VRMMORPG: LEGACY

VRMMORPG: LEGACY
Ep.3 Ratih dan Syukuran


__ADS_3

Ratih terdiam sejenak, seakan belum bisa mencerna kata-kata Ali. Lalu matanya menatap mata Ali dengan tajam, “Kau akan pergi?”


Ali tidak menghindari tatapan Ratih, dengan tersenyum Ali berkata,”Ra.. kamu kan tahu, Setelah lulus SMA atau sederajat, anak asuh harus meninggalkan panti asuhannya. Karena pemerintah menganggap dia sudah dewasa. Kakak-kakakku juga begitu, mereka harus mandiri, mencari pekerjaan, atau ikut program dinas sosial bekerjasama dengan dinas tenaga kerja mengikuti program pelatihan kerja. Kecuali kalau dia diangkat yayasan menjadi pengasuh seperti mas Soleh.” Ali dengan sabar menjelaskan pada Ratih.


Secara refleks Ratih berkata,”Kenapa kamu tidak menjadi pengasuh seperti mas Soleh?” Setelah menyadari apa yang dikatakannya Ratih terlihat menyesal dengan apa yang dikatakannya. Lalu menambahkan,”Aku cuma gak mau kamu jadi gelandangan. Aku tidak mau memiliki teman seorang gelandangan.” Kali ini Ratih tidak berani menatap Ali.


“Ok”, dengan ringan Ali mengatakannya, sambil tersenyum memandang Ratih.


“Sungguh?”dengan mata berbinar, Ratih menyahut. Lalu, baru sadar telah dipermainkan Ali, wajahnya memerah.


Ali tidak berani main-main lagi, menjelaskan pada Ratih. “Maksudku aku tidak akan menjadi gelandangan, dan membuat Rara malu. Hahaha... maaf jangan marah. Aku sudah dapat pekerjaan. Aku akan pindah ke Surabaya.” Tanpa sadar Ali memanggil Ratih dengan nama panggilan Ratih saat kecil.


Raut kesedihan terlukis di wajah Ratih. Lalu menunduk, berkata dengan lirih,”Kenapa kamu tidak mencari kerja di sekitar sini saja? Aku bisa minta bantuan bapak, untuk mencarikan kerja untukmu, bapak punya banyak teman di Kediri.”


Tidak ingin lagi basa-basi, Ali berkata, “Ra.. Aku bergabung dengan studio di Surabaya. Kami berencana memasuki server 7 legacy.”


Ratih tersentak. Dengan wajah bahagia dia berkata,”Selamat ya Al... Aku tahu kamu bisa. Selamat telah mewujudkan mimpimu. So cool..”


“Terima kasih Ra, aku senang kamu juga senang. Aku takut kamu marah, karena dulu mimpi kita menjadi pemain profesional. Kamu pun telah bekerja keras selama ini.” Ali berkata. Ali tahu benar cita-cita terbesar Ratih adalah menjadi pemain profesional. Mungkin keinginan Ratih lebih besar dari Ali. Ali tahu, Ratih berlatih silat sejak SMP dan dilanjutkan di SMK, untuk mendapatkan peningkatkan kemampuannya dalam arena.


Hasilnya pun jelas, Ratih dapat menerapkannya dalam Arena. Teknik menghindar, teknik melangkah, bagaimana seharusnya mengatur jarak dengan lawan, sliding, membanting. Itu semua tidak ada dalam skill set Ninja di Arena. Tapi Ratih berhasil mengkombinasikan skill individunya dengan skill ninja di Arena. Sayangnya, kerja kerasnya tidak berbuah karena tersisih di babak penyisihan.


Ali sadar saat bertarung dengan Ratih di babak penyisihan, bahwa dia harus serius berusaha mengalahkan Ratih. Karena mimpi mereka menjadi taruhan. Dan hasil kemenangan itu terbayar. Ali mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi akibatnya, mimpi Ratih kandas. Karena itu Ali bersedia menerima kemarahan Ratih selama dua bulan ini.


Mungkin ada yang bertanya, “kenapa tidak mulai dari nol saja? Memasuki legacy sendiri, mengalahkan musuh-musuh, lalu membuat guild dari nol dengan teman-teman yang di kenal dalam game. Lalu setapak demi setapak menjadi hegemon. Seperti cerita di novel atau komik.”


Tapi Ali dan Ratih, bahkan ribuan peserta kompetisi Arena dua bulan lalu menyadari, bahwa untuk membangun guild yang besar, diperlukan pondasi yang kuat berupa studio yang kuat secara komersial dan berisi banyak pemain berbakat yang bisa saling percaya, serta dukungan profesi non-combat seperti master blacksmith, master tailor, master alchemist, master enchanter dll.


