VRMMORPG: LEGACY

VRMMORPG: LEGACY
Ep. 38 Pengepungan dan Jebakan


__ADS_3

**Teman-teman, sekuel VRMMORPG: Legacy sudah dapat diakses di Noveltoon.


Judulnya VRMMORPG: LEGACY Re-Identity**.



**Episodenya masih sedikit, tapi tolong baca, like, favorit, rate dan comment ya..


Mohon dukungan kalian**..


____________________________________________


"Serangg..!" Ali berteriak.


Ali, Sakuya, Fiona, dua raptor dan shadow crow menyerang secara bersamaan. Dino, Dika dan Farid lalu dengan cepat merangsek.


Morton sangat terkejut, tapi sebelum dia merespons, Ratih menikam punggungnya. Beruntung serangan itu kritikal dan mengakibatkan stunned.


Setelah sekali lagi menikam Morton, Ratih mundur dan kembali memasuki stealth.


Selama 3 detik kemudian lebih dari sepuluh serangan jarak jauh mengenainya. Morton mendapatkan status abnormal slow tiga kali, burned empat kali, dan blind. Tapi HP-nya masih di atas 90%.


"Ini akan menjadi pertarungan yang lama. Dino, Dika, Farid.. jangan biarkan dia terbebas, healer bersiap! Dia mulai sadar," Ali berkata.


Saat Morton sadar, dia lalu berteriak..


Waaaa...


Lalu gelombang dari es terbentuk menggulung Dika, Dino dan Farid. Menjauhkan mereka dari Morton sekitar 5 meter.


Para healer yang dipimpin Tara lalu menaikkan HP mereka yang menyentuh 60%.


Morton lalu menyerang Ali dan penyerang jarak jauh lainnya menggunakan ice ball. Karena lorong yang sempit, mereka tidak bisa menghindar.


Bammm..


Semua di sekitar Ali lalu terkena demage 10-20%.


Ali lalu berkata di party channel, "Chrome blade.. Ini waktumu beraksi."

__ADS_1


"Apa? Cepat sekali. Ok guys, it's show time," Rain lalu berkata.


Setelah itu serangan dari Chrome blade datang bertubi-tubi. Morton membalas dengan Ice spike, Ice rain dan Ice ball. Jika ada penyerang jarak dekat, dia akan menggunakan ice wave untuk mendorong mereka jauh darinya.


Selama 5 menit pertempuran, 2 bangunan di sebelah lorong mulai mengalami kerusakan. Ali sebenarnya heran, dengan begitu banyak skill dikeluarkan, bangunan-bangunan di sekitar lorong itu masih dapat berdiri. Ali mulai meragukan apakah mereka benar-benar lemah, atau bangunan-bangunan itu yang terlalu kuat. Ali lalu menyadari bahwa di dunia ini banyak sekali orang yang bisa mengeluarkan skill. jadi mustahil bangunan-bangunan yang dibangun di dunia ini terbuat dari material yang lemah.


Para penduduk desa mulai menyadari ada pertarungan di lorong tersebut. Setelah melihat seorang bos goblin dikepung oleh beberapa pemain, mereka melaporkannya kepada para prajurit.


Para prajurit datang beberapa menit kemudian, saat itu HP Morton tinggal 30%. Tapi hal tak terduga terjadi, Morton tiba-tiba memegang sebotol potion merah dan meminumnya. Ali menduga Morton mempunyai equipment sejenis Inventori. HP Morton kemudian naik hingga mencapai 80%.


Melihat hal tersebut, para pemain tercengang termasuk Ali, "Bagaimana mungkin? Boss goblin ini tidak punya malu. Potion merah apa yang bisa menaikkan HP hingga ribuan?" Dino berkata tidak percaya.


"Terus serang bergantian. Jaga mana kalian, jangan sampai kehabisan," Ali mengingatkan.


***


"Lapor! Pemimpin pasukan goblin sudah ditemukan. Beberapa petualang sedang bertarung dengannya. Apa kita harus segera ke sana untuk membantu mereka?" Seorang prajurit melaporkannya kepada Nero dan Farius di rumah kepala desa Winter gate.


"Bagaimana menurutmu Nero?" Farius bertanya, sambil tersenyum menantang.


"Hanya boss Goblin level 4. Dia bisa apa? Kita serahkan saja dia kepada para petualang."


"Berpikirlah dulu sebelum bicara. Goblin tua itu pasti mempunyai rencana. Seorang panglima yang meninggalkan pasukannya lalu sekarang berada di tengah-tengah musuh pasti mempunyai tujuan." Farius berkata dengan nada menghina.


Nero menggebrak meja di depannya sambil berteriak, "Apa maksudmu? Kau ingin duel? Katakan langsung jika berani!"


Prajurit dan kepala desa Winter gate ketakutan dan tidak berani untuk bergerak sama sekali.


"Lihatlah, kau membuat mereka takut. Apakah Hector tidak mengajarimu untuk bersikap terhormat?" Farius dengan tenang berkata lalu meminum coklat panas.


"Panggil dia Jenderal Hector! Bukankah kau yang telah mencoreng nama prajurit Rockhelm dengan tidak menghormati atasanmu?" Nero memandang Farius dengan tajam, seperti hewan buas yang ingin menerkam.


