Wanita Bercadar Vs Dosen Psikopat

Wanita Bercadar Vs Dosen Psikopat
Sakit


__ADS_3

Saat melihat Zahra dibalik pintu kamar, Aris sejenak melihat wajah cantik Zahra yang sedang terlelap tidur dan hatinya damai saat melihat itu.


Aris lalu mengetuk pintu kamarnya dan tidak ada tanggapan, tanpa rasa ragu dia langsung menghampiri Zahra ditempat tidur.


Ibu, ibu!!!suara rintih Zahra menginggau.


Aris mendekat dan mengecek dahi Zahra, demam batinnya.


Zahra tidak sadar diri jika disampingnya ada Aris, dia langsung menggendong Zahra ke dalam mobil dan membawanya ke Rumah Sakit.


Aris membawa mobil dengan kecepatan tinggi karena khawatir dengan keadaan Zahra yang wajahnya sudah mulai pucat.


Saat sampai rumah sakit Aris menggendong Zahra ke ruang Ugd.


"Suster, Suster Tolong!! ucap Aris".


Dengan sigap suster membawa Zahra ke bed pasien untuk di periksa lebih lanjut oleh dokter.


"Bapak selesaikan administrasi dulu, pinta suster".


"iya sus, jawab Aris".


"Pak, silahkan boleh masuk !! ucap salah satu suster".


"Permisi dokter, istri saya sakit apa? tanya Aris".

__ADS_1


(para readers jangan baper ya kali ini Aris sudah menganggap Zahra sebagai istrinya)


"Istri bapak hanya kelelahan saja jangan buat dia terlalu tertekan dan banyak pikiran, jawab bu dokter".


"Lalu istri saya apa sedang hamil dok, lanjut pertanyaan polos yang di keluarkan oleh Aris". (dosen yang bersifat dingin)


"Untuk kehamilan belum ada tanda-tanda ke arah sana,tunggu saja dua minggu lagi untuk kontrol ke rumah sakit. jadi kalau ibu Zahra ini harus rawat inap dan jika masih lelah jangan diajak terus ya pak, biarkan istirahat dulu, celetuk bu dokter".


"Aris hanya bisa tersenyum mendengar jawaban dari dokter dan seketika pipinya memerah seperti kepiting yang sudah di rebus".


"Terima kasih dok!!, ucap Aris".


"Sama-sama Pak!!, jawab dokternya".


Aris hanya melihat dari kejauhan, Sambil menunggu suster untuk memindahkan Zahra ke ruang rawat inap SVIP dengan fasilitas yang lengkap.


"Ibu, ibu!! suara rintihan Zahra membangunkan Aris".


Aris bergegas untuk duduk agar Zahra tidak terkejut dengan kehadirannya.


"Zahra sedikit membuka matanya, samar-samar dia perhatikan disekelilingnya ini bukan kamarku, batinnya".


Aakh!! Zahra kaget saat menoleh ke arah samping.


Aris tersenyum dan menggaruk kepala yang tidak gatal.

__ADS_1


"Pak Aris, sedang apa di sini? tanya Zahra".


Hmm..hmm...kamu yang tenang jangan panik, aku, aku (santai ris jangan salah tingkah untuk menjelaskan yang terjadi sebenarnya didepan Zahra) batin Aris.


Aris menghela nafas panjang menceritakan awal kejadian yang mengharuskan dia membawa Zahra ke rumah sakit.


Zahra kembali teringat dengan kejadian yang menimpanya, bahkan dia sedikitpun tidak mengucapkan terima kasih kepada Aris, hal itu dikarenakan Zahra trauma, dia bahkan takut menceritakan kejadian ini ke ibunya


Zahra tidur membelakangi Aris, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Aris berdehem mencairkan suasana dan mengambil makanan untuk Zahra.


Zahra reflek menoleh ke arah Aris hingga kedua mata mereka saling bertatapan.


Hmm,hmm sini aku suapin pasti kamu lapar ya hingga matamu tidak berkedip melihatku, goda Aris.


Dia yang sedari tadi memegang piring yang berisikan bubur mematung saat bertatapan dengan Zahra.


"Aku tidak lapar dan aku tidak mau jika kamu yang menyuapi makanan itu, ketus Zahra,".


"Sudahlah!! aku tidak ingin berdebat denganmu sekali ini saja menurutlah padaku, jika kau membenciku aku terima, memang aku yang salah dasar tidak tahu terimakasih, jawab Aris,".


Hai para readers yang Budiman...


Jangan bosan ya dengan ceritaku....

__ADS_1


Hehehe (^_^)...


__ADS_2