Karena di legacy, sulit ditemukan equipment atau potion yang didrop oleh monster. Hanya humanoid monster seperti troll, devil, goblin, orc dll yang punya kemungkinan droping equipment atau potion. Sedangkan elf, dwarf, hobbit, wingsman, beastman adalah Npc yang memiliki faksi. Memburu mereka, sama saja dengan menjadi musuh faksi mereka.


Dan kompetisi dua bulan yang lalu, merupakan ajang merekomendasikan diri bagi pemain amatir, agar dilirik oleh studio yang akan memasuki server 7. Sehingga bisa mendapatkan penawaran yang lebih baik, seperti kondisi kontrak kerja yang diterima Ali. Jika seseorang pemain dikontrak setelah server 7 dibuka, misalnya, jika studio Adam akan merekrut lagi dua bulan kedepan, maka keuntungan Clan legacy akan tidak tersedia lagi.


Wajah Ratih sejenak memerah, seakan akan marah, tapi yang keluar hanyalah hembusan nafas, lalu Ratih tersenyum, sambil berkata, “Aku tidak akan marah lagi. Mimpiku berakhir. Tapi bolehkan aku titipkan mimpiku padamu? Jadilah pemain top demi aku juga.”


Ali menjadi merasa bersalah, tapi dengan tatapan serius memandang Ratih dia berkata,”Apakah kamu menyerah Ra? Aku tidak ingin memikul beban mimpimu di pundakku. Itu mimpimu, maka pikullah sendiri. Aku akan disampingmu membantumu jika kamu mau. Tapi dengan kedua tanganmu, raihlah mimpimu sendiri.”


Tidak bisa menahan emosinya lagi, Ratih menangis dan berteriak,”Apa hakmu berkata seperti itu? Bukankah kamu yang mengalahkanku? Kamu menang, aku kalah, mimpimu terwujud, mimpiku berakhir. Kamu akan pergi, dan aku akan tetap disini...’sendiri’. Seberapa beratkah mimpiku yang kutitipkan padamu? Setidaknya lakukan itu.”


Tidak menduga Ratih akan histeris seperti ini, Ali jadi panik, “Rara, jangan menangis... Jangan nangis... Nanti Bapakmu mengira aku ngapa-ngapain kamu. Kamu boleh menghukum aku sesuka kamu, Tapi jangan menangis.” Ali mencoba membujuk Ratih, sambil melirik ke arah dapur. Dengan tangisan dan teriakan Ratih seharusnya pak Rudi dan semua yang di dapur tahu. Tapi kenapa tidak ada yang keluar.


Tangis Ratih masih belum berhenti. Ali semakin panik.


Ding

__ADS_1


Tanda pesan masuk. Ingin mengalihkan perhatian, Ali membuka pesan di smartphonenya agar dia dapat berpikir lebih jernih. Tapi ternyata isi pesan itu benar-benar luar biasa.


Seakan Alloh membukakan pintu keluar bagi Ali, dan semua masalah akan teratasi. Isi pesan itu cukup panjang, [Ok Al, kamu benar. Temanmu Ratih memang pantas mendapatkan slot ke 20. Beritahu dia, kalau dia bersedia masuk ke studio kami, dia akan mendapatkan kondisi kontrak kerja yang sama dengan kamu. Dia layak mendapatkannya.] Pesan ini dari Adam.


Setelah membaca pesan tersebut beberapa kali, Ali keluar dari warung, lalu menelpon Adam dan menceritakan kondisi Ratih sekarang, dan meminta Adam menjelaskan pada Ratih. Setelah Adam bersedia, Ali masuk kembali ke warung.


Saat Ali masuk lagi ke warung, Ali sadar Ratih tidak menangis lagi, hanya sesenggukan. Tapi dari raut wajahnya terbaca dengan jelas, bahwa Ratih benar-benar kesal pada Ali.


Tapi karena terlalu gembira, Ali tidak menyadarinya. Dengan tersenyum, Ali menyerahkan smartphonenya pada Ratih sambil berkata, “Untukmu..”


Dengan keraguan Ratih menerima smartphone Ali, dengan ragu mendekatkannya ke telinga kanannya yang yang tertutup jilbab pink, Ratih berkata “halo”.


Ali sudah menduga apa saja yang dikatakan Adam, tapi melihat perubahan ekspresi Ratih dari cemas, terkejut, senang, bersyukur, membuat Ali berpuas diri. Ali bergumam 'hanya aku yang bisa melihat Ratih dengan berbagai ekspresi, aku bisa ketagihan kalau begini, hehe..'.


