VRMMORPG: LEGACY

VRMMORPG: LEGACY
Ep.2 Clan Legacy dan Rumah


__ADS_3

Ali mengernyitkan dahinya, “Clan legacy? Baru tadi pagi aku mendengarnya. Bisakah mas menjelaskannya?”


Adam menjelaskan,” Clan legacy bisa dikatakan item artefak untuk membuat akun baru. Banyak pemain yang mempunyai level 7 atau 8, akan bersedia memulai dari awal, jika diberi kesempatan menggunakan clan legacy. Karena dengan Clan legacy, pemain akan memiliki 1 extra skill, skill ekslusif yang hanya dimiliki klan tersebut. Dalam PvP atau PvE, perbedaan jumlah skill bisa sangat menentukan.”


Adam menunjukkan tabletnya ke padaku, di sana ada informasi akun bernama Alan.


Alan


Lvl 8 exp: 99,99 % (perlu shadow core lvl 9 untuk upgrade)


Traits:


Stone skin: damage yang diterima berkurang 15%


Slow feet: kecepatan gerak berkurang 15%


Profesi: Hunter lvl 58


HP: 1078


MP: 116


Kekuatan: 124 (+44)


Fisik: 278 (+118)


Kecepatan: 76 (+20)


Spirit: 36 (+12)


Prioritas: 8


Restorasi HP: 2,78 per detik


Restorasi MP: 0,36 per detik


Skill:


• Thorns Armor (pasif)


• Crimson Spirit (pasif)


• Provoke lvl 10(aktif)


• Hero Aura (pasif)


• Rush lvl 10(aktif)


• Light Chain lvl 10(aktif)


• Life Share lvl 10(aktif)


• Thunder Strike lvl 10(aktif)


‘Wow, bukankah level cap Legacy saat ini level 8? Karena monster level 9 belum ditemukan. Adam merupakan pemain top’ gumam Ali di dalam hati.


Lalu Adam berkata, “Jika kamu perhatikan, nama karakterku hanya punya nama depan. Ini adalah aturan di dunia legacy, normalnya pemain hanya punya nama depan. Nama belakang merupakan nama keluarga atau klan. Memiliki nama belakang akan mendapatkan bonus reputasi. Akan lebih mudah mendapatkan quest dan lebih dihormati NPC. Tentu saja ada cara lain untuk mendapatkan nama belakang, tapi itu cukup sulit, seperti menjadi anak angkat atau menantu NPC bangsawan. Setiap anggota studio kami berhak mendapat keuntungan Clan legacy. Clan legacy hanya memiliki 20 slot. Jika kamu bersedia masuk studio kami, slot ke-19 menjadi milikmu.”


Adam lalu menambahkan.”Btw, slot ke-18 sudah terisi, sedangkan untuk slot ke-20, kami masih mencari. Jika kamu punya kenalan pemain jarak dekat tipe kecepatan seperti assassin atau Blade Dancer di arena, kamu bisa merekomendasikannya. Tapi tentu saja dia harus punya kemampuan dan bisa dipercaya. Ini chip terakhir kami. Bagaimana?”


Ali terdiam sesaat, lalu bertanya,”Kenapa harus aku? Jujur, seperti yang mas katakan, tawaran ini akan menarik mayoritas veteran. Memberikan kesempatan ini pada amatir seperti aku bukankah sedikit gambling? Mas belum tahu apakah aku akan dapat memenuhi ekspektasi studio di masa depan.”


Adam tersenyum, meminum kopinya dengan pelan, lalu berkata,” Ini memang gambling, tapi kesempatan menangnya adalah 99%, karena Ron mengatakan kamu orang yang tepat, maka kami semua percaya. Sejauh ini prediksinya tidak pernah salah. Untuk siapa itu Ron, kamu akan bertemu dengannya kalau kamu bergabung.”

__ADS_1


Ali hanya dapat terbelalak dengan mulut ternganga, tak pernah dijumpainya situasi seperti ini. Dia hanya terpaku beberapa lama, tidak tahu harus berkata apa. Al berkata dalam hati ‘Apakah dia bercanda? Jawaban apa itu, siapa itu Ron, paranormal? Tidak pernah bertemu denganku, tiba-tiba berkata seakan-akan mengenalku dengan baik, bahkan masa depanku. Orang gila'


Klik


Entah sejak kapan Dino berada di depanku, dengan smartphone di tangannya, memfotoku. “Hahaha, itu ekspresi yang super Al. Aku akan menempelkannya di warnet, pasti semua pelanggan akan tertawa. Ali si koala bisa berekspresi seperti ini, ini akan jadi trending. Wahahaha..”


