What Makes You Strong??

What Makes You Strong??
#0028


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang luas, dengan berbagai buku dan berkas-berkas yang sekarang menjadi pelariannya di kala dia merindukan orang yang tak mungkin di gapai 'nya.


Angan memang berjanji tak akan melupakan Senja, tapi dia juga tidak mungkin terus berada di satu titik, yang bisa membuatnya gila.


Tok. Tok. Tok.


"Masuk" persilah 'nya.


Yang langsung membuka pintu ruangan Angan dan menampakan Ben yang tadi mengetuk pintu.


"Kamu diminta untuk ke Java Cafe," ucap Ben to the point.


"Rindu yang nyuruh??" Tebak Angan tak acuh


"Oma Iramaya" jawab Ben yang menbuat Angan mendongak menatap Ben,


sepenuhnya


"Oma?" Ulang Angan


Ben mengangguk sebagai jawaban.


"Setelah ini ada jadwal?"


Ben mengeleng-gelengkan kepalanya "untuk hari ini tidak ada,"


Angan menghela nafasnya sejenak "nggak ada alasan untuk menolak" Ucapnya yang langsung beranjak pergi dari singgasananya, untuk menemui Kanjeng yang mulia nyonya besar Advaya.


Kurang lebih satu jam perjalanan yang Angan tempuh, untuk sampai di Java Cafe. Yang langsung disambut ramah oleh beberapa pelayan yang bekerja disana khususnya Ratna, orang kepercayaan keluarga Jiwa.

__ADS_1


"Oma Iramaya, dan yang lainnya berada di lantai dua" ucapnya penuh kesopanan.


Angan mengangguk, dan berlalu dari hadapan wanita berusia 35 tahun keatas itu. Menuju ke Lantai dua yang biasanya selalu di sewakan untuk pertemuan pribadi seperti Angan saat ini.


Angan sebenarnya sudah tau apa alasan Oma 'nya meminta dia datang ke Java Cafe ini. Tempat yang mungkin akan menjadi saksi dimana cerita Angan dimulai lagi dari titik nol. Bersama orang yang akan menemaninya membangun masa depan, dan mengubur masa lalu yang begitu menyakitkan untuk dikenang.


Mata Angan bertemu dengan Oma 'nya, yang selanjutnya beralih ke Wening yang berada disana. Dahi Angan mengeryit saat melihat Orang yang tidak familiar di ingatannya. Orang itu memang lebih muda dari ibunya, tapi apa iya dia orang yang dijodohkan dengannya? Astaga.. gila!!!


"Nah, itu dia anaknya" seru Oma Ira yang menyadari kehadiran Angan. Sontak Wening dan juga wanita tadi menjadikan Angan sebagai pusat perhatiannya.


"As- Assalamu'alaikum" ucap Angan gugup


"WAALAIKUMSALAM, wr. wb." Jawab mereka serempak


"Gimana? Belum berubah bukan?" Ucap Wening membuka suara,


"Berubah. Kalau dia tidak mengenali ku" ucap Wanita itu memperhatikan Angan.


Angan mengeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban


"Kalau Lala? Kamu masih ingat dia?" Tanya Oma Ira yang membuat dahi Angan menggernyit,


lambat laun ingatannya kembali membuat dia mengenali siapa Lala dan orang yang berada dihadapannya.


"Bunda Layung?" Panggil Angan kepada wanita yang tadi tidak dikenalnya. Yang membuat ketiga wanita tersebut menerbitkan senyum mereka.


Tunggu! Lala... 'kan.. Langit Senja. Itu artinya...


"Maaf! Terlambat" Suara itu mampu membuat tubuh Angan terpaku, tapi tidak dengan jantungnya yang berdebar begitu kencang. Lambat laun dia menoleh kebelakang memastikan kebenarannya.

__ADS_1


Senja terkesiap melihat siapa orang yang berada didepanya, yang katanya orang yang akan membimbingnya menempuh masa depan.


"Angker?"


"Tengil?"


Ucap mereka bersamaan, yang membuat ketiga wanita yang menjadi penonton dadakan mengeryit binggung.


"Tunggu! Kalian sudah saling ketemu?" Tanya Oma Ira memecahkan kesunyian.


"Ya, dia wanita tegar pilihan Angan, yang pernah Angan bicarakan" ucap Angan yang tak lepas memperhatikan Senja.


"Tunggu. Tunggu. Tunggu ... Boleh diceritakan lebih detail?" Pinta Layung yang kebingungan.


Senja dan Angan mulai bercerita tentang awal bertemunya mereka, kebersamaan mereka, sampai perpisahan mereka yang sungguh sangat membuat Oma Ira, Wening dan Layung terkagum-kagum.


"Masya Allah. Ternyata cara Allah mempertemukan kalian sangatlah unik." Ucap Layung yang masih terkagum-kagum.


"Tau begini, aku tidak perlu susah-susah merencanakan pertemuan kalian" ucap Oma Ira yang di sambut gelak tawa.


"Jadi benar? Wanita pilihan Oma itu dia?" Tanya Angan memastikan.


"Iya, yang ternyata juga wanita pilihan kamu"


Angan tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya begitu pula Senja.


Mereka tidak menyangka kalau sebenarnya mereka sudah kenal cukup lama dan terikat dalam sebuah perjodohan, yang mereka kira penghalang hubungan mereka.


"Okey, Kapan nikahnya?" Tanya Angan yang membuat mata Senja terbelalak, termasuk Oma Ira, Wening dan juga Layung.

__ADS_1


...Cukup sekian :)...


...Dan Terimakasih...


__ADS_2