Setelah beberapa menit mendengarkan penjelasan Adam. Ratih akhirnya berkata,”Terima kasih banyak Adam.. Assalamualaikum..” Lalu Ratih mengakhiri panggilan.


Selanjutnya, Ratih menyerahkan smartphone itu ke Ali. Tapi hal yang tidak terduga terjadi.


Ratih memeluk Ali, sambil menangis lebih keras dari sebelumnya, Ratih berkata disela tangisannya, “Terima kasih Ali... Aku sangat terharu... Maafkan aku karena marah kepadamu... Kamu sangat baik padaku” kondisi seperti ini berlangsung beberapa lama. Dan Ali hanya bisa berdiri terpaku.


Lalu terdengar suara berdehem di belakang Ali. Yang pertama menyadarinya adalah Ratih. Dengan segera, Ratih melepaskan pelukannya, dan dengan langkah cepat, Ratih memeluk Ibunya yang berdiri di samping ayahnya. Lalu Ratih membenamkan kepalanya pada pelukan Ibunya sambil sesenggukan.


Ali hanya dapat diam berdiri. Ali tak berani menoleh ke belakang. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.


Lalu terdengar suara pak Rudi, “Aku tak menyangka kamu seperti itu Ali. Kamu berani membuat Ratih menangis dan memeluknya di warungku sendiri. Dan di saat kami berdua tidak jauh darimu. Aku salut padamu.” Suara yang seharusnya marah terdengar seperti menggoda, membuat Ali memiliki keberanian menghadap ke arah Pak Rudi.


Tapi kemudian, tindakan Pak Rudi mengangkat jempol secara sembunyi-sembunyi dan bahasa bibir yang terbaca oleh Ali sebagai ”good job” membuat Ali tak berdaya dan tak tahu harus berkata apa.


Lalu Ali melihat Ratih yang masih sesenggukan di pelukan ibunya. Setelah melihat tatapan ibunya yang seakan menyalahkan Ali, membuat Ali walaupun tidak berhak merasa lega. ‘setidaknya Bu Rudi adalah orang tua yang normal' membuat Ali merasa bersyukur untuk Ratih.


Mengumpulkan segenap keberanian dalam dirinya, Ali kemudian berkata, “Maaf pak, Bu, semua ini salah paham. Sebenarnya yang terjadi seperti ini...” Lalu menjelaskan semuanya kepada kedua orang tua Ratih.


Setelah dijelaskan, Pak Rudi menyimpulkan, “Jadi dari awal, Adam memberimu dua kuota Clan legacy?” ada keraguan tergambar di wajah pak Rudi.


“Hanya satu, dan satu rekomendasi, saya teringat tentang Ratih, jadi saya memberikan video-video pertandingan Ratih di Arena. Apakah ada yang aneh pak?” Tanya Ali, ikut ragu.


“Tentu ada yang aneh, keanehan pertama saat kamu diberi kuota Clan legacy yang terbatas itu. Maaf kalau menyinggungmu, aku tahu benar kemampuanmu Al, kamu bisa dikatakan memiliki kualitas pemain elit, tapi menurutku ada ratusan pemain veteran yang lebih baik dari kamu di Indonesia. Satu-satunya kemungkinan yang bisa dijadikan alasan kamu mereka pilih adalah, mereka melihat upper limit pertumbuhanmu sangat tinggi. Tapi apakah mungkin dari melihat video di Arena bisa mengetahuinya?”


Setelah mendengar penjelasan pak Rudi, Ali merasa memang ada yang aneh dari perekrutan dirinya. Ali lalu berkata,”apa keanehan yang lain?”


“Kalau cuma hal itu, walaupun sulit, tapi masih bisa dijelaskan dengan keberadaan Ron yang merupakan ahli strategi studiomu. Dia mungkin benar-benar genius yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat orang lain, orang seperti ini menurutku sangat langka, tapi ada. Tapi yang lebih aneh, Adam menanyakan kalau kamu punya teman yang bertipe kecepatan, yang cukup bagus untuk direkomendasikan. Bukankah itu seakan-akan mereka tahu tentang Ratih.”


‘Memang ada banyak hal yang aneh di sini. Tapi selama menguntungkan aku dan Ratih dan tidak ada kerugian bagi kami, menurutku tidak apa-apa.’ Pikir Ali. Tapi Ali tidak bisa mengatakannya, karena Ali paham, pak Rudi hanya mengkhawatirkan dirinya dan Ratih.

