
"Bik, Sajadah aku dimana ya?" Tanya Angan sopan yang membuat Bik Inah terbelalak tidak percaya.
"Hah? Apa Den?" Serunya, meminta Angan mengulangi perkataannya lagi, takut takut kalau pendengarannya sudah kongslet.
Angan maklum kalau pembantunya ini tak percaya dengan sifat barunya, pasalnya dia selalu menggunakan kata gue bukan aku, dan selalu teriak teriak jika memanggil pembantu yang berusia 55 tahun keatas itu.
"Sajadah Angan, Bik Inah taruh dimana?" Tanya Angan lagi yang masih membuat pembantunya itu tak percaya.
Ini beneran Den Angan ta? Ini Saya ngayal atau kenyataan... Batin Bik Inah terpaku, Angan mengeryit heran dia mengoyangkan tangannya didepan wajah Bik Inah yang langsung membuat pembantunya itu sadar.
"Eh .. anu Den, Bik Inah taruh di laci bawah lemari. Semua peralatan shalat ada situ" tuturnya gugup,
Angan mengangguk faham "makasih Bik" ucapnya tulus yang langsung melangkahkan kakinya kekamarnya, meninggalkan Bik Inah yang masih terbengong bengong.
Rindu ada disana, dia menyaksikan semuanya dari masa Angan menanyakan sajadahnya sampai anak itu pergi kekamarnya. Dia juga sama seperti Bik Inah, terbengong bengong bahkan sampai mengucek ngucek matanya tak percaya.
Rindu mengikuti Angan menuju kekamarnya, ternyata benar Angan sedang melaksanakan kewajibannya.
Ini gue harus seneng? Atau takut batin Rindu, memperhatikan ke khusyuk 'an Angan dalam melaksanakan shalatnya.
*****
"Mah!!!! Mamah!!!!" Serunya histeris
"Ya ampun Rindu! Nggak Angan nggak kamu sama aja! Kenapa sih kamu teriak teriak?" Omelnya
"Angan Mah! Angan!" Seru Rindu Panik
"Angan kenapa Rindu??! Dia kenapa?" Tanya Wening tak kalah panik
"Kayaknya mamah harus segera panggil pak ustadz deh"
"Hah? Angan kesurupan?!" Tanya Wening heran
"Bukan mah.. bukan kesurupan" ucap Rindu menggoyang tangannya didepan dadanya
"eh..?? Terus???"
"Dia tobat!"
"Hah?" Pekik Wening tak percaya
"Iya, mah dia tobat. Rindu aja sampek ngucek ngucek mata buat mastiin itu nyata atau cuma fatamorgana..,"
__ADS_1
"Loh... Ya bagus dong kalau Angan tobat. Memang seharusnya dia seperti itu dari dulu" celetuk Yudha ikut nimbrung.
"Yah! Papah masalahnya ini tobatnya bukan cuma di shalat. Tapi juga tobat teriak teriak dan nyuruh nyuruh Bik Inah!"
"HAH?" Seru Wening dan Yudha bersamaan
"Masak?" Sambung Wening tak percaya
"Impossible!" Gumam Yudha tak kalah tak percaya
"Tapi itu nyatanya Pah Mah, Rindu lihat sendiri kalau nggak percaya tanya aja Bik Inah" kekueh Rindu
"Halah, paling juga bertahan beberapa menit langsung kambuh lagi" saut Yudha mengibaskan tangannya
"Hush! Papah kalau ngomong suka bener. eh.. tapi Pah, kalau Angan benar benar tobat itu malah bagus dong! Jadi nggak sia sia papah nyuruh dia ngajar di SMA"
"Tapi kok bisa..?" Gumam Rindu yang mendapatkan perhatian kedua orangtuanya
"Maksud kamu?" Tanya Wening yang ingin tau pemikiran anak sulungnya
"Kok bisa seorang Angan Langit Advaya bisa berubah, hanya karna mengajar di Sekolah SMA? Kayaknya nggak mungkin deh!"
