VLOG

VLOG
Episode 19


__ADS_3

            Biyan keluar dari rumah Reta. Suara bantingan pintu Aleta disusul langkah kaki Bimo melewati rumah Reta, membuat Biyan keluar setelah beberapa menit Bimo pergi. Perlahan, Biyan melangkah mendekati rumah Aleta yang kini terbuka. Ada rasa cemas di hatinya saat membayangkan apa yang dia dengar dari rumah Reta. Suara jeritan Aleta yang memilukan, membuatnya yakin bahwa Aleta sedang tidak baik-baik saja.


            Biyan berhenti di depan pintu Aleta. Rasa sakit seketika menusuk hatinya saat melihat Aleta meringkuk ketakutan dengan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. Aleta menangis, memeluk kedua kakinya sendiri di sudut ruangan tepat di samping lemari. Biyan menyapu pandangannya ke setiap sudut, hampir semua barang di rumah Aleta hancur berantakan, termasuk tv yang kini tergeletak di lantai.


            Aleta mengangkat kepalanya, mengarahkan pandangan ke Biyan yang tampak kaget melihat kondisinya. Wajahnya babak belur, darah mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Kondisinya membuat Biyan berlarian masuk lantas berlutut di hadapannya. Kehadiran Biyan, semakin membuat Aleta menangis terisak. Suaranya lirih memanggil nama Biyan yang tanpa permisi, langsung memeluknya erat.


            Biyan mengangkat tubuh Aleta, membawanya keluar dari rumah melewati Reta yang berdiri di depan rumahnya. Suara Reta yang memanggilnya kesal, tidak dia hiraukan. Terus melangkah dengan membawa Aleta yang berusaha menyembunyikan wajah di dada Biyan, berpura-pura tidak melihat Reta agar terhindar dari amukan cewek berbola mata hitam itu. Biyan menuruni tangga dengan langkah hati-hati, melewati kerumunan tetangga


Aleta yang sejak tadi berkumpul di anak tangga paling bawah sejak suara Bimo, menggema di seluruh rumah kontrakan. Biyan menuruni Aleta tepat di samping motornya, meminta Aleta berpegangan dengan motornya saat mengetahui kaki Aleta juga terluka, lantas memakaikannya helm.


            “Loe bisa naik, kan?” tanya Biyan setelah naik lebih dulu di atas motornya.


            Aleta mengangguk, dengan perlahan naik ke atas motor Biyan sembari merintih kesakitan. Biyan menarik kedua tangan Aleta untuk memeluknya dari belakang, dan tersenyum tipis saat melirik Aleta di belakang.


            “Gue hanya gak ingin loe jatuh.” Aleta mengangguk pasrah, menyandarkan kepala di punggung Biyan saat cowok itu mulai melajukan motornya. Sesaat Aleta mengalihkan pandangannya ke lantai atas, melihat Reta yang berdiri dengan ekspresi wajah penuh emosi yang membuat Aleta menyesal sudah memeluk Biyan. Perlahan Aleta melonggarkan pelukannya, namun Biyan malah menariknya kembali dan meminta Aleta untuk terus memeluknya erat selama perjalanan. Aleta pun menyerah.


***


            Aleta menyapu pandangannya. Kamar yang tidak terlalu besar dengan jendela kayu di sisi kanan tempat tidur. Dindingnya berwarna putih bersih, dengan sebuah lemari dan meja belajar di sisi lainnya. Sebuah komputer jadul ada di atasnya, lengkap dengan printer dan CPU. Aleta menghela napas panjang, lantas tersenyum saat mendapati Biyan kembalimasuk ke dalam kamar, membawa mangkuk berisi air dan kain serta kotak P3K dari luar.

__ADS_1


            Biyan duduk di hadapan Aleta, merendamkan kain lantas memerasnya. Sesaat Biyan menghentikan gerakan tangannya yang hampir menyentuh luka di kening Aleta. Keduanya saling tatap yang membuat Biyan sedikit ragu untuk memulai mengobatinya. Aleta tersenyum, lantas mengangguk pelan tanda mengizinkan Biyan melakukannya.


            “Gue menyedihkan, ya?” tanya Aleta sembari tersenyum miris.


            Biyan menggeleng, menempelkan kain basah ke kening Aleta sekedar membersihkan lukanya terlebih dulu, sebelum mengobatinya. Biyan tetap diam, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Rasa sakit di hatinya membuatnya tidak ingin berkata apa pun. Kondisi Aleta membuatnya tidak sanggup jika harus menjawab pertanyaan Aleta.


            “Loe pasti nganggap gue cewek bodoh, kan?” Aleta kembali bertanya yang sesaat berhaisl menghentikan gerakan tangan Biyan. Tatapan Biyan membuatnya menyadari, bahwa kali ini Biyan tak ingin becanda.


            “Apa selalu begini?” Biyan membuka suara yang langsung dijawab Aleta dengan anggukan.


