
Aleta menghentikan langkahnya diikuti Biyan yang sedari tadi, membantunya berjalan. Tatapan keduanya
yang semula tertuju ke pintu rumah Aleta yang masih terbuka lebar, teralih saat suara pintu Reta terbuka. Awalnya Aleta hanya kaget saat melihat Reta keluar dengan kedua tangan terlipat di dada. Rambutnya sengaja digulung tinggi memperlihatkan lehernya. Namun rasa kaget Aleta semakin menjadi-jadi saat melihat Bimo keluar dengan celana pendek dan telanjang dada.
Ekspresi Bimo sesaat tampak kaget saat melihat Aleta. Dia benar-benar tidak menyangka kalau ucapan Reta tadi malam, tepat sasaran. Aleta pulang keesokan harinya, bahkan sebelum matahari terbit lebih dulu di langit. Bimo berpikir, Aleta tidak akan mungkin berani kembali. Saat Bimo marah, Aleta pasti akan menghilang beberapa hari. Entah untuk mengobati luka di seluruh tubuhnya karena perbuatan Bimo, atau sekedar menenangkan diri. Namun kali ini, persis seperti pendosa yang baru saja ketangkap, Bimo menciut saat kedua mata Aleta, terarah padanya.
“Gue bilang apa, dia pulang, kan?” tanya Reta memulai pembicaraan saat tatapan Aleta, tertarik ke bawah. Berniat melangkah ke dalam, namun urung saat suara Reta terdengar di telinganya.
Aleta menurunkan kedua tangan Biyan yang sedari tadi, memegangi kedua lengannya sekedar membantu berjalan. Biyan menurut. Dia tahu jelas maksud dari apa yang dilakukan Aleta padanya. Selain ada Reta, Aleta juga tidak ingin mencari masalah dengan Bimo yang pasti, masih dibendung emosi. Aleta melangkah masuk, meninggalkan Biyan di luar yang memutuskan untuk berdiri di depan pintu, menyaksikan Aleta menutup pintunya dari dalam sembari mundur beberapa langkah saat Bimo bergerak mendekatinya. Berusaha menggedor pintu Aleta yang sudah terkunci dari dalam. Biyan menatapnya geram, namun sayangnya dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Biyan tetap diam, enggan melangkah pergi. Keputusan Aleta untuk kembali, membuatnya sedikit takut akan kondisinya yang belum sembuh total. Biyan juga takut jika di melihat Aleta, harus menerima pukulan demi pukulan Bimo yang tidak akan pernah peduli, apakah Aleta sudah siap menerimanya atau masih trauma. Bimo yang merasa usahanya sia-sia, mengalihkan pandangan tajam ke Biyan yang sedari tadi, berada di belakangnya.
“Loe bawa kemana cewek gue!” bentak Bimo sembari memegang kerah jaket Biyan. Rahangnya menegang yang bisa dipastikan Biyan kalau saat ini, emosi kembali menguasainya. “loe ajak nginap di hotel mana cewek gue semalam!”
“Dia bukan seperti loe.” Biyan tampak tenang, walau kedua matanya tajam membalas tatapan Bimo. “yang bukannya mencarinya, tapi malah mencari kepuasan bersama perempuan lain.”
Bimo melonggarkan cengkramannya, mundur beberapa langkah seakan-akan menyesali perbuatannya bersama Reta. Biyan menarik pandangannya ke Reta yang masih berdiri santai di depan pintu. Perlahan Biyan melangkah mendekatinya, dan tersenyum sinis yang membuat Reta melepaskan lipatan tangannya.
“Seharusnya loe lebih intropeksi diri saat nyokap loe berada di dalam penjara, bukannya malah seolah-olah menunjukkan kalau loe... memang layak disebut anak dari seorang perebut suami orang.”
Biyan melangkah melewati Reta yang terlihat tidak terima dengan ucapan Biyan. Kedua tangannya terkepal, rahangnya menegang dengan kedua mata melotot mengarah ke punggung Biyan yang semakin menjauhinya.
“Beraninya loe! Bayar semua utang loe, Biyan!”
__ADS_1
Biyan menghentikan langkahnya, berbalik dan menatapnya tanpa senyuman di bibirnya. Menatap Reta yang masih menaik turunkan emosinya lewat napasnya yang memburu hebat. Sesaat Biyan mengarahkan pandangannya ke Bimo yang berdiri menunduk di belakang Reta, lantas tersenyum sinis melihat keduanya.
“Gue akan bayar, loe tenang aja. Gue jamin loe gak akan bisa nuntut gue lagi seperti yang selama ini loe lakuin.”
Biyan kembali melangkah meninggalkan Reta dan Bimo yang berdiri, dengan perasaan berbeda. Reta menjerit kesal, sedangkan Bimo kembali mendekati pintu rumah Aleta dan menggedor rumahnya. Namun
kali ini, gedorannya tidak seperti sebelumnya. Terdengar pelan seolah Bimo menyadari semua kesalahannya semalam suntuk.
Aleta sendiri, memilih duduk di balik pintu, menutup kedua telingannya dengan earphone yang sudah terhubung ke dalam handphonenya. Lagu demi lagu dia dengar sembari menutup mata. Mencoba menenangkan dirinya sendiri dari kekalutan yang masih harus dia hadapi. Aleta meluruskan kedua kakinya, sesaat membuka mata menyapukannya ke setiap sudut rumah yang masih berantakan, lantas tersenyum tipis mengingat ucapan Biyan tadi malam.
“Dengarkan lagu di handphone loe menggunakan earphone gue ini!” ucap Biyan sembari memberikan earphone miliknya ke tangan Aleta. “Lakukan hal ini saat loe tidak ingin mendengarkan suara apa pun, yang mencoba mengganggumu.”
