VLOG

VLOG
Episode 20


__ADS_3

            Reta dibuat kaget tengah malam. Baru saja dia ingin memejamkan kedua matanya, suara gedoran pintu disusul teriakan seseorang menyerukan namanya dari luar, sesaat membuat Reta takut bukan main. ditambah lagi, tidak ada Aleta di sebelah rumahnya yang semakin membuat Reta parno jika ada orang jahat yang ingin berbuat nekat padanya.


            Reta melangkah pelan mendekati pintu, mencoba mengenali suara cowok yang terus saja memanggil namanya dari luar. Terdengar tidak asing, namun rasa takut yang begitu kuat dalam dirinya, membuat Reta masih saja enggan membuka pintu.


            “Reta, buka! Ini gue... Bimo!!!”


            Reta menghela napas panjang mendengar nama si pengganggu tidurnya itu. Pantas saja smeua tetangganya tidak ada yang berani keluar untuk sekedar memakinya karena membuat kebisingan tengah malam, ternyata sang pemilik kontrakan yang datang menciptakan keributan tengah malam. Reta memutar kunci di lubang, dan membuka pintu dengan ekspresi kesal.


            “Bisa gak sih, jangan kayak gak punya akhlak gitu gedornya!” Reta terlihat kesal bukan main, bersandar di pintu sembari melipat kedua tangannya di dada. Matanya melirik ke Bimo yang mundur beberapa langkah, mendengus kesal dengan kilatan emosi di kedua matanya.


            “Mana Aleta?!” tanya Bimo ketus yang sesaat dijawab Reta dengan senyuman sinis.


            “Emangnya gue nyokapnya, sampai harus tau di mana dia. Nyokapnya aja gak peduli dia mau di mana, ngpain gue yang harus peduli!”


            “Gue serius, Reta!” Bimo semakin dibuat jengkel dengan jawaban Reta. “Di mana dia, kenapa pintu rumahnya kebuka sementara dia gak ada di dalam!”


            “Gue bilang gak tau ya gak tau!” bentak Reta seolah tidak takut dengan Bimo yang terkenal tempramental. Keduanya saling tatap, Reta masih melihat jelas emosi di kedua mata Bimo yang bukannya mereda, malah semakin memanas. Reta menghela napas panjang. Seketika ingatannya tertuju ke Biyan yang terus menunggu Aleta di rumahnya saat Bimo menghajarnya tadi siang. Reta menunduk sesaat, mengingat semua kejadian setelah Bimo pergi begitu saja setelah puas melampiaskan emosinya pada Aleta. Mengingat Biyan yang langsung keluar dari rumah dan menghampiri Aleta. Sikap Biyan yang melewatinya begitu saja sembari menggendong Aleta, sempat membuatnya geram bukan main. Retan kembali mengarahkan pandangan ke Bimo yang masih menanti jawaban.


            “Biyan!” serunya yang membuat Bimo terbelalak. “Pasti dia. Setelah loe pulang, Biyan keluar dari rumah gue dan membawa Aleta pergi. Sejak itu, Aleta belum ada kembali apalagi Biyan!”


            “Sial!” bentak Bimo berniat pergi meninggalkan Reta. Namun langkahnya terhenti saat tangan Reta, mencengkramnya. Bimo kembali mengarahkan pandangannya ke Reta yang kini malah tersenyum menggoda.


            “Ngapain sih repot-repot nyariin Aleta. Lagian besok juga dia bakalan balik lagi,” ucap Reta yang masih saja tersenyum lebar. Mencoba menarik perhatian Bimo agar teralih padanya, bukan pada Aleta. “Bukannya lebih baik loe menunggu dia di sini, di rumah gue?” Reta melepaskan cengkramannya, melipat kedua tangan sembari kembali melipat kedua tangan di dada. “Loe harus tau kalau gue... lebih baik dari Aleta.”


            “Loe yakin?” Emosi Bimo mereda yang membuat Reta tersenyum lebar penuh kemenangan. “Bagaimana dengan cowok loe?”

