VRMMORPG: LEGACY

VRMMORPG: LEGACY
Ep.4 Selamat Jalan dan Selamat Datang


__ADS_3

Keesokan harinya, Ali datang ke kafe Grassroot lebih awal. Sekitar jam 8. Tujuannya mencari Dino.


Saat Ali datang, Dino sedang makan nasi pecel di dapur.


“Assalamualaikum, tumben baru makan.” Ali berkata sambil bersandar di pintu.


“Waalaikumsalam, oh kamu Al. Tadi pagi aku tidur lagi setelah subuh. Baru bangun nih. Mau minum? Gratis.” Dino berkata sambil meneruskan makan.


“Aku buat sendiri. Btw, mana mas Adam? Kayaknya belum datang.” Kata Ali sambil mengambil gelas ukuran besar. Ali berniat membuat teh hangat.


“Kata masku sih, tadi lagi ngantar ibu dan mbak Delia ke pasar. Mumpung pulang. Dia sudah setengah tahun gak pulang.”


“Ooo... btw, aku mau terima kasih ke kamu. Aku dan Ratih bisa dapat slot Clan legacy di studiomu.” Ucap Ali sambil menuang air panas ke gelas.


“Huh, kenapa ke aku? Kalau mau berterima kasih, bilang ke Ron. Dia yang ambil keputusan terakhir. Aku cuma menyebutkan tentang kamu ke Ron. Saat dia bilang mau merekrut tiga anggota untuk studio.” Jawab Dino.


“Ya karena kamu memberitahu Ron tentang aku, jadi aku dan Ratih dapat kesempatan.” Kata Ali sambil keluar dapur, menuju kursi kafe yang kosong.


“Ok”, Jawab Dino dari dapur, tidak terlalu memikirkannya.


.......


Jam 8.45 Adam datang ke kafe. Sambil menunggu Ratih dan ayahnya, Adam ngobrol-ngobrol dengan Ali dan Dino.


Jam 9 Ratih datang dengan Ayahnya. Setelah saling bersalaman, Adam menjelaskan tentang masalah gaji, bonus dan fasilitas yang diperuntukkan bagi anggota studio. Semua sama dengan apa yang dikatakan Adam pada Ali.


Pak Rudi sempat menanyakan beberapa hal dan meminta beberapa klausul di masukkan dalam kontrak kerja.


Setelah terjadi kesepakatan, mas Adam mengajak mereka ke kantor notaris di Kediri, untuk mencatatkannya agar lebih berkekuatan hukum.


Prosesnya cukup cepat. Jam 12 siang mereka sudah kembali ke warnet. Setelah berbincang sejenak, mereka pulang.


.......


Satu Minggu ini adalah hari-hari yang membosankan bagi Ali. Selain harus mengurus surat pindah secara virtual, Ali menghabiskan waktunya dengan bertarung di Arena dan membantu Soleh.


Adam sementara masih tinggal di rumah orang tuanya di Kediri. Dia akan kembali ke Surabaya bersama Ali, Ratih dan Dino. Karena kegiatan Studio akan dimulai satu Minggu lagi.


Menurut Dino, gedung yang digunakan itu bekas kos-kosan, setelah pemiliknya meninggal, gedung itu diwariskan kepada anaknya. Tapi kerena anaknya sudah menikah, bekerja dan tinggal di luar negeri, anaknya berniat menjualnya.


Studio membelinya cukup mahal, sekitar Rp. 7.000.000. Saat mendengarnya, Ali sangat terkejut. Tapi menurut Dino. Itu bahkan belum 10% nilai aset yang dicairkan oleh Studio tiga bulan ini.


Dino bahkan pamer, aset dirinya yang terjual di server 1, senilai Rp. 1.500.000. Perlu diketahui, Dino masih level 6 saat menutup akunnya, dan yang dijual Dino hanya equipmentnya.


Pada hari Jumat sore, Ali menyempatkan diri untuk berziarah ke makam pak Umar. Pak Umar adalah pengganti sosok ayah bagi Ali. Dialah yang memberikan nama Ali padanya.


Untuk orang tua kandung Ali, mereka sudah meninggal. Pak Umar cuma bercerita, nama ibu Ali adalah Salma dan ayahnya bernama Faisal. Ibu Ali meninggal saat melahirkan Ali. Untuk keluarga ibunya atau ayahnya, dalam database pemerintah, mereka telah meninggal dalam kebakaran di sebuah apartemen di di kota Kediri. Setelah musibah itu, ibunya ditampung di panti sosial di kota Kediri dalam keadaan hamil 7 bulan.


