VLOG

VLOG
Episode 15


__ADS_3

Aleta masih belum ngumpulkan nyawanya, saat Salsa hadir pagi-pagi sembari membawa peralatan nge-vlog untuk Aleta. Dengan sengaja, meletakkannya di depan tv, dan mengenalkannya satu persatu tanpa menyadari, kedua mata Aleta masih belum terbuka lebar walau dirinya sudah duduk di atas tempat tidur.


Gedoran Salsa di pintu berulang kali, jelas membuat Aleta kaget bukan main, melompat dari tempat tidur, dan melangkah cepat untuk membuka pintu takut jika ada apa-apa di luar. Kebakaran, atau semacamnya. Tapi ternyata, malah Salsa yang berdiri di depan rumahnya, tersenyum nakal sembari menerobos masuk sambil mengucapkan salam.


“Loe dengarin gue gak sih, Al!” bentak Salsa saat melihat Aleta kembali menjatuhkan tubuhnya, berbaring di atas tempat tidur dan bersiap-siap kembali tidur.


Jelas saja Aleta masih mengantuk. Tadi malam baru jam empat pagi, Aleta berhasil memejamkan kedua matanya. Rasa takut akan hadirnya kembali Ferdy ke rumah Arini, membuatnya terus menerus menunggu di depan handphonenya, menunggu panggilan dari Mbok Minah yang mau tidak mau, langsung memaksanya keluar saat itu juga menuju rumah sang mama.


Mbok Minah memang sempat memintanya untuk tetap tinggal sekedar menemani. Aleta menggeleng, dia tidak ingin di sana. Kenangan pahit yang sempat terukir di rumah itu, membuat Aleta trauma bukan main. Ditambah lagi Ferdy yang bisa kapan saja hadir, membuatnya takut jika kejadian beberapa tahun lalu, kembali terulang. Membuatnya harus mentap di rumah sakit berhari-hari, dengan kondisi mengenaskan.


“Al, ayo bangun!” pinta Salsa sembari menarik tangan Aleta untuk kembali duduk. “Katanya mau belajar nge-vlog, gimana sih!”


“Gak jadi deh, batal!” ucap Aleta lantas kembali menjatuhkan diri. Dengan cepat Salsa menariknya kembali. “Apaan sih, Sa, kan udah gue bilang gak jadi!”


“Loe udah lihat vidio terbaru Bimo?” Aleta menggeleng dengan kedua mata sedikit terbuka dan terarah ke Salsa yang duduk di sampingnya. “Tentang loe. Dia menghina loe habis-habisan, tuh anak gue rasa punya kepribadian ganda deh!”


Aleta membuka lebar kedua matanya. Kata terakhir Salsa, membuatnya kaget bukan main, menarik arah pandangnya ke arah lain berharap Salsa tidak menangkap ekspresi yang baru saja terlukis di wajahnya. Namun sialnya, Aleta kalah cepat dari Salsa. Salsa yang mendapati ekspresi aneh dari Aleta, langsung menarik dagunya, keduanya matanya menyipit seakan menyelidik.


“Ada yang loe sembunyiin dari gue?”


“Sebaiknya kita lihat vidionya, gue penasaran.” Aleta bangkit dari tempat tidur, namun dengan cepat Salsa menariknya hingga kembali terduduk.


“Tebakan gue... benar?” Aleta menatap Salsa bingung. “Bimo punya kepribadian ganda?”


“Ya mana gue tau!”


“Mustahil loe gak tau, loe pacaran cukup lama sama dia, gak mungkin loe gak tau, Al!” Salsa menatapnya tidak terima. Dia tahu benar, Aleta menyembunyikan sesuatu. Sepintar apa pun Aleta menyembunyikannya, Salsa selalu saja mengetahuinya tanpa dia minta sekalipun.


“Al!”


