
Melihat kondisi Sakuya yang seperti anak kucing yang ditinggalkan ditepi jalan, perasaan anggota tim 2 campur aduk.
Mereka memang tidak pernah mengutarakan ketidaksetujuan mereka atas perilaku Sakuya, tapi harus diakui selama beberapa jam ini, mereka tidak berusaha bersosialisasi dengan Sakuya.
Penyebabnya seperti yang disampaikan Ron. Mereka terganggu dengan perilaku Sakuya.
“Kapten, tolong hentikan.. jangan bully Sakuya lagi. Lihat.. Kau membuat Sakuya sedih.” Fiona merasa bersalah karena sikapnya beberapa jam ini, yang tidak berusaha mendekati Sakuya. Tapi melihat Sakuya yang berdiri sendirian, membuatnya ingin membela Sakuya.
Fiona lalu mendekati Sakuya dan memeluknya. Sambil memandang Ron dengan tatapan menyalahkan.
“Fiona benar. Kau sangat kasar kapten. Sakuya perlu waktu untuk beradaptasi. Kau seharusnya menyadarinya. Kau harus meminta maaf kepada Sakuya. Benarkan Ali?”Ratih pun turun dari raptornya dan berdiri di samping Sakuya sambil membelai rambut lembut Sakuya di wujud rubah. Kemudian, dengan matanya yang basah, memandang Ali.
Melihat pandangan Ratih, Ali menghela nafas. Berkata, “Captain, you were bad. Kau tidak seharusnya mengatakan semua itu.”
Sebenarnya Ali sedikit banyak mengerti maksud Ron mengatakan semua itu. Ali bergumam,'good job captain. Bukankah ini yang kau inginkan? Maka aku akan membantumu menjadi villain kali ini.'
Dika pun kali ini tahu harus berada di pihak mana. berkata,”Kau harus minta maaf Ron.”
Dino berkata lebih ekstrim,”Kau tidak seharusnya menghina seorang wanita. Kau tidak akan pernah menikah jika kau tidak berubah..”
Mendengar semua anggota tim 2 membelanya, hati Sakuya yang hampir hancur menjadi bahagia. ‘Ya, ini yang merubahku. Aku sekarang tidak seorang diri. Mereka tidak membenciku.’ Sakuya bergumam.
“Ayo Sakuya, kita tinggalkan kapten yang berhati dingin itu.” Fiona lalu mengajak Sakuya bergegas pergi.
“Em” Sakuya mengangguk dan melangkah pergi, ujung matanya berlirik Ron yang hanya diam saja.
Ratih, Dino dan Dika mengikuti. Hanya Ali yang sedikit tertinggal bersama Ron yang dari tadi berdiam diri, menerima kritik mereka semua.
Setelah yang lain tidak lagi terlihat, Ron berkata,”Kau tidak menyusul mereka Al? Apa ada yang ingin kau tambahkan?”
Ali tersenyum,”Pasti berat ya menjadi kapten?”
“Tentu saja. Mengurus anak-anak ingusan seperti kalian memang melelahkan. Ayo menyusul. Banyak hal yang menunggu diselesaikan di Rockhelm.” Ron lalu menyuruh Samson berjalan.
Ali hanya menggelengkan kepalanya, sambil menyuruh Romeo menyusul Ron.
Lalu terdengar suara Ron,”Cepatlah tumbuh Al. Frozen Anvil semakin besar. Tidak cukup hanya dengan Aku Adam dan Delia, kau pun harus mempersiapkan diri.”
Ali menjawab sambil tersenyum pahit,”Itu akan merepotkan.”
“Hei kau dibayar mahal. Jangan malas” Terdengar Suara Ron.
“Aku bahkan belum mendapatkan gaji pertamaku.”Ali berkata sambil tersenyum.
Melihat Ali, Ron menyuruh Samson mempercepat lajunya, sambil berkata,”cheeky boy.”
.......
Ali dan Ron menyusul anggota tim 2 yang lain beberapa saat kemudian. Terlihat Ratih, Fiona banyak berbicara, dan Sakuya yang masih menggunakan wujud rubah mengangguk-angguk mendengarkan.
Melihat situasi itu, bibir Ron tersungging senyuman datar. Lalu ekspresi dia kembali normal.
Dia tidak berjalan terlalu dekat dengan mereka, karena saat ini, dia adalah villain.