__ADS_1


Ali lantas tersenyum, dan menjawab,”Kalau menurut saya, titik pangkal dari semua ini adalah Dino. Dia mengenal saya dan Ratih sejak lama. Beberapa kali Dino bertarung dengan Ratih di Arena. Sehingga tahu kemampuan Ratih. Yang tidak pernah kita pertimbangkan selama ini adalah seberapa besar pengaruh Dino di studio ini.”


Pak Rudi lalu berkata,”Aku memang tidak pernah mempertimbangkan peran Dino di sini. Mengingat, Dino yang memperkenalkanmu dengan kakaknya, itu sangat mungkin.” Pak Rudi rupanya puas dengan jawabanku, beliau terus mengangguk.


Kali ini Ratih menyela,”Jadi, apakah aku boleh bergabung ke studio itu pak?”


Pak Rudi lalu memandangi ibu Ratih. Beliau berkata,”bagaimana Bu?”


Ibu Ratih tersenyum, dan menjawab,”apalagi yang bisa aku katakan. Kalau mas setuju. Akupun setuju”.


Lalu Ratih menatap Ayahnya dengan mata yang berbinar.


Pak Rudi merasa tidak punya alasan untuk melarang. Maka beliau berkata,”Tentu saja boleh. Bukankah itu cita-citamu. Apalagi akan ada Ali di sana. Kita bisa tenang.”


Ali lalu berkata,”Serahkan tentang Ratih pada saya pak. Saya akan memastikan tidak ada yang akan membahayakan Ratih.”


Pak Rudi lalu tersenyum nakal dan berkata,”Kenapa tidak sekalian kamu lamar saja Ratih? Jadi kami lebih tenang.”


Wajah Ali dan Ratih lalu memerah. Ratih lantas menendang kaki ayahnya, dan berteriak,”Bapak.. apa yang bapak katakan?”


Pak Rudi lalu mengangkat kakinya dengan kesakitan. “Aduh duh.. Ampun Ratih..” dengan akting yang menurut Ali terlalu dibuat-buat.


Bu Rudi dan Ali hanya bisa tertawa kecil.


.......


Sepuluh menit kemudian, semua masakan telah matang. Dan jumlah masakannya ternyata melebihi apa yang Ali pesan.


Saat Ali mau membayar, pak Rudi menolaknya. Beliau berkata,”Ini sebagai ungkapan terima kasih kami, karena kamu, Ratih mendapatkan kesempatan yang berharga ini.”


Ali hanya dapat menerimanya. Dan membantu membawa masakan yang cukup banyak itu bersama kedua pegawai pak Rudi.


Di Panti asuhan, kami diterima oleh Soleh. Setelah menyajikan makanan di tempat prasmanan. Keluarga Pak Rudi beserta kedua karyawannya dipersiapkan duduk oleh Soleh. Lalu Soleh memimpin acara itu dengan ajakan membaca Al Fatihah sebagai pembuka, ucapan terimakasih ke pada Pak Rudi, dan memimpin pembacaan surat-surat pendek juz 30 Al Qur’an dan ditutup dengan doa.


Setelah doa, Soleh mempersilahkan semua yang ada di sana untuk segera mengambil makanan yang disajikan.


Anak-anak yatim piatu sangat menyukai makanan yang mereka makan. Walaupun begitu, mereka tetap makan dengan sopan dan tidak tergesa-gesa. Dari kecil, Ali dan anak-anak yatim piatu memang diajarkan untuk bertingkah laku yang sopan, untuk menghormati para donatur dan dermawan.


Setelah selesai makan, keluarga pak Rudi mohon diri untuk pulang, karena setelah Maghrib, warung akan dibuka kembali.


Sebelum pulang, Ali memberitahu Ratih untuk datang ke kafe Grassroot jam 9.00 besok, untuk tanda tangan kontrak. Pak Rudi juga dipersilahkan untuk menemani Ratih, untuk menegosiasikan dengan mas Adam apa yang diinginkan Ratih dan keluarganya untuk dituangkan dalam kontrak.


Ali lalu mengantarkan keluarga pak Rudi sampai gerbang panti asuhan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian terdengar adzan Maghrib dikumandangkan dari sound sistem masjid terdekat. Menyusul kemudian adzan-adzan dari musholla-musholla sekitar.


Mendengar takbir bersahut-sahutan, hati Ali bergetar. Dipandangnya langit yang berhias cahaya jingga. Burung-burung terbang rendah, pulang ke sarang-sarang mereka. Angin sejuk membelai daun-daun. Saat itu, Ali hanya ingin menyatu dengan semesta memuji kebesaran Allah yang maha pencipta.


__ADS_2