
Aleta keluar dari kamar. Mengunci kamar lantas mengibas-ngibaskan rok sekolah yang dia pakai hari itu. Bedak tabur yang sempat dia pakai di dalam, tampak menempel di roknya yang membuatnya sedikit kotor,
mencoba membersihkannya lantas berbalik dan bersiap melangkah pergi ke sekolah. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang cewek tak asing untuknya melangkah ke arahnya dengan menarik sebuah koper besar dan tas sandang yang selalu dipakainya ke sekolah.
Dia menunduk saat kedua matanya beradu dengan Aleta. Ada ekspresi malu menyeruak di wajahnya. Apalagi ketika tatapan kaget Aleta terjurus padanya. Aleta sendiri terpaku, masih menatap sosok cewek di hadapannya tidak percaya dengan mulut setengah menganga. Hingga cewek cantik berambut panjang lurus sepunggung itu berhenti tepat di hadapannya tanpa mengangkat kepala.
“Kalau loe mau ketawain gue, silakan. Gue gak ngelarang,” ucapnya lirih. “Asalkan tolong, jangan kasih tau teman-teman kalau gue pindah ke kosan loe ini.”
“Kenapa harus di sini?” Aleta membuka suara setelah menarik napas panjang dan membuangnya kasar. “Kali in siapa lagi yang jadi pemiliknya, nyokap loe? Oom loe atau nenek loe?” sindir Aleta akan sikap Reta yang selalu saja menyombongkan diri akan semua yang dia punya. Termasuk memamerkan barang-barang mahal yang dia bawa ke sekolah.
“Biyan yang nawarin gue untuk menetap di sini. Karena katanya, cuma di sini harga kosannya lebih murah.”
Aleta terdiam. Lagi-lagi Biyan membantu Reta yang selalu saja menyulitkan setiap langkahnya. Cowok itu berhasil membuat Aleta kesal bukan main. Bukan karena tahu dia menolong musuh bebuyutannya, melainkan karena secara tidak langsung Biyan sama saja mendekatkan Reta terus menerus di dalam hidup Aleta. Seharusnya sudah cukup dia melihat Reta di sekolah. Namun, kali ini Aleta harus dihadapkan dengan Reta yang wara-wiri di dekatnya sepanjang hari.
“Gue gak akan ganggu loe, jadi gue minta jangan ganggu gue. Termasuk jangan bilang ke semua orang gue di sini.”
“Gue gak janji!” Aleta melangkah melewati Reta yang spontan berbalik menyerukan namanya. Aleta berhenti dan tanpa berbalik, menanti apa yang akan dikatakan Reta padanya.
“Kalau loe menjelek-jelekkan gue di depan semua orang, sama aja secara gak langsung loe menjelek-jelekkan keluarga loe sendiri, Al.”
Aleta terdiam, menundukkan kepala sembari mendengus kesal dengan ucapan Reta yang terkesan mengancamnya itu. Ada guratan emosi di kedua matanya yang siap keluar melalui tatapan tajam ke arah Reta yang masih berdiri di belakangnya. Namun, belum sempat dia berbalik. Seorang cowok yang baru saja menyelesaikan langkahnya menaiki tangga, membuat emosi Aleta melunak. Dengan tatapan dingin, cowok itu melangkah mendekati Aleta. Namun sayangnya, dia hanya melewatinya dan berhenti tepat di depan Reta.
__ADS_1
“Sebaiknya loe gak usah sekolah hari ini, biar gue yang permisikan,” ucapnya yang langsung dibalas Reta dengan anggukan. Melangkah masuk ke dalam kamar lantas menutupnya dari dalam.
Aleta yang jengah mendengar semua itu, berniat melangkah. Namun, langkahnya kembali terhenti saat suara Biyan memanggilnya lirih. Biyan melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya yang masih menundukkan kepala, enggan menatap Biyan.
“Hari ini cowok loe gak jemput, kan?” Aleta enggan menjawab, mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap Biyan yang menatapnya dengan sorot mata meneduhkan. “Loe pergi ke sekolah sama gue, ada yang ingin gue bicarakan.”
Sesaat Aleta menolak. Langkah Biyan yang sudah mulai meninggalkannya, kembali terhenti saat menyadari, Aleta belum juga mengikutinya. Tanpa permisi, Biyan menggenggam tangan kanan Aleta, dan menariknya pelan. Aleta berusaha menolak dengan menghentak-hentakkan tangannya, namun sayangnyagenggaman tangan Biyan terlalu kuat hingga membuatnya sulit melepaskan diri.
Biyan kembali berhasil membuat Aleta uring-uringan. Ucapan Biyan sebelumnya yang mengatakan ingin membicarakan sesuatu ternyata hanya alasan semata. Hampir sepanjang jalan Aleta hanya duduk di belakang Biyan yang tampak serius mengendarai motor matic-nya dan seperti biasa, bungkam seribu bahasa.