Ali bergabung dengan anggota tim 2 lainnya, meninggalkan Ron di belakang. Saat beriringan dengan Ratih, Ratih bertanya,”Kau tadi bicara apa dengan kapten?”
Suara Ratih cukup keras, sehingga Sakuya di sisi raptor Fiona juga ikut mendengar.
“Aku menasehati kapten, yang dikatakannya keterlaluan. Tapi kapten tetap pada pendiriannya, menurutnya Sakuya harus segera terbiasa hidup seperti humanoid lainnya. Karena jika perilaku Sakuya tidak berubah, hal itu akan memberikan masalah bagi tim” Ali berkata, lalu menggelengkan kepalanya, seakan menyayangkan pendapat Ron.
“Huh.. aku harus beritahu mbak Delia. Kapten yang salah saat ini.” Ratih menanggapi dengan nada marah.
Mendengar percakapan Ali dan Ratih, hati Sakuya melambung tinggi. Tanpa sadar kepalanya mengangguk-angguk. Tapi perkataan Ali membuatnya berpikir, 'benarkah aku akan menimbulkan masalah bagi mereka jika aku tidak mau berubah?’
.......
Mereka berjalan perlahan menuju benteng Rockhelm. Fiona terus mengajak Sakuya berbicara, tentang makanan-makanan yang enak di benteng Rockhelm, tentang lampion-lampion yang terpasang di malam hari dan berbagai hal tanpa menyentuh masa lalu Sakuya.
Menurut Fiona, suatu saat Sakuya akan membuka hatinya kepada semua anggota tim 2, pelan tapi pasti, Fiona akan berusaha mewujudkannya.
Mendengar perkataan Fiona, timbul ketertarikan Sakuya pada makanan benteng Rockhelm. Walaupun ragu apa selera makanannya sama dengan anggota tim 2 lainnya, tapi Sakuya bertekad untuk mencoba. Dan untuk pertama-tama..
__ADS_1
Sakuya berhenti sejenak. Dia melihat semua anggota tim 2 tanpa melihat Ron, lalu berkata,”Tolong tunggu sebentar.”
Mendengar suara Sakuya, semua terhenti. Lalu mereka melihat Sakuya dengan penasaran, menunggu Sakuya melanjutkan perkataannya.
Tapi Sakuya tidak berkata apa-apa, lalu dia mulai proses berubah jadi humanoid. Menyadari hal itu, Fiona bergerak cepat. Dia mengambil selimut dari inventorinya dan berlari kemudian menutupi tubuh Sakuya.
Semua anggota Frozen Anvil membeli peralatan camping tadi siang sebelum meninggalkan Rockhelm. Menurut Ron, mereka harus bersiap setiap saat, jika sewaktu-waktu harus bermalam di luar.
Untuk itu. Fiona membeli beberapa selimut wool. Karena malam di pegunungan bisa sangat dingin. Satu selimut kadang tidak cukup.
Dengan pandangan yang tajam, Fiona memperingatkan para anggota laki-laki terutama Dika dan Dino.
Dika dan Dino hanya dapat memalingkan wajahnya dan berjalan dengan cepat ke depan. Untuk Ali, ada Ratih di sini, Fiona tidak khawatir sama sekali.
Sedangkan Ron, saat Sakuya berubah pertama kali, dia hanya melihat Sakuya seperti melihat objek yang aneh. Tidak ada kesan dia tertarik secara seksual kepada Sakuya. Fiona mulai meragukan orientasi seksual Ron.
Ron melihat keadaan ini dengan wajah datar. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya.
Satu menit kemudian, proses perubahan Sakuya selesai. Setelah selesai, Sakuya berjalan ke arah Ron.
Fiona tidak menghentikannya. Begitupun anggota tim yang lain. Saat Sakuya berada di depan Ron, Ron memandangnya dengan datar.
Ron berkata, ”Ada yang ingin kau katakan?”
“Aku sudah berubah menjadi humanoid, apakah tim tidak akan mendapatkan masalah?” Sakuya bertanya.
Ron mengernyitkan keningnya, lalu dia melihat Ali tersenyum. ‘busybody’ Ron bergumam.
Ron memilih mengikuti permainan Ali, ”Tentu, selama kau beradaptasi dengan perubahan ini.”
“Aku akan mencoba. Bukan karena ucapanmu, tapi untuk teman-temanku” Sakuya berkata penuh determinasi. Dia lalu berjalan menuju Fiona dan Ratih.
“Apakah kau akan berjalan ke benteng Rockhelm?” Ron bertanya.
