
Assalamualaikum pembaca..
Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang telah membaca hingga akhir buku I novel saya.
Mungkin ada yang bertanya, Kenapa saya menyelesaikan buku ini dengan episode yang terlalu sedikit, 39 episode termasuk epilog. Untuk ukuran novel yang di-upload di noveltoon, ini novel yang pendek. Mengingat tema novel ini yaitu tentang game virtual, banyak pengembangan yang bisa dilakukan.
Untuk menjelaskan keputusan saya, mungkin lebih baik jika saya menceritakan pengalaman saya membaca novel-novel yang sebelumnya sangat saya sukai.
Novel pertama tentang game yang saya baca adalah Swort Art Online. Novel Reki Kawahara yang ditranslate ke bahasa Inggris dari bahasa Jepang. Novel ini begitu membekas di benak saya. Membayangkan membuat karakter game yang keren dan bermain secara virtual pemburu monster dan berduel dengan pemain lain, imajinasi saya seakan telah terbang ke Aincrad.
Setelah membaca beberapa volume novelnya, saya menemukan bahwa banyak sekali novel Jepang yang bagus yang di translate ke bahasa Inggris.
__ADS_1
Beberapa lama membaca novel-novel jepang atau biasa disebut light novel, saya merasa bosan dan mencari suasana yang lebih segar lagi. Maka saya menemukan The Legendary Moonlight Sculptor. Novel yang juga bertema game ini sangat menarik.
Alih-alih menceritakannya event by event. Heesung Nam—author The Legendary Moonlight sculptor—menceritakan secara detail perjalanan weed dari pemain biasa menjadi seorang raja, tentu saja di game tersebut. Tapi tidak seperti Sword Art Online yang setiap event-nya begitu epic, semakin lama plotnya semakin membosankan.
Lalu saya berpikir, kenapa hal tersebut bisa terjadi, padahal penulisan novel tersebut semakin lama semakin bagus dan rapi. Saya menyadarinya setelah membaca Emperor of Solo Play karya D-dart dan Ark karya Yoo Seong bahwa, novel harus diselesaikan saat harus selesai.
Sebuah novel harusnya diakhiri dengan akhir yang bagus. Akhir yang akan selalu diingat oleh pembacanya.
Novel pertama saya ini, saya merasakan batas dari plot saya tulis. Bisa saja saya menulis lebih lanjut, karena begitu banyak ide yang ingin saya tuangkan. Tapi ide yang bagus bukan berarti perkembangan plot yang bagus.
Kenapa harus membuat protagonis baru?
__ADS_1
Karena peran pemain sangat terbatas untuk membuat plot lebih hidup. tindakan yang biasa dilakukan oleh pemain di novel-novel game yang saya baca adalah level up, level up, dan level up. Sedangkan perburuan bos, perang guild, event pengepungan kota adalah bumbu yang yang digunakan untuk menyedapkan tema inti dari sebuah novel game yaitu level up.
Setelah itu saya mengambil kesimpulan jika saya sekali lagi menggunakan sudut pandang pemain, maka saya sebagai penulis sendiri akan jadi bosan. Untuk itu di buku kedua, protagonis yang saya buat adalah pemain yang berperan sebagai NPC. Saya terinspirasi hal ini dari sebuah novel China berjudul Amber Sword, karangan Fei Yan.
Di novel tersebut, protagonis terlahir kembali sebagai karakter di game VRMMORPG yang sebelumnya dimainkannya. Mengikuti petualangannya dari sudut karakter game, menginspirasi saya untuk membuat skenario yang lebih menarik.
Bagaimana jika saya menulis kisah seorang pemain yang diberi pilihan untuk menjadi seorang NPC. Para NPC menganggapnya sebagai bagian dari mereka, dan pemain lain tidak menyadari bahwa, NPC yang mereka ajak bicara sebenarnya adalah pemain. Dia bisa melihat berita di internet tentang trend pemain dan dia juga bisa membuat misi yang dilakukan oleh para pemain.
Ok dari situ saja penjelasan saya. Semoga anda yang membaca catatan ini, berkenan Untuk membaca novel kedua saya.
VRMMORPG: LEGACY Re-Identity.
__ADS_1
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih untuk membaca novel pertama saya dan mohon maaf jika ada kesalahan dan juga jika ekspektasi yang anda tempatkan pada novel ini tidak dapat saya penuhi karena terbatasnya jam terbang saya sebagai penulis novel.
Wassalamualaikum..