“Gue mau lihat vidionya dulu, kali ini dia ngomong apa tentang gue.” Aleta kembali beranjak dari tempat tidurnya, meraih laptop di atas meja lantas duduk di lantai bersandarkan tempat tidur. Salsa yang masih duduk di atas tempat tidur, memperhatikannya iba.


“Dia bilang, loe pernah tidur dengannya.”


Aleta yang baru saja ingin menekan tombol power, terhenti. Ucapan Salsa membuatnya kaget bukan main. Perlahan, Aleta menarik kepalanya untuk tertunduk, menggepal tangan kirinya yang sedari tadi, berada di sisi tubuhnya tanpa sepengetahuan Salsa yang masih terpusat ke sosok Aleta yang duduk membelakanginya.


“Loe gak pernah ngelakuin itu kan, Al?”

__ADS_1


“Menurut loe?”


“Loe bukan cewek seperti itu, Al,” ucap Salsa lirih, seakan rasa sakit di hati Aleta menjalar ke dalam hatinya. “Hanya saja, hampir semua orang di sekolah, mempercayainya.”


Aleta menarik napas panjang,lantas mengembuskannya kasar. Entah mengapa secara tiba-tiba, dia teringat Biyan. Seribu tanya pun berputar di kepalanya. Apa Biyan menjadi salah satunya? Apa Biyan mempercayai Bimo? Apa Biyan akan menjauhinya setelah melihat vidio itu? Atau jangan-jangan Biyan belum melihatnya.


“Sudah sejak awal gue bilang, jauhi Bimo, Al, tapi kenapa loe masih saja menerimanya setiap kali dia


memperlakukanmu secara kasar.” Salsa kembali membuka suara yang kali ini, terdengar bergetar di setiap kata yang dia ucapkan. Getaran yang berhasil membuat Aleta sakit bukan main. Belum selesai masalah Arini dan Ferdy, masalahnya dengan Reta, dan sekarang harus hadir lagi masalah yang dengan sengaja dibuat Bimo entah dengan alasan apa. Mungkin demi followers, atau hanya ingin menjatuhkan nama baik Aleta di depan semua orang. Sialnya, dengan susah payah Aleta mempertahankan nama baiknya semenjak masuk ke SMA pilihannya bersama Salsa, tapi dengan gampangnya orang lain malah merusaknya. Rasanya saat ini, Aleta ingin menghilang saja dari semua mata orang-orang yang terarah padanya.


“Dia itu sakit, Sa.”


“Sakit?” Aleta mengangguk tanpa berbalik. Salsa yang tidak sabar, langsung turun dari tempat tidur dan duduk di samping Aleta yang masih menundukkan kepala. “Tebakan gue, benar?”


Aleta kembali mengangguk, “Sudah sejak lama gue tau. Dan semua itu, karena Ayahnya.” Aleta mengangkat kepalanya, menatap ke Salsa yang masih terlihat bingung bukan main. “di depan matanya sendiri, Ayahnya membunuh neneknya hanya demi harta. Ayahnya yang tau bahwa neneknya Bimo berniat memberikan semua hartanya ke panti asuhan, tanpa pikir panjang langsung membunuhnya dengan menusuknya berulang kali pakai pisau. Dan semua itu, terjadi di depan mata Bimo.”


“Apa Ayahnya tau?”


Aleta menggelengkan kepala, “Saat itu, Bimo berada di kamar mandi kamar neneknya, baru saja selesai buang air kecil, dan dia melihat semuanya.”


Sial! Umpat Aleta kesal melihat Reta di sana.


“Hai, Guys, kali ini gue ditemani sama cewek cantik di sekolah gue, cewek populer yang kalian semua juga pada tau! Ini dia... Reta!!” ucap Bimo memulai segalanya. Reta melambaikan tangan ke kamera dengan gaya centilnya. Aleta kesal bukan main. Ingatannya kembali ke ucapan Reta yang akan menjadikan Bimo sebagai korbannya selanjutnya. Korban yang akan membuat Aleta kembali sendirian. Dan Aleta benci hal itu.


