What Makes You Strong??

What Makes You Strong??
#0018


__ADS_3

"Waalaikumsalam," ucapnya bersamaan dengan membuka pintu rumahnya, yang langsung menampilkan seorang wanita tua yang amat sangat dirindukan.


"Ya Allah!!! Oma Yaya!!" Pekik Senja kegirangan yang langsung memeluk wanita tua yang Senja panggil Yaya tadi,


Oma tertawa senang mendapat perlakuan seperti itu dari Senja, dia senang Senja masih mengingatnya.


"Oma kira, kamu udah lupa sama Oma" ucapnya yang membuat Senja mengkerutkan dahinya


"Ya Allah ya enggak lah, Oma.. Masa iya, Senja lupa sama jasa Oma? Oma itu udah Senja anggap seperti Oma kandung Senja sendiri" ucap Senja tulus,


Ya, dia tak akan melupakan jasa Oma yang mengurusnya saat dia tengah terpuruk akan kepergian sang Ayah, dan juga saat Bundanya di nyatakan koma yang belum sadar sampai sekarang.


"Gimana kabar Oma?" Tanya Senja menarik Oma masuk kerumah,


"Alhamdulillah Oma baik baik aja, masih dikasih kesehatan sama yang kuasa" ucapnya bersyukur


"Alhamdulillah kalau gitu, Senja seneng dengernya"


"Tawang mana?" Tanya Oma yang langsung disambut oleh Tawang dan Mbak Ola yang menghampiri mereka berdua,


"Ya ampun, si jagoan, gembulnya," tutur Oma yang langsung merentangkan tangannya mengajak Tawang.


Oma senang karena Tawang mau diajaknya, sudah lama dia tidak mengendong bayi seperti ini, hal yang paling dirindukannya.


"Oma udah lama nggak gendong bayi kaya gini, jadi pengen cepet cepet punya cicit Oma, biar lebih leluasa gendongnya"


"Ya ampun, Oma gendong aja Tawang sesuka hati Oma, Senja nggak keberatan kok. Paling juga Oma nanti yang bakalan pegel pegel gegara tubuh gembul Tawang" Senja tertawa kecil mengakhiri ucapanya yang menular ke Oma.


"Hahaha.. bener kata kamu" ucap Oma disela sela tawanya,


"tapi.. Oma tuh pengennya segera punya cicit sebelum Oma dipanggil sama yang kuasa"


"Astaga Oma, jangan bilang kaya gitu.. nggak baik tau" tegur Senja halus


"lagian kata Oma, cucu Oma udah ada yang tunangan. Kenapa tidak segera dilaksanakan pernikahannya?"


"Ya, cucu Oma sudah ada yang bertunangan dan akan segera menikah..."


"Nah, itu udah mau.."


"Tapi Senja... " Sela Oma membuat Senja bungkam


"Oma pengen cucu Oma yang laki laki juga cepet cepet punya pasangan, yang baik dan mandiri kaya kamu. Oma pengen dia sama kamu Senja, apa kamu mau terikat dengannya?"


Senja hanya bisa menelan ludahnya susah payah, sudah berkali kali Oma menanyakan hal yang sama dan Senja selalu menunda hal tersebut. Dengan alasan sekolahnya, tapi kali ini Senja sudah terikat janji dengan Bundanya, janji akan menerima lamaran yang diajukan Oma, orang yang mau membantu keluarga Senja dan juga orang yang sudah dianggap lebih dari keluarga oleh keluarga Senja.


"Senja mohon Bunda, cepet bangun. Senja janji kalau Senja akan menerima lamaran dari Oma, tapi Bunda harus cepet bangun!!!, Ya? "


Seperti kaset yang diputar, ucapan yang pernah terlontar dari bibirnya terngiang-ngiang dikepalanya, membuat Senja seperti dituntut akan janjinya,


Senja tersenyum manis sebelum menjawab lamaran dari sang Oma, dia mengangguk mengiyakan


"yeah, Se-nja.. mau Oma" ucap Senja gugup yang membuat Oma senang luar biasa.


