VLOG

VLOG
Episode 8


__ADS_3

             Reta tidak kembali, itulah yang didapatkan Aleta saat keluar keesokan harinya. Hari libur kali ini, menarik minta Aleta untuk kembali mengunjungi sang ibu di rumah sakit. Dari kabar yang dia dapatkan tadi malam, Arini—sang mama—sudah sadar dan berhasil keluar dari kondisi yang sempat menurun drastis. Berulang kali Arini memanggil nama Aleta, Mbok Minah yang terus menjaganya, berusaha menenangkannya bersama beberapa suster yang dia panggil.


             Aleta berhenti tepat di depan rumah Reta. Keadaannya masih sama, pintu yang tertutup rapat, lampu yang mati total dan kaca jendela tertutup. Aleta kembali teringat ucapan Biyan kemarin saat dia bertanya tentang keberadaan Reta. Jawaban menggantung yang membuat Aleta semakin dibuat penasaran tentang keberadaannya itu, membuat Aleta tidak bisa memejamkan kedua mata tadi malam. Berulang kali keluar ke teras belakang, memastikan lampu teras belakang rumah Reta menyala. Namun tetap sama saja, gelap gulita.


             Aleta menghela napas, kembali berjalan mendekati tangga dan menuruninya hati-hati. Belum sempat kedua kakinya menyusuri anak tangga demi anak tangga, langkahnya terhenti. Sosok Bimo hadir dan berdiri di tangga, tatapannya tajam yang membuatnya menelan ludah ketakutan.


             Sadar Aleta tidak melanjutkan langkah, Bimo kembali menaiki tangga mendekati Aleta dan berhenti tepat di hadapannya. Napasnya yang memburu, terasa hangat menerpa wajah Aleta, yang membuatnya sadar kalau kali ini Bimo dirundung emosi.


             “Mau kemana?!” tanya Bimo ketus.


             “Mau ke rumah sakit,” jawab Aleta mencoba menyembunyikan rasa takutnya.


             “Kenapa tidak pernah bilang kalau ibumu masuk rumah sakit?!”


             Aleta tersenyum sinis, “Sejak kapan kamu peduli tentang hidupku?”


             Ucapan Aleta berhasil membuat Bimo murka. Dengan kasarnya, Bimo mencengkram bahu kanan Aleta yang membuatnya kesakitan. Berusaha melepaskan tangan Bimo, namun sialnya bukannya terlepas, tapi malah semakin kuat.


             “Bisa tidak sekali saja kau menghargaiku sebagai pacar!”


             “Lepasin, Bim, sakit!” ucap Aleta setengah ditahan, takut jika semua orang mendengarnya. Tapi sebenarnya sia-sia saja dia menahannya, hampir semua penghuni rumah kontrakan yang persis seperti rumah susun itu, walau hanya terdiri dari dua lantai dan hanya ada lima rumah di setiap lantai, tahu tentang sikap kasar Bimo. Bahkan mereka juga tahu siapa Bimo. Area kontrakan yang kini menjadi tempat tinggal Aleta, adalah milik keluarga Bimo.


             Aleta sempat menolak, memilih untuk mencari tempat lain agar terhindar dai sikap semena-mena Bimo. Namun tetap saja tidak bisa. Aleta malah semakin terjebak dan tidak bisa keluar. Setiap kali sikap kasar Bimo menyergapnya, hampir semua tetangga kompak menutup mata dan telinga. Berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang rasa sakit yang dialami Aleta.


             “Kau anggap aku apa, Al!”

__ADS_1


             “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu,” Aleta memberanikan diri sembari terus berusaha melepaskan cengkraman Bimo. “Kau anggap apa aku selama ini, Bim? Cuma sekedar alat untuk mendapatkan keinginanmu, iya?!”


             Plak!


             Sebuah tamparan melesat di pipi kanan Aleta. Tamparan Bimo berhasil membuat Aleta terdiam, menutup kedua matanya merasakan sakit yang luar biasa di pipi dan kepala. Sesaat Aleta gontai, namun secepat kilat menyeimbangkan tubuhnya kembali dengan berpegangan di pegangan tangga. Tatapannya kembali teralih ke Bimo yang bukannya menyesal, malah kembali mencengkram lengannya yang sesaat terlepas.


             “Apa aku benar?” tanya Aleta dengan nada bergetar. “Apa yang sebenarnya kalian rencanakan? Aku pria tua itu sudah menjualku kepadamu, Bim?”


             “Aleta!”


             “Kenapa? Mau tampar lagi, silakan?!” bentak Aleta tidak tahan. “Seharusnya kau bunuh saja aku, biar aku terlepas darimu selamanya. Dari rencana picik kalian berdua yang hanya memikirkan uang. Di hidup kalian, gak pernah ada cinta!”


             “Seharusnya kau berterima kasih padaku, karena aku sudah memberikanmu tempat yang nyaman di sini!”


             “Nyaman?” tanya Aleta dengan sudut kanan bibir naik ke atas. “bukannya kau sengaja menawarkan tempat tinggal ini biar semakin mengurungku!”


             Bimo melempar tubuh Aleta ke hadapannya. Sesaat Aleta terhuyung, mencoba menguatkan kedua kakinya sembari memegang lengannya yang sakit karena cengkraman Bimo. Dengan langkah tegap, Bimo mendekat, lantas menjambak rambut Aleta hingga membuatnya menjerit kesakitan.


