
"EHEM!" Dehemnya menghentikan aktivitas keseharian Senja, apalagi kalau bukan lari pagi.
Senja menoleh kebelakang, memandang orang yang tadi menegurnya dengan deheman. Sebuah cengiran terbit di wajah Senja karena dia tahu apa kesalahan.
"Jam 7, lebih 18 menit. Kamu telat 8 menit dari waktu yang sudah ditoleransikan" ucapnya dingin sambil berjalan mendekati Senja.
"Terus?" Tanya Senja
"Terus?" Tanya Angan balik bertanya, dengan senyum miring..
"Te.. rus?" Goda Senja yang membuat Angan kesal juga.
"Ck. Teras terus teras terus, emang kita lagi parkir mobil?"
"Iya, tuh" ucap Senja menujuk kesebuah mobil yang hendak parkir dengan dagunya, karna posisi mereka yang berada di area parkiran sekolah.
Angan memandang mobil itu, dan memandang ke Senja lagi secara bergantian "kok bisa?"
"Kita 'kan lagi diparkiran pak, teras terus ya dikira tukang parkir lah" ucap Senja santai
"Hey! Gimana? Terus atau enggak!!" Seru pengendara mobil yang membuat mulut Angan mengangga, diam diam Senja tersenyum melihatnya, dia menaikan dagu Angan bermaksud menutup mulut Angan yang tadi mengangga.
"Terus pak! Kosong kok!" Seru Senja yang langsung menarik tangan Angan untuk pergi dari area parkiran sekolah.
*****
"Bapak pengennya saya kesini kan?" Tanya Senja yang sudah berada didepan pintu ruang BK bersama Angan dibelakangnya.
"Sadar diri juga kamu" tutur Angan datar
"Emang tadi pingsan?" Tanya Senja dengan nada polos, membuat Angan ingin mencekik juga leher Senja.
"Terserah!" Ucap Angan memalingkan wajahnya dengan tangan yang ia sedekapkan didepan dada.
Senja tertawa kecil melihat hal tersebut, Baper batin Senja yang langsung mengetuk pintu ruangan Bu Tara.
Tok! Tok!
"Masuk!" Serunya mempersilahkan yang langsung membuat Senja membuka pintu ruangan tersebut.
Terdengar Bu Tara yang menghela nafas jengah,
"Saya Telat, bu" ucap Senja singkat dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya
"Saya tau, saya sudah bosan soal hal itu" tutur Bu Tara malas.
"Maaf, tapi dia harus dihukum Bu, karna dia telah melebihi batas toleran" ucap Angan dengan nada serius
"Menarik, yang lebih kreatif ya pak " pinta Senja yang membuat Angan memandang heran kearahnya.
"Saya sudah kehabisan ide untuk membuat Senja jera, ada saran?" Tanya Bu Tara membuat Angan tersenyum penuh kemenangan
"Ngitung ubin lantai?"
"Udah pernah" mata Angan terbelalak dengan jawaban Senja
"Ngitung genting?"
"Udah, yang lebih kreatif lagi dong Pak" tantang Senja,
Angan memandang Bu Tara yang mengembungkan pipinya karena menahan tawa.
"Kalau gitu pelajaran tambahan" ucap Angan membuat keputusan
__ADS_1
"HAH?" Pekik Senja dan Bu Tara bersamaan
"Memang siapa yang mau mengajar Senja lebih lama?" Tanya Bu Tara
"Saya, saya yang akan memberi pelajaran tambahan untuk dia" tutur Angan menunjuk Senja
"Kamu yakin?" Tanya Bu Tara yang tidak yakin, Angan menjawabnya dengan sebuah anggukan mantap
"Tapi saya nggak bisa, untuk berada disekolah lebih lama" ucap Senja keberatan.
Bu Tara mengangguk maklum karena dia sudah tau gosip tentang Senja yang sudah seperti single parents itu.
"Saya tidak keberatan kalau harus mengajar dirumah dia, lagi pula kalau saya lihat lihat nilai si.. te.. eh Senja sangat tidak memuaskan" ucap Angan meyakinkan
"Anda terlampaui jujur" gumam Senja mengeleng gelengkan kepalanya
"Kamu yakin?" Tanya Bu Tara sekali lagi
"Yakin" ucap Angan mantap
"Sepertinya, Senja cukup keberatan" gumam Bu Tara yang memperhatikan raut wajah Senja yang masam
"baik, ide hukuman yang tepat sekali untuk seorang Langit Senja" ucap Bu Tara sumringah, yang menular ke Angan.
Semoga dengan ini, Senja bisa lebih menghargai waktu batin Bu Tara berharap.
Tak akan ku buat Titik Batin Angan bertekat
"Permainan dimulai" gumam Senja memalingkan wajahnya.
*****
TET! TETT!!
Itu merupakan suara Favorit murid SMA VAKKILAU, bel pulang sekolah.
Sekarang Angan sedang berada di dekat parkiran motor, memantau si empunya motor trail berwarna oranye yang belum terlihat batang hidungnya.
Parkiran motor hampir kosong, tapi Senja belum kunjung muncul membuat Angan harus bergelut dengan kesabaran.
Udah lah, besok aja itu batin kesabaran Angan
Nggak! Gue butuh sekarang! Ini batin Angan yang keras kepala
5 menit kemudian..