Berulang kali Aleta sengaja memberi kode dengan berpura-pura batuk, sialnya Biyan tetap saja bungkam. Berniat memanggil Biyan untuk sekedar bertanya apa yang ingin dia bicarakan, tapi lagi-lagi Aleta mengurungkannya sembari menarik bibir ke kiri, kesal.
“Makasih!” ucap Aleta ketus, berbalik dan bersiap melangkah pergi.
“Tunggu!”
Seruan Biyan berhasil menarik bibir tipis Aleta untuk tersenyum sebelum berbalik. Aleta menarik napas panjang, dan membuangnya perlahan. Senyumannya memudar seiring tubuhnya berbalik dan melangkah mendekati Biyan yang masih berdiri di samping motornya. Berpura-pura kesal sembari melipat kedua tangan di dada saat tatapannya, terarah ke Biyan yang menatapnya teduh. Tatapan yang selalu berhasil membuat Aleta deg-degan tidak karuan.
“Helmnya,” ucap Biyan datar. “Gak ada peraturan yang mengharuskan pakai helm dalam kelas. Polisi juga gak bakalan nilang!”
Kalimat Biyan berhasil membuat emosi yang semula di dada, melesat tajam ke ubun-ubun. Tanpa berkata apa-apa, Aleta membuka paksa helmnya dan memberikannya ke tangan Biyan. Menatap Biyan dengan kilatan emosi, lantas bersiap-siap meluapkan emosinya melalui kata-kata. Namun, sebuah suara menghentikan niatan Aleta. Ada Bimo di sana. Berdiri di ujung koridor dengan kedua tangan memegang pinggang.
__ADS_1
“Ada yang ingin loe katakan?” tanya Biyan dengan senyuman tipis.
Menjengkelkan, itulah yang berhasil terucap di hati Aleta mendapati senyuman tipis menusuk kalbu itu. Aleta menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan danmembalikkan tubuhnya cepat hingga beberapa helai rambutnya melayang mengenai wajah Biyan. Biyan menutup kedua matanya sesaat, dan tersenyum tipis.
Aleta berlari mendekati Bimo yang kini menatap benci ke arah Biyan. Seakan ingin menelannya hidup-hidup tanpa ampun. Biyan yang berhasil menangkap sorot mata tajam itu, hanya menantang Bimo dengan tatapan datar dari tempatnya berdiri. Aleta yang menyadari keduanya saling beradu pandang, langsung menarik tangan Bimo untuk meninggalkan tempatnya berdiri. Biyan tersenyum sinis, lantas mengarahkan pandangannya ke helm yang masih di tangannya. Gelengan pelan dia lakukan sembari meletakkan helm ke salah satu stang motor. Dan melangkah masuk meninggalkan tempat parkir, berjalan menyusuri koridor sekolah dengan kedua tangan di selipkan dalam saku jaket cokelatnya.
“Harus berapa kali lagi gue bilang, jangan dekat-dekat sama anak miskin itu!” Bimo menekan dua kata terakhirnya, seakan ingin menghina Biyan yang membuat Aleta kesal mendengarnya.
“Dia tidak miskin, Bim!”
“Udah berani ngebela tuh anak?!” bentak Bimo sembari menarik tangan Aleta. Gadis berponi rata yang menutupi seluruh keningnya itu terhenti, menatap malu ke beberapa murid yang menyaksikan adegan sepasang manusia yang bertengkar hanya karena hal sepele. Dan ini sudah terlalu sering.
“Lepasin gue, Bim,” bisik Aleta sembari merapatkan gigi-giginya mencoba menahan emosi bercampur rasa malu.
“Gue gak suka loe dekat-dekat sama anak miskin itu!” bentak Bimo lagi yang membuat Aleta sesaat memejamkan kedua matanya.
Tanpa sepengetahuan Aleta dan Bimo, Biyan menyaksikan segalanya dari jauh. Langkahnya yang semula cepat, perlahan terhenti dan menatap lurus ke arah keduanya yang masih beradu mulut di dekat tangga menuju lantai dua. Ada kilatan emosi di kedua mata Biyan melihat tangan Bimo yang mencengkram bahu Aleta begitu kuatnya hingga beberapa kali terlihat raut kesakitan di wajah Aleta.
“Cukup, Bim. Gue gak ingin jadi tontonan,” bisik Aleta lagi. “Lepasin gue, atau jangan pernah hubungi gue lagi.”
Ancaman Aleta berhasil menghentikan sikap kasar Bimo. Perlahan cengkraman itu melunak dan terlepas. Aleta menunduk, berusaha menetralkan perasaannya sendiri, lantas pergi meninggalkan Bimo yang terus saja menyerukan namanya. Sadar Aleta tidak berbalik, Bimo mengejarnya yang membuat Biyan menunduk dan kembali melirik ke arah keduanya pergi.
__ADS_1