VLOG

VLOG
Episode 7


__ADS_3

            Ini sudah kesekian kalinya, Aleta menonton vlog milik Reta tentangnya. Vidio berdurasi hanya  dua menit itu, diawali dengan suara Reta yang menyapa para fans vlog miliknya, disusul caci makiannya terhadap Aleta, vidio dirinya dan Biyan dan terakhir, kata-kata penutup yang juga ada kalimat kebencian di sana. Dan yang membuat Aleta kesal bukan main, bisa-bisanya Reta menjadikannya kuis dengan hadiah satu juta rupiah bagi pengguna youtube yang komen makian terbanyak. Sungguh sikap Reta kali ini, berhasil membuat Aleta hilang kesabaran.


            Anehnya, sejak tadi Reta tak kunjung pulang. Sudah dua jam Aleta duduk di depan rumahnya. Menanti Reta dengan emosi menggebu-gebu, namun sayangnya belum juga bisa terlampiaskan karena yang ditunggu, tidak juga menunjukkan batang hidungnya.


            Aleta memperhatikan rumah Reta dari luar. Tidak seperti biasanya, Reta yang selalu menghidupkan lampu depan, kini malah dibiarkan mati. Kekhawatiran sedih menyusup dalam hatinya. Seingat Aleta, dia sempat melihat Reta pulang naik taksi lebih dulu dari padanya yang masih menanti angkutan umum. Sesaat menatap Aleta kesal, lantas naik ke dalam taksi tanpa menyapa.


            Reta sendirian, tak ada Biyan di sekitarnya yang biasanya selalu mengekor kemana pun dia pergi. Meskipun kekesalan masih tersisa di hatinya untuk Biyan, namun di hati kecil Aleta, kesedihan dan rasa tidak tega hadir begitu nyata. Ditambah lagi saat mendengar dari Salsa, kalau Biyan dimaki habis-habisan pasca pertengkaran tadi pagi.


            Salsa memang sempat melihat kejadian itu sebentar. Berhenti di luar lapangan, saat suara Reta keras menusuk telinganya. Dengan mata kepalanya sendiri, Salsa melihat Biyan di sana, menggepal tangannya siap melayangkan tinjuan ke wajah Reta yang hari itu, memakai make up tipis, tidak seperti biasanya. Lipstiknya yang biasanya merah membara, kini malah memakai warna pink. Dan jika diperhatikan saat itu, Reta juga tidak memakai bulu mata yang biasanya cetar membahana di atas matanya.


            Apa yang dikatakan Salsa, ada benarnya. Aleta sendiri sempat memperhatikan dandanan Reta saat memakinya tadi pagi. Reta tidak seperti biasanya. Tidak ada kipas di tangannya, tidak ada tali pinggang fashion di pinggangnya, bahkan rambut yang biasanya sengaja dia catok agar lurus dan mudah diatur, kini terlihat sedikit berantakan dan hanya dicepol setengah.


            Aleta mengarahkan pandangannya ke pintu rumah Reta yang masih tertutup rapat. Ada kecurigaan dalam hatinya. Sikap Reta dan penampilannya menyatu dalam pikiran Aleta yang berhasil membawa rasa cemas hadir begitu nyata. Berniat mencari tahu, tapi Aleta sendiri bingung harus bertanya pada siapa. Mustahil bertanya pada Biyan. Bisa-bisa tuh anak mengejeknya tanpa ampun karena sudah peduli pada musuhnya sendiri.


            Aleta menarik napas panjang. Suara pesan singkat hadir di handphonenya. Aleta cepat-cepat membuka pesan singkat yang ternyata dari Bimo. Satu hal yang paling Aleta benci, hadir di layar handphone. Seakan memaksa, Bimo lagi-lagi memintanya untuk menonton vlog terbarunya yang baru saja dia share di channel youtube. Aneh memang, cowok kayak Bimo tergila-gila dengan dunia per-youtube-an. Dikenal seperti preman di sekolah, dengan gayanya yang sok anggar jago, Bimo tetap saja aneh di mata Aleta. Seharusnya cowok sepertinya, tidak bermain youtube. Mungkin berbeda kalau apa yang di share-nya tentang dunia pendidikan atau sekedar travelling. Bahkan bisa juga tentang kuliner. Mungkin kalau Bimo membuat vidio tentang itu, Aleta akan salut melihatnya. Tapi ini tidak. Bimo selalu membuat vidio tentang kesehariannya yang tidak lain tentang keahliannya menggiring bola dan meloloskannya ke ring.


