
"Silahkan duduk" ucap Mbak Ola mempersilahkan
Suara wanita yang Angan perkiraan umur 30 keatas itu menyadarkan Angan dari lamunannya yang sudah berfikiran negatif tentang siapa 'Abang Paduka Tawang'
Siapa sih si Abang Paduka Tawang ini? Batin Angan yang mecoba menerka nerka gue yakin, kalau dia itu cowok. JELAS! Pertanyaannya apa hubungannya dengan Tengil apa mungkin dia Kakak Tengil? tidak, tidak mungkin karna setahu gue Tengil anak pertama. Atau mungkin Adiknya? Ah.. kalau adik masak iya mbak mbak ini manggilnya Abang, atau malah.. pacarnya Tengil! Ya kali! Mereka baru pacaran udah satu rumah! Oh.. atau jangan jangan tunangannya? Suaminya.. gila! Ini benar gila. Pantes muka Tengil ada aura aura keletihannya, pasti dia kecapekan ngurus suaminya saat masih sekolah.. eh.. tunggu! Ya kali bocah SMA udah nikah! Nggak mungkin dong.. terus Si Abang Paduka Tawang ini siapa dong?
Mbak Ola mengulum senyumnya, melihat Angan yang diam termenung semenjak dia menyebut nama Tawang, dia sudah menduga kalau laki laki dihadapannya ini pasti sedang menerka-nerka siapa Tawang di kehidupan Senja. Dan dengan jahilnya Mbak Ola malas memberi penjelasan siapa dia Tawang.
Toh, nanti juga bakalan kenal sendiri Batin Mbak Ola yang melenggang pergi menuju ke dapur
Angan masih termenung, bahkan dia tidak sadar kalau secangkir kopi sudah nangkring didepannya.
"Tak lelo, lelo, lelo ledung,
Cep menenga aja pijer nangis,
Anakku sing bagus rupane,
Yen nangis ndak ilang baguse, "
Angan mendongak memandang kearah tangga atau lebih tepatnya ke sumber suara, alunan suara merdu itu seperti membius Angan untuk tetap fokus ke si empunya suara, lambat laun Senja turun bersama Tawang yang ada di pelukannya, sedangkan mulutnya tak henti menyanyikan lagu tembang jawa yang sangat ia kenali itu.
"Dak gadhang bisa urip mulya,
Dadiya priya kang utama,
Ngluhurke asmane wong tuwa,
Dadiya pendekaring bangsa."
Senja berjalan kearah Mbak Ola yang sudah siap mengantikan Senja mengendong Tawang, Tapi Tawang menolaknya dengan mengeratkan pelukannya kepada Senja, membuat Senja tersenyum manis karna tingkah manja adiknya.
Angan terpaku melihat pemandangan seperti itu hanya karna Senja yang tersenyum begitu manis karena bayi yang berada dipeluknya. Bahkan sorot mata yang biasanya selalu mengunci seseorang didalamnya, terganti dengan kelembutan yang baru pertama kalinya Angan lihat, bahkan kelembutan yang memancar dari mata Senja sudah seperti seorang ibu yang memandang anaknya.
Siapa sebenarnya Si Tengil ini? Kenapa dia selalu mempunyai beribu kejutan tak terduga.
Mbak Ola membujuk Tawang dengan sebotol susu formula yang ia pamerkan dengan cara mengoyangkan botol susu itu dihadapan Tawang membuat bayi berumur 6 bulan lebih itu tergiur oleh bujuk rayunya.
Tawang merentangkan tangannya yang langsung disambut oleh Mbak Ola, sedangkan Senja sudah tertawa melihat tingkah adiknya itu.
Senja sadar kalau Angan menunggunya jadilah dia berjalan mendekati Angan yang seperti tak berkedip memperhatikannya. Tapi seperti biasa Senja tak memperdulikannya, bahkan dia tidak sadar kalau sorot mata Angan berbeda dengan sorot mata saat pertama kali mereka bertemu. Memang tidak peka...
"Bapak masih betah nunggu?" Tanya Senja yang sudah ada didepan Angan
"Jangan panggil gue Bapak, bisa nggak?" Tanya Angan dengan nada sendu,
__ADS_1
Senja menggelengkan kepalanya "enggak"
"Kalau lo masih manggil gue bapak.."