Setelah ibunya dinyatakan meninggal oleh rumah sakit, pihak dinas sosial menyerahkan bayi kecil itu ke panti asuhan Ar Rohman. Setelah itu, pak Umar memberi nama bayi itu Ali. Ali dibesarkan di panti asuhan yang diasuh Pak Umar dan istrinya.


Setelah pak Umar meninggal, istri pak Umar tinggal bersama anaknya yang berkeluarga di Jakarta. Sedangkan panti asuhan diserahkan kepada mas Soleh yang baru menjadi sarjana.


.......

__ADS_1


Seminggu selanjutnya, Ali memeriksa kembali barang bawaannya tidak ada yang tertinggal. Sebenarnya yang dibawa oleh Ali hanya beberapa pasang pakaian saja, sedangkan pakaian yang lain diberikan kepada beberapa anak yatim-piatu di panti asuhan.


Setelah yakin semuanya terbawa. Ali keluar dari kamar. Di depan panti asuhan, Ali menyalami dan memberi pesan pada anak-anak yatim-piatu agar tidak nakal dan membantu Sholeh, terutama yang sudah SMA, untuk lebih bertanggung jawab.


Di depan Soleh Ali berkata, “Terima kasih mas untuk semuanya. Setelah pak Umar meninggal, mas merawat kami sendiri. Aku tahu itu berat, tapi mas tidak pernah istirahat satu hari pun. Kalau aku boleh menyarankan, menikahlah. Bagaimana dengan Husna, anak pak Modin? Cantik, lulusan pondok dan Solehah. Mas Soleh cuma cocok dengan wanita Solehah. Hahaha..”


Wajah mas Soleh memerah. Ali tahu mas Soleh suka dengan Husna, hubungan mas Soleh dengan pak Modin juga baik. Ali yakin, kalau mas Soleh yang melamar, pak Modin pasti setuju, soal Husna, aku yakin juga mau kalau bapaknya merestui, karena setahuku, Husna wanita yang sederhana dan menaati orang tua.


Mas Soleh berkata,“Kamu jangan khawatirkan aku, jodoh itu gak akan kemana... Jaga sikap di perantauan, jangan lupa Sholatnya. Olahraga tiap pagi, dan jangan telat makan, nanti sakit. Kalau bisa setahun sekali ke sini. Ini juga rumahmu.”


Setelah berpamitan, Ali melangkah ke luar gerbang panti asuhan. Dilihatnya dari luar, gerbang, halaman, gedung panti asuhan dan anak-anak yatim-piatu serta mas Soleh.


Ali tidak ingin meninggalkan panti asuhan dengan suasana sedih. Maka Ali mencoba tersenyum selebar mungkin dan berkata dengan suara lantang,” Aku pergi dulu. Assalamualaikum..”


Para penghuni panti asuhan menjawab,” Waalaikumsalam..” lalu terdengar berbagai jawaban seperti, “ hati-hati”, ”jangan lupa ke sini”, ”selamat jalan”, dll.


Lalu Ali melambaikan tangan dan berjalan dengan langkah pasti, menuju kafe Grassroot.


‘Aku akan kembali dengan kesuksesan' gumam Ali.


.......


Saat Ali datang ke kafe Grassroot, Dino dan Adam sudah datang dan lagi duduk-duduk di kafe. Di samping mas Dino ada seorang wanita berkacamata berwajah serius. Dia adalah Delia, istri Adam. Dulu adalah ketua Blue Anvil, Sekarang menjadi salah satu wakil ketua studio. Ngomong-ngomong, nama Studio ini adalah Frozen Anvil, Ali baru tahu nama studio ini saat menandatangani kontrak kerja.


Dino sudah tidak lagi menjadi manajer kafe dan warnet, karena dia akan ikut ke Surabaya, sebagai anggota studio. Cafe dan warnet Grassroot diserahkan kepada saudara sepupu Dino untuk mengelolanya.


Ali bertemu Delia saat Ali dan Ratih diundang Adam ke rumah orangtuanya untuk makan malam. Saat itu Delia menjelaskan, bahwa fokus studio kedepannya adalah berburu, mengumpulkan sumber daya, dan crafting. Karena pendapatan utama studio nanti adalah dari penjualan equipment.


Studio akan dibagi menjadi tiga tim. Tim 1 yang terdiri dari pemain veteran, dipimpin Adam. Tim 2 terdiri dari Ali, Ratih, Dino, Ron sebagai pemimpin dan 2 anggota lain. Tim 3 yang dipimpin Delia bertugas membuat equipment dan potion, sebagian akan dipakai anggota studio, yang lain untuk dijual.