            Aleta membuka channel youtube Bimo. Ekspresinya benar-benar malas melihat vidio Bimo saat ini. Aleta menarik napas panjang, lantas membuangnya kasar. Belum sempat vidio itu terbuka. Suara seseorang yang menyerukan namanya, berhasil mengagetkannya hingga menarik cepat pandangan ke dekat tangga. Ada Biyan di sana, berdiri menatapnya tanpa ekspresi, lantas melangkah mendekat.


            “Kalau tidak suka menonton Vlog, tidak perlu melihatnya!” serunya lagi yang membuat Aleta menundukkan kepala. Entah dari mana Biyan tahu kalau sejak tadi dia sedang menyaksikan beberapa vidio


milik teman-teman di sekolah. Mungkin suara handphonenya, terlalu kuat sampai Biyan mendengarnya. Atau mungkin sejak tadi Biyan mengawasinya. Aleta mengangkat kepalanya, memperhatikan Biyan yang tanpa permisi malah duduk di sampingnya. Kedua kaki dia tekuk dengan tubuh tersandar di dinding setengah dada yang sejak tadi Aleta sandarin.


            “Ngapain di sini?” tanya Aleta yang masih saja mengarahkan pandangan ke Biyan. Sialnya cowok itu malah menatap lurus ke pintu rumah Reta. Mungkin dia rindu, hingga harus hadir untuk sekedar menemuinya cewek yang selalu menyakitinya itu. Tapi sayangnya, tidak ada kerinduan di kedua matanya yang mampu ditangkap Aleta. Ekspresinya datar, dengan sorot mata tajam.


            “Nanti kalau ketahuan pacar loe, habis gue!” sambung Aleta lagi sembari menunduk memperhatikan handphonenya. Tanpa Aleta sadari, Biyan mengarahkan pandangan ke arahnya, tersenyum dengan kedua tangan terlipat di kedua lutut.

__ADS_1


            “Loe takut?”


            “Enggak!” jawab Aleta cepat, menatap kedua mata itu tidak terima. Ucapannya jelas meledeknya. Sejak kapan Aleta takut pada sosok Reta. Dia bahkan ingin menghabisinya tanpa ampun sejak dulu. Sejak semuanya berakhir hanya karena ulah Reta dan keluarganya. Aleta mendengus kesal, namun sialnya Biyan malah tertawa lucu mendapati ekspresi kesal Aleta.


            “Nanti loe yang takut kalau sampai, pacar loe yang kekar itu ngelihat loe duduk bareng gue di sini.”


            Aleta terdiam. Sebenarnya, dia memang takut pada Bimo. Sikap kasar Bimo selalu membuatnya ketakutan setiap waktu. Entah apa alasannya sejak awal hingga bisa mencintai cowok yang terkenal playboy itu. Apa karena ancaman darinya dulu, ataukah karena Bimo berhasil memenangkan hati sang ayah yang terkenal picik itu.


            “Kenapa diam? Tebakan gue benar?”


            “Dia cowok yang baik.” Suara Aleta lirih yang berhasil mengusik hati Biyan dengan rasa sakit. Terus mengarahkan pandangan ke Aleta yang masih tertunduk enggan membalas tatapannya. Wajahnya tertutupi rambut yang sengaja tidak dia ikat seperti biasa.


            “Apa loe mencintainya?”


            Aleta kembali menarik pandangannya ke bawah. Berusaha menyembunyikan segalanya. Ingin rasanya dia meminta tolong pada Biyan untuk bisa membantunya terlepas dari bayang-bayang Bimo. Sudah sejak lama dia ingin terlepas, namun rasa di hatinya yang entah apa itu, membuat Aleta ragu untuk melepaskannya. Aleta sendiri masih belum mampu mengartikan apa rasa itu berbentuk cinta ataukah karena keinginan memilikinya saja.


