VLOG

VLOG
Episode 10


__ADS_3

            Aleta terdiam. Kedua kakinya yang baru saja masuk ke dalam kamar inap sang mama, terhenti saat menyaksikan wanita itu duduk menekuk kedua kakinya di atas tempat tidur. Kepalanya tertunduk, sengaja menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya. Beberapa kali terdengar isakan darinya yang membuat Aleta menyadari, bahwa saat itu Arini sedang menangis.


            Perlahan Aleta mendekat. Sorot matanya tertuju ke sebuah bingkai foto  di dekat kaki Arini. Foto dirinya, Arini dan sesosok pria berpakaian jas hitam dengan kemeja merah di dalamnya. Aleta masih ingat kejadian itu ketika foto yang masih tampak bahagia itu diambil. Aleta masih kecil, masih berusia dua belas tahun. Anak kecil yang hanya tahu tentang kasih sayang kedua orang tuanya, tanpa menyadari bahwa di balik itu semua, ada luka yang sengaja dipendam Arini seorang diri. Sialnya, luka itu sudah ada jauh sebelum Aleta berhasil melangkahkan kedua kakinya sendiri. Tanpa bantuan orang lain.


            Aleta meraihnya, mendengus kesal menyaksikan tipuan senyuman kedua orang yang kini terpecah belah hanya karena keserakahan salah satu pihak. Napas Aleta yang terbuang kasar, menarik kedua sorot mata Arini terarah padanya. Aleta meletakkan kembali bingkai foto itu saat menyaksikan air mata Arini meluncur dari kedua matanya. Suara lirih Arini memanggilnya memuat Aleta ikut menangis, mendekat dan memeluknya erat. Tangisan Arini pecah seketika.


            “Kamu pulang? Kamu pulang, Sayang?” tanya Arini bertubi-tubi sembari melepaskan pelukan Aleta, menyentuh keda pipi Aleta seakan memastikan bahwa yang di depannya saat ini, benar sang anak.


            Aleta mengangguk, “Aleta pulang, Ma.”


            Arini kembali memeluknya, kali ini lebih erat dari sebelumnya. Isakan tangisnya menjadi pertanda bahwa, dia merindukannya. Pelukannya terasa menyakitkan untuk diterima Aleta, bukan karena terlalu erat, melainkan terasa luka yang ada di hati Arini, tersalurkan lewat pelukannya.


            Sesaat Aleta menarik pandangannya ke jam dinding yang kini menunjukkan pukul satu siang. Seharusnya sudah ada seorang perawat yang hadir mengantarkan makan siang untuk Arini. Jadwal obat yang harus dimakan Arini, hanya berjarak satu jam dari jadwalnya makan siang, membuat Aleta melepaskan pelukan. Tatapannya terarah ke Arini yang masih menatapnya tidak percaya.


            “Mama udah makan?”


            Arini menggeleng, wajahnya tampak polos yang membuat hati Aleta teriris melihatnya. Ingin rasanya saat itu dia terus memeluk wanita yang kini tampak kacau dengan rambutnya yang berantakan. Tubuhnya kurus tak terurus dan tidak ada lagi pewarna bibir yang teroles di bibir tipisnya. Aleta menarik napas panjang, lantas mengembuskannya perlahan. Ingatannya melayang ke Ferdy. Pria yang pernah menjadi pahlawan di hidupnya, namun kini berganti peran menjadi penjahat sadis yang tidak pernah memiliki hati.


            “Mbok Minah mana, Ma?”


            Lagi-lagi Arini menggeleng. Tidak ada jawaban dari bibirnya. Arini malah memainkan jemarinya sendiri dengan memutar-mutar kedua jari telunjuknya, membentk lingkaran. Aleta benar-benar dibuat kesal bukan main melihat nasib sang mama kali ini. Bukannya membaik setelah kepergiannya, Arini malah semakin terpuruk. Benar-benar terpuruk.

__ADS_1


            “Aleta keluar sebentar ya, mau cari suster buat nanya makan siang Mama. Mama di sini dulu ya, oke?”


            Kali ini jawaban berbeda didapatkan Aleta. Arini mengangguk tanda mengerti dengan apa yang diucapkan Aleta. Dia tersenyum. Senyuman yang membuat Aleta rindu. Senyuman yang dulu selalu dia minta sebagai syarat saat Aleta merajuk. Senyuman yang juga mampu meredam emosinya, saat pertengkaran dengan Ferdy terjadi di rumah. Hingga membuat rumah persis seperti perang yang tidak pernah usai.


            Aleta menyentuh pipi kanan Arini, mengusapnya penuh kasih sayang, lantas melangkah pergi diikuti sorot mata Arini. Dia tampak tenang dengan senyuman yang terus melekat di bibirnya. Kembali memainkan jemarinya saat Aleta menghilang di balik pintu.


            Aleta berlarian menuju meja para suster yang terdapat di setiap lantai. Ruang inap Arini yang terletak di lantai dua, memang selalu ramai pengunjung. Lorong khusus kamar inap pasien, menjadi alasan mengapa semua pengunjung sering lalu lalang di sana. tidak seperti lorong di depan lorong kamar inap Arini berada, di sana tampak sunyi. Hanya ada beberapa pengunjung yang hadir di sana, sekedar datang untuk melihat ibu dan bayi yang baru lahir, atau sekedar menanti di ruang persalinan. Harap-harap cemas akan kehidupan selanjutnya.