Ali pun tersentak, lalu secepatnya berlari menuju Dino untuk merebut smartphonenya. “Hei, ke sini kamu Dino! hapus foto itu atau akan kupatahkan hidungmu”.


Tapi Dino selalu berhasil menghindar. Adam hanya bisa tertawa.


Maka pada siang itu terjadi fenomena yang langka di kafe Grassroot. Ali dan Dino kejar-kejaran. Karena pelanggan kafe saat itu rata-rata pelanggan reguler di kafe dan warnet itu, mereka pun menyoraki Ali dan Dino.


Setelah beberapa menit, Ali berhasil menangkap Dino dan menghapus foto memalukan dirinya di smartphone Dino. Tanpa Ali ketahui, Dino berhasil mengirim foto tersebut lewat email. Dan beberapa tahun kemudian, foto tersebut akan kembali muncul di acara paling sakral bagi Ali.


Setelah berkejar-kejaran dengan Dino, Ali cukup lelah, lalu duduk ke kursi dan menghabiskan segelas es teh yang dibawakan Dino sebelumnya. Setelah menenangkan dirinya, Ali menatap Adam dengan serius, “Apakah aku bisa berbicara dengan Ron?”.


Adam tersenyum lalu memilih kontak Ron, setelah berbicara sebentar dengan Ron, Adam memberikan smartphonenya pada Ali.


Terdengar suara Ron,” Halo Al.. Perkenalkan namaku Ronny, teman-temanku memanggilku Ron. Aku tahu kamu bingung dengan omong kosong Adam. Aku bukan paranormal ataupun dukun. Aku juga bukan orang gila. Sebenarnya, aku sangat yakin kamu orang yang diperlukan studio ini setelah melihat video-video yang dikirimkan Dino. Kemampuan kontrol yang matang yang kamu miliki hanya dimiliki oleh sedikit pemain pro. Pada pertandingan final saat kamu kalah, kalau lawanmu bukan seorang sniper yang handal, pasti kamu akan menang. Ice elementalis sangat sulit menang melawan sniper, karena jarak jangkau skill sniper sangat jauh. Dan sniper punya bonus kritikal. Menurutku, ice elementalis bukan profesi ideal untukmu, jika di arena terdapat sumonner, necromencer atau beast Tamer, itu pasti lebih cocok untukmu. Sayangnya tidak ada profesi seperti itu di Arena. Tapi tenang saja, banyak skill di Legacy yang serupa seperti itu. Btw, aku lagi sibuk sekarang, aku tutup dulu ya.. Setelah kamu gabung studio, kita bisa ngobrol lagi. Kami menunggumu di Surabaya. Assalamualaikum..”


Tut.. Tut.. Tut..


Panggilannya terputus, Ali hanya dapat menghela nafas, setelah dibombardir oleh Ron, tanpa diberi kesempatan untuk bicara, Ali hanya bisa pasrah.


Ali lalu mengembalikan smartphone Adam. Lalu bertanya, “Apakah Ron selalu seperti itu?”


“Yep, orang yang menarik kan. Itulah Zhuge liang kami. Bagaimana, kapan mau tanda tangan? Aku akan menghubungi notaris untuk menyiapkan kontrak kerjanya.” Adam berkata.


“Ok, tapi aku punya beberapa permintaan. Soal slot ke 20 untuk orang yang aku rekomendasikan. Aku menginginkannya. Aku akan kirim beberapa video. Tolong bicarakan dengan Ron.” Ali menjawab.


“Wellcome to the gang Al..” Dino lalu datang ke belakang ku dan mengacak-acak rambutku.


“Ok, mari kita lanjutkan ke persoalan yang lain. Soal gaji dan hakmu lainnya. Untuk gaji, setiap bulan kami menawarkan Rp 10.000 dengan bonus sesuai persentase kontribusimu pada studio per keuntungan studio pada bulan itu. Misalnya kontribusimu 1/20, maka jika total bonus bulanan yang dibagikan bulan itu Rp 200.000, maka kamu dapat bagian Rp 20.000. bagaimana, ada pertanyaan?”


Ali menggelengkan kepalanya. 'Itu standar dengan beberapa penawaran yang aku dapat dari studio lain. Soal bonus yang berdasarkan kontribusi, ini untuk mendorong anggota studio lebih aktif.’


Setelah satu jam berbincang dengan Adam dan Dino, Ali memutuskan untuk kembali, karena Ali harus segera pulang ke panti asuhan.


Maka Ali pun berpamitan.


.......


Jarak warnet dan panti asuhan hanya 100 meter. Karena jaraknya yang dekat, Ali sering ke warnet Grassroot. Perlu diketahui, warung pak Rudi berjarak 25 meter dari panti asuhan, bedanya, warnet di sebelah Utara sedangkan warung pak Rudi di sebelah Selatan panti.


