VLOG

VLOG
Episode 24


__ADS_3

            Reta melangkah gontai. Sesekali dia berhenti, memegang dinding, lantas kembali berjalan menuju pintu rumahnya. Tyaz yang saat itu baru saja keluar berniat membuang sampah, terhenti di depan pintu saat mendapati Reta sempoyongan. Aroma alkohol seketika menyeruak di hidung Tyaz, yang membuatnya menutup hidung. Sikapnya itu, tanpa sengaja ditangkap kedua mata Reta yang baru saja memutar kunci di lubang pintu, membuatnya urung membuka pintu dan malah berdiri bersandar di pintunya yang masih tertutup.


            “Apa loe, mau marah?!” tantang Reta. “Seharusnya loe lihat diri loe, biar suami loe gak nyari perempuan yang lebih cantik dari loe!”


            Tyaz bungkam, tangannya terkepal. Baru saja dia ingin melangkah mendekati Reta dan melampiaskan emosi yang selama ini dia pendam sekuat tenaga, suara pintu rumah Aleta terdengar. Tampak Aleta keluar dengan pakaian tidur. Berniat ingin tidur malam itu, namun terusik saat mendengar suara Reta dari luar. Reta mengalihkan pandangannya ke Aleta, tertawa lucu lantas mendekatinya.


            “Gue benci sama loe!” bentaknya dengan gaya bicara orang mabuk. “Seharusnya loe gak beruntung, karena gue udah ngambil semuanya dari loe. Bokap loe, harta dan rumah loe, semua teman-teman di sekolah, Biyan dan sekarang... Bimo!” Reta menolak tubuh Aleta hingga mundur beberapa langkah. “Tapi kenapa semua orang yang gue rebut, malah terus tetap mencintai loe!!”


            Aleta terdiam. Emosi di diri Reta, berbanding terbalik dengan kedua matanya yang meneteskan air mata. Dia menangis, walau tidak terisak. Namun air matanya yang jatuh tidak bisa menutupi kesedihan yang terpancar di kedua matanya.


            “Kenapa wanita itu malah ngerebut bokap loe, Al!” ucapnya dengan nada bergetar. “Seharusnya dia gak perlu merebut bokap loe. Agar gue bisa dekat sama loe tanpa harus dibatasi dengan kebencian!”


            Aleta menatapnya kaget. Ucapan Reta yang bisa dijamin tulus dari hati itu, baru pertama kali dia dengar. Andai saja Reta tidak pulang dalam kondisi mabuk, mungkin saat ini Reta tidak akan mengungkapkannya. Semua isi hatinya yang tidak semua orang tahu.


            “Gue... gue pengen dekat sama loe, Al. Gue gak punya siapa-siapa. Bokap kandung gue, gak mau nganggap gue sebagai anaknya, di matanya cuma elo anaknya, Al. Sedangkan suami pertama nyokap gue, membuang gue setelah gue lahir. Loe pikir, nyokap gue sayang sama gue?” Reta menatap Aleta nanar. “Enggak. Dia gak sayang sama gue. Yang dia sayangi cuma uang uang dan uang!”


            Reta hampir saja terjatuh, dengan cepat Aleta menahan tubuhnya yang tanpa disangka, Reta malah memeluknya erat. Tangisannya pecah yang membuat Aleta ikut sedih mendengarnya. Sesaat Aleta mengarahkan


pandangannya ke Tyaz yang masih berdiri memperhatikan segalanya. Tidak ada ekspresi berarti dari wajahnya. Tyaz malah memilih masuk meninggalkan drama menyedihkan yang sungguh tidak membuatnya hanyut. Langkah Tyaz yang memasuki rumahnya, membuat Aleta sadar bahwa Biyan sedari tadi, berdiri di belakang Tyaz. Diam-diam memperhatikan segalanya dengan tatapan dingin. Tidak ada senyuman di bibirnya seperti biasa. Hanya tatapan sendu yang mampi ditangkap Aleta, sebelum dirinya menenggelamkan wajah di bahu Reta yang masih menangis tersedu-sedu.


