
Reta heran, saat melihat Aleta melewatinya yang baru saja keluar dari rumah, dengan tergesa-gesa. Ekspresi cemas Aleta dan sikapnya yang tidak menyadari kehadirannya, membuat Reta benar-benar khawatir. Reta memperhatikan gerakan Aleta dari atas yang berusaha menghentikan beberapa tukang ojek yang lewat. Lantas pergi saat sudah berada di salah satu motor tukang ojek yang memboncengnya.
Reta meraih handphonenya yang sejak tadi, berada di dalam saku celana pendek selututnya. Mencoba mencari salah satu kontak di dalamnya, dan langsung menekan tombol pemanggil. Nada sambung pun terdengar dan beberapa detik kemudian, sang pemilik nomor pun menjawab.
“Biyan! Loe bisa bantuin gue?!” tanya Reta panik lantas menggigit bibir bawahnya sendiri.
***
Aleta sampai di aula sekolah yang hari itu, kosong karena hari libur. Entah apa yang membuat Bimo memanggilnya untuk datang. Entah apa yang akan dilakukan Bimo kali ini, setelah beberapa hari tidak menampakkan batang hidungnya. Bahkan pesan-pesan singkat yang selalu memenuhi kotak pesannya pun tidak ada seperti biasa.
Aleta menarik pandangannya ke kiri dan kanan sebelum lebih masuk ke dalam. Sialnya, penjaga sekolah yang sering dipanggil Aleta dengan sebutan Pak Kumis, tidak terlihat hari ini. Andai aja dia ada, Aleta akan lebih tenang karena merasa Bimo tidak akan nekat melakukan apa pun, saat Pak Kumis berada di lingkungan yang sama.
Aleta menghela napas panjang, mencoba menarik keberaniannya sendiri yang sempat tertutupi dengan rasa takut yang sudah hadir semenjak pesan singkat Bimo hadir di handphonenya. Perlahan melangkah masuk tanpa menutup pintu dari dalam. Sengaja dibiarkan terbuka agar jika terjadi apa-apa, Aleta bisa lebih mudah kabur menghindar dari Bimo.
“Bim,” panggil Aleta. Aula yang terang menderang, membuat Aleta lebih mudah melihat setiap sudut ruangan. Berharap akan ada Bimo di sana, sekedar meminta maaf atau mengajaknya berbicara. Bukan ingin
melukainya lagi dan lagi.
Aleta melangkah lebih masuk ke dalam melihat ke semua kursi yang menghadap ke panggil di depan aula. Tapi anehnya, tidak ada Bimo di sana. Aula kosong, bahkan berulang kali Aleta memanggilnya pun, Suara Bimo tidak juga terdengar menyahut seruannya.
Aleta meraih handphonenya. Suara dering mengagetkannya. Ada nama Biyan di layar handphonenya yang sedang mencoba menghubunginya. Aleta memanggil Biyan dengan perasaan lega, berniat mengangkatnya namun Aleta kaget bukan main, saat Bimo hadir di hadapannya merampas handphonenya saat itu. Aleta mundur beberapa langkah, menatap Bimo yang masih memegang handphonenya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
“Hari ini, hanya ada loe dan gue, Al.” Suara Bimo terdengar menyeramkan untuk didengar Aleta. Lagi-lagi Aleta mundur beberapa langkah, sengaja menjaga jarak agar Bimo tidak terlalu dekat dengannya hingga memberikannya kesempatan untuk berbuat kasar dengan menarik rambutnya atau bagian tubuhnya yang lain.
“Loe-loe mau apa?” tanya Aleta takut. Ketakutan yang sempat meredup, kini kembali menyala dalam dirinya.
“Jangan takut, Al. Aku gak akan menyakitimu kali ini.” Bimo melangkah mendekat yang membuat Aleta kembali mundur. Tidak ingin Aleta terus menjaga jarak dengannya, dengan sekali tarikan di tangan kanan Aleta, Aleta kembali dekat dengan Bimo. Ekspresi kaget bercampu takut hadir begitu jelas di wajahnya yang membuat Bimo tersenyum tipis.
“Sebegitu takutnya kamu sama aku, Al?” tanya Bimo yang kini mengubah mimik wajahnya menjadi sedih. Perubahan secepat itulah yang sering membuat Aleta takut saat berada di dekatnya. “Apa aku semengerikan itu di matamu?”
Aleta menggeleng cepat. Berusaha untuk tidak membuat Bimo marah dengan membantah dugaannya yang sebenarnya tepat pada sasaran. Aleta memang menganggap Bimo bagaikan monster yang harus ditakuti. Kepribadian ganda yang dialami Bimo, benar-benar membuatnya kesulitan menghadapinya. Masih pacaran
saja Aleta selalu menjadi boneka yang kapan saja, bisa dihajar tanpa perasaan, apa lagi harus hidup bersamanya di dalam pernikahan. Bisa jadi umur Aleta tidak akan panjang jika setiap hari, harus dihajar terus menerus tanpa ampun.
