
"Eh.. Bu, udah pada denger kabarnya belum?"
"Kabar apa ya Bu?" Tanyanya yang mulai terpancing dengan pembicaraan gosip pagi ala guru itu.
"Itu soal Pak Yoga.."
"Oh.. yang katanya dijodohkan itu ya??"
"Nah! Heeh.. katanya beliau mau.."
"Ehem.. Selamat pagi Bu," tegurnya melempar seulas senyuman
"SELAMAT PAGI,"
"Eh, ternyata kamu ta.. Saya kira udah Pak Yoga aja" ucapnya was was.
"Memang kenapa ?" Tanya Angan keheranan
"Biasa ibu ibu, " ucapnya cekikikan
Pasti ngrumpi "Oh, silahkan dilanjutkan" ucapnya mempersilahkan
"Eh, itu kepala kamu sudah sembuh?" Tanya Bu Ganeeta menujuk kejidat Angan yang tengah dibebat,
Angan mengangguk "sudah" ucapnya singkat yang langsung menuju ke mejanya,
"Oh, iya. Kak Angan ini masih singel kan?" Tanya Bu Salwa yang membuat Angan menatap horor ke ibu dua anak itu, pikiran Angan sudah melayang kemana-mana, tentang apa yang terjadi jika dia mengaku kalau belum memiliki pasangan.
"Ke-kenapa?" Tanya Angan takut takut
"Hehehehe... Cuma mau tanya, kapan nyusul?" Tanya Bu Salwa yang membuat mata Angan membulat.
Nyusul apa ini???!!!! What? What? What??? Gue nggak mau kalau jadi bapak tiri buat dua anak sekaligus!
"Iya, Kak Angan kapan nyusul Pak Yoga yang udah mau tunangan?" Angan menghembus nafas lega saat Bu Fitri menjelaskan semuanya dengan jelas.
Gue kira, gue udah disuruh jadi bapak tiri
"Nunggu calonnya siap" saut Angan sekenanya,
Tapi, benerkan? Kalau dia sedang menunggu... menunggu Senjanya..
Hohoho... di tembak aja belum..
Soal menembak, Angan sudah bertekat bulat, kalau lepas UAS Senja akan menjadi miliknya. Yup, Angan akan menembak Senja saat itu juga.
Kalau ditolak?
Itu suara batin, atau suara netizen sih grutu Angan
"Wah!!! Berarti Kak Angan udah punya pacar?" Tanya Bu Salwa antusias, ya.. namanya juga biang gosip.
"Privasi" saut Angan singkat yang membuat para guru wanita mendesah kecewa.
*****
Hari ini, Angan tidak bisa memberi Senja pelajaran tambahan. Hem... Padahal itu waktu yang selalu dinanti oleh Angan.
Angan tak berhenti menggerutu hari ini, soal rapat sekolah yang jadwalnya setelah pulang sekolah, soal Pak Krisna yang datangnya amat sangat terlambat, ditambah rapat yang dibahas ternyata teramat lama. Sungguh neraka dunia bagi Angan.
"Angan?!" Panggilnya yang membuat Angan refleks menoleh kesumber suara, dan menyesal saat itu juga.
Ck. Tuh orang kaya setan aja! gentayangan. Batin Angan mengerutu, saat ini dia sedang berada di toko perbelanjaan.
Dan sial yang menyebalkan, Angan harus bertemu dengan orang yang paling tidak ingin ia temui, sang mantan.
Biasanya kalau gue lagi sial kaya gini, si Tengil pasti muncul Batin Angan berharap.
__ADS_1
Felicita, nama mantan Angan. Langsung menerjang Angan dengan pelukannya. Dia menyalurkan segala kerinduan yang ia punya, kerinduan yang terlalu lama terpendam. Angan hanya bergeming tak membalas ataupun merespon perlakuan dari Felicita, dia sudah malas dengan mantan pacarnya ini.
Buat apa sih? Ni orang hadir lagi grutu Angan tak henti henti.
"Lepas" ucap Angan dingin, dengan patuh Felicita melepas pelukannya matanya sudah berlinangan air mata.
"Angan, Aku kangen sama kamu." Ucap Felicita disela sela tangisnya
"A-Aku juga mau minta maaf sama kamu Angan. Aku mohon maafin aku, A-Aku ta-u aku salah, udah ninggalin kamu tanpa sebab" Felicita meraih tangan Angan ingin menggenggamnya, yang langsung di sentak oleh Angan.
