
Biyan menghentikan motornya di pinggir jalan, melepaskan helm dan mengarahkan pandangannya lurus ke depan. Bukan jalanan yang cukup ramai yang menjadi arah pikirannya saat ini, tapi ucapan Reta saat Biyan mengantarnya pulang. Ucapan yang membuat Biyan cukup takut dengan apa yang akan terjadi ke depannya.
“Aku gak bisa terima, aku harus balas perlakuan Aleta tadi. Dia udah jelas-jelas permalukan aku, Bi, aku harus balas!”
Biyan menghela napas, meraih handphone di saku jaket jeansnya, lantas mencari satu nama di dalam daftar telepon. Biyan membuka nomor telepon Aleta, lantas tanpa menunggu lama, menekan tombol pemanggil dan menempelkan di telinga kanannya.
“Loe di mana? Gue tunggu di taman dekat sekolah sekarang. Gue harap loe mau datang.”
Biyan mengakhiri teleponnya, memasukkan kembali handphone ke dalam saku celana lantas memakai helmnya. Mulai bergerak meninggalkan tempatnya berhenti sebelumnya.
***
Aleta di sana. Duduk sendirian di kursi taman sembari menikmati es krim yang baru saja dia beli. Cuaca yang cukup panas, membuatnya benar-benar butuh sesuatu yang bisa mendinginkan otak dan hatinya yang kini panas. Bukan hanya karena cuaca, tapi juga karena emosi tadi pagi yang masih membekas. Aleta menghela napas, menyapu pandangan ke sekitar taman yang masih sunyi.
Aleta melirik ke jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Sudah sepuluh menit dia menanti, tapi Biyan juga belum hadir menemuinya. Aleta paling benci menunggu, bukan karena malas, namun kebosanan yang hadir setiap kali dia duduk diam menanti seseorang. Apa pun alasannya, Aleta paling tidak suka disuruh menunggu. Namun kali ini entah kenapa, Aleta cukup betah duduk diam sendirian. Biasanya hanya lima menit saja, Aleta pasti sudah pergi dari tempat janjian.
Aleta mengalihkan pandangannya ke tukang bakso yang baru saja menepi di pinggi taman. Beberapa orang datang menerumuninya, membeli beberapa bakso jualannya sembari berteriak meminta duluan dilayani. Aleta tertawa melihat anak-anak yang tampak tidak mau kalah berebut lebih dulu mendapatkan baksonya, menggeleng pelan lantas kembali menikmati es krim di dalam cup di tangannya.
“Sorry lama!” Suara Biyan terdengar mengagetkan Aleta, langsung mengalihkan pandangan ke Biyan yang kini duduk di sampingnya. Aleta memperhatikan Biyan membuka jaket dan sarung tangan yang selalu dia kenakan, setiap kali mengendarai motornya. Aleta tersenyum tipis, lantas kembali menikmati es krimnya yang membuat Biyan meliriknya sesaat.
“Gak pernah berubah,” ucap Biyan yang membuat Aleta manyun. Seakan tahu maksud dari ucapan Biyan barusan. “Es krim cokelat dengan choco chips di atasnya.”
Aleta tertawa. Biyan masih saja mengingat setiap kesukaannya. Kejadian beberapa tahun lalu, tepatnya setelah acara Masa Orientasi Siswa di sekolah usai, Biyan sengaja mengajaknya duduk di taman yang sama sembari menikmati sore dengan es krim yang dia beli. Es krim yang sama dan di tempat yang sama. Biyan yang menyadari tawa Aleta pun, ikut tertawa, lantas menyandarkan tubuhnya sembari menikmati taman yang masih sunyi.
Seharusnya, di jam segini anak-anak sudah hadir meramaikan taman. Namun kali ini berbeda. Tidak ada anak-anak di sana. mungkin karena sore hari ini matahari masih tampak menyengat walau jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Cuaca panas yang pastinya membuat para ibu-ibu khawatir jika anaknya bermain di luar.
__ADS_1
“Udah lama ya kita gak duduk di sini?” tanya Biyan yang langsung dijawab dengan anggukan malu-malu oleh Aleta. “Dulu, sebelumnya semuanya jadi kayak gini, kita sering pulang sekolah duduk di sini sampai sore. Kamu ingat?”
Aleta mengalihkan pandangannya ke arah lain, tersenyum sesaat, lantas kembali mengalihkan pandangan ke Biyan dengan senyuman yang sudah menghilang dari bibirnya.
“Loe ngajak gue kesini, cuma mau mengenang masa lalu? Loe kangen sama gue??” tebak Aleta yang berharap jawaban menyenangkan dari Biyan. Namun Biyan hanya tersenyum, menegakkan posisi duduknya dan menatap Aleta serius.
“Loe gak kangen sama gue?” tanya Biyan balik yang membuat Aleta kikuk. Kembali melahap es krimnya mencoba menyembunyikan perasaan malu sekaligus kikuknya saat itu. Mendapati sikap Aleta, Biyan menundukkan kepalanya, tersenyum sembari menarik napas dan mengembuskannya perlahan.
“Loe putus dari Bimo?” tanya Biyan saat suasana sudah kembali seperti sediakala. Tidak ada sikap gugup atau senyuman di kedua bibir. Aleta sendiri kembali sibuk menghabiskan es krimnya, menatap Biyan sesaat sembari mengangguk pelan.