“Kali ini kita mau bahas apa nih, Ret?”


“Gini deh, gue dengar-dengar nih, ada yang baru putus nih sama ceweknya!” sindir Reta yang langsung merubah ekspresi Bimo. Dia menunduk sesaat yang membuat Aleta sedikit kasihan telah memutuskannya.


“Udah, masih banyak cewek di luar sana yang ngantri buat loe, termasuk gue!” goda Reta yang berhasil membuat Bimo tertawa. “Lagian cewek kayak dia kagak pantes dipertahanin. Apa sih hebatnya dia dibandingkan gue?”


Bimo terdiam, tersenyum tipis, lantas kembali menatap kamera dengan tatapan mengandung makna yang masih belum mampu ditebak Aleta.


“Atau jangan-jangan... loe dan dia udah....”


“Iya, gue udah tidur bareng dia!” jawab Bimo tanpa beban yang membuat Aleta panas. Rasanya ingin dia kirimkan granat ke rumah Bimo saat itu juga, meledakkannya tanpa perasaan dan bertepuk tangan puas melihatnya mati terkapar bersama Reta.


 

__ADS_1


 


            “Tidur, seriusan?” tanya Reta yang langsung dijawab Bimo dengan anggukan ragu.  “Di mana? Hotel?”


“Rumah kontrakannya.”


“Waah!! Pantesan saja loe sengaja ngasih izin dia tinggal di rumah kontrakan loe, rupanya loe dan dia ada maksud. Gila!!!”


Bimo tertawa puas, tawa yang terdengar sinis dengan tatapannya yang tajam menuju kamera. Tawa yang paling Aleta benci dari Bimo. Dan tawa yang selalu saja hadir saat sisi gelapnya memeluknya erat. Aleta benci tawa itu.


“Sudah berapa kali?” tanya Reta lagi.


“Cukup sering, dan gue cukup puas dengan pelayanannya.”


Air mata Aleta jatuh mendengar ucapan Bimo. Rasa malu yang kini menjalar dalam dirinya, membuatnya tertunduk tak ingin melihat Salsa yang kini menggenggam tangannya.


“Gak nyangka ya, selain gak berharga, cewek itu juga pemuas lelaki!” ucap Reta yang lagi-lagi berhasil menaikkan level emosi Aleta. “Kalian mau tau gak siapa orangnya? Namanya....”


“Cukup, Reta. Kita tadi buat perjanjian untuk menyebutkan siapa orangnya.”


“Cuma namanya saja, gak masalah, kan?”


“Reta, aku bilang cukup!”


“Oke!” ucap Reta menyerah. “Yang terpenting teman-teman sekolah kita juga tau kok, cewek sampah yang sekarang malah menggoda cowok gue! Cewek yang bukannya pergi jauh dari hidup gue, malah terus menempel berusaha merusak kebahagiaan gue!”


“Sialan!” bentak Aleta yang berhasil membuat Salsa terlonjak kaget. “Bukannya kebalikkannya!”


“Sabar, Al!”


“Apanya yang sabar, dia yang ngerusak hidup gue, dia yang ngambil kebahagiaan gue!”


“Kalau gitu, balas dia!” usul Salsa yang membuat Aleta menarik pandangannya ke Salsa yang kini tersenyum sinis.


“Dengan cara apa? Membunuhnya?”


“Gila loe, ya... enggaklah!” tolak Salsa sembari menolak keningnya dengan jari tangannya. “Dengan ini!” Salsa menunjuk ke arah semua peralatan vlognya. Aleta menarik salah satu sudut bibir atasnya, tak menyangka dengan saran Salsa barusan. Salsa sendiri tertawa cekikikan sembari menggoyang-goyangkan kameranya ke kanan dan kiri yang membuat Aleta menggelengkan kepala lantas memukul kepalanya sendiri melihat kelakukan sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2