
Keinginan Aleta untuk hadir di sekolah, lenyap sudah. Sikap Bimo padanya ditambah tempat yang dituju Biyan bersamanya kini, membuatnya enggan masuk sekolah. Berulang kali Salsa menghubunginya, namun Aleta tetap saja mengabaikan telepon masuk dan beberapa pesan singkat itu begitu saja. Saat ini, Aleta hanya ingin duduk di pinggir jembatan yang hampir membelah bibir pantai dengan kedua kaki bergelantungan di atas air.
Suara ombak bergulung ditambah dengan semilir angin dan sinar mentari yang masih tergolong pagi, jelas
dinikmati Aleta. Sesekali dia tampak memejamkan kedua mata, membiarkan rambut indah ikalnya menari mengikuti arah embusan angin. Dia menyukainya. Ketenangan yang tercipta dan juga suara alam persis seperti musik merdu mengalun masuk ke dalam telinga. Aleta mengalihkan pandangan ke sisi kirinya saat Biyan kembali hadir dan duduk di sampingnya, membawakan air kelapa yang dibungkus dengan plastik bening hingga menampakkan isi kepala terburai dalam rendaman air kelapa di dalamnya. Aleta menerimanya, memasukkan sedotan ke dalam lantas meminumnya santai dengan kedua mata kembali mengarah ke laut lepas di hadapannya.
“Masih ingat kejadian dua tahun lalu di sini, Al?”
Aleta mengangguk. Ingatannya jauh terlempar ke kejadian di awal Aleta dan Biyan baru dekat. Setiap sore, keduanya sering duduk bersantai di sini. Sekedar menikmati senja hingga langit perlahan menghitam. Aleta menyukainya, bahkan Biyan hampir jatuh ke air hanya karena tanpa sengaja, Aleta memukul punggungnya. Kelucuan cerita yang disampaikan Biyan, membuatnya tanpa sadar ketawa lepas hingga memukul Biyan. Untung saja Aleta cepat menangkapnya, jika tidak saat itu mungkin saja Biyan sudah hanyut tergulung ombak.
“Mau coba lagi?” goda Aleta yang spontan membuat Biyan tertawa lucu. “Maaf soal hari itu. Dan maaf juga soal hari ini.”
“Lagi ujian?” Aleta menggeleng bingung. “Kok banyak soalnya?”
Lelucon receh Biyan, kembali berhasil membuat Aleta tertawa. Seakan lupa kejadian sebelumnya, dia tertawa lepas namun kali ini, berusaha menjaga tangannya agar tidak kembali melakukan hal yang sama. Biyan tertawa melihat Aleta memegang tangannya sendiri.
“Kalau mau mukul, pukul aja. Gue bisa berenang kok.”
“Yakin udah bisa?”
Biyan mengangguk, “Jaga-jaga, siapa tau kena pukulan dahsyat dari loe lagi.”
Aleta manyun saat Biyan gantian tertawa lepas. Aleta menyedot minumannya sembari kembali menikmati permainan laut yang begitu indah. Biyan memperhatikan raut wajah Aleta yang tampak lelah. Memar masih ada di beberapa bagian wajahnya, walau tidak semengerikan sebelumnya. Namun Biyan yakin bahwa saat ini, Aleta masih trauma. Biyan tersenyum tipis, lantas menarik arah pandangnya mengikuti arah pandang Aleta.
“Apa yang loe sesalin saat ini, Bi?”
Pertanyaan Aleta terasa menyakitkan untuk Biyan. Sesaat cowok berhidung mancung itu menundukkan kepala. Mencoba menetralkan perasaannya sendiri yang seketika campur aduk mendengar pertanyaan Aleta. Sadar jika Biyan tidak juga memberi jawaban, Aleta menarik pandangannya ke cowok yang kini masih tertunduk. Tangan kirinya tampak menggenggam bagian atas plastik berisikan air kelapa muda dengan sedotan menancap ke dalam. Sama seperti miliknya.
“Bi?”