"Aku mau jelasin alasan aku, kenapa aku ninggalin kamu"
"Biar?" Ucap Angan membuka suara, dia menatap manik mata Felicita ada sorot kepedihan didalamnya membuat Angan muak setengah waras, biasanya dia gila karna Senja..
Yeah, Angan muak dengan Felicita. Selalu begitu, dulu Angan selalu bertanya keadaan Felicita, setidaknya Angan ingin Felicita terbuka dengannya tapi hasilnya nihil, Felicita selalu berkata 'tidak papa' yang membuat Angan benar benar jengah. Dasar wanita.
Dan pada akhirnya, Felicita mengakhiri hubungan mereka tanpa sebab yang jelas. Dan sebuah kebetulan membuat Angan tau kalau tindaknya selama ini, dalam menyesali putusnya hubungan mereka salah. Angan bertemu lagi dengan Felicita yang sedang dalam keadaan mabuk bersama pria berjas. Apa lagi, kalau bukan Felicita berselingkuh? Dan saat itu juga dia membenci Felicita, benci dengan kebohongannya selama ini.
Felicita memang masih mencoba menghubunginya, tapi Angan selalu menolak sambungan telepon darinya. Aneh bukan? Dia yang meminta mengakhiri hubungan, dia juga yang ingin kembali masuk dalam kehidupan Angan.
"Biar kamu nggak salah paham lagi Angan" nada bicara Felicita pilu, seperti beban hutang triliunan kalau dia tidak menjelaskan semuanya.
"Biar?" Angan melemparkan pertanyaan itu lagi.
"Biar kamu mau maafin aku" rintihnya
"Biar?" Lagi lagi Angan menayakan hal yang sama membuat kesabaran Felicita habis juga.
"Ya! Biar kamu nggak benci sama aku lagi Angan! Aku masih cinta sama kamu!!!!!" Pekiknya histeris membuat para pengunjung menoleh kearah mereka.
"Anda yang memutus, anda juga yang mengemis?" Tanya Angan menggeleng-geleng heran dengan jalan pikir Felicita.
Felicita menggigit bibir bawahnya, dia tau kalau tindaknya ini seperti orang tak punya harga diri. Tapi lubuk hati Felica masih tak rela kehilangan Angan.
Yeah, Felicita memang egois. Apalagi bersangkutan dengan Angan. Semenjak dia putus dengan Angan, Felicita tak pernah lagi merasakan kasih sayang dan juga perhatian dari orang-orang disekitarnya. Hanya dari Angan Felicita mendapatkan itu semua, dan Felicita mau itu kembali.
Angan mendekatkan wajahnya didepan wajah Felicita, membuat Felicita bisa merasakan hembusan nafasnya "Luka yang anda gores, lebih sakit dari pada luka yang ditancapkan" pungkas Angan yang langsung berlalu dari hadapan Felicita.
*****
"Kayak motor Angker" gumamnya meneliti motor yang terparkir disampingnya. Senja turun dari motornya dan meneliti lebih dekat motor sport berwarna hitam itu.
"Tuh kan bener" soraknya saat dia melihat nomor plat motor sport tersebut.
"Ada apa ya mbak?" Senja tersentak kaget saat terdengar suara berat menegurnya, dia menoleh kebelakang mencari tahu siempunya suara.
Oh.. pak satpam. Gue kira siapa "Anu Pak, ini motor temen saya" akunya
"Dicuri?" Mata satpam itu terbelalak mendengar perkataan Senja.
"Eh..Bapak nuduh saya?" Tanya Senja menujuk dirinya sediri dengan jarinya.
"Oh, bukan mbak. Maksud saya ini motor apa dicuri? Kok mbaknya tadi kayak girang banget menemukan motor ini di sini" jelasnya
"Ohh.. saya kira saya dituduh pencuri. Em.. bukan dicuri kok pak, cuma sebuah kebetulan aja bisa bertemu dengan motornya temen saya" perjelas Senja.
"Girang kok nemuin motornya, girang itu kalau mbak 'nya ketemu sama pemilik motor ini, atau paling tidak girang ketemu jodoh lah" Senja hanya tertawa kecil mendengar candaan satpam bersragam lengkap itu.
"Bapak bisa aja, saya kedalam dulu ya pak. Mau belanja" pamit Senja melempar senyuman.
Pak Satpam tadi mengangguk dan mempersilahkan Senja masuk.
Hari ini Angan ijin untuk tidak memberinya pelajaran tambahan, jadi Senja gunakan waktu ini untuk berbelanja kebutuhan hariannya, Tawang, dan rumah.
Senja mencari barang barang yang dia perlukan, tangannya tak lepas dari Handphonenya yang berisi daftar belanja Senja hari ini, mulutnya juga terus bergumam membaca setiap tulisan.