“Jangan bohong!” bentak Bimo yang kini merubah kembali ekspresinya. Ada kilatan emosi di kedua matanya yang jelas terlihat Aleta. Cengkramannya di pergelangan tangan kanan Aleta, menguat yang membuat Aleta sesaat merintih kesakitan. Berusaha melepaskan diri, namun Bimo malah semakin menguatkannya.
Aleta menggeleng cepat, “Gue gak mencintainya, gue gak mencintainya.”
“Kenapa harus bohong kalau loe memang merasakannya!” Bimo menghentakkan cengkramannya. “Kamu tetap milikku, Al. Sampai kapan pun.”
Aleta membuang pandangannya. Ucapan Bimo itu seakan membantunya mengingat kembali kejadian saat Bimo keluar dari rumah Reta saat subuh menjelang ketika dia pulang dari rumah Biyan. Ekspresi Aleta yang tersenyum sinis, ditambah dengan wajah kaget Bimo yang kepergok Aleta, membuat Aleta geram bukan main. mustahil jika keduanya tidak ngapa-ngapain di dalam semalaman. Walau dia tidak mencintainya, namun melihat Bimo menghabiskan malam berdua dengan Reta, membuatnya sakit bukan main.
“Al, tolong jangan putusin aku. Aku-aku janji, gak akan mukulin kamu lagi!” Bimo tampak seperti orang panik. Cengkramannya terlepas, kedua tangannya kini menyentuh kedua pipi Aleta. Berusaha meyakinkannya
__ADS_1
untuk mengubah keputusannya, yang membuat Aleta semakin muak melihatnya.
“Kamu tega meninggalkanku, Al? Aku udah gak punya siapa-siapa lagi, semua orang meninggalkanku, Al. Semua orang gak ada untukku. Cuma kamu yang aku punya, tolong, Al, jangan tinggalkan aku.”
“Loe sakit, Bim.”
“Enggak, aku baik-baik aja, aku gak sakit, Al.”
“Loe sakit jiwa, Bim!” bentak Aleta yang membuat Bimo terdiam. Air mata Aleta jatuh yang membuat Bimo merasa tersentak kaget. “Loe sadar gak, selama ini loe sakit! Loe seharusnya menyembuhkan diri loe sendiri dulu, baru bisa menyembuhkan semua orang yang terluka karena sikap loe.”
Aleta menundukkan kepala. Suara isakannya membuat Bimo semakin terdiam membisu. Tangisan
Aleta kali ini, seakan mengingatkannya pada sosok sang ibu sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Dia di sana, berbaring lemah dengan darah di mana-mana, terutama di bagian perutnya yang tertusuk pisau akibat perbuatan suaminya sendiri. Kedua matanya terarah ke Bimo yang saat itu, bersembunyi di bawah meja kecil hingga membuat sang ayah tidak menyadari kehadirannya di sana. Dia menangis terisak, tangan kanannya perlahan bergerak mendekati wajahnya. Jari telunjuknya berdiri tegak, menyentuh bibirnya sendiri seakan meminta Bimo untuk tetap diam di sana, sampai situasi aman untuknya kabur. Bimo menutup mulutnya sendiri. Berusaha menahan suara tangisannya sendiri saat mendengar suara sang ayah, membentak seseorang di telepon genggamnya. Di tempatnya bersembunyi, Bimo melihat kematian sang ibu, hingga napasnya yang terakhir. Dia pergi, dengan senyuman di bibir dan kedua mata yang terus mengarah pada Bimo kecil yang ingin mendekatinya dan memeluknya erat seperti yang dia lakukan, setiap kali sang anak mau tidur di malam hari.
Bimo menutup kedua telinganya saat suara tangis Aleta semakin pecah. Mundur beberapa langkah sembari menggelengkan kepala berulang kali. Rasanya, suara tangis sang ibu menggema di seluruh ruangan bercampur dengan suara tangis Aleta yang terus saja terdengar. Aleta menghentikan tangisannya, melihat Bimo yang kini tersungkur ke lantai dengan kedua tanga yang terus saja menutup kuat kedua telinganya.
“Tolong berhenti, aku mohon berhenti!” jerit Bimo.
Aleta mendekat, berusaha menenangkannya, namun Bimo malah semakin histeris hingga menolak tubuh Aleta. Aleta yang cukup mengenal Bimo, langsung kembali mendekat dan memaksa memeluk tubuhnya. Berulang kali Bimo berniat melepaskan diri, namun Aleta malah semakin kuat memeluknya hingga tubuh Bimo melemah dan jatuh pingsan. Aleta berusaha membangunkannya, namun sialnya Bimo tetap saja tidak bergetar sama sekali. Aleta yang panik langsung meraih handphonenya yang sudah tergeletak di lantai, mencoba menghubungi seseorang yang rasanya, mampu untuk menolongnya kali ini.
__ADS_1
“Gue di Aula sekolah, Bi, tolong bantu gue!” jeritnya sembari kembali menangis histeris.