"Oke aku salah. Lalu bagaimana dengan Goblin tua itu? Aku akan ke sana untuk melihat." Setelah meminum seteguk lagi coklat panas, Farius berdiri dan bersiap meninggalkan ruangan itu, "Terima kasih untuk coklat panasnya tuan kepala desa."


"Sebagai komandan pasukankan ini, aku juga harus memeriksanya. Maaf atas keributan tadi." mereka berdua pun meninggalkan rumah kepala desa bersama-sama.


Para prajurit di luar tidak menyadari apa yang terjadi di dalam tadi. Hanya kepala desa Winter gate dan prajurit yang malang itu yang mengetahuinya. Setelah mereka berdua pergi, mereka menghembuskan napas panjang.


***

__ADS_1


Tiga puluh menit telah berlalu, semenjak Ali dan timnya mengepung Morton. Lima potion merah dan enam potion biru telah diminum oleh Morton. Tim Ali dan Chrome Blade sudah menghabiskan lebih banyak lagi potion.


Morton sudah tampak kelelahan, dan potionnya kelihatannya juga sudah habis. Hp-nya sekarang sudah berada di bawah 10%. Tapi wajahnya tidak menunjukkan kepanikan.


Semakin banyak pemain yang datang menyaksikan pertarungan itu. Tidak ada yang berani mengganggu atau memasuki pertarungan itu, karena dua klan dari benteng Rockhelm yang mengepung Morton. Mereka tidak ingin mendapat masalahnya hanya karena boss level 4.


Lalu keributan terjadi di belakang para pemain itu. Nero dan Farius telah datang bersama beberapa prajurit elit. Para pasukan elit menyibak keramaian agar kedua komandan pasukan dapat melihat pertarungan itu.


"Hoo... Ternyata kedua klan dari Rockhelm yang mengepung goblin tua itu. Performa mereka lumayan. Sebentar lagi Goblin tua itu akan mati." Nero mengomentari pertarungan di depannya, dia sepertinya tidak berencana untuk ikut bertarung.


Farius mengernyitkan keningnya. Lalu dilihatnya Morton melirik ke arah mereka dengan tatapan yang aneh, lalu senyuman eksentrik mengembang di wajah goblin itu. Melihatnya, Farius sadar ini adalah jebakan, dia lalu berteriak dengan suara yang sangat keras, "Semua pergi dari desa ini! Sesuatu yang buruk akan terjadi disini."


Yang pertama merespons adalah Nero. Dia mungkin yang paling membenci Farius di sini, tapi perasaannya tidak mempengaruhi pertimbangannya sebagai komandan, "semua prajurit, evakuasi semua warga desa sejauh mungkin dari sini!"


Kepanikan lalu terjadi di setiap sudut desa Winter gate. Sebelumnya para penduduk tidak panik saat mendengar 100.000 pasukan Goblin akan menyerang desa mereka. Hal ini dikarenakan, mereka mempercayai kemampuan para prajurit benteng Rockhelm.


Saat ini, dua komandan pasukan dari Benteng Rockhelm mengatakan mereka harus meninggalkan desa, maka mereka merasa kehidupan mereka terancam. Maka mereka panik.


Tapi kemudian terdengar suara yang pelan, tetapi dapat terdengar di radius 100 meter darinya, "sudah terlambat, tidak ada satupun dari kalian ataupun anak-anak kalian yang dapat meninggalkan desa. Kecuali kalian bisa pergi 10 km dari sini dalam satu menit. Jangan harap kalian bisa selamat. Kalian harus menemaniku pergi ke neraka," suara itu berasal dari Morton.


Saat ini HP Morton hanya tersisa 3%. Tapi tidak ada ketakutan di wajahnya, hanya kepuasan atas muslihatnya yang telah berhasil.


"Tidak boleh berakhir seperti ini! Aku tidak akan membiarkan semua penduduk desa yang ramah kepadaku dan teman-temanku, mati seperti ini. Romeo, ayo kita akhiri semua ini dengan bang!" Ali berbicara dengan Romeo melalui telepati.


"Akhirnya kau memanggilku. Aku sudah gatal dari tadi. Mari kita buat pertunjukan yang menarik." Romeo setuju.


Ali lalu menaiki Romeo. Tanpa menghiraukan tatapan penuh pertanyaan dari semua temannya, dia bersama Romeo bersiap menyerang Morton dengan dash.


Melihat tindakan Ali, Ratih berteriak," Apa yang kau lakukan? Kau jangan gegabah."


Ali hanya tersenyum kepada Ratih meminta pengertiannya.


Serangan dari tim Ali dan Chrome Blade tidak berhenti. Saat HP-nya tinggal 1%, Morton mengambil scroll of banishment Dan tanpa ragu merobeknya. Lalu dia melihat Ali menaiki Romeo menggunakan dash menuju ke arahnya. Dia hanya tertawa maniak, "Hahaha.. semua sudah terlambat..."


Serangan dash Romeo secara kebetulan kritikal, menghabiskan sisa HP Morton. Senyum kemenangan Morton tidak hilang. Tapi kemudian senyumnya hilang setelah melihat apa yang yang dilakukan Ali kemudian.


"Ternyata kau.." kemarahan terlihat di wajahnya saat melihat kalung yang dipakai Ali.


Sinar putih lalu meliputi tubuh Ali, Romeo dan Morton. Setelah dua detik, ketiganya hilang dari hadapan semua orang.

__ADS_1


Keheningan lalu menyelimuti desa itu selama beberapa waktu.


***


__ADS_2