5 menit kemudian, Ratih datang bersama kedua orang tuanya. Pak Rudi dan istrinya menitipkan Ratih pada mas Adam dan mbak Delia. Kepada Ali, pak Rudi berkata, “Aku titip Ratih padamu, aku tenang Ratih bersamamu. Tolong bantu Ratih di sana. Aku yakin, dengan kalian berdua bekerjasama, semua situasi bisa kalian lalui.”


“Insyaalloh pak” jawab Ali.


Mendengar jawaban pendek Ali, pak Rudi lebih tenang melepas Ratih.


Setelah memasukkan koper-koper ke bagasi dan kursi paling belakang, mereka memasuki mobil satu per satu. Dino sebagai supir, mas Adam disampingnya. Mbak Delia dan Ratih di kursi tengah, sedangkan Ali duduk di kursi belakang dengan kopernya dan milik Ratih.


Mobil yang dipakai adalah berjenis Van milik mas Adam. Ukurannya cukup besar berwarna hitam. Saat menandangani kontrak, mobil ini juga yang dikendarai mas Adam ke kota Kediri.


Perjalanan berlangsung 1,5 jam, mobil mereka memasuki Surabaya. Dan 5 menit kemudian, mobil mereka sampai di sebuah gedung di daerah Gayungan. Gedung itu terletak agak masuk ke jalan kecil, berpagar besi setinggi 2 meter. Dari luar terlihat gedung berlantai 4 itu baru di cat dengan warna kuning. Di lantai 4 tidak ada bangunan hanya dikelilingi pagar kawat, kelihatannya digunakan untuk tempat jemuran.


Setelah mobil mereka berhenti di depan pintu pagar, seorang laki-laki berseragam hitam-hitam ala security membukakan pintu pagar. Setelah mobil masuk, Ali dapat melihat, beberapa mobil terparkir di halaman gedung.


Setelah mobil terparkir, satu-persatu penumpang turun dari mobil. Ali turun terakhir membawa kopernya dan Ratih.


Setelah semua keluar, Adam berbalik menghadap Ali dan lainnya. Dia berkata dengan lantang,”Untuk beberapa tahun kedepan gedung ini akan menjadi basecamp kita. Mari kita ukir sejarah studio ice anvil mulai dari hari ini.” Lalu mas Adam memimpin mereka memasuki gedung.


Pintu gedung ini berupa double doors terbuat dari kaca tembus pandang. Di kedua permukaan kaca pintu dihias logo anvil berwarna biru muda dikelilingi lingkaran. Di bawahnya tertulis Frozen Anvil.


Ketika mereka mendekati pintu, dua security membukakan pintu dari dalam. Dengan sopan keduanya berkata, “ selamat datang”.


Adam lalu berkata, “perkenalkan, mereka adalah pak Wandi dan pak Joko. Mereka akan bergantian menjaga kita dan gedung ini. Perkenalkan, remaja laki-laki ini Ali dan yang perempuan Ratih. Mereka sudah menjadi anggota studio. Lalu mereka saling berkenalan.

__ADS_1


Setelah berkenalan, mereka masuk lebih dalam ke lobi gedung. Lalu mereka disambut 4 orang wanita. Keempat orang wanita itu memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan apron polos berwarna biru tua.


Adam lalu berkata“ mereka berempat yang akan membantu kita memasak, mencuci baju dan membersihkan gedung. Perkenalkan, dari kiri, mbak Caca, mbak Dini, mbak Ela dan mbak Fani.”


Lalu mas Adam memperkenalkan Ali dan Ratih ke keempatnya.


Selanjutnya, mereka berjalan terus lebih dalam. Dan memasuki ruangan yang cukup luas. Didalamnya ada berbagai macam perlengkapan fitnes di sudut kiri, home teather dengan lcd tv yang sangat besar beserta beberapa karpet di tengah ruangan dan dua meja makan yang cukup panjang dan mini kitchen set di sebelah kanan. Ketiga bagian ruangan itu tidak dipisahkan secara mutlak, tapi kelihatan terpisah.


Ali mengamati dan menemukan bahwa ketinggian ketiga bagian ruangan itu berbeda. Lantai tempat fitnes dibuat lebih rendah sekitar satu anak tangga dari tempat home teather dan meja makan dibuat kira-kira satu tangga lebih tinggi dari home teather.


Di dalamnya terdapat lima belas orang melakukan berbagai kegiatan. Ali menduga mereka adalah sisa anggota studio ini.


Adam berkata, “ini adalah ruang rekreasi sekaligus ruang pertemuan. Mari ku perkenalkan dengan anggota studio yang lain, hei guys, perkenalkan ini Ali dan Ratih. Anggota baru kita. Perkenalkan diri kalian.”


