
TOK! TOK! TOK!!
"Loh, Den Angan? Kok udah nyampek" ucapnya setelah membuka pintu, ada raut heran diwajahnya membuat Angan binggung juga.
"Non Senja 'nya mana?" Lanjutnya yang malah membuat dahi Angan mengkerut
"Loh? Dia belum pulang?" Tanya Angan heran,
Mbak Ola mengeleng sebagi jawaban, yang disambung kibasan tangan "mungkin dia lagi kesuatu tempat"
Suatu tempat? "Kemana mbak?" Tanya Angan penasaran
"Ketempat yang selalu non Senja kunjungi kalau pulang sekolah. Kemarin kemarin sebelum lo jadi guru privat non Senja dia selalu kesana pulang sekolah, nggak lama kok paling paling jam 3 nanti udah nyampek rumah" jelas Mbak Ola mengiring Angan untuk masuk kedalam rumah
Nggak Mbak Ola, nggak si Tengil sama aja. Sukanya buat orang bingung.. dumel Angan membatin
"Rumah Sakit" seru mbak Ola manjawab kebingungan di wajah Angan.
"eh?"
"Iya, non Senja biasanya ke Rumah Sakit dulu sebelum pulang kerumah"
Rumah Sakit? Angan mencoba menerka nerka kenapa Senja kerumah sakit, dan kalau tidak salah ingat atau salah tebak Senja pasti sedang berkunjung ketempat bundanya dirawat.
Angan mengangguk faham "Jenguk bundanya 'kan?" Tebaknya yang dijawab anggukan oleh Mbak Ola.
Wuaaaaaaa!!!!! Oeeeeeekkkkkk Huaaaaaa....
Mata Mbak Ola membulat mendengar tangisan Tawang, "Haduh! Abang Paduka Tawang!" Serunya yang langsung berlari kelantai atas menuju kekamar Tawang, meninggalkan Angan yang terduduk sendirian di rumah tamu rumah berlantai dua itu.
Angan memeriksa handphonenya yang tadi sengaja ia matikan, takut menganggu acara rapat sekolah tadi.
Beberapa pesan muncul yang seharusnya sudah Angan baca satu jam tadi, nama yang tertera disana membuat Angan tersenyum tipis.
Si Tengil : Berhubung lo lagi bersemedi di sarang lebah, gue mau cari doraemon dulu buat pinjem pintu kemana saja biar gue bisa ke kutub utara, ngecek yang lagi berhibernasi disana.
Si Tengil : Ok? Ok.
Si Tengil : See you. Sir. π
Si Tengil : πππ
Si Tengil : gue ngetik loh ya, bukan ngomongπβοΈ
__ADS_1
Angan mengeleng-geleng dan tertawa kecil membaca pesan Senja, dan entah kenapa hati Angan menghangat juga saat tau kalau Senja sudah mau mengabarinya.
Angan berdiri dari posisi duduknya, dia penasaran wajah kedua orang tua Senja seperti apa, mungkin foto foto yang berjajar di atas rak buku itu bisa menjawab pertanyaan Angan.
Baru dua langkah berjalan, langkah kakinya terhenti dengan suara Tawang yang masih sesenggukan karena tangisnya, membuat Angan kasihan juga kepada bocah balita berumur 6 bulan lebih itu.
" lo mau coba gendong?" Tawar Mbak Ola yang membuat mata Angan membulat
"Hah? Eh.. gue nggak bisa Mbak" ucapnya keberatan
"Ck. Gue ajarin" saut Mbak Ola, "ya caranya kayak lo mau gendong cewek lo, tapi bedanya ini bayi. Lo tinggal nempatin tangan lo di punggung dia kaya gini" ucapnya mempraktekan " dan yang satu disini" lanjut Mbak Ola "gampang 'kan?"
Angan mengangguk dan menerima Tawang yang sudah merentangkan kedua tangannya.
"Tuh, Abang Paduka aja suka lo gendong" gumam Mbak Ola yang melihat Tawang mau berinteraksi dengan Angan.
Angan hanya tersenyum gemas kepada Tawang yang perlahan mulai membawa Angan untuk sayang kepadanya
"Tawang?" Panggil Angan gemas "Kenalin aku kak Angan, 'calon kakak ipar kamu'" bisik Angan terkekeh geli yang menular ke Tawang.