"Mungkin ada pengaruh lain" celetuk Yudha
"Menurut Papah?" Tanya Wening
"Angan mengajar di SMA VAKKILAU belum genap dua minggu Pah, masa iya dia sudah jatuh hati sama salah satu siswi disana?!"
"Kalau siswi itu tipe Angan" saut Yudha sekenanya
"Kalau cuma tipe nggak mungkin. Atau malah salah satu guru perempuan disana?bisa aja kan?"
"Sudah lah. Yang terpenting Angan sudah berubah, walaupun sebenarnya papah nggak percaya" ujar Yudha menengahi
"Bener juga apa kata Papah"
"Tapi Rindu kepo!" Rengek Rindu memanyunkan bibirnya
"Udah nggak usah dikepoin adik kamu, kamu lupa masalah apa yang muncul saat kamu usik kehidupan pribadi dia,?" Peringat Wening
Rindu menghela nafasnya berat dan mengangguk "Rindu nggak akan lupa Mah,"
"Yang penting kita selalu support dia. Itu aja" ucap Wening antusias
__ADS_1
"Tapi kalau Oma tau bagaimana?" Tanya Rindu yang membuat Wening dan juga Yudha bungkam.
*****
Rindu lagi lagi menatap horor ke seseorang yang sedang berkutat didapur,
"Siapa lo!" Tudingnya yang membuat orang tadi menoleh kearahnya
"lupa sama adek sendiri" sindir Angan
"Lo bukan adek gue!" Serunya kekueh
"Oh, tentu. Lo kan anak Pancingan " gumam Angan yang kembali berkutat dengan masakannya.
"Lo beneran Angan?" Tanya Rindu memastikan yang membuat Angan menghentikan aktivitas
"bukan, gue pikiran" tutur Angan datar dan langsung melanjutkan masaknya
"Serius lo Angan? Angan Langit Advaya 'kan?" Tanya Rindu masih memastikan
Angan menghela nafas kasar lalu menatap ke sang kakak yang memasang tampang binggung "Iya, Rindu Arunika Advaya, Gue Angan. menurut lo siapa lagi" geram Angan kesal
"Sejak kapan lo bisa masak?!" Tanyanya akhirnya
"Udah lama, gue 'kan nggak sombong kalau bisa" jawab Angan jujur
"Itu barusan lo sombong, ****" ucap Rindu datar
"terus ngapain lo masak?" Tanya Rindu kepo
"Buat dapetin jurus menghilangkan orang kepo kayak lo" jawab Angan sekenanya.
"Ck. Gue tanyanya serius anak pungut!" Sungut Rindu kesal
"Menurut lo? Orang masak buat apa sih anak pancingan?!"
"Buat dimakan lah, buat apa lagi"
"Pinter. Gue kira S1 lo hasil nyogok" ucap Angan sekenanya yang hampir mendapatkan jitakan, kalau Angan tak langsung memberinya sepiring martabak telur.
Senyum Rindu merekah langsung saja di menyambar piring berisi martabak telur itu.
Dia mengambil sepotong martabak yang langsung dia endus-endus, bau harum nan lezat langsung menusuk indera penciumannya, membuat dia cepat cepat memakan martabak buatan Angan itu. Satu gigitan mendarat di mulut Rindu, refleks matanya terpejam seperti ikut merasakan apa yang baru saja terecap di lidahnya.
__ADS_1
"Em.... Enak.."gumamnya merasakan". Buat gue ya!" Serunya yang langsung ngacir kekamar meninggalkan Angan yang terbengong-bengong
"W... eh.. Angan nggak boleh emosi, sabar.. sabar ngalah sama kucing utan yang lagi buka puasa 1 abad 'nya " gumam Angan mengingatkan dirinya sendiri. Dia kembali lagi berkutat memasak menghiraukan kejailan sang kakak.