“Udah saatnya,” jawab Aleta singkat.
“Dia terima?” Aleta menggeleng. “Terus, tumben gak berusaha buat loe batalin kata putus itu? Biasanya dia mati-matian untuk ngeyakini loe kalau dia bisa berubah.”
“Al?” panggil Biyan yang sejak tadi merasa bahwa Aleta mengabaikannya. “Ada apa?”
Aleta menggeleng cepat, “Gak ada apa-apa.” Aleta tersenyum. “Sorry ya. Tadi di sekolah gue udah permalukan cewek loe. Dia pasti malu banget. Ya, kan?”
Biyan mengangguk, “Itu juga yang mau gue bahas sama loe di sini.” Biyan mengalihkan pandangan ke cup es krim di tangan Aleta yang sudah kosong. Satu kebiasaan Aleta yang lainnya adalah, paling suka menunda-nunda membuang cup es krim yang sudah kosong. Aleta selalu suka memegangnya, terkadang memainkan sendok plastik kecil yang dia gunakan, untuk mengaduk-ngaduk cup kosong sekedar memainkannya. Biyan tersenyum, merampas cup es krim itu yang sesaat membuat Aleta kaget, lantas beranjak mendekati tong sampa yang tidak jauh dari tempat keduanya duduk.
Aleta tertawa melihat Biyan yang melempar cup es krim itu ke dalam tempat sampah. Biyan lagi-lagi membuat Aleta tersipu malu dengan sikapnya. Berpura-pura melihat ke tukang bakso yang masih saja melayani pembeli, sembari tersenyum. Biyan sendiri kembali duduk dan melirik ke Aleta yang lagi-lagi berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Aku suka lihat kamu tersenyum, kamu manis.”
Kalimat yang sama itu, kembali berhasil membuat Aleta menarik pandangannya kembali ke Biyan. Keduanya saling tatap, lantas tersenyum bersamaan mengingat sikap keduanya yang terasa selalu aneh setiap kali bersama. Aleta menundukkan wajah, mengingat kembali sikap Bimo yang tidak bisa seperti Biyan. Andai saja Bimo mampu bersikap lembut sedikit saja, mungkin Aleta masih memiliki alasan kuat untuk sekedar mempertahankannya. Bukan hanya karena beralasankan sakit yang Bimo derita.
__ADS_1
“Reta gak akan tinggal diam, Al. Dia pasti membalas loe.”
Aleta mengangguk, “Gue tau itu. Sampai kapan pun dia gak bakalan menyerah buat ngehancurin hidup gue.”
Biyan mengalihkan pandangannya ke Aleta yang masih menundukkan kepala, “Dia bisa nyakitin loe lebih parah lagi dari sekarang, Al. Sebaiknya loe menjauh sementara waktu. Atau... pergi dulu sementara.”
Aleta menoleh, menatap Biyan yang masih saja menjuruskan pandangan ke arahnya. Ada kekhawatiran di kedua matanya yang mampu ditangkap Aleta. Kekhawatiran yang selalu hadir di kedua mata Biyan setiap kali Reta ingin membalasnya. Aleta tersenyum tipis, menghela napas lantas menegakkan posisi duduknya dengan kedua mata, terus tertuju pada Biyan.
“Loe takut dengan rencana gila Reta?”
“Gue lebih takut kalau loe kenapa-kenapa, Al.”
Aleta terdiam. Ucapan Biyan mampu mendesirkan darahnya lebih cepat dari sebelumnya. Jantungnya pun ikut berdegup kencang, membuatnya kesulitan mengukir kata yang berserakan di kepalanya.
“Bukan hanya Reta, Bimo juga pasti gak akan tinggal diam. Entah dia akan meminta secara halus, atau kasar... dia pasti akan berusaha untuk kembali sama loe.” Biyan kembal melanjutkan kalimatnya yang membuat Aleta mengangguk pelan.
“Apa saat ini loe, gak berniat melindungi gue?”
Pertanyaan Aleta jelas ditolan mentah-mentah hati Biyan. Dia selalu ingin melindunginya. Sejak dulu hingga saat ini, hanya Aleta yang ingin dia jaga. Bahkan alasannya mau menjadi pacar Reta tidak lain adalah, agar Reta tidak lagi mengusik Aleta. Namun sialnya, Reta ingkar janji dan malah terus mengancamnya dengan utang keluarga Biyan padanya. Hingga membuat, Biyan tidak bisa berkutik.
“Gue tau kalau gue sendirian sekarang.”
“Gue pasti ngelindungi loe!” potong Biyan. “dengan cara gue.”
Keduanya kembali terdiam, saling pandang, membiarkan desiran angin menyapu wajah keduanya dan menarik helaian rambut panjang Aleta, menari mengikuti arah angin. Biyan sendiri seakan tidak ingin melepaskan pandangannya yang kini beradu dengan kedua mata Aleta. Ada keteduhan di kedua mata Aleta yang selalu dia sukai, hingga membuatnya betah jika harus duduk diam menikmati pancaran sinar dari kedua mata Aleta. Tanpa berkata apa-apa, hanya sekedar duduk diam hingga waktu berakhir di hari saat keduanya memilih duduk berdua, jauh dari semua orang yang mengenal keduanya. Karena bagi Biyan, waktu bersama Aleta adalah satu hal yang selalu dia nantikan setiap kali dia merindukannya.
__ADS_1