mengangguk, tanda mendukung apa yang ingin dilakukan sahabatnya itu. Dia tahu bagaimana Aleta, cewek anti sosial itu sebenarnya cukup kreatif jika disuruh membuat vidio atau design lainnya. Bahkan Salsa masih ingat benar waktu keduanya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saat pertunjukkan drama musikal, Aletalah yang menggambar baju princess untuk Salsa kenakan di panggung nanti. Gambarnya yang bagus, membuat Arini yang pintar menjahit, langsung menjahitnya. Dan alhasil, Salsa tampil cantik dengan gaun yang dibuat keduanya.
“Kok ada dua?”
“Itu rumah yang dulu, Non. Masih atas nama Ibu Arini.”
Betapa kagetnya Aleta mendengar ucapan Mbok Minah. Selama ini yang dia tahu, rumah itu sudah dikuasai oleh Diandra. Bahkan Diandra dan Reta sempat datang ke sini dan memaksa meminta sertipikat rumah dari Ferdy. Aleta malah mengira, sertipikat itu sudah dibalik nama ke atas mereka. Namun dugaannya salah. Aleta benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“Sebenarnya rumah itu belum dibalik namakan ke mereka, Non. Yang Mbok pernah dengar, Bapak menolak rumah itu dibalik nama. Mereka sempat bertengkar hebat hingga hampir bercerai. Cuma Mbok enggak tau, kenapa Bapak dan selingkuhannya itu tidak jadi bercerai.
“Apa karena perusahaan yang dijalankan Diandra, atas nama Om Ferdy, Al?” tebak Salsa. “Kalau seandainya bercerai, Mamanya Reta tidak akan mendapatkan apa-apa, kan?”
__ADS_1
“Bukan, setau gue, itu perusahaan milik mantan suaminya.”
Salsa mengangguk paham. Perkiraannya ternyata meleset. Dia pikir, alasan Diandra tidak mau bercerai karena perusahaan yang dia kelola, juga milik Ferdy—ayah kandungnya Aleta—tapi ternyata salah. Salsa menghela napas, mencoba membantu Aleta memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
“Apa dia tidak pernah datang lagi kesini?” tanya Aleta pada Mbok Minah yang mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Bukannya dia pasti tau kalau sertipikat itu, ada di sini?”
“Mbok rasa, dia gak tau, Non,” jawab Mbok Minah. “Buktinya dia tidak pernah datang. Bapak juga baru setengah tahun ini sering datang mencari sertipikat. Semenjak dia dinyatakan bangkrut!”
“Bangkrut?!” tanya Salsa kaget bukan main. “Seriusan kabar yang gue dengar dari bokap gue itu benar, Al?”
“Loe udah tau?” tanya Aleta tidak percaya dengan apa yang diucapkan Salsa.
Salsa mengangguk, “Cuma gue pikir, itu kabar burung aja. Makanya gak gue bilang sama loe, takut loe kepikiran.”
“Loe tau alasannya bangkrut kenapa?”
“Korupsi, dan salah satu gudang produksinya kebakar. Kalau gak salah yang di Bandung. Pusatnya di sana kalau gak salah, kan?”
Aleta mengangguk. Dia tahu benar seluk beluk perusahaan peralatan rumah tangga yang dijalani Ferdy. Berawal di Bandung, hingga memiliki cabang di beberapa kota, membuatnya cukup berhasil di kalangan pengusaha tersukses di Pulau Jawa. Bukan hanya itu, Ferdy malah sempat membuka cabang di Sumatera, andai saja skandal perselingkuhannya tidak menyebar, mungkin saja rencana itu sudah terealisasi sekarang. Tapi sayangnya, perselingkuhan yang berhasil menghasilkan anak itu, membuatnya sempat hancur. Walau kembali bangkit dengan bantuan Arini, dengan syarat Ferdy berubah dan meninggalkan selingkuhannya.
Namun sialnya Ferdy berbohong. Berjanji dengan wajah memelas akan meninggalkannya, malah tetap berhubungan. Berulang kali Ferdy meminta bercerai, namun karena tidak tega melihat Aleta yang masih berusia tiga tahun, Arini bertahan hingga saat ini. Menyembunyikan segalanya dari Aleta, hingga akhirnya terungkap saat Diandra dan Reta datang ke rumah memaksa meminta surat tanah. Pertemuan pertama Aleta dan Reta sebelum kembali dipertemukan di sekolah yang sama. Saat itu, Aleta sudah duduk di kelas 2 SMP.
Aleta sebenarnya cukup senang mendengar perusahaan Ferdy bangkrut. Perusahaan yang berawal dari modal pemberian sang kakek—ayah dari Arini—untuk membantu menantunya itu, berharap dengan bantuannya Ferdy bisa menghidupkan keluarga dan anaknya, malah dengan tega membiayai keluarga lainnya. Aleta memang pernah berdoa, agar perusahaan itu bangkrut, dan ternyata doanya terkabul di waktu yang tepat. Dis aat Diandra pun ikut jatuh dari perusahaan yang dia bangun bersama mantan suaminya.
“Mbok, bisa gantikan kunci rumah ini seluruhnya?” tanya Aleta yang baru saja mengingat kalau Ferdy memiliki kunci duplicate setiap pintu rumah ini. “Aleta gak mau pria itu masuk lagi dan mengusik Mama. Apa Mbok bisa?”
__ADS_1
“Bisa, Non. Besok akan saya panggil tukangnya, biar diganti semua.”
Aleta tersenyum, mengangguk sekali lantas mengalihkan pandangan ke sertipikat yang kini ada di tangannya. Biarpun sudah terlambat, Aleta harus segera bergerak cepat mempertahankan segala yang tersisa. Termasuk kedua rumahnya dan juga Arini. Aleta menghela napas dan kembali tersenyum saat Salsa menyentuh bahunya.