"Senja?" Panggilnya membuat Senja mendongak menatap kearahnya, senyumnya terbit saat itu juga. Mengenali si empunya suara.
__ADS_1
"Eh.. Kak El!!" Sorak Senja menyebut nama orang yang baru saja memanggilnya.
El atau Eleena, nama orang yang baru saja menyapa Senja. Berlari kecil menghampiri Senja.
"Kebetulan banget ya, ketemu disini. Apa kabar?" Tanya Eleena memeluk Senja. Senja balas memeluk mantan kakak kelasnya itu, yang sekarang sudah menginjak dunia perkuliahan.
"Alhamdulillah baik, Kak El sendiri gimana?" Tanya Senja melepas pelukanya.
"Gue juga baik. Heheheh.. belanja?" Tanyanya basa basi
"Enggak, ngebom" canda Senja yang langsung tertawa kecil yang menular ke Eleena
" Kak El sendiri?" Tanya senja melongokkan kepalanya kebelakang Eleena.
"Enggak, tadi ada dua makhluk sama satu manusia" aku Eleena yang langsung membuat bulu kuduk Senja berdiri.
Gue salah tanya! ******! Rutuk Senja menyesali kebodohannya.
Yup. Kalau kalian menebak Eleena indigo, itu benar. Eleena memiliki bakat itu, kalau sejak kapannya jangan tanyakan Senja, dia tidak tau. Senja mengenal Eleena semenjak dia duduk di bangku kelas sepuluh, sedangkan Eleena yang hanya berbeda satu tahun dengannya duduk di bangku kelas Sebelas.
Eleena dulu menjabat menjadi waketos, jadi tak heran jika dia mengenalnya. Eleena juga masih bergabung dengan band sekolah vakkilau yang beranggota lima orang itu.
"Nana?" Suara berat itu menyentak Senja dari lamunannya, dia menoleh kesumber suara begitupun Eleena.
Seorang cowok berkaca mata, dengan penampilan yang emmm.. terlalu rapi menurut Senja menghampiri mereka. Senja mengenalnya, sebagai adik kelasnya dan juga em.. kekasih Eleena.
Senyum Eleena mengembang sempurna saat cowoknya menghampirinya,
"Kamu ketemu siapa?" Tanya cowok itu tanpa memandang Senja.
"Senja" jawab Eleena jujur. Liam, nama pacar Eleena menoleh ke arah Senja dan tersenyum kecil kearahnya, yang dagunya langsung di tarik oleh Eleena menghadap ke wajahnya. Eleena memanyunkan bibirnya, syarat ketidak terimaam saat Liam melempar senyuman untuk wanita lain.
Senja yang menyaksikan itu hanya terbengong-bengong,
Mending gue cepet cepet pergi, dari pada jadi masalah "em.. Kak El, Liam juga gue kesana dulu ya" pamit Senja yang langsung ngacir meninggalkan dua sejoli itu.
Huhh!! Masalah percintaan memang lah berat
*****
Tuh kan! Firasat gue bener batinnya girang, hanya karna melihat motor Senja yang terparkir tepat disebelahnya.
Tapi Tengilnya mana batinnya lagi, melongokkan kepalanya memandang ke pintu masuk toko perbelanjaan itu.
"Cari siapa ya mas?" Tanya Seorang satpam yang menghampiri Angan.
"Eh.. ini pak, cari yang punya motor ini" akunya menunjuk kemotor Senja.
"Oh, mbak-mbak yang tadi?"
"Hem?" Gumam Angan bingung
"Iya, tadi ada mbak-mbak yang sama kaya mas nya, girang gitu lihat motor. Bedanya kalau mbaknya tadi, lihat motor masnya, dan kalau mas sebaliknya." Senyum Angan terbit hanya karena kesamaan diantata mereka.
"Ohh, gitu ya pak?" Satpam tadi mengangguk sebagai jawaban.
Baru Angan ingin melemparkan pertanyaan lagi, Handphonenya bergetar menandakan ada telepon masuk. Nama sang nenek tersemat jelas disana membuat Angan mengernyit heran.
Numben, Oma Ira telpon.
Cepat cepat Angan mengangkat sambung telepon itu, sebelum mati karena terlambat.
"Ha.."
"Kamu dimana? Oma sudah ada dirumah kamu, kamu nya belum pulang " omelnya menyela ucapan Angan.
Angan tersenyum walau sang Oma tak melihat hal tersebut "baik oma, Angan pulang" ucapnya manis yang langsung menutup sambungan telepon.
__ADS_1