"Serius??? Kamu mau?" Tanya Oma memastikan yang dijawab Senja dengan anggukan.

__ADS_1


Oma terlihat sangat bahagia karena Senja mau menerima lamarannya, Akhirnya, pasangan yang Oma pilih dan cocok untuk kamu. Menerima juga lamaran yang Oma ajukan Batin Oma girang


Ya Allah, semoga ini bukan keputusan yang buruk.. Janji adalah janji, tapi kenapa hati ini seperti tidak terima sepenuh hati??


Tiba tiba tanpa permisi, sebuah memori tentang Senja dan juga Angan berkelebat di kepala Senja membuat dia dibuat keheranan


Astaga, Angker! Kenapa lo muncul di pikiran gue saat kayak gini... Batin Senja mengerutu,


Senja menghela nafasnya harap harap dengan begitu dia bisa tenang


Angker... Gue.. ck. Gue nggak boleh kaya gini! Janji tetap janji.. tapi emm.. Angker punya nggak ya sedikit saja hatinya buat gue??


*****


"Lo nerima juga non, lamaran dari Oma?" Tanya Mbak Ola kepo, Senja mengangguk mengiyakan


"Tapikan elo belum tau non, siapa cowok yang akan dijodohkan sama elo" tutur Mbak Ola yang memang ada benarnya.


Oma Yaya, itu pangilan sayang dari Senja. Memang belum pernah mengenalkan Senja dengan keluarganya, ya karna salah Senja sendiri sih.. yang selalu menolak untuk diajak kumpul keluarga. Oma Yaya selalu menceritakan tentang kehidupan keluarganya terutama cucu cucu nya, tapi itu tadi Senja tidak tau sama sekali siapa nama atau wajah cucu Oma Yaya.


"Siapa bilang gue nggak tau" saut Senja tersenyum jail


"Lo udah tau muka tu cowok? Ganteng nggak non? Umurnya berapa? Emang ketemunya kapan?" Cerocosnya bertanya, membuat Senja mengulum senyum menahan tawa.


"Nggak tau" saut Senja sekenanya


"Loh? Kok lo nggak tau non? Emang lo merem gituh ketemunya?" Tanyanya polos, membuat Senja terkekeh geli..


"Mbak Ola... Tadi mbak Ola tanya apa?"


"Sebelum itu"


"Siapa cowok yang akan dijodohkan sama elo"


"Nah! Gue tau kalau yang itu. Jawabannya ya Cucunya Oma" Seru Senja yang langsung tertawa terbahak-bahak


"Ya, Kambing lo non! Kalau itu mah gue juga tau dari elo" sungut Mbak Ola kesal.


Senja hanya tergelak melihat wajah masam Mbak Ola.


*****


"Bunda..." Panggilnya mengusap punggung tangan sang ibu,


"Bunda kapan bangun?"


"Bunda tau nggak? Oma kemarin datang ke rumah lho bunda.. Mendadak banget lagi, Senja aja sampek kaget pas Oma datang kerumah." Senja tersenyum diakhir kalimat, apalagi saat ingatannya mengingat ucapnya kemarin dengan Oma.


"Bunda... Senja mohon bunda cepet bangun ya? "Pinta Senja menghela nafasnya


"Senja udah nerima lamaran dari Oma" Senja tersenyum miris mengakhiri kalimatnya membuat Dyra tersentak kaget.


Ya, Seperti biasa Dyra selalu melihat dan mendengar Senja bermonolog.


Apa mungkin Senja keberatan dengan keputusannya sendiri? Batin Dyra menerka-nerka.

__ADS_1


"Aku mohon Bunda tepati janji Bunda ya? Janji Bunda yang mau mengabulkan semua permintaan Senja, kalau Senja nerima lamaran dari Oma. Dan Senja cuma minta satu Bunda.. Bunda lekas bangun.. yah.." ucap Senja yang masih menggenggam tangan sang Bunda.