"Restuin ya" bisiknya lagi, yang malah membuat Tawang tertawa karena geli ditelinga 'nya
"Ih.. lucu banget sih" gemas Angan mencium Tawang
"Ber.har.ga. Mungkin kalau kakak bawa adek pulang, Kak Te.. eh Senja pasti udah bawa pasukannya buat nyerang kakak. hi.. Nyelemin." Ucap Angan kepada Tawang yang malah membuat Tawang tertawa
"Terus" seru Mbak Ola melanjutkan ucapannya
"harus yang rajin beribadah, nggak Manja, sabarnya berpangkat pangkat, dan bisa masak. Setahu gue sih gitu, eh.. dan yang jelas sayang sama dia" ujar Mbak Ola yang membuat Angan menelan ludahnya susah payah.
'Rajin Shalat' em....'
'nggak Manja' og ou..'
'sabarnya berpangkat pangkat ' hemm...
'bisa masak'
Diam diam Angan menghembuskan nafas lega dibait terakhir itu..
Ehhhhh... tapi masa iya dari beberapa tipe idaman Si Tengil tadi gue cuma bisa menuhin nya satu? Kalau sayang sama Tawang sih.. hem.. baru gendong Tawang aja udah bikin gue lengket sama dia..tapi untuk yang lainnya..
"Assalamu'alaikum!" Serunya dari ambang pintu, tapi pandangannya masih menoleh kebelakang
__ADS_1
"WAALAIKUMSALAM" Saut Mbak Ola dan Angan bersamaan
"Mbak itu motor sport, yang nangkring maco didepan rumah punya siapa?" Cerocos Senja masih memandangi motor yang berada didepan rumahnya.
"Punya gue" saut Angan yang berjalan mendekati Senja,
Senja terperanjat kaget dengan kehadiaran Angan ditambah Tawang yang berada digendongannya.
"Lah! Kok Paduka mau sama digendong sama lo" seru Senja merentangkan kedua tangannya yang langsung ditolak oleh Tawang.
"Loh!!! Abang Paduka Tawang kok gitu sih!" Rengek Senja memanyunkan bibirnya, dia mendekatkan wajahnya dihadapan Tawang yang membuat Angan bisa mencium bau parfum dan juga rambut Senja yang menyejukan.
Aneh, padahal hanya bau, dan jarak yang terpisah oleh Tawang tapi jantung Angan sudah berdisko ria.
Tawang menepuk wajah kakaknya itu keras, yang malah membuat Angan dan juga Tawang tertawa.
"Hahaha.. pinter kamu dek" seru Angan kepada Tawang disela sela tawanya
"dia udah bosen sama lo, makanya nggak mau lo ajak"
"Ish!!! Nggak mungkinlah Paduka bosen, dia kan setia, hehehe.. 'kalau nggak mau sama Kakak nggak kakak kasih cium loh'" bisik Senja yang mampu didengar oleh Angan
"Nggak papa, ciuman dari Kak Angan kan ada" ucap Angan menjauhkan Tawang.
"Ish!!! Angker!" Rengek Senja mengedip ngedipkan matanya, yang malah membuatnya terlihat menggemaskan.
"Ish!! Tengil" saut Angan dengan nada yang sama seperti Senja.
"Ck. Balikin nggak Abang Paduka gue"
"Nggak, kalau di balikin nanti dia jatuh" saut Angan sekenanya
"Iya maksud gue bukan balikin gitu Mbambang, tapi balikin gini" seru Senja yang langsung memasukan sebelah tangannya disela sela Angan dan Tawang dan yang satunya di kaki Tawang.
Sekarang mereka sedang sama sama memeluk Tawang, posisi mereka yang begitu dekat itu mampu membuat jantung Angan seakan tak mau damai, sedangkan Senja dia bisa merasakan hembusan nafas teratur Angan yang memang jauh lebih tinggi darinya.
Waktu seakan berhenti detik itu juga, membiarkan dua insan yang sama sama menatap itu merasakan ada sesuatu yang basah meresap di baju mereka.
"Ngil?" Panggil Angan lirih
"Iya?" Saut Senja tak kalah lirih
"Kok basah ya?" Ujar Angan yang langsung menyerahkan Tawang kepada Senja, Senja menerimanya dan langsung tergelak melihat baju Angan sudah basah karena ompol Tawang, begitu juga baju Senja tapi dia tidak memperdulikannya, sudah biasa.
__ADS_1
"Hahahaha..iiiiish! Paduka pinter banget sihhh" seru Senja mencium adiknya yang juga tertawa