
"Kalau Badung, Badung 'nya keterlaluan..." Ujar Laras menatap Senja.
"Kalau Rajin, ke Rajinan" celetuk Pika ikut nimbrung
"Pika lagi ngomongin seni ya?" Tanya Nala yang belum nyambung.
"Yah elo Nal, perasaan elo yang paling pinter dari kita bertiga" ujar Laras mengeleng-geleng
"Pika tuh lagi ngomongin itu tu, " lanjut Laras menujuk Senja dengan dagunya.
"Emang kenapa Senja" ujar Nala yang terlalu polos.
"Gue ketapel juga nih anak" gumam Laras kesal
"Gini loh, Nala sayang... Apakah kamu tidak merasakan ada yang aneh dari Senja?" Tanya Pika terang-terangan.
"Enggak tuh, semua masih kaya biasanya. Senja pakek asesoris baru?" Tanya Nala lagi membuat Laras menepuk jidatnya pelan.
"Nala.. sejak kapan gue tanya? Si Senja rajin baca. buku.?" Tanya Laras penuh penekanan.
"Sejak tadi" jawab Nala polos.
Pika tak mengubris lagi sahabatnya itu, yang teradang Jos! Dan terkadang terlalu polos.
"Lo napa dah? Nggak biasanya lo baca buku" ucap Pika yang mengutarakan rasa penasarannya.
"Iya, UAS 'kan udah selesai Nja,"
Senja mendongak menatap ketiga temannya itu, tapi bukan itu yang sekarang menjadi pusat perhatian Senja tapi orang yang berada dibelakang teman-temannya, Angan.
Angan yang tengah digandeng oleh wanita cantik, yang tingginya sebahu Angan. Wanita itu berpenampilan sederhana, tapi masih ada terkesan anggun dimata Senja. Senyum Senja terbit, walau itu senyum miris yang tertangkap dimata teman-temannya.
Cantik. Anggun. Dan kayaknya baik. Batin Senja memuji orang yang tengah bersama Angan moga lo bahagia ya sama dia, dan moga aja dia nggak nyakitin elo.
"Senja?" Panggil Nala menyetuh bahu Senja yang langsung mengalihkan perhatian Senja ke teman-temannya.
"Ini buku novel, bukan buku pelajaran. Kalau ini buku pelajaran gue udah tidur kalik dari tadi" jelas Senja yang diselingi candanya.
"Kok numben lo baca Novel?" Tanya Laras masih penasaran.
Buat ngilangin bayangan Angan "buat bangkitin imajinasi gue, terus nanti gue ajak main, terus ajak jalan-jalan.."
"Lo kira imajinasi itu bocah?!" Celetuk Pika yang membuat Senja tergelak..
Senja kembali lagi fokus ke buku novelnya. Buku novel yang ia temukan di dekat bantal sofanya. Awalnya Senja hanya akan menyimpan tapi saat dia tidak sengaja membuka buku tersebut, dan cuplikan yang tertulis menarik hatinya. Jadilah dia membaca Novel itu yang hampir ditamatkannya.
Pergerakan tangan Senja terhenti saat tangannya tak sengaja menyetuh sesuatu dari balik lembar halaman. Segera dia membuka halaman tersebut dan menemukan sebuah origami berbentuk love yang rapi..
Ya iya lah rapi, orang ketindihan berjibun lembar halaman selama beberapa hari kok.
Senja mengambil kertas origami itu, dia mencoba mengingat ingat dari mana atau kapan dia membuat kertas itu. Tapi nihil dia lupa kapan membuatnya.
Sebuah ide terlintas dikepala senja, yang langsung dia lakukan. Ia mengambil bolpoin 'nya yang dia taruh di saku kemejanya dan mulai mengorek di atas kertas origami tersebut. Pergerakan Senja terhenti karena teringat pembicaraannya dan Bundanya, minggu lalu.
Senja tersenyum tipis dan mulai menggoreskan bolpoin 'nya di atas kertas origami berbentuk love itu.
"Emm.. Senja" panggil Nala yang membuat Senja mendongak kearahnya.
"Itu Bunda telpon" ucapnya menujuk ke handphone Senja.
Segera saja Senja mengangkat telepon dari Bundanya itu.
"Assalamu'alaikum, Kakak?"