Selama berjalan, Ali memikirkan pembicaraannya dengan Adam. Hari ini adalah hari yang istimewa, bukan hanya hari ini adalah hari kelulusan Ali, hari ini Ali juga mendapatkan pekerjaan.


Diingatnya, dulu dia hanya seorang anak yatim piatu. Walaupun Ali tidak pernah hidup kekurangan, berkat subsidi dari negara dan sumbangan para dermawan. Tidak memiliki ayah dan ibu, Ali selalu rendah diri di tengah teman-temannya. Perasaan iri sering muncul di hati Ali, saat melihat seorang anak bermain bersama orang tuanya. Tapi inilah hidup. Tidak semua dapat kita miliki. Yang dapat kita lakukan adalah mensyukuri apa yang Alloh berikan kepada kita.


Tanpa sadar, langkah Ali terhenti. Dipandangnya pintu gerbang di depannya. Di plakat kayu yang menghadap jalan raya tertulis, Panti Asuhan Yayasan Ar Rohman. ‘akupun harus meninggalkan rumahku ini.’ Air mata Ali hampir saja menetes, tapi Ali adalah remaja yang pandai menahan perasaan. Dalam beberapa detik, ekspresinya kembali normal. ‘Aku pulang' gumam Ali.


.......


Setelah memasuki gerbang, Ali melihat enam bocah laki-laki bermain sepakbola di halaman panti asuhan. Ekspresi cerah dan ceria menghiasi wajah mereka. Keringat membasahi tubuh mereka, tapi tidak mengurangi semangat mereka.


“Assalamualaikum. Hati-hati kalau main. Awas jatuh..” teriak Ali.


“Waalaikumsalam, Iya mas Ali..” teriak mereka membalas. Mereka melanjutkan lagi permainan mereka.


Setelah melewati mereka, Ali langsung memasuki gedung Panti asuhan, ke kamarnya yang berada tepat setelah pintu masuk. Kamar itu cukup besar dengan lima tempat tidur yang hanya muat ditiduri satu orang per kasur.


Setelah mengambil baju ganti di lemari di sebelah kasur, Ali keluar lagi untuk menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Ali langsung ke musholla untuk sholat Dzuhur. Selesai sholat, Ali ingin kembali ke kamarnya untuk rebahan, tapi bertemu dengan mas Soleh di ruang tamu, yang kelihatannya baru pulang.

__ADS_1


“Al, udah pulang? Bagaimana dengan wisudanya? Maaf gak bisa ke sana. Kalau bukan karena ada rapat mendadak di dinas sosial, aku pasti hadir.” Soleh berkata, merasa bersalah.


“Tidak apa-apa mas. Urusan panti memang harus diutamakan. Bagaimana hasilnya?” Kata Ali.


“Tadi dibicarakan tentang pembagian dana dari pusat. Udah ditransfer barusan ke rekening panti, Alhamdulillah, dapet Rp 25.000. bulan ini kayaknya akan tersisa.” Kata Soleh, cukup puas.


“Alhamdulillah. Anu mas, aku tadi sudah bicara dengan masnya Dino. Aku akan bergabung dengan studionya. Minggu depan aku harus ke Surabaya.”Ali berkata sambil menunduk sedih.


Soleh terdiam sejenak, kesedihan tergambar di wajahnya, tapi sebentar saja, senyum mengembang di bibirnya, sambil berkata.” Setiap orang punya jalan masing-masing Al. Aku punya dan kamu juga. Tak perlu sedih. Kalau pak Umar masih hidup, beliau pasti juga berkata seperti itu. Itupun yang dikatakan beliau, saat aku mau kuliah di Surabaya. Dan sekarang giliran aku yang mengucapkannya padamu.”


“Terima kasih mas. Untuk semua yang mas dan panti asuhan lakukan padaku. Panti asuhan ini adalah rumahku.” Ali berucap dan tersenyum.


“Iya, sekarang istirahatlah dulu. Kamu pasti sudah lelah, jangan lupa nanti sore kamu beli apalah bakso atau nasi goreng 17 bungkus, untuk merayakan kelulusan mu. Sebentar, ku ambilkan uangnya. ” Soleh mau mengambil dompet dari celananya.


Tapi Ali buru-buru menolak, “Jangan mas. Aku ada uang kok. Biarkan aku yang traktir.”


“Ya udah, kamu memang sudah dewasa. Makasih lo ya.” Soleh tersenyum lalu berlalu ke kamarnya.


