
Salsa keluar dari taksi. Dia tampak panik. Berlari menuju salah satu pintukamar di rumah kos-kosan bertingkat tiga tepat di lantai dua paling sudut. Beberapa anak kos malah sempat ditabraknya. Ada yang mengomel, malah ada yangsampai menarik tangan Salsa untuk meminta maaf terlebih dahulu. Salsa yang tidak ingin memperpanjang masalah, langsung meminta maaf lantas kembali berlari menaiki tangga.
Salsa berhenti tepat di depan pintu kamar yang dituju. Mencoba menetralkan napasnya sendiri yang masih terengah-engah, kemudian menggedor pintu sembari memanggil nama Aleta berulang kali. Pintu pun terbuka. Terlihat Aleta keluar dengan wajah kusut sembari menggulung rambutnya. Menatap Salsa yang masih saja mencoba mengatur napas walau sesekali beberapa kalimat tidak jelas keluar dari bibirnya.
“Loe tenang dulu, Sa. Ada apa!” Aleta mulai panik.
“Reta-nyokapnya… Reta, Al!”
“Iya, Reta kenapa?” Aleta memegang kedua lengan Salsa. “Sekarang, tenangi dulu diri loe, tarik napas panjang, buang pelan-pelan.”
Salsa mengikutinya. Berusaha menetralkan perasaannya sendiri dengan menarik napas dalam-dalam, lantas membuangnya perlahan. Kembali menarik napasnya lagi, tapi kali ini malah membuangnya kasar yang membuat Aleta kaget.
“Nyokapnya Reta, ketangkap polisi!” ucap Salsa spontan dengan kedua mata melotot.
Aleta kaget bukan main mendengar kalimat Salsa yang tanpa titik itu. Salsa mengangguk saat kedua tangan Aleta memegang lengannya, seakan mencoba meyakinkan Aleta bahwa kabar yang dia bawa benar.
“Loe tau dari mana?!” Aleta masih saja memegang kedua lengan Salsa, dan sesekali mengguncang tubuhnya.
“Loe kagak punya TV ya di rumah. Lihat gih beritanya udah heboh dari tadi pagi!”
Aleta melangkah masuk ke dalam rumah diikuti Salsa. Mencari remote TV yang ternyata terletak di atas lemari buku, menyalakannya dan mencari channel yang menayangkan berita terkini.
Aleta duduk di kasur dengan ekspresi wajah tidak percaya. Kamar kos nya yang hanya tidak terlau besar, membuatnya enggan terlalu banyak memuat barang di dalamnya. Siapapun yang masuk ke dalam kosannya, akan langsung berhadapan dengan ruang tidur dengan tv tergantung di dinding. Dan jika inginke dapur atau sekedar ke kamar mandi, siapa pun bisa berjalan sedikit ke belakang yang langsung ada dapur berdampingan dengan kamar mandi di sudut ruangan. Kosan yang sudah dia tempati hampir tiga tahun belakangan ini, menjadi tempat ternyaman baginya, untuk sekedar rebahan dan melupakan segalanya.
__ADS_1
Tayangan berita tentang penangkapan secara paksa nyokap Reta di kantor, membuat Aleta menutup mulutnya yang menganga tanpa disengaja. Tidak terlihat Reta di sana. Salsa yang masih duduk di samping Aleta, meraih handphone-nya dari dalam tas dan membuka Channel Youtube milik Reta. Sesaat Aleta melirik ke arah Salsa, menggeleng pelan.
“Loe ngevlog?!” tebak Aleta yang langsung dijawab Salsa dengan gelengan cepat.
“Gue cuma mau lihat vlog terakhir Reta, siapa tau dia nekat buat vlog bunuh diri gitu!”
“Hati-hati kalau ngomong, Sa! Sembarangan aja!”
“Ya, kita semua kan tau, kalau Reta itu cuma tinggal sama nyokapnya aja. Sedangkan papinya udah lama pergi gak jelas kemana, kan?” Salsa mencoba mengingatkan kisah Reta pada Aleta. “Jadi ya bisa aja dia frustasi terus ….” Salsa menggigit bibirnya sendiri yang langsung dibalas Aleta dengan lirikan tajam.
Aleta memukul pelan bibir Salsa dengan jari telunjuknya sendiri seakan memberikan isyarat untuk Salsa tidak melanjutkan ucapannya. Salsa menelan ludahnya, dan beralih memperhatikan berita yang masih menayangkan tentang kasus yang sama. Tampak Diandra menunduk malu saat semua lensa terarah padanya. Kedua tangannya diborgol dan sepanjang jalan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, terlihat beberapa polisi yang siap berjaga dan menahan semua wartawan untuk menodongnya dengan berbagai pertanyaan.