            “Ini belum apa-apa.” Aleta tersenyum, merintih kesakitan saat kain di tangan Biyan, menyentuh hidungnya.


            Aleta mengangguk, “Dia tidak sengaja menendang perutku.”


            Biyan kesal bukan main. Melempar kain ke atas tempat tidur sembari membuang pandangannya. Aleta tahu, Biyan marah besar padanya. Biyan pasti menginginkannya membalas perbuatan Bimo, bukan malah terus membelanya. Namun sebenarnya, Aleta sama sekali tidak membela Bimo. Dia hanya tahu apa yang dialami Bimo, hingga membuatnya merasa bahwa semua ini tidak seutuhnya kesalahannya. Namun bagi Biyan, sikap Aleta tidak masuk di akal.


            “Apa dia pernah bermain dengan benda tajam?” Nada suara Biyan kembali merendah saat menyadari Aleta menundukkan kepala. Ada ketakutan di wajahnya, dan semua itu dianggap Biyan karena suaranya yang sedikit meninggi. Aleta pasti masih trauma.


            Aleta mengangguk, membalikkan tubuhnya dan menurunkan pakaiannya. Biyan tampak kaget saat mendapati bekas sayatan di bahu kiri Aleta. Aleta menutupnya kembali dan berbalik menghadap Biyan yang masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

__ADS_1


            “Dia menyayatnya saat kita ujian kenaikan kelas kemarin, hanya karena aku melarangnya masuk ke rumah. Dia marah besar saat tau aku mengganti kunci pintur rumah.”


            “Dia mendobrak pintunya lagi?” Aleta mengangguk sembari tersenyum tipis. “Apa loe gak pernah coba melaporkannya ke polisi?”


            “Polisi?” Biyan mengangguk sementara Aleta tertawa lucu mendengarnya. “Apa ada gunanya melaporkannya ke polisi? Bukannya dia yang dihukum, malah aku nanti yang akan dihukumnya.”


            Biyan menundukkan kepala, meraih kotak P3K lantas mengeluarkan kapas dan obat merah di dalamnya. Tak lupa juga mengeluarkan perban dan handsaplast untuk luka di kepala Aleta yang juga harus di tutup. Dengan telaten, Biyan mengobati luka demi luka di tubuh Aleta. Wajah seriusnya membuat Aleta terharu, menatapnya dalam diam yang tanpa sadar, setetes air mata jatuh dari mata kanannya. Biyan terhenti, beralih ke air matanya dan menghapusnya dengan jemarinya sembari tersenyum tipis.


            “Apa loe akan selalu ada buat gue?” tanya Aleta lirih yang membuat Biyan terpaku. Air mata Aleta kembali menets dari mata kirinya, membuat rasa sakit di hati Biyan terasa begitu nyata. Biyan kembali menghapus air mata Aleta yang bukannya membuat Aleta berhenti menangis, malah menundukkan kepala dan menangis terisak.


            Biyan yang bingung harus melakukan apa, hanya mampu mengusap kepalanya lembut. Menemaninya dalam diam, dan membiarkan Aleta terus menangis meluapkan rasa sakit di hatinya yang teramat sangat. Sikap kasar Bimo, jelas bukan hanya melukai hatinya, melainkan fisik yang pasti membuat Aleta trauma bukan main. Belum sembuh luka batin yang dia dapatkan dari sikap kasar sang ayah, Aleta harus kembali di hadapkan dengan Bimo yang bersikap sebelas dua belas seperti sang ayah. Bimo menghela napas panjang, terus membelai rambut Aleta dengan tatapan sendu. Andai saja dia memiliki uang berlebih, rasanya Biyan ingin membawanya pergi jauh dari lingkaran Bimo. Tapi semua itu sulit. Untuk sekedar makan saja, Biyan sulit. Apalagi harus membantu Aleta.


            Aleta mengangkat kepalanya, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Tertawa lucu melihat dirinya sendiri yang tampak menyedihkan dari kedua bola mata Biyan yang masih terarah padanya.


            “Gue... menyedihkan, ya?”


            Biyan menggeleng pelan.


            “Kenapa bukan loe yang lebih dulu, Bi. Kenapa harus Bimo.” Aleta kembali terisak yang kali ini, membuat Biyan tak kuasa menahan diri. Biyan menarik tangan Aleta untuk jatuh ke dalam pelukannya. Memeluknya erat sembari terus mengusap kepala Aleta yang masih saja menangis dalam pelukannya.

__ADS_1


            Biyan menatap lurus ke depan. Ke laci lemari kecil di samping tempat tidurnya. Salah satu laci paling atas yang tersimpan banyak hal di sana. andai saja dia lebih berani dulu, mungkin saat ini baik dirinya maupun Aleta, tidak akan semenderita sekarang. Dan Aleta, bisa dipastikannya akan bahagia tanpa luka di fisik maupun hatinya. Biyan mempererat pelukannya yang membuat Aleta semakin menumpahkan kesedihannya.


__ADS_2