Yang ditunggu tunggu muncul juga, dengan rok yang sudah tergantikan oleh celana training hitam. Angan menghela nafas lega, dia berjalan mendekati Senja yang nampak tidak sadar akan kehadiran Angan.
Angan melesat menghadang Senja dengan kedua tangannya yang direntangkan membuat Senja mendongak menatap binggung ke Angan.
Tapi yang tertangkap di mata Angan adalah tatapan Senja yang menusuk dan seperti biasa, menguncinya, membuat Angan harus menelan ludahnya susah payah.
******! Kenapa gue lupa sama keahlian si Tengil yang satu ini! Batin Angan mengrutu
"Mau peyuk ?" Tanya Senja polos yang melihat tangan Angan yang masing terentang
Angan yang sadar hal itu langsung menurunkan kedua tanganya "enggak, cuma mau ini" tutur Angan menyerahkan handponenya.
"Handphone?" Tanya Senja yang pura pura tak mengerti
"Nomor Telepon" geram Angan membuat Senja semakin senang mengoda Angan.
"Buat Apa?" Tanya Senja yang tak bisa menghilangkan jejak senyuman diwajahnya
__ADS_1
"Buat ngulek bumbu kacang," jawab Angan sekenanya,
"ya buat di save, dan dihubungi kalau lagi butuh lah. Emang menurut kamu buat apa?" Tanya Angan frustasi
"Iya, iya. Siapa tau bapak mau buat tumis nomor, buat dijual di Chum Bucket biar bisa ngalahin tuan krab, biar plankton tobat" cerocos Senja yang sibuk mengetik sederetan angka di handpone Angan.
Angan mengulum senyumnya, mendengar cerocosan Senja "korban Spongebob" cibir Angan
"Dari pada korban tabrak lari, kan ngeri" saut Senja bersamaan dengan mengembalikan handphon Angan.
Angan tersenyum melihat sederetan nomor Senja, segera dia menekan tombol hijau untuk menghubungi Senja yang berada tepat didepannya.
Handphone Senja berdering, walau dia tau itu dari Angan yang berada tepat didepannya tapi Senja tetap mengangkat sambung telepon itu.
"Halo dengan siapa?" Tanya Senja yang membuat Angan memasang wajah datarnya,
Senja meringis dan hendak menutup sambungan telepon tersebut tapi dicegah oleh Angan,
Angan memberi isyarat kepada Senja untuk mendekatkan handponenya ditelinga, yang langsung dipatuhi Senja walau kebingungan menyelimutinya.
Angan tersenyum, senyum yang benar benar tulus dimata Senja "Ijinkan aku itu serta di ceritamu, walau aku hanya Prolog, tapi akan ku buat sampai epilog, bagaimana pun caranya, tak akan kubuat titik, sampai koma yang ku buat lelah, dan aku menyerah"
Senja tertegun dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Angan, dia mengerjap ngerjap binggung yang malah membuat Angan gemas melihatnya,
Angan mengacak rambut Senja gemas "yuk, tunjukin rumah kamu karna kita harus belajar" titah Angan yang langsung berbalik berjalan menuju ke mobilnya.
*****
"Lo mau nunjukin jalan atau ngajak balapan?!" Bentak Angan, Saat mereka sudah sampai di depan rumah Senja.
Tadi Angan sempat uring uringan tidak jelas, hanya karna sulit mengimbangi Senja yang naik motor, bahkan mata Angan seperti tak terpejam, melihat setiap jalur yang dilalui Senja, takut takut kalau dia mengedip Senja sudah hilang dari pandangannya dan dia kehilangan jejak.
"Wah, kayaknya asik tuh pak" saut Senja antusias
"Asik, pala lo kotak! Nyawa hampir melayang lo bilang asik?" Seru Angan tidak percaya
"Emang gue Adudu palanya kotak? Makanya pak, bawa motor.."
"Nggak! Gue nggak mau pelukan lagi sama aspal!" Sela Angan yang membuat Senja mengulum senyumnya
"Buhahahaha.. sejomblo itukah bapak? Hahahah... Sampek aspal aja di peluk? Hahaha" ucap Senja di sela tawanya
"Udah diem" titah Angan dengan nada gemas, Senja mengigit bibirnya mencoba menghentikan derai tawa tapi nihil dia tidak bisa.
"Diem nggak! Kalau nggak diem gue cium lo!" Ancam Angan
"Cium a.."
Cup!
Satu kecupan mendarat di pipi Senja menbuat mulutnya mengangga tak percaya, sedangkan Angan sedang tertawa puas melihat wajah Senja yang memerah.
"ISH!!! ANGKER!!!" Pekik Senja geram membuat tawa Angan terhenti
"Hah?" Pekik Angan meminta Senja mengulangi ucapanya.
"Angker!" Ulang Senja yang langsung menghentakkan kakinya dan berjalan menuju kepintu rumahnya,
Diam diam Angan tersenyum mendengar panggilan yang terlontar dari mulut Senja.
Angan ikut berjalan menuju kedepan pintu rumah Senja yang sudah terbuka lebar, tapi anehnya keadaan rumah itu kosong melompong.
Membuat Angan mengeryit heran.
__ADS_1
"Non Senja 'nya naik keatas, kekamar Abang Paduka Tawang "
Abang Paduka Tawang? Batin Angan Dia siapa? Apa kakaknya Tengil, atau malah..