"Waalaikumsalam, Iya? Ada apa Bun"
"Kamu dimana? Bolos aja ya, beliin adek susu formula. Udah habis ternyata"
"Emang Kakak udah bolos, hehehe .. ya udah, Kakak segera pulang ya Bun, Assalamu'alaikum Bunda cantik"
__ADS_1
"Waalaikumsalam Kakak yang juga Cantik"
"Mau balik?" Tanya Pika yang mendongak menatap Senja yang sudah hendak pulang.
"Enggak, gue mau pulang. Hehehe.. bayarin yah.. Bye.. " ucap Senja yang hendak berlari.
"Eh!" Serunya, menahan langkah kaki Senja
"IKUT" ucap mereka bertiga serempak yang membuat Senyum Senja mengembang sempurna.
"Gas 'lah" saut Senja yang langsung pergi dari Java cafe tersebut bersama teman-temannya.
*****
Angan lebih baik duduk menyendiri daripada dia harus mendengarkan ucapan Kakak dan calon Kakak iparnya yang bisa membuat dia overdosis ketingkat akut.
Dengan secangkir kopi yang masih mengepul Angan memilih duduk didekat jendela, ya siapa tau dia melihat hal yang menarik hatinya..
Benar saja, baru saja Angan menjatuhkan pantatnya dikursi, matanya sudah menangkap pemandangan yang menarik hatinya. Sebuah origami berbentuk love yang tergores tinta bolpoin di atas meja yang ditempatinya.
"Gigi? Lala?" Gumamnya membaca tulisan yang tertera di atas origami tersebut.
"Kok gue ngerasa, ada yang nggak asing ya dari nama ini" gumam Angan yang mencoba mengingat-ingat nama temannya atau barang kali nama teman-temannya.
Dan nihil yang ada malah kepala yang berdenyut-denyut. Lebih baik dia simpan saja origami berbentuk love tersebut. Toh, cuma kertas.
Angan mulai menyeruput kopinya, dan mulai memainkan Handphonenya demi mengisi waktunya yang membosankan itu.
KLIK!
#notifikasi baru dari akun WhatsApp anda
Satu pesan baru dari Anak Pancingan.
Angan mendongak menatap ke sang kakak yang hanya terpisah beberapa meja dari hadapannya. Rindu memberi isyarat supaya melihat pesan yang dikirimnya.
Angan Langit : Y
Anak Pancingan : -_-
Anak Pancingan :Β Dasar Anak pungut!
Anak Pancingan : Mending sekarang lo ke Bandara deh, jemput Oma. Tadi Mamah yang telpon gue.
Angan mendongak membaca pesan dari kakaknya, yang sedang melambaikan tangan kearah. Angan menghela nafas pelan sebelum pergi dari kafe milik keluarga calon kakak iparnya itu.
"Kadang tuh aku kasian sama Angan, banyak banget beban yang menggelayuti hidupnya" gumam Rindu menatap kepergian adiknya.
"Anak laki-laki di sebuah keluarga memang begitu. Selalu menjadi andalan" saut Jiwa yang langsung mendapatkan tatapan penuh dari calon istrinya.
"Kamu juga kaya gitu?" Tanya Rindu yang hanya mendapat senyum manis dari sang calon imam.
"Nggak separah Angan yang tidak bisa mendapatkan cinta dari orang yang dicinta"
"Dia itu dapet cintanya, tapi tidak dengan orangnya"
*****
"Oma capek?" Tanya Angan saat dia dan Oma Ira sudah dalam perjalanan pulang menuju kerumahnya.
"Tidak terlalu" jawab Oma Ira singkat
"Kalau capek, Oma tidur aja. Nanti Angan bangunin kalau udah sampai" ucap Angan tak mengurangi konsentrasi mengendaranya.
"Siapa bilang Oma capek?" Kilahnya.
"Oma Iramaya.." geram Angan menoleh ke Omanya sekilas. "Oma itu selalu aja memilih untuk pulang-pergi ke Singapura, kenapa sih Oma itu nggak mau menetap di Indonesia aja?" Tanya Angan jengah dengan pertanyaan sendiri.
__ADS_1
"Kamu udah jengah 'kan sama pertanyaan kamu? Sama Oma juga jengah sama jawaban Oma, yang tetap sama"
"Angan nggak bermaksud mengungkit-ungkit semua yang Oma berikan dan Angan berikan kepada Oma. Cuma kalau Oma tetep keras kepala nggak mau ninggalin kampung halaman Grandpa, Angan terpaksa melakukan ini.
Oma.. Angan selalu menuruti ucapan Oma yang meminta Angan melakukan ini itu, demi apapun Angan ikhlas melakukannya.
