
happy reading minna~
.
.
.
pagi hari yang cerah, burung berkicau dengan indahnya dan Aarin yang sedang semangat sedangkan Mill yang sedang bobok cantik.Aarin bersiap pergi ke Akademi meninggalkan Mill yang masih tidur dengan nyenyak nya.dengan semangatnya dia pun berjalan menuju Akademi.
saat sampai di ruang kelasnya, Aarin langsung saja menuju bangkunya dan menyapa Orin.
"hei Orin"
"apa?"
"dasar pendek"
"💢anak satu ini"
tidak, dibandingkan menyapa, lebih tepat jika menyebutnya menyulut perkelahian.
"aduh, siapa tadi yang bilang pendek? ckckck gak sopan orang itu"
"ya itu kan kamu astaga💢"
"hah? janganlah engkau memfitnah teman sendiri wahai anak muda"
"dari tadi kulihat kamu sepertinya ingin sekali berkelahi dengan saya ya Nona?"
"hah? maap anda siapa ya Tuan?"
"ayo kita ke luar kelas sekarang"
Emilia yang baru datang lalu melihat pertikaian antara Orin Dan Aarin pun langsung melerai mereka.
"suuut jangan berkelahi"
ucap Emilia di tengah-tengah pertikaian mereka berdua.
"anda siapa Nona?"
"eh?"
"bunga yang telah layu kemudian tumbuh kembali, seperti itu lah hidup" ucap Aarin sambil menggandeng kedua tangannya di belakang, bersikap layaknya seorang cendekiawan ternama.
"hah?" Emilia pun bingung melihat sikap Aarin yang bisa dikatakan seeeeeedikit absurd.
"wahai anak muda, hidup ini singkat.jangan lah engkau menyianyiakan hidup mu" ucap Aarin lagi layaknya seorang petapa.
"hah?" Emilia masih dalam keadaan bingung.
"daun yang jatuh tidak pernah membenci angin" makin absurd sikap Aarin, makin bingung juga Emilia.
(author: bapak mario di dimensi yang berbeda lol😂)
"andai kata hidup ini seperti awan, tidak pernah sama dan selalu berubah-ubah" Emilia makin bingung, sedangkan Orin hanya bisa memijat pelipisnya.
"jika engkau tidak peduli pada dunia, maka dunia juga tidak peduli padamu" kesal, Orin pun mendekati Aarin.
"cinta-"
__ADS_1
hap!
Orin pun langsung saja membungkam mulut Aarin.
"bisa diam? mulut mu kebanyakan berbicara hari ini.kalau mau berkelahi langsung saja" ucap Orin dingin
"ish iya iya.Orin emosional betul astaga" ucap Aarin cemberut
"aku sih tidak masalah tapi kasian Emilia, kebingungan" ucap Orin menunjuk Emilia yang diam mematung dengan muka anehnya.jika kalian ingin tau apa isi pikiran Emilia, mungkin isinya hanya kata "hah?" sama "hah?" lagi.
(author: ngelag lol aowkwkwk)
"eh? sampai segitunya?"
selagi mereka mengobrol ria, guru mata pelajaran hari itu pun datang.
"anak-anak, duduk lah.pelajarannya akan di mulai" ucap guru itu.
seluruh penghuni kelas itu pun diam dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing, menunggu guru itu berbicara lagi.
"baiklah, hari ini kita akan belajar di praktik pembuatan alat sihir.kita akan mempraktekan cara membuat alat sihir sederhana.kalau begitu bersiap pergi ke sana dan kita akan pergi!" perintah guru itu.
mereka pun bersiap pergi ke ruang praktik alat sihir.Emilia sudah kembali normal.
--------"--------
di ruang praktik
dengan pengaturan meja kerja terpisah menghadap depan.di bagian terdepan bengkel itu terdapat sebuah papan tulis yang seperti hologram.jika di lihat lagi, papan tulis itu merupakan sebuah alat sihir juga.
sungguh modern dalam artian fantasi.
anak-anak pun mengambil tempat duduk masing-masing.
"baiklah, hari ini kita akan belajar bagaimana cara membuat sebuah alat sihir peledak biasa dengan efek yang kecil.setiap bahan yang kalian butuhkan ada di meja kalian masing-masing.kerjakan lah secara mandiri, tidak ada yang namanya kerja sama kali ini" ujar guru itu sambil tersenyum ramah.
ya tentu saja dia akan mengatakan hal seperti itu.pada pembelajaran minggu lalu, ada beberapa anak yang tercyduk sedang melakukan kerja sama.jadi jangan salahkan sang guru jika ia memberikan peringatan, salahkan lah muridnya kenapa kok bisa ketahuan.dasar anak-anak yang kurang pengalaman.
(author: seorang pencontek yang baik adalah ia yang tidak tercyduk)
"ah, saya lupa, anak-anak, saya ada sebuah peringatan lain bagi kalian.jangan menambahkan sihir kalian ke dalam alat sihir itu.jangan bahkan jika hanya sedikit.cukup tambahkan mana murni saja mengerti?" peringat guru itu.
""baik pak""
satu persatu para murid pun mulai merakit alat sihir mereka masing-masing.
baiklah, mari kita lihat bagaimana keadaan Aarin.
Aarin terlihat mulai merakit alat sihirnya.mulai dari rangka luar, pembungkusan menggunakan lapisan mana, mengatur sirkulasi mana, hingga mengatur kapasitas mana di dalam alat itu.
alat berbentuk bulat sebesar bola kasti pun hampir selesai.
tinggal menambahkan mana sedikit lagi lalu selesai.
tapi oh tapi...
Aarin yang selalu penasaran aka kepo pun bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
'kalo ku tambahin sihir es kekmana jadinya yah?'
'ya jelas meledaklah bego'
__ADS_1
'lah? kamu siapa cok?
'aku? aku adalah otakmu'
'hah?'
karena dia kepo, Aarin pun memasukkan sediiiiiiiikit sihir es nya.
begitu dia memasukkan sihirnya, tidak terjadi apa-apa.
1 detik
2 detik
pada detik ke-3 lalu...
DUAR!!
KYAAAA!!
Kretak
kretak
begitu alat miliknya meledak, suhu di ruangan itu pun turun drastis.terlihat lantai terlapisi dengan beberapa lapisan es tipis begitu pun dengan dinding, atap dan beberapa meja.
Aarin yang berada di tempat paling dekat kejadian perkara pun, terlihat rambut nya yang seperti habis terhempas angin topan.
guru mata pelajaran itu pun, langsung saja mendatangi Aarin.
"NONA AARIN XEVINCH!!!"
"hiiii!!!"
Orin yang melihat temannya itu pun, hanya bisa mendesah berat.
"hahh...terkadang, rasa pensaran yang besar adalah sebuah bencana"
\=\=\=\=bersambung\=\=\=\=
author timee
aku di bully~
aku di kata katain~
dan aku....
bahagiaaaa
awww seneng deh dia ngata ngatain aku secara langsung.mayan pahala gratis aowkwkwkwk
selain itu lucu juga ngeliat dia marah marah kek gitu:v
seneng aku malah nantanginnya😊
"gak takut thor?"
why i should fear?
mau pake kekerasan pun aku juga bisa make, mau adu mulut pun aku bisa tambah ngolokin secara halus gak pake bahasa kasar, mau nyebar aib? pffft maaf saja ya tapi aku bukan orang yang suka nyembunyiin aib sehingga bisa kau sebarkan.
__ADS_1
jadi karna mood ku lagi bagus aku bakal doble up gays~