“...” awalnya Sakuya tidak mengerti arah pembicaraan Ron. Lalu dia melihat dua raptor milik Ratih dan Fiona. 'terlalu kecil untuk berdua' Sakuya bergumam.
Saat melihat Ibex Ali, Sakuya berkata dalam hati, 'cukup besar untuk 2 orang, tapi Ratih pasti tidak setuju.’
Ron lalu menyuruh Samson mendekati Sakuya, saat berada di samping Sakuya, Ron berkata, ”Naiklah.”
Sakuya diam saja.
“Akan terlalu lama dengan berjalan kaki. Apakah kau ingin berboncengan dengan Dika atau Dino? Tentunya tidak kan.”
Sakuya menoleh kepada mereka berdua, lalu memalingkan wajahnya.
“Fuck you, Ron” Dino memaki Ron di party channel. Dika pun berbuat sama, hanya dalam hati. Ali, Ratih dan Fiona hanya dapat tersenyum.
“Katanya kau mau berubah, apakah ini determinasimu? Aku tidak akan memakanmu.” Ron berkata.
“Hei kapten, cu..” Ratih mencoba menghentikan Ron, tapi Sakuya memotongnya.
“Baiklah, aku tidak apa-apa Ratih.” Sakuya berkata, lalu melompat ke punggung Samson.
Dia duduk agak kebelakang. Karena ukuran Samson yang besar, jarak antara Ron dan Sakuya paling tidak setengah meter.
Sakuya lalu diam saja. Ron tetap dengan wajah datar, berkata, ”Sudah malam, kita juga belum sholat ashar. Ayo bergegas.”
Menurut waktu di dunia nyata saat ini pukul 15.17. Mereka menghabiskan waktu sekitar 9 jam waktu legacy setelah makan siang. Mereka masih ada waktu 5 jam sebelum offline. Tapi karena saat ini sudah malam, mereka dapat offline lebih awal.
Tapi sebelum itu, mereka harus ke gedung baru Frozen Anvil. Selain menyerahkan panen hari ini, banyak hal harus dibereskan di gedung baru itu.
Sakuya lalu menyuruh Kuro memantau daerah di depan mereka. Agar perjalanan mereka lancar ke benteng Rockhelm.
Semenjak mengetahui skill Kuro, Ron tidak lagi meminta Ratih menjadi scout. Karena pemantauan dari udara lebih cepat dan luas, apalagi ditambah 4 shadow clone Kuro. Tim 2 seakan memiliki 5 Scout yang dapat memantau depan, belakang dan samping mereka. Hampir tidak ada musuh yang dapat mendekati mereka tanpa terdeteksi terlebih dulu.
.......
10 menit kemudian, tim 2 mulai melihat pintu gerbang Selatan benteng Rockhelm. Obor dan lampion dipasang di dinding benteng berbagi penerangan.
Mereka dapat juga menyaksikan sebuah menara terbuat dari tembok batu setinggi 100 meter berdiri di samping tembok benteng, di atasnya, tumpukan kayu dibakar sehingga membuat api unggun yang sangat terang. Di bawah api unggun itu 4 prajurit memantau ke empat penjuru.
__ADS_1
“Apa itu?” Tanya Sakuya, menunjuk menara tinggi itu. Selama perjalanan, dia sama sekali tidak mau berbicara. Ron pun tidak mau memulai percakapan. Kali ini keingintahuannya mengalahkan kebenciannya kepada Ron.
“Itu menara api. Di wilayah sekitar kota-kota di benua Sol biasanya terdapat menara-menara api setinggi 20 meter hingga 100 meter. Fungsinya, adalah sebagai alat komunikasi antar kota. Sebenarnya di dusun upbark juga ada. Tapi hanya berupa obor besar yang dipasang diatas menara kayu di samping barak penjaga hutan.” Ron menjelaskan.
“Oh aku melihatnya, saat malam, cahaya api itu terlihat dari hutan. Beberapa cahaya juga terlihat di kejauhan. Sebenarnya, aku selalu penasaran dengan cahaya itu.” Sakuya berkata.
“Tahukah kau, warna api unggun itu bisa diubah?” Ron berkata dengan antusias.
Tim 2 terhenti sejenak. Mereka harus antri saat memasuki pintu gerbang. Antrian terjadi sepanjang 10 meter oleh pemain dan NPC yang ingin memasuki benteng.
