What Makes You Strong??

What Makes You Strong??
#0026


__ADS_3

Selesai sudah! Satu minggu senam denyut otak. Dan kembalilah hari yang sangat dinanti-nantikan untuk menghirup udara segar. Tak heran banyak murid yang menghela nafas lega, bersyukur, dan gembira karena berhasil menyelesaikan UAS mereka dengan lancar walau meninggalkan kepala yang nyut-nyutan.


Biasanya setelah ulangan para anggota OSIS pasti mengadakan class meeting sampai acara pengambilan raport diadakan. Memang guru menyarankan untuk murid-murid mengikuti acara OSIS tersebut. Tapi ada juga yang lebih memilih untuk sekedar melihat, setor muka, atau malah tidak hadir.


"Bolos aja yuk..Β  Kita 'kan udah setor muka" rengek Laras mengelabui teman-temannya.


"Wah!! Ide lo.." celetuk Pika dengan nada kecewa "bagus banget!" Lanjutkan yang langsung tertawa.


"Nala kira Pika mau marahin Laras" celetuk Nala


"Enggak lah, gue malah suka sama ide 'nya Laras" ujar Pika masih dengan tawanya.


"Ya udah. Kuy, cabut!" Ajak Laras yang langsung menyeret Senja.


"Lah! Kok gue yang lo seret?" Dumel Senja tidak terima


"Lah, lo nggak mau ikut? Lo mau disini? Nyiumin bau keringat anak-anak yang lagi lomba basket itu?" Cerocos Laras menunjuk ke gerombolan Siswa yang tengah tanding basket.


"Ya nggak gitu juga, Mbak yu..."


"Terus? Bukan 'nya elo ya yang biasanya suka cabut pas ..."


"Iya, iya, iya, gue ikut" saut Senja cepat nan pasrah.


"Nah! Gitu dong Mbak yu.. kita itu nggak lengkap kalau nggak ada elo" ujar Laras menyeret Senja menuju parkiran.


"Iya, kita udah jarang-jarang banget nggak ngumpul berempat" celetuk Nala yang ada benarnya bagi Senja.


Iya sih, dia terakhir kumpul diluar dengan sahabatnya ini sewaktu lepas UKK kelas 11 dulu. Hohoho.. ternyata lama juga dia diet jajan diluar..


Tanpa banyak bicara lagi, mereka berempat langsung cabut dari sekolah tanpa ada satu halangan apapun, dan merasakan kebebasan yang semestinya didapat.


*****


"Gue ikut!" Rengek 'nya dengan keras kepalanya.


"Apa sih, Ndu. Gue cuma mau pamitan sama anak didik gue dulu" tolak Angan masih


"Pokoknya gue ikut" kekueh Rindu "gue yang bawa mobil 'nya juga nggak papa, yang penting gue bisa ikut"


"Si Jiwa emang kemana sih? Kok lo malah mau ngintilin gue" grutu Angan


"Mas Jiwa udah gue kunci di dalam hati gue, jadi dia nggak akan kemana-mana" ucap Rindu manis yang malah membuat Angan enek.


"Sumpah, Ndu. Lo bucin buanget sumpah"


"Idih si jomblo sirik. Mending segera dah tu, lo minta Oma buat nujukin si pilihannya, gue penasaran juga sama tuh cewek" ucap Rindu yang sudah masuk kedalam mobil Angan.


Dan yang katanya tadi 'gue yang nyetir mobil 'nya juga nggak papa' anggap angin topan permisi lewat. Karena nyatanya Rindu malah duduk dikursi penumpang.


"Terkesan gue yang ngebet ya?" Gumam Angan heran, yang mulai menjalankan mobilnya.


"Emang lo mau? Nikah sama dia tanpa ikatan cinta?" Ujar Rindu menghadap ke adiknya.


Angan hanya mendengus mendengar ucapan Kakaknya, yang sudah mulai meluncurkan kata-kata bucin 'nya.

__ADS_1


Hem... Bucin ya? Angan jadi ingat dengan Senja.


*****


~Flashback~


Seperti biasa Angan memberi pelajaran tambahan untuk Senja, besok dia ulangan harian jadi 'nya dia harus lebih giat memberi Senja wejangan.


"Nah.. coba lo kerjain soal ini" titah Angan yang langsung menyerahkan kertas berisikan soal yang dia buat.


Senja menerimanya dan mengerjakannya dengan patuh. Seperti biasa, Senja akan berkonsentrasi dalam mengerjakan soalnya,Β  dengan raut wajah serius yang menjadi salah satu ekspresi kegemaran Angan.


Agar Senja tak terlalu risih dengan cara pandangnya, jadi Angan hanya memandang Senja secara diam-diam. Tangannya tak berhenti melipat-lipat kertas, sedangkan matanya selalu melirik kearah Senja.


"Dah, Siap!" Ujar Senja girang


"Gue juga" saut Angan mengangkat hasil karyanya.


Sebuah kertas yang dia lipat menjadi love, yang menarik perhatiannya Senja. Senja mengambil kertas itu dan melihatnya dengan teliti. Senyum Senja kian lama kian mengembang, membuat Angan bersiap-siap untuk berpegangan. Ya siapa tau nanti dia melayang saking senangnya.