            “Apa loe juga mencintai Reta?” tanya Aleta tanpa mengarahkan kembali pandangan ke Biyan.


            Pertanyaan Aleta berhasil melepaskan kepalan tangan Biyan. Ada keraguan dalam hatinya untuk sekedar menjawab pertanyaan Aleta. Pertanyaan yang sejak dulu selalu sulit dia jawab. Sikap Reta yang terkadang sesuka hati itu, memang sering membuat Biyan jengah. Namun beberapa hal membuatnya bertahan, salah satunya tentang utang keluarga yang belum mampu dia bayar. Dan alasan lainnya adalah, iba.


            Biyan tertawa yang membuat Aleta kembali mengarahkan pandangannya, bingung. Tidak ada kebahagiaan di wajah Biyan hingga membuatnya harus tertawa. Aleta malah menangkap kesedihan di wajahnya dan kilatan emosi di kedua matanya. Kedua perasaan yang bercampur itu, membuat Aleta bingung bukan main. Mencoba menebak-nebak apa yang terjadi, hingga tanpa sadar menarik arah pandang Biyan kembali ke arahnya.


            “Jangan coba menebak perasaanku, Al, nanti kamu yang gak sanggup.”


            Suara Biyan terdengar menyakitkan untuk diterima Aleta. Sesaat dia menelan ludahnya sendiri, menarik pandangan ke arah lain karena malu sudah ketahuan menyelidiki cowok di sampingnya. Biyan tersenyum, mengusap pundaknya dan menyandarkan kepala di dinding di belakang tubuhnya.

__ADS_1


            “Kita aneh ya, sama-sama ak bisa jawab di pertanyaan yang sama.” Biyan kembali bersuara, kali ini dengan kedua mata terpejam.


            Aleta tersenyum simpul, “Apa Reta memperlakukanmu dengan baik?”


            “Yang loe lihat?” Aleta menggeleng. “Kenapa mencoba bertanya jika sudah tau jawabannya.”


            “Gue hanya ingin memastikan apa yang tidak bisa gue lihat.”


            “Setelah itu?” Aleta kembali melayangkan pandangan ke Biyan yang masih menatapnya. “Apa yang loe lakukan setelah tau lebih detail?”


            Aleta menggeleng. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sulit rasanya memikirkan apa pun jika harus berhubungan dengan Reta. Sejak awal dia tahu segalanya, Aleta tidak berniat melakukan apa pun yang membuatnya berada di posisi sulit, masalah keluarganya saja sudah cukup menyulitkannya. Apalagi harus ditambah dengan permasalahan baru yang berhubungan dengan Reta. Aleta enggan memikirkannya.


            “Apa Bimo memperlakukan loe dengan baik?” Biyan mengajukan pertanyaan sama saat menyadari, Aleta tidak kunjung menjawab.


            Aleta tertawa sesaat, “Yang loe lihat?”


            “Sama saja, seperti yang gue lihat. Tapi gue gak tau apa yang terjadi di luar itu.”


            Aleta menarik pandangannya kembali ke Biyan, tersenyum lucu yang sama sekali tidak dibalas Biyan dengan hal yang sama. Dia tidak tersenyum. Sorot matanya masih terlihat serius hingga membuat senyumannya, tidak hadir di bibirnya.


            “Apa yang bakalan loe lakuin kalau loe tau lebih detail tentang sikap Bimo?”


            “Menyelamatkan loe.”


            Aleta terdiam, senyumannya menghilang, lidahnya pun kelu. Jawaban cepat Biyan yang terdengar meyakinkan, membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Keduanya kembali beradu pandang dalam diam. Ada keinginan di hati Aleta untuk memeluk Biyan kali ini, sekedar menumpahkan sesak di dada yang selama ini dia pendam seorang diri. Ucapan Biyan, seakan memberikan harapan baru untuknya melewati segalanya. Situasi membelit yang mungkin saja bisa teratasi saat dia membalas uluran tangan Biyan yang selama ini, terulur ke arahnya. Andai saja tidak ada Reta, mungkin Aleta sudahsejak lama menggenggam tangan Biyan dan melepaskan Bimo yang sama sekali, tidak bisa menghargainya.

__ADS_1


__ADS_2