            “Dia sudah tidur?” tanya Aleta saat melihat Biyan keluar dari rumah Reta.


            Reta yang sebelumnya sudah mulai tidak sadarkan diri saat berada di pelukan Aleta, membuat Biyan inisiatif mengajaknya masuk ke dalam, meninggalkan Aleta sendirian di luar rumah Reta hampir tiga puluh menit berlalu.


            Biyan tidak menyangka, Aleta masih menanti di luar. Duduk bersandarkan dinding dengan kedua kaki ditekuk. Biyan mengangguk, lantas menghampiri Aleta. Duduk di sampingnya, menyandarkan tubuh di dinding yang sama sembari memejamkan kedua mata. Aleta menarik pandangannya ke Biyan yang tampak lelah, mengusap kepalanya sesaat yang membuat Biyan kembali membuka mata dan mengarahkannya pada Aleta yang tampak tersipu malu, lantas menyudahi usapannya.


            Biyan yang tidak ingin kehilangan usapan lembut itu, langsung menahan tangan Aleta yang mulai turun, mengembalikannya ke atas kepalanya dan tersenyum menenangkan yang membuat jantung Aleta berdegup kencang.

__ADS_1


            “Jangan berhenti, Al. Gue membutuhkannya.”


            Aleta mengangguk dengan kedua mata berkedip beberapa kali. Biyan kembali menyandarkan kepalanya, memejamkan kepala yang seakan menjadi pertanda untuk Aleta kembali melakukannya. Sesaat Aleta meragu, menghela napas sembari memperhatikan tangannya sendiri yang masih melayang di udara.


            “Lakukan, Al,” pinta Biyan tanpa membuka mata yang membuat Aleta tersenyum ragu, lantas mulai melakukannya.


            “Loe menyukainya?”


            “Siapa, Reta?” Biyan kembali mengarahkan arah pandangnya ke Aleta yang tampak menggeleng.


            “Saat kepala loe, diusap-usap seperti ini?’


            Biyan tersenyum, “Sangat.” Biyan menarik napas panjang, lantas mengembuskannya perlahan. “Dulu, kakak gue selalu ngelakuin ini setiap kali gue lelah entah karena apa. Dia selalu ngusap-ngusap kepala gue sampai gue tidur.”


            “Dia pasti sayang banget sama loe, kan?”


            Biyan mengangguk, “Sayang banget, sebelum dia menikah dengan lelaki itu.” Ekspresi menenangkan Biyan berubah seketika. Dia tampak marah. Kedua matanya yang semula meneduhkan, kini berkilat karena emosi. Aleta semakin lembut mengusap kepala Biyan yang langsung membuat cowok tampan berwajah dingin itu kembali mengarahkan pandangan kepadanya.


            “Tentang?”


            “Kalau ngelihat gue emosi?”


            Aleta mengangguk pelan. Anggukan yang membuat Biyan tertawa lucu walau tanpa suara. Aleta menurunkan tangannya, menarik arah tubuhnya lurus ke depan dengan wajah tersipu malu. Biyan menyukainya.


Wajah merona karena malu itu, membuatnya sering tertawa lucu melihatnya. Aleta yang sadar kalau Biyan terus saja melihatnya, langsung mengarahkan pandangan ke arah lain. Berusaha menjauhkan wajahnya dari sorot mata Biyan yang masih saja terjurus padanya.


            “Gue gak akan emosi lagi di depan loe, Al.”

__ADS_1


            Aleta spontan mengalihkan pandangannya ke Biyan. Tatapan Aleta, membuat Biyan mengangguk pelan seakan ingin meyakinkannya tentang janji yang baru saja dia ucapkan.


            “Loe janji?”


