VLOG

VLOG
Episode 27


__ADS_3

Aleta menatap pilu ke tubuh Bimo yang sedang diperiksa dokter di UGD. Bimo yang pingsan setelah serangan traumanya kembali, membuat Aleta tampak khawatir yang terlihat jelas dari wajahnya. Biyan yang sedari tadi berdiri menemaninya, sesaat mengalihkan pandangan ke Aleta yang sama sekali tidak disadarinya.


Tanpa keduanya sadari, Reta melihat segalanya dari belakang Biyan dan juga Aleta. Ingatannya tertarik ke belakang, mengingat sikap panik Biyan saat berada di jalan bersamanya sembari mengendari mobil milik Reta yang sengaja dia pinjamkan. Sembari mengemudikan mobil, Biyan terus menerus mencoba menghubungi Aleta yang belum juga mengangkat teleponnya. Berulang kali dia memukul kemudi, menghela napas kasar lantas membuang pandangannya ke arah lain. Dan sikap itu membuat Reta menyadari bahwa Biyan, benar-benar masih mencintai Aleta.


“Gimana keadaannya, Dok?” tanya Aleta saat dokter yang sejak tadi mengecek kondisi Bimo, datang mendekatinya. “Dia baik-baik aja, kan?”


“Dia baik-baik aja. Cuma kalau bisa, jangan diganggu dulu. Biarkan pasien istirahat, shock yang terjadi padanya membuatnya kondisinya sedikit terguncang.”


Aleta menghela napas panjang. Ucapan dokter itu, membuatnya benar-benar lega. Kekhawatirannya yang sejak tadi hadir begitu kuat dalam dirinya, kini lenyap seketika. Lagi-lagi ekspresi Aleta, membuat kecemburuan dalam diri Biyan semakin menguat hingga memaksanya pergi meninggalkan Aleta, lantas melewati Reta begitu saja.


Aleta mendekati Bimo, memperhatikan wajahnya yang tampak tenang tidak seperti sebelumnya. Sudah cukup lama Aleta berpacaran dengannya, tapi baru kali pertama Aleta melihatnya tertidur. Dia sangat berbeda. Tidak seperti Bimo yang dia kenal saat kedua matanya terbuka.


Perlahan Reta mendekat, berdiri di dekat kaki Bimo sembari melipat kedua tangnnya di dada. Ada kekesalan di kedua matanya saat melihat Aleta berdiri di samping Bimo. Dia benci saat melihat keduanya bersama. Dia merasa, Bimo tidak pernah pantas bersama Aleta. Namun sayangnya, Bimo malah lebih memilih Aleta dibandingkan dirinya yang terus saja berusaha menggodanya. Hal itu membuat Reta memutuskan untuk berpacaran dengan Biyan, saat mengetahui bahwa sebenarnya orang yang Aleta cintai adalah Biyan, dan bkan Bimo.


“Sebaiknya loe pergi dari sini!” ucap Reta yang langsung menarik arah pandang Aleta, terarah padanya. “Gue yang lebih pantas nemanin Bimo, bukan loe!”

__ADS_1


“Gue tau!” jawab Aleta sembari kembali mengarahkan pandangannya ke Bimo. “Gue bukan pacarnya lagi. Tapi gue juga gak bisa ninggalin dia gitu aja di kondisi seperti ini.”


“Loe ngerasa dibutuhin banget sama dia?!” bentak Reta seakan tidak peduli lingkungan sekitar. “Loe sadar kalau Biyan sekarang gak ada di dekat loe?!”


“Gue tau,” jawab Aleta yang ternyata menyadari Biyan yang berlalu pergi meninggalkannya.


“Loe labil banget ya!” jawab Reta lagi sembari mengalihkan pandangan ke arah lain. “Sebentar cinta sama Bimo, sebentar cinta sama Biyan. Kalau susah yan dicariin Biyan, kalau senang sama Bimo! Marok loe!”


Aleta terdiam. Ucapan Reta seakan tidak penting untuknya menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Andai aja Reta menyadari, bahwa selama ini Bimo tidak pernah hadir di hatinya. Sekeras apa pun Aleta memasukkan nama Bimo dalam hatinya, tetap saja dia tidak bisa menggantikan nama Biyan yang sudah terlanjur menetap.


“Gue tau, loe mencintainya,” ucap Aleta tenang, seakan tidak ingin memancing kemarahan Reta seperti biasa. “Dan gue harap, loe bisa ngertiin dia seperti yang dia mau. Gue balik dulu, kabarin gue jika terjadi apa-apa sama Bimo.”


Aleta melangkah berniat melewati Reta. Namun langkahnya kembali terhenti saat Reta memanggilnya. Reta berbalik menatap Aleta yang masih saja tidak membalikkan tubuhnya.


“Loe dan Bimo tidak punya hubungan apa-apa lagi, bukan?” tanya Reta dengan nada manjanya. “Kalau begitu, segera angkat kaki dari kontrakannya. Gue gak mau Bimo terus mencari loe di sana.”

__ADS_1


Aleta tersenyum mendengar ucapan Reta. Dia akui, sudah seharusnya dirinya angkat kaki dari rumah yang disewakan Bimo untuknya. Lebih tepatnya, diberikan secara gratis untuk dia tempati. Bimo yang terkenal arogan, memang memiliki sisi baik dalam dirinya yang jarang bisa dilihat oleh orang lain yang tidak terlalu dekat dengannya.


“Gue akan segera pergi dari sana, loe gak perlu khawatir. Hanya saja, gue minta satu hal dari loe, Reta.”


“Apa?”


Aleta berbalik, menatap Reta yang masih saja menunjukkan ekspresi angkuhnya seperti biasa. Aleta tersenyum melihatnya, menggenggam tali tasnya yang masih digantungkannya ke bahunya sembari menatap Reta yang masih menanti kalimat permintaannya.


“Jangan membebani Biyan dengan hubungan loe yang gak jelas itu. Dan tolong, jangan pernah menjadikan alasan utang sebagai caramu untuk memaksanya melakukan apa yang loe mau. Loe bisa?”


Reta terdiam. Dia benar-benar tidak menyangka Aleta akan meminta hal itu padanya. Reta berpikir, Aleta hanya ingin memintanya untuk menjaga Bimo atau sekedar melakukan hal-hal yang menyangkut tentang Bimo saat ini. Namun ternyata semua hanya demi Biyan.


“Gue janji akan menjauhi Bimo jika loe mengabulkan permintaan gue.”


Reta menghela napas panjang, lantas mengangguk pelan, “Gue setuju!”

__ADS_1


Aleta tersenyum, lantas berbalik pergi meninggalkan Reta yang masih menatap kepergiaannya. Berusaha mencari di mana keberadaan Biyan saat ini yang tiba-tiba saja menghilang tanpa mengabarinya terlebih dulu. Aleta meraih handphonenya, mencoba menghubungi Biyan yang ternyata, nomornya tidak aktif. Aleta semakin mempercepat langkahnya, mencari ke kantin rumah sakit namun nihil, Biyan juga tidak ada di sana.


__ADS_2