__ADS_1
“Banyak,” jawab Biyan kembali mengangkat kepalanya, mengarahkannya pada Aleta yang masih menatapnya. “Salah satunya, kelahiran gue.”
“Kelahiran loe?”
Biyan mengangguk, membuang pandangan ke laut lepas sembari menyedot minumannya melalui sedotan. “Andai gue gak lahir ke dunia ini, Bokap gue pasti masih hidup. Andai gue gak lahir ke dunia ini, kakak gue gak bakalan menikah dengan pria yang tidak dia cintai hanya demi kebutuhan gue. Dan andai gue gak lahir di dunia ini, gue gak perlu berhutang pada Reta yang ujung-ujungnya, gue harus nyakitin orang yang gue cintai.” Biyan kembali mengarahkan pandangannya ke Aleta. Seolah-olah ingin menegaskan bahwa Aletalah orang yang sangat dia cintai itu.
Sesaat Aleta tersipu malu. Rona kemerahan hadir di kedua pipinya, lantae juga s dengan cepat membuang pandangannya ke sisi kanan agar Biyan tidak melihatnya. Namun sayangnya, Biyan lebih dulu menangkap rona kemerahan itu hingga membuatnya tersenyum lebar.
“Nyokap gue.”
Kalimat lanjutan Biyan, membuat Aleta dirundung kecewa seketika. Kecewa bercampur malu yang langsung menyergapnya, menarik bibirnya maju ke depan, manyun. Aleta kembali menyedot minumannya tanpa melihat ke Biyan yang diam-diam, tertawa lucu.
“Gimana caranya loe bayar hutang sama Reta?” Aleta kembali membuka suara setelah beberapa saat menanti kalimat bantahan Biyan tentang kalimat lanjutannya. Sialnya, Biyan tidak juga membantah. Cowok itu malah asyik dengan kebungkamannya sendiri.
“Pasti ada jalan, dan gue masih mengaturnya.”
“Caranya?”
“Mau sampai kapan loe bertahan di rumah itu?” Biyan akhirnya bertanya yang membuat Aleta senang bukan main. Sejak tadi dia memikirkan pembahasan apa yang akan dia bicarakan bersama Biyan agar cowok aneh itu, tidak bosan berada di dekatnya. Hingga membuat Aleta pusing sendirian.
“Gue gak tau, Bi. Gue juga bingung.”
“Apa yang loe tunggu?”
“Entahlah, mungkin sampai gue siap untuk kembali ke rumah.” Aleta mengingat sosok Fredy yang kapan saja bisa hadir sesuka hatinya. “Lucu kalau diingat-ingat. Gue kayak gak ada punya pilihan.”
“Maksudnya?” kening Biyan mengerut yang membuat Aleta tertawa karenanya. memukul-mukul jarinya pelan di kening Biyan yang membuat Biyan tertawa. Kegemasan Aleta pada keningnya yang setiap kali bingung selalu mengerut, membuat Biyan dan Aleta kembali mengingat beberapa kejadian dulu. Saat kejadian yang sama, terjadi ketika Biyan kebingungan. Membuat keduanya saling beradu pandang lanats tertawa. Dan kembali diam.
“Kalau gue pulang, gue dihadapkan sama sikap kasar bokap. Tapi kalau gue bertahan di rumah itu, Bimo yang gue hadapi. Lucu, kan?”
__ADS_1
Aleta benar. Pilihan yang sebenarnya tidak untuk dipilih itu, kini malah harus membingungkannya. Aleta menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan yang membuat Biyan menarik pandangan kembali ke arahnya. Menikmati lekuk wajah cantik Aleta yang disinari mentari. Kedua bola mata indahnya, ditambah hidung mancung dan lengkungan bibir yang sempurna, membuat siapa pun cowok akan jatuh cinta padanya. dia tidak kalah cantik dari Reta. Perbedaannya hanyalah make up. Reta begitu pintar mengoles seluruh alat make up di wajahnya, sedangkan Aleta tampak polos mengandalkan bedak padat dan lipstik sesuai warna bibirnya yang merah muda.