“Apa kita lihat aja Reta di rumahnya, Sa?”
“Loe sehat, Al?” tanya Salsa dengan nada menyindir. “Dia Reta, Al, musuh bebuyutan kita dari kelas 1 SMA. Cewek yang ngerebut berniat ngerebut Bimo dari loe!” Salsa bangkit dari kasur tempat Aleta tidur, dan menghampiri meja belajar. “Dan sekarang loe malah mau ngelihat tuh anak. Gue mah ogah!”
“Tapi biar gimana pun, dia teman kita di sekolah, Sa.”
“Sorry, gue ralat! Musuh kita di sekolah!” ucap Salsa sembari meraih tongsis bergagang hijau milik Aleta yang tergantung di dinding sudut kamarnya. “lagian kita gak ada kewajiban untuk ngelihat dia di rumahnya kok, tuh anak kan bukan teman sekelas kita!”
Aleta menghela napas panjang, berbaring di kasur dengan kedua tangan di belakang kepala. Menatap langit-langit kamar kosannya yang terdapat mainan bintang dan bulan di langit-langit kamar yang jika lampu dimatikan, akan bersinar terang. Dan Aleta menyukai itu. Hadiah kecil pemberian Bimo saat keduanya merayakan hari jadian yang kedua setahun lalu.
“Biyan pasti sedih banget dengar kabar ini,” ucap Aleta tibat-tiba. Entah mengapa pikirannya melesat ke cowok itu. Cowok yang selalu saja ada di dekat Reta di mana pun dia berada.
__ADS_1
“Gue rasa, enggak!”
Aleta mengarahkan pandangan ke Salsa yang perlahan mendekat dan duduk di dekat kakinya. Meraih remote dan mengganti channel tv, mencoba mencari FTV yang menjadi acara kesukaannya.
“Asal loe tau aja, Biyan itu terpaksa dekat sama tuh anak!” Salsa melanjutkan kalimatnya yang sempat terhenti. “Kalau gak karena kedua orang tuanya ada hutang sama Reta, mungkin aja Biyan gak bakalan dekat sama cewek bermuka dua itu!”
“Utang?!” Aleta mengerutkan kening, bangkit dari posisinya dan duduk bersandarkan dinding. “Jangan asal fitnah loe, Sa!”
“Gue gak fitnah, Aleta! Gue dengar sendiri percakapan mereka waktu itu!” Salsa mencoba meyakinkan. “Loe ingat kejadian waktu loe terkurung di gudang belakang sekolah?”
Aleta mengangguk cepat.
“Sebenarnya itu yang ngelakuin Biyan, tapi atas perintah Reta!” Nada Salsa meninggi. Emosi terlihat jelas di caranya berbicara yang menggebu-gebu.”Awalnya Biyan gak mau, tapi Reta ngancam kalau gak dilakuin, rumah Biyan bakalan disita sama Reta.”
“Kenapa gak dibayar aja sih!”
“Gila loe, Biyan kan bukan orang yang tajir melintir kayak Reta!” Salsa menelan ludahnya. “Bokapnya cuma kerja jadi pegawai biasa di kantoran, sedangkan utangnya itu banyak banget. Gue sih gak tau berapa, tapi ngelihat cara Biyan nurutin semua perintah si nenek lampir itu, gue bisa ambil kesimpulan kalau utangnya lumayan besar, dan pakai bunga!”
Aleta terdiam. Wajah tampan Biyan terbayang di kepalanya. Dengan rambut sedikit panjang hampir menyentuh bagian kerah baju sekolah dan selalu terlihat rapi. Gayanya yang santai dengan bibir yang masih asli warna merah muda tanda tidak pernah tersentuh nikotin. Wajah baik yang senada dengan sikapnya. Bahkan tidak jarang Biyan membantunya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Reta. Namun sayangnya, meskipun Reta tidak mengetahuinya, tapi Bimo malah berhasil melayangkan pukulan tepat di wajah Biyan saat melihat cowok tampan itu, menggendong Aleta yang hampir tenggelam saat olahraga renang dilakukan di sekolah.
“Al, bukannya elo suka sama Biyan?”
Pertanyaan Salsa berhasil menarik sorot mata Aleta terarah padanya. Menatapnya tanpa berkedip yang membuat Salsa menggigit bibirnya sendiri dan menarik pandangan ke arah lain seakan tidak ingin beradu pandang dengan Aleta.
__ADS_1