             “Seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih padaku, kalau tidak berpacaran denganku, kau akan jadi sampah yang diinjak-injak di sekolah!” ucap Bimo dengan nada ditekan di setiap kata. Wajahnya cukup dekat dengan wajah Aleta. Seakan ingin mencabik-cabiknya tanpa ampun.


              “Kau pikir, pria itu masih berguna setelah bangkrut?!” tanya Bimo smebari tersneyum sinis. “Dia sama sepertimu, sampah!”


             Aleta kaget bukan main. Ucapan Bimo membuatnya tidak percaya. Bangkrut? Sejak kapan pria sombong itu bangkrut dari usahanya yang mungkin, bisa menghidupkan tujuh turunannya. Namun sayangnya, pria picik itu sama sekali tidak memberikan sepersen pun pada Aleta. Bahkan untuk sekedar merawat wanita yang dia jadikan istri saja, dia tidak mau.


             “Lepasin dia!” Seruan itu, berhasil menarik kedua mata Bimo dan Aleta melesat ke sisi kiri Aleta. Dia di sana, berdiri dengan ekspresi marah dan kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya, terkepal. Pakaiannya santai, kaos berwarna hitam dengan dipadukan jaket cokelat jeans. Bagian bawah terbalut celana jeans yang senada dengan kaos yang dia kenakan.

__ADS_1


             Ada kelegaan di dada Aleta melihat dia hadir di waktu yang tepat. Sesaat senyuman terukir di bibirnya, yang sialnya berhasil ditangkap Bimo. Emosi semakin membara di dirinya, yang membuatnya menarik kembali rambut Aleta dan melemparkannya ke tanah. Aleta tersungkur, dahinya membentur pot bunga yang terbuat dari batu milik Ibu Saima, tetangganya yang tinggal di lantai dasar. Darah segar mengalir, yang membuat Bimo semakin bringas dan berniat menarik rambutnya kembali.


             Gerakan tangan Bimo, kalah cepat dengan Biyan. Dengan sekali pukulan di wajahnya, Bimo tersungkur di dekat tangga. Darah pun ikut mengalir dari hidungnya. Biyan memusatkan pandangannya ke Aleta, membantunya berdiri walau sedikit terhuyung karena rasa pusing yang menderanya.


             “Kita ke dokter sekarang!” ajak Biyan yang langsung ditolak Aleta.


             “Biar aku obatin sendiri saja, tolong antar aku ke atas.” Aleta memohon yang membuat Biyan tak tega melihatnya. Namun belum sempat keduanya melangkah, Bimo tampak kembali bangkit dan mendekat. Dengan sekali tarikan, Aleta terlepas dari pegangan Biyan dan kini berganti di sebelah Bimo.


             “Jangan sentuh pacarku!”


             “Pacar?” tanya Biyan tertawa lucu. “Pacar atau boneka yang bisa kapan saja kau mainkan?!”


             “Brengsek!” bentak Bimo yang bersiap menyerang Biyan. Namun niatnya terurung saat Aleta dengan cepat, berdiri di antara keduanya, merentangkan tangan menghalangi Bimo memukul Biyan seperti yang dia lakukan pada Bimo. “Beraninya kau membelanya!”


             “Aku bukan membelanya,” ucap Aleta berbohong. “Tapi sebaiknya kau pergi sekarang, atau kita... putus!”


            Ancaman Aleta yang selalu berhasil membuat Bimo bungkam, kini kembali berhasil untuk kesekian kalinya. Bimo mengarahkan tatapan ke Biyan yang masih berdiri di belakang Aleta, menatapnya tajam seakan ingin mecabik-cabiknya saat itu juga. Bimo kembali mengarahkan pandangan ke Aleta. Anehnya, kali ini tatapan emosi yang semula hadir di kedua matanya berubah drastis. Dia tampak iba melihat kondisi Aleta saat itu. Darah segar berhasil membuatnya sadar, kalau sikapnya kali ini melukai Aleta.


             Bimo mendekat, menyentuh dahi Aleta dengan tatapan khawatir yang jelas membuat Biyan bingung bukan main. Perubahan yang terlalu cepat itu, menghadirkan pikiran yang bukan-bukan di diri Biyan tentang Bimo. Berniat menolaknya menjauh, namun sikap Aleta yang malah tidak menghalanginya, membuat Biyan semakin tidak percaya dengan semua yang dia lihat.


             “Kita obati dulu luka kamu ya, aku minta maaf,” ucap Bimo yang langsung dijawab gelengan kepala. “Aku menyesal, Al.”


             “Pulanglah, sebelum aku membencimu.”


             Bimo mundur, tertunduk persis seperti kerbau yang diikat dengan tali dan hanya bisa menurut. Sesaat dia melirik ke Biyan, kilatan emosi hadir kembali di kedua matanya, walau secara tiba-tiba kembali berganti saat sorot matanya, terarah ke Aleta. Tanpa banyak kata, Bimo pergi meninggalkan keduanya yang kini hanya menatapnya dari belakang. Masuk ke dalam mobil sport berwarna hitam miliknya, lantas pergi meninggalkan asap tebal yang keluar dari knalpot.

__ADS_1


             Biyan mengarahkan pandangannya ke Aleta. Dia tampak memegangi kepalanya, tubuhnya kembali gontai yang membuat Biyan menangkapnya. Aleta kembali menguatkan kedua kakinya dan tersenyum pada Biyan yang sudah melepaskan pegangannya.


             “Terima kasih,” ucap Aleta setengah berbisik.


__ADS_2