            “Janji. Tapi kalau seandainya gue harus emosi, gue boleh minta satu hal dari loe?” tanya Biyan yang hanya dijawab anggukan dari kepala Aleta. “Jangan tinggalkan gue saat emosi menguasai gue, Al. Karena hanya melihat loe, emosi gue gak akan sepenuhnya nguasai diri gue. Bisa, kan?”


            Sesaat tidak ada jawaban dari Aleta. Keduanya hanya saling tatap tanpa kembali bersuara. Tatapan Aleta yang kali ini cukup meneduhkan untuk diterima Biyan, membuatnya merasakan kehangatan walau saat itu, angin terus menerus mengirimkan hawa dinginnya di malam yang tampak mendung dengan awan-awan tebal menguasai langit. Dia benar-benar nyaman berada di dekat Aleta. Ingin rasanya mengajak Aleta untuk terus berada di dekatnya setiap saat. Namun kondisi yang terjadi, membuatnya kesulitan membujuk Aleta untuk tinggal di rumahnya. Aleta sendiri malah lebih memilih menetap di rumah pemberian Bimo.


            “Gue janji,” ucap Aleta yang berhasil menarik senyuman di bibir Biyan. “Tapi... boleh gue juga meminta sesuatu sama loe, Bi?”


            “Apa?”


            Aleta menarik napasnya sesaat, lantas mengembuskannya perlahan, “Jangan pernah tinggalkan gue, apa pun yang terjadi.”


            Biyan memperlebar senyumannya, mendaratkan kecupan lembut di kening Aleta yang berhasil membuat Aleta kaget bukan main. Ekspresi kaget Aleta, kembali menarik tawa Biyan. Rona merah di wajahnya pun kembali hadir yang membuat wajahnya semakin lucu di kedua mata Biyan.


            “Gue janji, Al.”


            “Satu lagi!” ucap Aleta cepat tanpa memberi jeda setelah kalimat Biyan keluar yang sesaat membuat Biyan kaget. “Jangan lakuin apa pun tanpa permisi, terutama... terutama... tentang beginian!”


            Biyan tertawa mendengar nada gugup Aleta. Tawa Biyan, terasa ledekan diterima Aleta yang membuatnya terus memaksa Biyan untuk berjanji. Biyan benar-benar tidak sanggup menahan tawanya yang semakin menghadirkan rasa kessal di hati Aleta melihat ketidakseriusan Biyan. Sadar Aleta ngambek padanya, Biyan langsung memegang kedua pipi Aleta dan mengarahkannya padanya.


            “Iya-iya, gue janji, Al. Gue gak akan ngelakuinnya tanpa izin.”


            Aleta tersenyum. Lagi-lagi hawa panas hadir di wajahnya yang dengan cepat langsung dialihkan Aleta ke arah lain. Biyan yang mendapatinya kembali tertawa yang membuat Aleta kesal, lantas mendaratkan cubitan-cubitan kecil di perutnya.


            Tanpa keduanya sadari, Reta mendengar semuanya dari balik pintu rumahnya. Alkohol memang masih menguasainya, namun tidak sepenuhnya kesadaran Reta diambil oleh cairan haram itu. Reta memang sengaja berpura-pura mabuk berat di hadapn Aleta agar bisa mengungkapkan segalanya. Semua keinginan yang selama ini ada dalam hatinya. Dari awal dia berniat menemui Aleta dengan menggedor rumahnya, namun sosok Tyaz yang

__ADS_1


hadir di hadapannya tanpa diminta, membuatnya memilik alasan kuat untuk menemui Aleta, tanpa harus menggedor rumahnya. Reta menarik tubuhnya ke bawah, duduk di lantai dengan memeluk kedua kakinya yang sengaja ditekuk. Menangis sendirian di balik pintu sembari terus mendengar Aleta dan Biyan saling melempar candaan di luar.


            “Maafin gue, Al. Maaf karena gue selama ini jahat sama loe,” ucapnya lirih setengah berbisik dengan tangis yang masih menguasainya.


__ADS_2