__ADS_1


            “Biyan?” Bimo mengangguk sembari menaikkan alis matanya. “Gue gak berniat kembali menerima orang yang sudah disentuh Aleta ke dalam kehidupan gue. Apalagi orang itu adalah alas kaki gue. Loe kira gue mencintainya?” Reta tersenyum sinis sembari menggeleng pelan. “Gue hanya menjadikannya alat untuk menang dari Aleta. Gue gak suka Aleta mendapatkan segalanya.”


            “Termasuk gue?” tanya Bimo.


            Reta menggeleng, “Loe berbeda, Bim. Sayangnya kedua mata loe selalu tertutup ke gue. Jadi loe gak bisa melihat kalau gue... lebih baik dari pada Aleta.” Reta kembali mengembangkan senyuman menggoda ke arah Bimo yang mulai terjebak rayuannya. Bimo berdehem sesaat, menempelkan tangan kanannya ke dinding di dekat kepala Reta, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Reta.


            “Loe yakin, kalau loe lebih hebat dari Aleta?” tanya Bimo setengah berbisik.


            “Mau coba?” tanya Reta yang langsung dijawab Bimo dengan anggukan kepala. “Ayo masuk dan menunggulah di dalam.”


            Bimo tertawa sesaat, menatap Reta yang lebih dulu masuk lantas melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam. Bimo mendorong pintu dari dalam dan memutar kuncinya hingga terdengar bunyi kunci berputar dari dalam.


            Tyaz—tetangga sebelah kiri Reta yang sedari tadi menguping pembicaraan keduanya, membuka pintunya dan keluar. tatapannya terarah ke pintu rumah Reta. Suara manja Reta memanggil Bimo yang dibalas Bimo dengan tawa renyah membuat Tyaz menggelengkan kepala. Dia benar-benar yakin Bimo ada di dalam, menghela napas panjang lantas masuk ke dalam dan menutup pintunya kembali sembari mengomel sendirian tentang nasib Aleta yang akan kecewa menyadari sikap pacarnya sendiri. Tanpa Tyaz menyadari, bahwa hubungan keduanya sudah berakhir.


            Aleta membuka kedua matanya. Hawa dingin yang berembus, membuatnya terbangun dan mengarahkan kedua matanya ke kipas angin di atas meja di dekat pintu kamar. Aleya menyapu pandangan ke seluruh ruangan, memegang kepalanya yang masih terasa pusing, lantas bangkit perlahan. Duduk memperhatikan setiap barang-barang di kamar yang tidak terlalu besar itu, dan berhenti saat kedua matanya menangkap sosok Biyan tertidur di kursi tepat di sisi kanan tempat tidur. Jarak antara dirinya dan Biyan hanya dua meter, yang membuat Aleta bisa melihat wajahnya saat tidur begitu dekat.


            Aleta tersenyum. Ingatannya kembali ke kejadian tadi siang saat Biyan hadir bak pahlawan di depan rumahnya. Tanpa basa-basi, Biyan mengangkat tubuhnya. Terus menggendongnya hingga melewati Reta yang sempat dilihat Aleta, tampak geram dengan apa yang dia lihat. Aleta menunduk, mencoba membayangkan apa yang akan terjadi di hari berikutnya. Akan ada dua masalah yang sedang menantinya, Bimo yang kini mengetahui dirinya belum juga kembali ke rumah, dan Reta yang marah karena menganggap musuh bebuyutannya, berhasil mengalahkannya. Aleta menghela napas panjang. Helaan napas yang malah membuat Biyan terbangun dan kaget mendapatinya sudah duduk di tempat tidur. Spontan Biyan mendekat dan duduk di sampingnya.


            “Kamu udah sadar, Al?” Biyan tampak khawatir, menyentuh kening Aleta mencoba mengukur suhu tubuhnya yang tadi siang, sempat demam tinggi.


            Aleta mengangguk lemah, menatap Biyan yang terus saja mencoba memperhatikannya dengan cara mengukur suhu dan memeriksa luka-luka di tubuhnya. Sikap Biyan menarik rasa haru dalam diri Aleta hingga membuat kedua matanya berembun.


            “Makasih, Biyan.”


