Wanita Bercadar Vs Dosen Psikopat

Wanita Bercadar Vs Dosen Psikopat
Ospek


__ADS_3

Hoaam, aku terbangun saat jam menunjukkan jam 3 pagi. sholat tahajjud rutinitas yang selalu aku kerjakan, setelah selesai sholat aku melanjutkan membaca Al-Qur'an sambil menunggu Adzan Shubuh. aku dari dua bersaudara, aku punya saudara laki-laki.


saat aku masih SMA keluargaku dalam keadaan kondisi kekurangan hingga kakakku memutuskan untuk mencari pekerjaan keluar kota, hingga kini dia tidak pernah menghubungiku, aku mencoba menanyakan ke teman dekatnya tapi tidak ada yang tahu kemana kakakku bekerja, aku menghela nafas panjang, aku mencoba menghubungi kakakku dan sama saja nomor yang ku telepon tidak aktif, aku dan ibu mulai cemas dengan keadaan kakakku.


terakhir kakakku mengirim pesan kepadaku mengabarkan bahwa keadaannya baik-baik saja dan mengingatkan untuk menjaga ibu.


Hal yang membuat pikiranku tidak bisa tenang selain memikirkan keadaan kakakku, aku juga selalu bertanya kepada ibu perihal tentang Ayah.


"Ibu, mungkin pertanyaan dariku ini membuatmu enggan untuk menjawab tetapi aku hanya ingin tahu dimana Ayah sekarang bu?," ucap Zahra. "Ayahmu sudah meninggal nak," jawab singkat ibunya.


Jika Ayah meninggal dunia dimana makamnya bu, Zahra mau ke makamnya untuk mengirim do'a untuknya.


Ibu hanya terdiam dan enggan menjawab pertanyaanku.


aku hanya ingin merasakan kasih sayang seorang Ayah, terkadang aku dihina oleh teman sekolahku dengan sebutan anak haram, disaat itulah hatiku hancur.

__ADS_1


tak terasa bulir air mata jatuh dengan sendirinya mungkin ini takdir yang harus ku jalani, keluargaku hanya dari kalangan sederhana.


Jam menunjukkan pukul 6 pagi, ku hirup udara pagi ini yang terasa sangat menyegarkan lalu aku menyapu halaman rumah sedangkan Ibuku menyiapkan sarapan pagi.


Hari ini pertama aku ospek selesai membersihkan rumah aku bergegas bersiap-siap untuk berangkat kuliah.


Saat aku berjalan ke depan untuk menunggu angkutan umum terdengar suara memanggilku.


"Zahra, Zahra tunggu aku!! panggil Rina sambil bernafas terengah-engah,Rina melongo melihat Zahra dari bawah ke atas, tunggu, tunggu dia membolak-balikkan badanku, sekarang insyaf ya pakai cadar",celetuk Rina.


Ciee, ciee, baru masuk kuliah sudah berani bilang suami jangan-jangan kamu ngebet nikah ya, goda Rina.


Udah Rin, jangan dibahas lagi nanti kita telat.


Flasback Off

__ADS_1


Rina teman sejatiku dari SD sampai SMA, saat aku dihina oleh temanku dia orang pertama yang menghiburku, saat aku kesusahan tidak punya uang dia juga yang meminjami uang kepadaku tanpa perlu untuk menggantinya.


Bahkan aku sudah menganggap Rina seperti adikku sendiri.


Flasback On


"Aku tadi menjemput ke rumahmu tapi kata ibumu kau sudah berangkat makanya aku langsung lari mengejarmu," ucap Rina. Hehehe aku kira tadi kamu diantar oleh Ayahmu, saat didalam angkot kita bersenda gurau dan saling bercerita, Alhamdulillah ya kita dapat beasiswa dan bisa kuliah di universitas yang kita impikan waktu SMA dan memilih jurusan arsitektur, padahal aku sudah putus asa untuk melanjutkan kuliah karena aku tidak punya biaya, tapi takdir berkata lain. aku terharu dengan perjuangan kita berdua Rin, kamu beruntung masih bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuamu, sedangkan aku tidak tahu sama sekali wajah Ayahku.


"Sudah jangan bersedih dan menangis Zahra, nanti mata kamu sembab, kita berdua harus semangat ya karena hari ini kita mengejar cita-cita menjadi seorang arsitektur terkenal," Ucap Rina.


Hey... Hey...


Untuk Para Readers yang Budiman.


Like, Koment Karyaku.

__ADS_1


Karena dukungan dari para readers membuatku semangat menulis.


__ADS_2