
Senin..
Sudah menjadi tradisi turun temurun, jika setiap hari senin melaksanakan upacara bendera merah putih. Kecuali hujan..
Dan sudah menjadi tradisinya seorang Langit Senja yang pagi pagi sudah lari larian mengejar waktu..
"Langit Senja" Dengan suara beratnya beliau menegur Senja yang hendak melesat ikut kebarisan kelasnya..
"eh.. Pak Krisna. Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Senja basa basi yang baru saja ngerem mendadak karena mendengar namanya dipanggil.
Pak Krisna.
Dia adalah kepala sekolah SMA VAKKILAU, dengan kumisnya yang tebal dan tatapannya yang garang membuat beberapa penghuni SMA VAKKILAU takut kepada beliau.
"Ada" Jawab Pak Krisna singkat
"Seperti biasa, bantu saya mengawasi murid murid dari depan sini" lanjutnya menujuk tempat yang selalu di singgahi Senja setiap hari Senin.
Pak Krisna memang seperti itu, selalu menghukum murid yang telat untuk berdiri didepan murid murid yang tengah berbaris, tapi setelah dipikir pikir ternyata setiap Senja berada didepan membantu Pak Krisna mengawasi anak anak lainnya, Upacara menjadi berjalan lancar tanpa hambatan.
Senja menerima tawaran itu dengan senang hati karna itu sudah kebiasaannya, berbeda dengan Angan yang notabene adalah guru baru, yang baru saja menyaksikannya hal baru itu, ada tatapan dan perasaan iba menyelimutinya melihat Senja harus berdiri dipermalukan di depan murid murid SMA VAKKILAU.
"Senja itu udah kaya anak emasnya Pak Krisna ya" bisik bu Salwa yang berbaris tepat dibelakang Angan, kepada guru perempuan disampingnya.
"Iya, setiap hari senin pasti dia selalu mendapatkan tempat istimewa itu" bisik guru yang satunya yang Angan kenali, bernama Bu Ganeeta.
"Heeh. Pas dia nggak masuk aja Pak Krisna mencarinya" celetuk Bu Fitri ikut nimbrung
"Tak heran Pak Krisna mencarinya, kalian tidak sadar ada tidaknya Senja di depan berpengaruh terhadap Upacara yang berlangsung?" Tutur Bu Salwa yang semakin menarik perhatian Angan.
"Iya, saya akui Senja seperti punya pengaruh besar dalam Upacara ini. Murid murid seperti takluk akan tatapannya dan tak berani membuat keributan" ucap Bu Fitri
Oh iya, kenapa gue bisa lupa ya? Kalau Senja itu punya tatapan yang menusuk dan mampu mengunci lawan yang menatapnya Batin Angan mengingat kejadian sore hari saat ban mobilnya kempes.
"Ssttt!! Ngrumpinya dipending dulu. Itu Pak Krisna sudah melotot kearah kalian " tegur Pak Guna memperingati, yang langsung membuat para guru guru perempuan tadi menunduk.
*****
"Untuk Jam saya kali ini kita akan melakukan permainan sepak bola, laki laki maupun perempuan harus ikut dalam permainan ini"tutur Pak Yoga menerangkan rencananya
__ADS_1
"Pak?" Seru Tony mengangkat tanganya,
"Mau apa?"
"Mau ikut Senja nyuri resep krabby patty, terus di jual di warung uncle mutu, buat bantu bedah rumah Patrick Star, Pak. " Cerocos Tony membuat semua mengedipkan mata berulang ulang.
"Cie Tony ketahuan nih.. habis ditolak Senja" goda Laras yang langsung membuat semua tergelak.
"Habisnya Pak Yoga sama Senja sama sama ngeselin sih" grutunya yang langsung mendapat pelototan dari Pak Yoga.
Tony yang mendapat sinar leser dari Pak Yoga hanya bisa meringis , karena takut di sembur api kemarahan Pak Yoga
"anu.. Pak, saya mau tanya"
"Apa?" Tanya Pak Yoga ketus
"Mengenai Permainan sepak bola tadi pak, itu laki laki lawan perempuan atau kaum adam sendiri kaum hawa sendiri?"
"Oh.. pertanyaan yang bagus, tapi sayang tadi bertele tele"
"Bapak juga" celetuk Rama yang langsung membungkam mulutnya
"Maksudnya?" Tanya Fintan yang belum paham
"To the point aja lah, pak" keluh Rama
"Ck. Maksud saya dalam satu kelompok campur, ada cowoknya ada juga ceweknya"
"OH!!!" seru mereka bersamaan
"Kaya bocah TK aja," gumam Pak Yoga heran
"Baik lah. Biar bapak yang bagi untuk kelompoknya, dimulai dari kelompok A dari nomor Absen 1 sampai 12, dan untuk yang kelompok B sisanya, aliyas 13 sampai 24, Ada yang binggung? " Tanya Pak Yoga yang dijawab 'tidak' oleh murid muridnya
"Kalau sakit?" Lagi lagi semua serempak menjawab 'tidak'.
"Eh.. Pak. Tony sakit,Pak" seru Rama mengangkat tangannya
"Sakit hati, maksud kamu?" Tebak Pak Yoga
__ADS_1
"Tepat sekali!" Seru Rama menjetikan jarinya yang langsung mendapatkan jitakan dari Tony
Kejadian itu membuat teman temannya tertawa, karna tingkah konyol mereka tersebut.
"Sudah sudah, silahkan kalian bagi tugas, jika ada yang masih binggung silahkan bertanya dan jika ada yang sakit, bukan sakit hati kaya Tony"
"Loh! Kok saya!" Protes Tony yang tak digubris oleh Pak Yoga
"Silahkan beristirahat, permainan ini juga akan masuk kedalam daftar nilai kalian, Faham?" Lanjut Pak Yoga
"Faham pak!" Seru mereka bersamaan, seperti titah Pak Yoga semua langsung gabung bersama kelompok masing masing dan membagi tugas mereka.
PRIT!!!
Suara peluit yang melengking menandakan permainan sudah dimulai.
*****
Angan mendengar suara peluit yang melengking ditelinganya itu, Karena posisi kelas X IPS 1 yang dekat dengan lapangan, tapi dia tidak tertarik untuk melihat.
Paling murid cowok, tanding sepak bola batinnya
Waktu berjalan terus tanpa berhenti, dan rasa bosan mulai merayapi Angan.
Dia berjalan keluar kelas untuk menghirup udara segar.
Senyum Angan terbit walau tipis, saat matanya melihat Senja yang tengah mengiring bola bersama teman temannya. Mereka terlihat kompak sampai satu tendang dari Senja berhasil menjebol gawang lawan.
Senja yang kegirangan langsung melakukan beberapa goyangan bersama teman temannya yang ikut bergabung, tawa lepas melingkupi mereka membuat Angan terkekeh geli melihatnya.
Tanpa sadar Angan terus stand by disana melihat pertandingan sepak bola campuran itu, sampai sebuah tepukan mendarat di pundaknya.
"Kak?" Panggil seorang cowok yang Angan ketahui salah satu murid kelas X IPS 1
"Eh.. hem?" Tanya Angan linglung
"Udah" jawabnya yang membuat mata Angan terbelalak
SIAL! Gara gara sepak bola gue jadi lupa sama kelas gue!!!
__ADS_1