"Dih! Bucin" ucapnya tertawa kecil,


Gubrak!


Angan memasang ekspresi datar mendengar ucapan Senja yang jauh dari kata romantis itu.


Kapan sih lo peka? "Lo tau itu apa?"


"Kertas" saut Senja menganggkat kertas love tersebut.


"Emm... Hati?" Jawab Senja ragu-ragu.


Angan menghela nafasnya sejenak "bentunya I Love You kalik Ngil!" Koreksi Angan yang memang sengaja menambah kalimatnya.


"Eh.. ya enggak dong. Bentuknya itu Love" sanggah Senja


"Love apa?"


"Love kertas" saut Senja yang membuat Angan kenbali memasang ekspresi datarnya.


"Lo cinta sama kertas ya?" Tuding Senja, tertawa kecil.


Nggak. Gue cinta sama lo!


*****


Nggak, gue cinta sama lo!


Mungkin Angan dulu menggunakan suara hati kali ya? Sampai batinnya masih ingat kata-kata yang tak pernah terlontar dan hanya dia batin saja.


Angan tak bisa berbohong soal perasaannya yang masih mencintainya Senja, waktu dua minggu ternyata belum cukup untuk membuat Angan melupakan gadis tegar yang bisa membuatnya tertawa.


Angan harap, datangnya dia ke SMA Vakkilau hari ini, dia bisa bertemu dan memandang Senja. Berharap dengan begitu, rindu yang selama ini dia pendam tersalurkan.


"Lo ngintilin gue cuma pengen tau kan, yang mana orangnya?" Tebak Angan saat dia sudah memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


"Astagfirullah! Suuzon lo!!!! Bener banget!" Ucap Rindu yang langsung ikut Angan keluar dari mobil.


"Dasar anak pancingan" cibir Angan.


"Lo yang anak pungut" saut Rindu yang mengandeng tangan sang Adik bak sepasang kekasih.


"Lo apa-apaan sih Ndu?"


"Udah, diem. Lo mau kakak lo diculik sama berondong?"


"Berarti tu berondong katarak" saut Angan sekenanya yang mendapatkan tabokan keras dari sang Kakak.


Angan disapa ramah oleh murid-murid yang memang saat itu berada diluar kelas, atau lebih tepatnya berada di lapangan. Mereka menanyakan siapa orang yang berada disebelahnya, namun saat Angan akan menjelaskan kalau dia kakaknya. Rindu mencubit lengan Angan, memberi kode untuk tidak berkata jujur.


"Maksud lo kaya tadi apa sih?" Tanya Angan berang


"Biar nggak ada yang kecantol ama elo" saut Rindu sekenanya.


"Bukan mau manas manasin suasana?" Tanya Angan yang membuat Rindu terkesiap.


"Mending lo buka klinik cenayang deh, dua kali lo nebak jawabannya bener semua" ucap Rindu mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Otak lo aja yang transparan, jadi gue bisa baca tuh semua pikiran" saut Angan sekenanya.


Yang hampir mendapatkan tabokan kalau tangan Angan tidak cekatan.


"Ini sekolah, jaga image" bisik Angan lirih.


Rindu mengakui kebenaran Angan, jadilah dia seperti kucing yang dibawa majikannya, anteng. diem. meneng. Angan mengedarkan pandangannya mencari batang kayu.. eh hidung Senja yang sedari tadi tak tertangkap dimatanya.


Apa mungkin dia bolos?


"Yang mana orangnya?" Desak Rindu yang mengedarkan pandangannya juga.


"Lo nggak usah ngedarin pandangan lo! Dikira kita nyasar entar" ujar Angan yang membuat Rindu kesal.


"Loh .. Kak Rindu?" Panggilnya yang membuat Angan dan juga Rindu menoleh ke sumber suara.


"Eh! Adik ipar gue" ujar Rindu yang tersenyum sumringah.


"Masih calon kalik" sindir Angan yang tak diacuhkan oleh Rindu.


"Numben kakak main kesini," ujar Jiva, orang yang rindu maksud Adik iparnya.


"Iya, nih.. Angan yang ajak" saut Rindu yang menbuat mata Angan membulat.


"Emm.. permisi mbak, anda ya yang maksa ikut" sindir Angan yang hanya di balas Rindu dengan juluran lidah.


Jiva hanya tersenyum melihat pertengkaran antara kakak adik yang sangat wajar dalam kehidupannya.


"Oh iya kak, Kakak nggak ke Kafe? Kak Jiwa ada disana low, lagi ngurus kafe hari ini" Senyum Rindu mengembang sempurna hanya satu kalimat dan itu tentang calon suaminya.


"Wiiiihh!! Beneran? Dek?" Tanya Rindu memastikan yang Jiva jawab dengan sebuah anggukan.


"Aaaa... Angan.. anterin gue ke sana.." rengek Rindu yang membuat Angan menatapnya greget.

__ADS_1


"Emang gue sopir lo?!" Geram Angan yang malah membuat Rindu memasang wajah memelas andalannya.


__ADS_2