            Nada suara lirih dari Aleta, membuat Biyan berhenti mengecek lukanya. Tatapannya teralih ke Aleta yang kini mengembangkan senyuman. Lebar namun terasa menyakitkan untuk Biyan. Biyan menatapnya penuh iba, lantas mengusap lembut kepala Aleta yang beberapa detik, menutup kedua matanya.

__ADS_1


            “Loe penah nanya, apa yang bakalan gue lakuin kalau gue tau lebih detail tentang sikap Bimo yang selalu kasar sama loe, kan?” tanya Biyan yang langsung dijawab Aleta dengan anggukan pelan.


            “Menyelamatkan loe,” lanjut Biyan. “Inilah yang gue lakukan sekarang.”


            Air mata itu jatuh tak tertahankan. Aleta menundukkan kepala, menangis terisak yang membuat Biyan ikut sedih karenanya. Keduanya sesaat bungkam seribu bahasa. Hanya isak tangis Aleta yang kini terdengar saat jarum jam di dinding menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Biyan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Kembali mengusap rambut Aleta yang membuatnya mengangkat kepala mengarahkan tatapannya ke Biyan kembali.


            “Loe gak sendirian, Al. Gue akan selalu ada buat loe,” tambah Biyan tanpa senyuman di bibirnya seperti biasa. “Meskipun terkadang gue gak bisa ada di saat loe butuhkan, tapi gue akan hadir saat semua orang pergi ninggalin loe.” Biyan menghentikan usapannya, menurunkan tangan dan mencoba melempar senyuman. “Maaf, tadi gue menghilang saat loe dihajar Bimo. Bukan gue takut, tapi kalau seandainya tadi gue maju dan mencoba menolong, yang kena imbasnya adalah loe. Bimo bakalan semakin marah dan semakin memukul loe tanpa ampun.”


            “Loe nungguin gue di luar?”


            Biyan mengangguk, kali ini tangannya menyentuh pipi kanan Aleta yang terdapat memar bekas pukulan Bimo. Sesaat Aleta merintih kesakitan yang membuat Biyan menjauhkan tangannya. Dan dengan lembut, kembali menyentuhnya.


            “Kenapa?” tanya Aleta dengan sisa-sisa tangis yang masih ada. “Kenapa loe peduli sama gue di saat semua orang, menatap gue sinis?”


            “Karena gue percaya, kalau apa yang dikatakan Bimo di vidio itu tidak benar.” Biyan tampak tenang yang membuat Aleta semakin merasakan kenyamanan berada di dekatnya. “Gue yakin, loe gak pernah tidur dengannya.”


            “Kalau semua yang dikatakannya itu benar, apa loe tetap masih ada buat gue?”


            Sesaat Biyan terdiam. Bukan karena ragu menjawab, namun tatapan pilu yang dilempar Aleta kepadanya, membuat hatinya sakit bukan main. Luka yang selama ini ditutup Aleta bertahun-tahun, akhir-akhir ini seakan terlihat jelas di kedua matanya. Aleta yang kuat, tampak semakin melemah dari hari ke hari. Dia kacau, dia terpuruk dan dia tampak depresi yang membuat Biyan mencoba kembali menyalurkan ketenangan dengan senyumannya.


            “Gue akan selalu ada di dekat loe. Seperti janji gue... menyelamatkanmu.”


            Tangis Aleta kembali pecah. Biyan yang semakin tidak tega melihat Aleta yang semakin melemah karena tangis, langsung memeluknya. Biyan mengusap kepala bagian belakang Aleta penuh kasih sayang. Tangisan Aleta yang terdengar seperti bom waktu yang selama ini diam dan kini meledak tidak terkendali, membuatnya sengaja membiarkan Aleta terus menumpahkan bebannya lewat air mata.


            Aleta sendiri begitu nyaman di pelukan Biyan. Di satu sisi, sesak di dada yang selama ini dipendam seorang diri, seakan hancur sudah saat Biyan memeluknya. Dan di sisi lain dia tidak bisa memungkiri, bahwa dia merindukan hari-hari saat bersama Biyan. Aleta semakin terisak saat mengingat dulu, ketika dia dan Biyan masih tertawa bersama sebelum Reta hadir mengusik keduanya.

__ADS_1


__ADS_2