"Senja kangen Bunda" gumam Senja menempelkan wajahnya di punggung tangan Layung.


Senja rasa cukup hanya sampai disitu dia mencurahkan isi hatinya ke sang Bunda. Dia mengecup punggung tangan sang bunda, kening, kedua pipi, dan kedua mata sang bunda.


"Cepet bangun" gumamnya yang langsung bergegas keluar dari ruangan VIP yang ia pilih untuk sang Bunda. Yang spesial hanya untuk yang spesial.


"Senja.." cegat Dyra ingin mengkepoi urusan Senja.


"Mbak Dyra,? Ada apa Mbak?" Tanya Senja dengan dahi yang mengkerut.


"Bukan bermaksud ikut campur, cuma mau tanya aja"


"Tanya aja" persilah Senja


Dyra menghela nafanya sebelum berbicara "kamu keberatan ya? Sama perjodohan kamu ini" tanyanya to the point.


"Eh... Emmm bukan bermaksud ikut campur loh ya.. tapi cuma..."


"Mbak Dyra kok tau?" Tanya Senja keheranan, Dyra menatap heran ke Senja karena Senja mau membuka suara dengannya.


"Mata kamu," ucapnya semakin membuat Senja binggung.


"Kamu tau kan? Mata kamu itu terkadang ngebuat orang orang takut bertatapan sama kamu?" Senja tertawa kecil dan mengangguk membenarkan.


"Dan, soal perasaan kamu. Mata kamu juga nggak bisa bohong soal hal itu"


Senja terkesiap mendengar penuturan Dyra tentang matanya, dia memang tau kalau matanya ini membuat orang takut beradu pandang dengannya. Ini merupakan gen dari sang ayah, Raymond. Jadi Senja menyadari hal itu karena jujur Senja juga takut sendiri dengan mata sang Ayah. Apalagi kalau beliau marah.


Hemm.. Ayah..


Sudah lama Senja tidak berkunjung kemakam sang Ayah, Senja hanya bisa mengikhlaskannya sudah takdir, mau bagaimana lagi.


Kembali ketopik!


Hem.. Senja baru tau kalau matanya ini ternyata tak bisa diajak kompromi dengan suasana hatinya, kalau begini caranya Senja jadi takut Sendiri kalau Oma menyadari hal tersebut.


"Senja?" Panggil Dyra mengoyangkan tangannya didepan wajah Senja membuat Senja tersentak dari lamunannya.


"Eh? Iya.. mbak?"


"Nglamun ya kamu? Nglamunin siapa? Cowok kamu? Hemm??? Atau.. Sebenernya ini yang membuat kamu nggak menerima perjodohan ini dengan sepenuh hati? Ada lelaki lain dihati kamu, iya?"


Lelaki lain? Batin Senja, dan entah kenapa bayang bayang Angan kembali datang dikepalanya.


Dyra menganggap diamnya Senja sebagai kata 'iya' membuatnya tersenyum maklum "pilih yang menurutmu penting Senja, rasa cinta itu bisa bertempat dihati kapan saja, berbeda dengan janji yang amat sulit ditepati apa lagi itu bukan kemauan hati, tapi janji itu udah kaya kewajiban ditepati tanpa beribu alasan. Paham?"


"Secara ringkas Mbak Dyra minta aku nerima semua kenyataan ini? Dan membuka hati untuk orang yang akan dijodohkan dengan ku? Gitu?" Dyra mengangguk membenarkan.


Terus Angker gimana?.. Batin Senja tanpa sadar


Eits! Ngaco! Dia punya perasaan sama gue aja, gue nggak paham.


Hemmm.. apa mungkin gue harus menjauhi Angker? Sebelum perasaan gue mulai tumbuh dan berkembang terus besar, entar kalau besar ditebang, di jual di ganti sama uang.. lah!!? Ya kali! Emang perasaan gue pohon? Pakek acara tebang terus jual.

__ADS_1


__ADS_2