“Loe bisa tinggal di rumah gue, atau Salsa!” usul Biyan yang membuat Aleta tertawa, menampakkan gigi-giginya yang rapi dan putih.
“Mau sampai kapan gue jadi benalu di rumah orang lain?”
“Loe gak benalu, Al.”
“Menumpang?” tanya Aleta seakan memperjelas maksudnya. “Bukankah benalu itu hidupnya menumpang di tempat orang lain? Gue hanya gak ingin nyusahin orang lain, Bi. Capek, rasanya kayak hidup gue gak ada manfaatnya banget.”
“Jadi loe mau di mana. Kalau terus di rumah itu, bukan hanya Bimo yang harus loe hadapi, tapi juga Reta.”
Ingatan Aleta tertarik ke Reta. Kejadian pagi itu saat Aleta mendapati Bimo keluar dari rumah Reta ditambah dengan senyuman penuh kemenangan di bibir Reta, membuatnya kesal bukan main. Bukan karena tentang Bimo yang berhasil direbut Reta, tapi tentang semua hal yang lagi-lagi, membuat Reta tersenyum puas.
“Terkadang, pikiran jahat gue hadir, Bi.” Aleta kembali mengarahkan pandangan ke Biyan yang kini menatapnya. “Kalau seandainya kedua orang itu gue bunuh, hidup gue aman kali ya. Tenang, biar pun harus di penjara.”
Biyan tertawa mendengar pemikiran Aleta, “Terkadang gue juga mikir gitu. Gue merasa ingin ngebunuh Reta agar gak ada lagi orang yang ngehina gue seenak hatinya. Dan gue juga ingin ngehabisin Bimo agar dia, gak nyakitin loe lagi.”
Aleta tersenyum, “Sampai segitunya?”
Biyan mengangguk, “Sakit rasanya lihat elo seperti kemarin, Al. Ngeringkuk di sudut ruangan dengan luka dan darah di mana-mana. Ngedengarin jeritan loe saat Bimo ngehajar loe di dalam. Rasanya saat itu juga, gue ingin ngehabisin dia.”
Aleta menatapnya teduh. Tidak hanya ucapannya yang sedikit mengandung kekesalan, wajahnya pun kini berubah. Tidak lagi ada keteduhan di kedua matanya. Kilatan emosilah yang kini menetap di sana. Aleta tersenyum, memegang tangan kanan Biyan yang sedari tadi, lurus memegang pinggir jembatan. Biyan menarik pandangannya ke Aleta. Kedua mata Aleta ditambah senyumannya berhasil melenyapkan emosi di dirinya.
“Terima kasih, Biyan. Kalau tidak ada kamu waktu itu, mungkin saja luka-luka ini gak akan sembuh secepat ini. Aku gak menyangka, saat itu... aku gak sendirian seperti biasanya.”
Biyan mengangguk, tersenyum lantas memindahkan tangannya ke atas tangan Aleta.
“Kalau gitu, gimana kalau kita bunuh mereka berdua? Kamu ngebunuh Reta dan aku Bimo. Seru kayaknya,” goda Biyan berharap Aleta bisa kembali tertawa. Dan alhasil, usahanya berhasil. Aleta tertawa lepas yang membuat Biyan sesaat tertegun melihat ekspresi wajahnya yang berubah seketika. Aleta terus tertawa yang membuat Biyan akhirnya ikut tertawa.
__ADS_1
“Boleh-boleh, ide bagus!” sambung Aleta yang semakin menghadirkan tawa yang begitu lepas dari keduanya.
Embusan angin kembali hadir meniupkan kekuatannya yang tidak terlalu kuat. Mengiringi tawa keduanya yang masih saja terdengar mencoba mengalahkan seruan ombak, yang tampak bergulung menuju bibir pantai dan pecah seketika. Tertarik kembali ke tengah lautan, lalu mulai menyatu dan bergulung seperti sebelumnya.