What Makes You Strong??

What Makes You Strong??
#0013


__ADS_3

Langkah kaki Senja terhenti, sebuah Paper bag berwarna coklat tiba tiba berada tepat dihadapannya membuat dia menoleh kesamping untuk tau siapa pelakunya.


"Buat bukti" ucapnya singkat menyodorkan Paper bag tersebut.


Senja menerimanya dengan senyum yang mengembang "ini serius buatan sendiri?" Tanya Senja tak yakin.


"Serius lah, gu.. eh saya 'kan sudah bilang, kalau saya bisa memasak" ucapnya menyombongkan diri.


"Okey, saya coba. Siapa tau enak, 'kan lumayan nggak jajan.. hehehe" ucap Senja cengegesan,


"ya udah. Saya ke kelas dulu ya Kakkk.... Assalamu'alaikum" pamit Senja menekan kata 'kak' dan yang langsung berjalan meninggalkan Angan.


"Waalaikumsalam.." gumam Angan menjawab salam Senja


"Eh!!.. ntar kalau enak bikinin lagi yak!" Seru Senja tertawa kecil yang langsung berlari menuju kelift yang hampir tertutup


"Tentu" gumam Angan menatap kepergian Senja.


Pintu lift hampir sepenuhnya tertutup, cepat cepat Senja mengunakan kakinya untuk menahan pintu lift itu. Senja menghela nafas lega saat dia berhasil masuk ke dalam lift, dia menoleh keorang yang tadi hanya diam membiarkan Senja melakukannya sendiri. Langsung saja Senja mengeleng geleng sambil terus berdecak.


"Ck. Ck. Ck. Bener bener patung lo ya" gumam Senja yang hanya mendapat lirikan dari orang tersebut.


Tak lama untuk sebuah lift menuju kelantai 2, pintu lift terbuka, menampilkan suasana 180Β° yang berbeda dengan di lift yang hanya terselimuti kesunyian, keheningan, dan tanpa satu gerakan apa pun. Cukup sudah, Senja kapok satu lift dengan si patung es.


"Na!" Pekiknya yang membuat Senja terperanjat, dia terbelalak saat Devan ( si patung es yang Senja maksud) bergerak, dan berlari kecil menghampiri seorang gadis mungil yang lumayan cantik menurut Senja.


Senja mengeleng geleng melihat peristiwa tersebut "bisa gerak juga tuh patung" gumanya yang langsung menuju kekelasnya.


"7 lebih 10 menit!!" Pekik Pika histeris


Membuat Senja tercengang "masih dibuat taruhan?" Tanya Senja menggeleng gelengkan kepalanya.


"Kayaknya masih" saut Nala yang melongokkan kepalanya melihat gerombolan kaum adam yang sedang sibuk dengan rutinitas paginya.


Senja hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelangkuhan teman temanya.


"Eh! PR Matematika yang nomor 5, kok susah banget sih! Puyeng gue ngerjainnya" keluh Laras membuka topik pembicaraan.


"Heeh, Nala udah coba nyari referensi di google juga, malah tambah puyeng" curhat Nala


"Lah, kalau di google mah, gue langsung aja cari jawabannya" seru Laras yang langsung menyambar handponenya.


"Percuma, gue kemarin udah nyari. Tapi yang muncul malah kata kata 'Matematika memusingkan tanya gurunya aja', nah coba gimana tuh?" Ucap Pika yang membuat teman temannya tergelak.


"Tuh, google kayaknya udah overdosis matematika deh" celetuk Senja disela sela tawanya.


"Bener tuh, sampek nyerah kayak gitu" imbuh Laras yang masih tertawa.


"Eh, Senja numben bawa paper bag, isinya apa?" Tanya Nala penasaran.


"Eh.. emm.. nggak tau" aku Senja yang membuat teman temannya mengernyit heran.


"Jangan jangan ni, paper bag kosong lagi" celetuk Pika


"Ngapain gue bawa kalau kosong, pinter???" Saut Senja


"Atau malah, lo asal nyamber aja?" Tuding Laras

__ADS_1


"Ya Kambing lo Ras, emang gue copet?"


"Emmm.. kayaknya ini dari Seseorang" tebak Nala bersamaan dengan mengeluarkan selembar note, dadi paper bag berwarna coklat tersebut.


"Ada Note 'nya?" Tanya Senja heran,


"Tuh kan, bener. Dari seseorang" saut Nala cekikikan.


"Si kelinci berdasi?" Tebak Laras dengan ekspresi jijik


"Ohhh!! Tidak bisa," saut Senja merebut Note yang tadi di pegang Nala tadi.


Selalu jadilah Si kuat batu yang sulit terkikis,


Dan juga Si tegar hujan yang selalu terjatuh,


~AL


"Al?" Gumam Laras membaca inisial si pengirim.