Tim 2 bisa saja langsung memasuki gerbang dengan status mereka. Tapi khusus di pintu gerbang kota, mereka tidak akan melakukannya kecuali terpaksa.
Di Aliansi Tenggara, hanya karena keperluan mendesak saja seseorang anggota clan boleh menggunakan hak istimewa mereka di pintu gerbang.
Karena jika ada masalah keamanan setelah mereka menggunakan hak mereka, seperti terjadi pembunuhan, kaburnya penjahat dan masalah lain, mereka akan diinvestigasi oleh otoritas setempat.
“Benarkah?” Sakuya bertanya dengan antusias. Seakan lupa, tidak sampai satu jam yang lalu mereka bertengkar.
“Ada logam tertentu saat dilemparkan ke api, akan mengubah warna api menjadi putih atau biru. Bila warna api berubah menjadi putih berarti kota sedang diserang. Bila warna api berwarna biru, berarti kondisi benar-benar genting. Dari warna api, kota lain dapat menentukan jenis bantuan seperti apa yang harus mereka berikan.” Ron menjelaskan.
Sakuya merasa takjub dengan informasi yang diterimanya. Ternyata banyak hal sangat menarik di luar hutan uppines.
Saat giliran mereka masuk, para prajurit tidak menanyakan apapun. Mereka langsung mempersilahkan tim 2 masuk.
“Sakuya, maukah kau maafkan aku atas ucapanku tadi?” Ron berkata.
Mendengar Ron meminta maaf, Dino dan Dika menjadi ribut. Ini adalah pertama kalinya mereka mendengar Ron meminta maaf.
“Hei, apakah tadi matahari terbenam ke timur?”Dino berkata di party channel.
“Ini adalah peristiwa langka. Selama 20 tahun aku mengenalnya di server 1. Tidak pernah aku mendengar dia meminta maaf.” Dika berkata seakan dia shock.
“Apakah kau memikirkan yang ku pikirkan?” Dino bertanya dengan nada mengkonfirmasi.
“Yup, it’s love buddy. Kekuatan cinta melelehkan hati Ron yang beku selama ribuan tahun.” Dika berkata dengan mafhum.
“Berisik” Akhirnya Ron berkata di party channel.
“Aku melakukan semua drama itu karena perilaku kalian. Dan sekarang kalian membalasku seperti ini? mungkin sekali-kali aku harus membiarkan kalian mati di mulut monster.” Ron berkata dengan marah.
“...” Dino dan Dika terdiam. Mereka akhirnya tahu alasan Ron berbuat seperti tadi. Mereka hanya terdiam karena malu.
Ali menghela nafas. Sedangkan Ratih dan Fiona juga terdiam. Dalam hati mereka berterima kasih kepada Ron karena telah menjadi ice breaker, sehingga mereka mulai akrab dengan Sakuya.
“Ok, aku mengerti ini untuk tim. Aku akan mencoba beradaptasi hidup sebagai humanoid.” Sakuya mengatakannya sambil tersenyum.
“Syukurlah. kita akan beraktivitas bersama di masa depan. Aku tidak ingin ada masalah di antara kita.” Ron berkata dengan tulus.
“Tapi kapten, aku ingin menyampaikan sesuatu.” Sakuya berkata.
“Silahkan..”Ron berkata.
“Kau bukan tipeku, aku lebih suka laki-laki yang ramah dan baik. Aku minta kau tidak berharap apapun.” Sakuya berkata dengan lirih.
“...” Ron hanya terdiam karena kejutan yang didapatkannya terlalu besar.
Sementara itu, di party channel
“Hahaha.. damn, ini lucu sekali.” Dika tertawa terbahak-bahak.
“Lihat wajah Ron, dia seperti tersambar petir di siang bolong.” Dino berkata.
“Itu pembalasan terkejam dari Sakuya. Kau harus akui itu.” Dika meneruskan.
“Poor Ron.. Dia telah diblacklist oleh Sakuya.”Dino menanggapi.
Ali, Ratih dan Fiona saling memandang dan tertawa lirih.
“Ehem.. Ok aku mengingatnya. Mari kita segera ke rumah baru kita.” Setelah menenangkan diri, Ron menjawab dengan ironi. Ron kemudian teringat sebuah ungkapan, bahwa diam adalah emas.
Dia merasa, seharusnya dia tidak mengatakan apapun tadi. Dengan begitu dia tidak akan berada di situasi seperti ini.
__ADS_1