Lalu satu persatu kami berkenalan. Ali mencoba mengingat wajah dan nama mereka. Dan membuat mental note.


Laki-laki setinggi 180 cm, cukup kekar berumur sekitar 27 tahun yang berlatih dengan barber adalah Hans, merupakan pemain bertipe kekuatan, biasa menggunakan boardsword dari tim 1.


Laki-laki setinggi 173 cm kurus berkacamata berusia sekitar 25 tahun yang sedang bermain tenis meja adalah Geo, berprofesi sebagai master blacksmith spesialisasi membuat armor dari tim 3.


Laki-laki setinggi 167 cm berperawakan sedang, dengan janggut tipis, berusia sekitar 25 tahun yang menemani Geo bermain tenis meja adalah Ivan, berprofesi sebagai master blacksmith spesialisasi membuat berbagai senjata logam dari tim 3.


Perempuan setinggi 168 cm berperawakan atletis berambut ponytail yang sedang berlari di treadmill, berusia 18 tahun adalah Fiona. Dia adalah sniper yang mengalahkan Ali di final tingkat provinsi. Adam rupanya tidak memberi tahu Ali sebelumnya untuk memberi Ali kejutan. Dia memakai long bow dan merupakan anggota tim 2.


Perempuan setinggi 155 cm, memakai jilbab merah. Sedang makan Snack di sofa adalah Juni, berprofesi sebagai master tailor. Membuat armor dari kulit dari team 3.


Perempuan setinggi 160 cm, berambut panjang, sedang duduk disamping Juni adalah Ema, berprofesi sebagai master jeweler. Membuat berbagai aksesoris dari team 3.


Laki-laki setinggi 170 cm. Berkumis dan berjenggot tipis, berusia sekitar 28 tahun adalah Komang. Merupakan pemain bertipe kecepatan, biasanya menggunakan sepasang pedang pendek dari tim 1.


Laki-laki setinggi 178 cm, memakai topi, berusia sekitar 22 tahun adalah Dika. Merupakan pemain bertipe kekuatan dan kecepatan, biasanya menggunakan tombak dari tim 2.


Perempuan setinggi 158 cm. Memakai jilbab warna hitam. Berumur sekitar 24 tahun. Sedang minum teh adalah Lia, Berprofesi sebagai master tailor. Membuat berbagai armor dari kain dari tim 3.


Laki setinggi 165 cm. Memakai kacamata, berusia sekitar 25 tahun. Sedang berbincang dengan Lia adalah Coki, berprofesi sebagai master alchemist dari tim 3.


Perempuan setinggi 175 cm. Berumur sekitar 26 tahun, berambut panjang adalah Mila merupakan pemain bertipe mage dari tim 1.


Laki-laki setinggi 173 cm. Berumur sekitar 26 tahun. Berkulit cukup gelap, berambut ikal, bernama Bima merupakan pemain bertipe kecepatan, biasa memakai shortbow dari tim 1.


Laki-laki setinggi 182 cm. Berumur sekitar 27 tahun. Agak kekar dengan rambut dicat merah, bernama Niko merupakan pemain bertipe kekuatan dan fisik. Biasa menggunakan Pu dao.


Perempuan setinggi 165 cm. Berumur sekitar 25 tahun. Memakai jilbab putih bernama Wulan. Pemain bertipe auxiliary dari tim 1.


Dan terakhir, laki-laki setinggi 175 cm. Berumur sekitar 24 tahun. Rambutnya acak-acakan. Sedang mengetik di laptop. Dis adalah Ron. Ahli strategi sekaligus wakil ketua studio ini. Memainkan tipe auxiliary dari tim 2.


Setelah berkenalan, Ali dan Ratih, mencoba untuk membaur dengan anggota tim lain.


Beberapa saat kemudian Fiona, yang sebelumnya memakai treadmill, menghampiri Ali dan berkata,”Halo Al.. Aku sangat terkejut bertemu denganmu di sini. Kita nanti satu tim. Mohon kerjasamanya”. Fiona mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Ali lalu menyalaminya dan berkata,”tentu, itu akan sangat menyenangkan.”


Melihat kejadian itu, Ratih melihat mereka dengan pandangan yang tajam. Lalu menghampiri Fiona, sambil mengulurkan tangannya, berkata, “Halo Fiona, aku teman Ali, Ratih. Mohon kerjasamanya.”

__ADS_1


Fiona merasa ada yang salah, tapi tetap menyalami Ratih.” Ok”.


Di sudut ruangan, Ron memperhatikan kejadian ini dengan tatapan seakan mendapatkan mainan baru. “ini sangat menarik.”


__ADS_2