"Al Ghazali?" Tanya Nala polos


"Ya kali Senja dapat ini dari Al Ghazali, bisa bisa bakalan ada gempa dadakan" saut Laras mengeleng geleng


"Emang ada ya Gempa yang permisi dulu?" Celetuk Senja yang terkekeh geli


"Oh, iya. Hahaha.. maklum otak gue puyeng habis ngerjain Matematika... Hehe" kilah Laras


"Alasan!" Seru Pika, Senja dan Nala bersamaan.


"AL, siapa sih.. Nja?" Tanya Pika penasaran


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pagi Anak Anak!" Serunya yang membuat semua murid langsung berlomba lomba duduk ditempatnya.


"WAALAIKUMSALAM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH, PAGI JUGA BU!!!" Saut seluruh murid.


"Lo berhutang. Penjelasan ke kita" tuntut Laras yang langsung memandang kedepan.


"Udah kaya rentenir aja lo" saut Senja


"Ada yang tidak mengerjakan PR Matematika dari saya?" Tanya Bu Ganeeta


"Senja?" Lanjutnya menatap Senja.


"Segitu spesial ya bu saya? Sampai di wawancara sendiri?" Tanya Senja heran


"Ck. Kamu 'kan paling hoby lupa ngerjain tugas dari saya" ujar Bu Ganeeta yang membuat seluruh murid tergelak.


"Hahaha.. lo 'kan selama ini emang nggak meyakinkan" celetuk Rama disela sela tawanya.


"Emang Selama ini gue fatamorgana?" Saut Senja ikut tergelak.


"Sudah sudah. Senja? Kamu belum jawab pertanyaan saya, belum atau lupa?"


"Kok nggak ada kata sudahnya bu?" Tanya Senja heran


"Soalnya yang diucapkan Rama benar, muka kamu tidak meyakinkan" ujar Bu Ganeeta yang disambut gelak tawa seluruh penghuni kelas BAHASA

__ADS_1


"Udah kok" ucap Senja singkat yang membuat semua langsung terbungkam.


"Yakin?"


"Serius?"


"Impossible"


"Beneran itu Senja?" Tanya Bu Ganeeta tak percaya


"Buat apa saya bo'ong?" Tanya Senja menyodorkan buku matematika yang langsung diambil oleh Bu Ganeeta, Bu Ganeeta mangut mangut senang melihat hasil perkerjaan Senja.


"SIP! Bagus, pinter kamu. Kaya gini dari dulu 'kan saya senang" ucap Bu Ganeeta sumringah.


*****


"Kok bisa! Jelasin Senja ! Jelasin!" Tuntut Pika mengoyang goyangkan bahu Senja


"Wah.. jangan jangan Kak Angan suka nih, sama Senja" celetuk Nala terkekeh geli


"Iish! Nggak mungkin. Inikan cuma bukti" aku Senja jujur


"Bukti apa?" Tanya Pika heran


"Kemarin, pas makan siang dia bilang kalau dia juga bisa masak, ya gue nggak percaya 'kan. Terus dia bilang 'okey, besok gue akan bawain lo bekal. Biar lo bisa nyobain sendiri masakan gue' gitu.."


"Itu serius ucapan Kak Angan?" Tanya Laras heran


"Heeh, masak iya gue monolog?"


"Emang kenapa Ras?" Tanya Nala yang menyadari raut heran diwajah Laras.


"Ya, aneh aja. Kak Angan kan kalau ngajar kita ucapanya... Uwooo.. pokonya nggak bertele tele"


"Gue setuju sama lo" saut Pika menyetujui "Hemm.. ini mah udah jelas, Kak Angan suka sama lo" lanjut Pika yang malah membuat Senja mengernyit heran.


"Apa hubungannya coba?" Tanya Senja


"Ada lah Senja. Cinta itu bisa merubah seseorang yang awalanya dingin jadi hangat,,,"


"Emang dispenser?" Celetuk Senja


"Ish! Maksud Nala sifatnya Senja. emm.. contohnya.." gumam Nala berpikir


"Aaa.. si Devan, raja patung es! Dia kalau sama yang lainya sifatnya dingin, cuek , bahkan tak acuh" seru Laras membantu Nala


"Nah, heeh. Tapi kalau udah sama pacarnya tuh.. " imbuh Pika


"OHHHH!!! Jadi cewek mungil tapi cantik tadi pacar Devan ta? Yang Devan panggil "Na" Sela Senja menginggat kejadian tadi pagi.


"Nah, heeh. Si Na, itu Zanna " terang Laras


"Oh.. Zanna anak IPA 3? " Tanya Senja memastikan yang diberi anggukan oleh ketiga temannya


"Kembali ketopik!" Seru Pika menyadarkan Nala dan juga Laras dari topik yang tadi melenceng.


"Oh, iya. Gegara cinta sih" celetuk Nala tertawa kecil

__ADS_1


"Percuma mau dibahas lagi. Orang nggak pekaan mah, sulit buat di jelasin" celetuk Laras


__ADS_2