Tapi, Angan mohon sama Oma. Angan cuma minta satu dari Oma. Tolong Oma Ira pindah ke Indonesia. Pindah ke rumah Papa atau kalau enggak boleh tinggal di rumah Om Agni yang penting di Indonesia.
Biar Angan tenang Oma, biar Papah, mamah, Om, tante, cucu-cucu Oma tenang kalau Oma ada di Indonesia. Bukan cuma tenang Oma, tapi seneng juga"
Oma Ira tersenyum mendengar ucapan cucu laki-laki'nya itu. Ucapan yang pernah terlontar dari mulut seseorang.
Yeah, Bukan hanya Angan yang pernah mengucapkan hal tersebut.
"Nanti.. kalau Rindu dan Jiwa menikah"
*****
"Lo kapan mau nikah sama Jiwa?" Todong Angan yang sudah duduk bersila di atas ranjang Rindu.
Rindu yang baru keluar kamar mandi terperanjat melihat sosok Angan yang jarang banget kekamarnya, dan hampir tidak pernah.
"Terakhir lo ke kamar gue saat lo ngamuk gegara gue hapus semua photo Feli. Terus.."
"Cukup! Gue nggak mau denger nama itu lagi. Jawab pertanyaan gue, kapan lo nikah sama Jiwa?"
"Kok lo yang ribet sih? Pengawai WO aja bukan, pengalir dana terbesar juga bukan,,,"
"Peluluh hati Oma yang akhirnya mau tinggal di Indonesia, iya.." ucap Angan bangga.
Harus bangga! Harus, karena hanya beberapa orang saja yang bisa mengendalikan kerasnya tekat Omanya itu.
"Hah? Serius lo?" Tanya Rindu yang matanya hampir copot.
"Nggak percaya ya udah" saut Angan yang langsung merebahkan tubuhnya.
"Waish! Pakek jampi-jampi apa lo?"
"Jampi-jampi cucu yang akan lo berikan kepada Oma"
"Maksud lo!" Tanya Rindu berkacak pinggang
"Ya lo, harus segera nikah, terus punya anak, biar Oma punya cucu dan semakin betah di Indonesia. Makanya cepetan gih nikahnya! Biar bisa punya anak"
"Lo kira punya anak segampang download aplikasi di Google play store?!"
"Itu berarti kalian berdua aja yang kurang serasi" ucap Angan tenang.
"Maksud lo ngomong kayak gituan apa, mbambang!"
"Lo udah tua, masa nggak paham apa yang gue ucapin"
"Lo juga udah tua, ******! Greget gue jadinya. Gini deh, gue akan nikah kalau lo sama cewek pilihannya Oma udah bertemu. Dan gue juga kenal sama si cewek tersebut"
Angan langsung terduduk mendengar permintaan kakaknya, dia memandang ke arah kakaknya berdiri "lo masih mikirin gue ya, Ndu?" Tebak Angan yang langsung membuat Rindu diam seribu bahasa.
"Ndu?" Panggil Angan meminta jawaban.
"Gue nggak mau aja nemuin lo lagi di UGD kaya di waktu itu. Gue nggak mau lo dapetin cewek yang bikin lo nekat dan mempertaruhkan nyawa lo kaya gitu. Di kira stok nyawa tinggal order" dumel Rindu yang benar-benar membuat Angan memandanginnya lekat-lekat.
"Thanks you, Rindu Arunika Advaya" ucap Angan yang langsung merebahkan lagi tubuhnya. Sebulir air mata jatuh dari pipinya, yang dapat dilihat jelas oleh Rindu.
"Lo ngapain nangis?" Tanya Rindu yang mencoba membuat Angan terduduk.
"Lo yang bilang, 'Tangisi dia, orang yang benar-benar lo cinta' dan lo salah satunya" ucap Angan manis yang membuat air mata Rindu mengalir juga.
"Lo jadi cowok cengeng banget sih!" Ucapnya memukul lengan Angan pelan.
"Khusus untuk orang yang gue cinta" saut Angan yang menghapus jejak air mata kakaknya.
__ADS_1
Dan langsung menonyor kepala Rindu sekuat kuatnya "Cengeng" cibirnya yang langsung lari keluar kamar Rindu.
"Lo yang cengeng! ******!" Pekik Rindu tidak terima tapi dia tidak bisa berbohong kalau hatinya benar benar menghangat mendengar ucapan manis yang baru kali ini Rindu dengar dari seorang Angan Langit Advaya.