Aleta memperlebar senyumannya, menunduk sembari menyembuyikan wajah dengan kedua tangannya. Suara Bimo masih saja terdengar walau hampir terkalahkan dengan suara musik di kedua telinganya, semakin menghilang saat Aleta memperbesar volume handphone. Duduk menikmati segalanya seorang diri, membiarkan Bimo yang terus saja memanggilnya dengan nada yang tidak lagi mengandung emosi.
Salsa menghela napas panjang. Salsa yang memutuskan untuk mengunjungi Aleta di rumah sepulang sekolah, benar-benar tidak habis pikir menyaksikan hasil dari perang dunia kesekian yang sudah diciptakan Bimo. Aleta tertawa kecil menyadari ekspresi sahabatnya yag kini menggelengkan kepala, sembari menutup pintu rumah kembali, menguncinya agar siapa pun tidak bisa masuk minimal untuk saat ini.
Salsa mendekati Aleta yang sedari tadi, duduk meringkuk di atas tempat tidur. Tatapan Salsa, membuat Aleta seketika menangis, memeluknya erat yang jelas membuat Salsa ikut menangis karenanya. tangannya mengusap punggung Aleta mencoba menenangkan, walau kini malah dialah yang semakin menangis histeris yang membuat Aleta tertawa di sela tangisnya dan melepaskan pelukan.
“Kenapa sih, loe malah ikutan nangis,” ucap Aleta sembari mengusap air matanya, mencoba menghentikan sisa-sisa tangis yang diikuti Salsa. Salsa menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan berulang kali. Berharap tangisannya dapat terhenti namun sialnya, malah kembali menangis.
“Gue sedih lihat kondisi loe kayak gini, Al,” ucapnya terisak. “Kenapa loe gak ngehubungi gue.”
“Maaf, semua terjadi cepat banget.” Aleta menundukkan kepala, menghapus kembali air matanya yang lagi-lagi jatuh. “Loe tau dari mana kondisi gue?”
__ADS_1
“Biyan,” jawabnya cepat. “Tadi dia nemuin gue pas istirahat sekolah, dia nyuruh gue untuk nemanin loe di sini dan juga ngebujuk loe, agar mau nginap di rumah gue malam ini.”
Aleta terdiam. Apa yang dilakukan Biyan, benar-benar di luar dugaan. Kepeduliannya membuat Aleta tidak mampu lagi menutupi kekagumannya pada sosoknya. Aleta menundukkan kepala, enggan menatap Salsa yang masih berusaha menghentikan tangisannya.
“Lebih baik loe di sini dulu, Al, bahaya kalau loe pulang sekarang. Lagian nyokap gue juga senang loe di sini.”
Kalimat Biyan tadi malam saat mendengar Aleta ingin pulang, kembali terngiang di telinganya. Ekspresi wajah
Biyan yang khawatir, membuat Aleta sesaat ingin menyetujui permintaan Biyan. Lagian Yuna—orang tua Biyan sangat mengenalnya. Bahkan sangat menyayanginya. Aleta yang dulu di awal sekolah sering mampir ke rumah Biyan, sekedar ingin mengobrol atau malah menginap di sana. Namun mengingat emosi Bimo yang bisa saja semakin tidak terkendali jika mengetahui dirinya menginap di rumah Biyan, ditambah lagi sosok Reta yang bisa nekat melakukan apa saja, membuat Aleta urung melakukannya.
Salsa mengarahkan pandangan ke Aleta yang terdiam. Berulang kali dia melambaikan tangan di depan mata Aleta, tapi sayangnya cewek berbola mata hitam itu tetap saja berdiam di dalam lamunannya sendiri. Salsa menghela napas kesal, lantas memanggilnya sembari memukul tangannya pelan. Aleta terperanjat kaget.
“Dipanggilin malah ngelamun mulu!” ucap Salsa kesal. “Lagi mikirin apaan sih, Bimo? Ngapain tuh anak dipikirin lagi, bukannya loe udah mutusin dia? Jadi sebenarnya, dia udah gak ada lagi kuasa penuh buat nyakitin atau sekedar ganggu hidup loe, Al!”
Aleta menggeleng, “Gue lagi mikirin Biyan.”
“Kok Biyan?” tanya Salsa bingung.
“Tadi malam gue nginap di rumahnya,” jawab Aleta dengan kedua mata berbinar-binar yang membuat Salsa semakin bingung melihatnya. “Biyan gak ada cerita?”
Salsa menggeleng, “Gue juga mau nanya, kok bisa Biyan lebih dulu tau dibandingkan gue?”
Aleta tertawa mendengarnya, tawa yang cukup membuat Salsa lega bukan main. ekspresi Aleta yang semula sedih, berubah seratus delapan puluh derajat. Dia tampak bersemangat menceritakan apa yang dilakukan Biyan tadi malam. Beberapa kali Salsa membalas cerita Aleta dengan ucapan tidak percaya, saat mengetahui Biyan menunggunya di luar dan menggendong tubuh Aleta keluar. Aleta mengangguk mencoba meyakinkan dan kembali menceritakan semuanya sampai akhir. Salsa benar-benar dibuat senang oleh cerita Aleta. Ingatannya sesaat kembali ke masa lalu, saat dirinya mencoba mencomblangi Aleta dan Biyan yang sama-sama menyimpan rasa suka. Namun sayangnya, Reta mengambil alih semuanya hingga membuat keduanya, terpisah dengan perasaan yang keduanya pendam dalam hati masing-masing.
__ADS_1