            “Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” Suster Yuni menyapa Aleta baru saja tiba di depan meja panjang untuk para suster, Aleta tersenyum membalas senyuman Suster Yuni yang spontan berdiri, saat melihatnya datang mendekat.


            “Saya mau tanya, ini sudah waktunya makan siang, tapi makan siang mama saya belum datang juga. Ada apa ya?”


            “Maaf atas keterlambatannya, Mbak. Troly makanan sudah tiba di lorong ini, tapi masih ada di kamar inap 200, sebentar lagi akan datang ke kamarnya Ibu Arini.”


            “Maaf sebelumnya, Mbak, saya ingin memberitahu kalau biaya perawatan Ibu Arini sejak kemarin malam dihentikan. Kami sudah memberitahu wanita yang selalu menjaganya, tapi sejak tadi pagi, dia tidak kembali.”


            “Dihentikan?” Suster Yuni mengangguk. “Kok bisa? Ada alasannya gak, Mbak?”


            “Saya juga kurang tahu, Mbak, yang pasti Bapak Ferdy kemarin sempat datang dan mengatakan bahwa biaya perawatan Ibu Arini dihentikan.” Suster Yuni mengeluarkan selembar kertas dan langsung diserahkan ke Aleta yang menerimanya dengan tatapan tidak percaya. “Ini biaya perawatan sampai hari ini, Mbak. Dan harus segera dilunasi.”


            Belum sempat Aleta membacanya, seseorang merampas lembar biaya itu dari tangan Aleta. Aleta sontak kaget dan langsung mengarahkan pandangan ke seorang perempuan yang tidak lain adalah Salsa.

__ADS_1


            Salsa tersenyum, lantas mengeluarkan amplop cokelat dari dalam tasnya. Dengan gerakan santai, Salsa mengeluarkan beberapa tumpukan uang yang sudah terpisah berblok-blok yang masing-masing blok senilai satu juta. Nilai itu tertulis di kertas yang melingkar di blok uang yang kini sudah berada di atas meja.


            “Ini pembayarannya sampai lusa, Sus, dan pastikan Tante Arini dapat perawatan terbaik sebelum dia keluar.”


            “Baik, Mbak.” Suster Yuni mencatat biaya yang sudah dibayarkan Salsa di komputernya. Jemarinya tampak ligat yang membuat Salsa berdecak kagum hingga tanpa menyadari tatapan Aleta sejak tadi masih tertuju padanya.


            “Ini kwitansinya, Mba. Terima kasih banyak.”


            Salsa tersenyum, menarik tangan Aleta menjauh dari meja kasir dan duduk di salah satu kursi yang ad di lorong rumah sakit. Salsa memberikan kwitansi ke tangan Aleta yang masih bengong menatapnya.


            “Loe gak perlu sungkan, kita ini sahabatan, susah senang kita bareng-bareng.”


            “Tapi, Sa, ini terlalu banyak.”


            “Banyakan mana sama perbuatan loe yang berhasil nyelamatin nyokap gue saat mau ngelahirin adik gue?” Salsa mencoba mengingatkan. “Kalau loe gak ada di rumah gue saat itu, mungkin nyawa keduanya gak bakalan tertolong. Loe tanpa takut bawa nyokap gue ke rumah sakit pakai mobil loe. Ya, mestipun waktu itu bukan loe yang nyetir sih, tapi sopir loe, siapa namanya? Agh iya, Pak Ardi! Dia masih kerja gak di rumah loe? Tuh orang baik….”


            Salsa yang terus saja mengomel tanpa henti, bungkam seketika saat Aleta memeluknya. Suara bergetar Aleta yang terus mengucapkan terima kasih, membuat Salsa ikut terharu karenanya, membalas pelukan Aleta dan mencoba menenangkannya dengan terus menggodanya.


            “Makin sayang loe sama gue, kan? Ayo ngaku!” goda Salsa yang membuat Aleta semakin memeluknya erat. Tertawa kecil saat mendengar Salsa terus memuji dirinya sendiri di dalam pelukan Aleta.


            Tanpa keduanya sadari, ada Biyan di sana. Berdiri di pintu masuk lorong tempat kamar inap Arini berada sembari memperhatikan wajah Aleta yang mengarah ke arahnya. Aleta tampak memejamkan kedua mata, menikmati omelan Salsa yang terus saja memuji dirinya sendiri.

__ADS_1


            Tidak ada senyuman di bibir Biyan. Sesaat kedua matanya teralih ke meja kasir. Kejadian yang menimpa Aleta barusan, dia saksikan tanpa terlewat sedikit pun. Ingin rasanya dia hadir seperti Salsa yang hadir dengan memberi bantuan. Ingin rasanya Biyan mendekat menjadi pahlawan untuk Aleta. Namun sayang, Biyan bukan Salsa yang bisa dengan mudahnya mengeluarkan uang di hadapan Suster dan juga Aleta. Biyan menunduk, mundur teratur dan berbalik pergi menuju pintu lift saat kedua mata Aleta terbuka. Seolah menyadari kehadirannya, Aleta mengarahkan pandangan ke pintu, namun tidak ada siapa pun di sana, membuatnya terdiam tanpa melepaskan pelukannya di tubuh Salsa.


__ADS_2