Ali pun juga berjalan ke kamarnya, lalu tidur siang hingga terdengar adzan ashar.


Setelah sholat ashar berjamaah, Ali lalu menyapu halaman panti asuhan dan membakar sampah sebagai rutinitas sehari-harinya. Sedangkan anak-anak panti asuhan yang lebih muda, harus ikut program TPQ di masjid sekitar panti asuhan.


Selesai Bersih-bersih, Ali mandi dan membaca Al Qur’an sendiri di kamarnya Beberapa lembar. Lalu keluar panti asuhan, menuju warung pak Rudi.


Warung pak Rudi tidak terlalu besar. Tapi memiliki dua lantai. Menu yang ditawarkan meliputi masakan cina seperti nasi goreng, mie goreng, fu yung hai, cap cay, kwetiau dll. Pak Rudi dibantu oleh Ratih, istrinya dan dua karyawan untuk menjalankan bisnisnya.


Alasan Ali datang lebih sore, pertama karena pesanannya cukup banyak hari ini. Dan kedua, ada yang ingin Ali bicarakan pada pak Rudi dan Ratih.


Saat sampai ke warung pak Rudi, warung masih sepi. Salah satu pegawai sedang menyapu lantai, sedangkan yang lainnya membantu pak Rudi memasak di dapur. Ada pembeli rupanya. Sedangkan Bu Rudi dan Ratih sepertinya belum datang.


“Sore dik Ali, tumben ashar-ashar sudah kemari. Mau pesan apa?” tanya seorang pegawai wanita yang sebelumnya menyapu lantai setelah menghampiri Ali.


“Sore mbak Tika, pesanannya agak banyak, jadi datang lebih awal. Saya pesan Nasi goreng jumbo 10, Mie goreng 5, cap cay 3 dan Fu Yung hai 3.” Jawab Ali.


“Wah banyak banget. Ada acara apa di panti asuhan?” Tanya mbak Tika keheranan.


“Untuk kelulusan saya mbak.” Jawab Ali agak malu.


“Oo.. Selamat ya Ali. Ali sekarang dah dewasa. Hehe.. Ditunggu ya, agak lama, karena pesanannya banyak.” Mbak Tika mencatat pesanan Ali, lalu beranjak ke dapur.


Ali lalu duduk di kursi belakang, sambil membuka smartphonenya. Mengirim pesan ke Ratih, [Assalamualaikum Ra.. Ada sesuatu yang mau aku sampaikan, bisa ke depan? Aku lagi di warung] lalu mengirimnya.


Belum ada balasan dari Ratih, Pak Rudi datang lalu duduk di depanku. “Hey Al. Aku cukup kaget kamu pesan banyak. Katanya pesta kelulusanmu. Aku gak diundang nih” Tanya Pak Rudi menggoda.


Ali buru-buru salaman dengan pak Rudi “Bapak bisa saja. Cuma makan-makan kok. Silahkan kalau bapak berkenan.” Kata Ali.


“Ok, kamu tunggu ya. Aku tutup warung dulu. Acara nanti aku niatkan untuk tasyakuran kelulusan Ratih juga. Tolong kamu beri tahu Mas Soleh.” Kata pak Rudi, beliau lalu bergegas, menutup warungnya, kemudian melanjutkan memasak.


Setelah pak Rudi pergi, Ali segera menghubungi Soleh tentang niat pak Rudi. Soleh setuju dan berkata akan segera menyiapkan alat makan.


Di panti asuhan memang sering ada donatur yang berniat makan bersama anak yatim-piatu. Jadi panti asuhan menyediakan fasilitas prasmanan.


Ding


Ada pesan masuk. Ternyata dari Ratih. [Waalaikumsalam. Tumben kirim pesan. Ada apa?]


Ali jawab, [Bentar aja. Mungkin ini permintaan terakhir aku ke kamu.] Senyum nakal tersungging di bibirnya. ‘aku kan tidak bohong, kalau aku ke Surabaya, aku tidak tahu kapan ke sini lagi.’ pikir Ali.


Setelah agak lama menunggu, akhirnya Ratih menjawab, [Ok, tapi bentar lagi. Bapak bilang kita akan ke panti asuhan. Aku ganti baju dulu]


Ali menjawab, [Ok]


Setelah menunggu 15 menit, Ratih akhirnya datang dengan ibunya. Setelah menyapaku, ibunya pergi ke dapur untuk membantu pak Rudi.

__ADS_1


Ratih lalu menghampiriku, dan duduk di kursi agak jauh dariku. “Ada apa?” Tanyanya ketus.


“Aku akan keluar dari panti asuhan minggu depan.” Ali berkata sambil memandang Ratih dengan serius.


__ADS_2