"Pak..?" Goda Senja menantang
"Gue akan cium lo lagi" ancam Angan dengan senyum jahilnya yang membuat mata Senja membulat sempurna
"Ish!! Ba... Eh elo kok ganjen banget sih! Uhmm.. Genit" ucap Senja dengan nada merajuk membuat Angan terkekeh geli dibuatnya,
Angan mencubit kedua pipi Senja dan memainkannya "habis lo ngeselin"
"AOWW!! Angker!! Sakit!" Pekik Senja meronta dari cubitan maut Angan.
Senja mengusap kedua pipinya yang sakit karna dicubit Angan, sedangkan Angan sedang tertawa puas melihat wajah masam Senja.
"Pita tertawa lo hilang loh, kalo lo ketawa terus"
"Emang gue Spongebob yang bisa lo kibulin?" Celetuk Angan yang tersenyum miring,
Lambat laun mulut Senja mengangga "lo nonton Spongebob juga?" Tudingnya antusias yang langsung tergelak.
Sedangkan Angan merutuki kebodohannya yang keceplosan ngomong.
"Idih, merah!" Seru Senja menujuk wajah Angan
"Kayak lo" sela Angan
"Oh iya,, yang tadi itu si Abang Paduka Tawang?" Tanya Angan hati hati,
Senja tersenyum dan mengangguk membenarkan , membuat Angan diam diam menghela nafas lega.
"Dia siapa elo?"
"anak gue"
"Hah?!" Pekik Angan yang tercengang, sementara Senja sudah membenamkan wajahnya di bantal sofa, menahan tawa yang sebentar lagi mengelegar
"Serius?!" Tanya Angan yang seperti orang linglung
Tawa Senja pecah, karna kepolosan Angan dan juga wajah Angan yang benar benar konyol. Angan tersadar kalau dia sedang di kerjai lagi oleh Langit Senja.
"Ck. Gue serius!" Geram Angan.
"Gue enggak" saut Senja disela sela tawanya.
__ADS_1
"Dasar Tengil!"
"Habisnnya, kenapa lo polos banget?"
"gue mana tau si 'Abang Paduka Tawang' itu siapa elo, yang gue tau dia itu bocil yang masih pakek popok, dan itu juga gue taunya barusan"Yang berarti dia bukan cowok elo,
"Dia adik gue, namanya Tawang Gemintang, keren 'kan?" Ucap Senja menaik turunkan alisnya
"Terus kenapa lo manggil dia Abang Paduka Tawang?"
"Ya karna dia raja gue" jawab Senja santai
"Yang selalu bikin lo telat datang masuk sekolah, bolos saat jamkos .."
"Gue nggak keberatan, mau dihukum, di skors atau apalah itu.. gue nggak peduli. Karna tujuan gue cuma satu, bikin Paduka Tawang gue bahagia. Tawang nggak seberuntung gue dulu, nggak seberuntung anak anak lainnya, tapi disini gue akan selalu menyelimuti Tawang dengan penuh kasih sayang, dan juga perhatian."
"Emang kedua orangtua lo kemana?" Tanya Angan hati hati,
Senja tersenyum, senyum yang malah membuat hati Angan seperti tersayat.
"Ayah udah tenang disurga,.."
DEG!
"Sedangkan Bunda lagi berhibernasi di Sang Jaya"
Angan menggernyit binggung tapi akhirnya faham juga maksud ucapan Senja.
Ya tuhan, Siapa sebenarnya Si Tengil ini? Kenapa dia selalu terlihat ceria dan seperti orang tanpa beban? Padahal nyatanya kehidupannya sungguh berat untuk ukuran remaja seusianya. Gue nggak nyangka kalau remaja seusia dia udah mengasuh adiknya yang masih balita, tanpa bantuan kedua orangtuanya pula, dan hanya dibantu oleh satu tenaga asisten. Pantes diwajahnya terpancar aura aura keletihan walau dia sudah mencoba menyembunyikannya.
"Gue turut berduka cita ya" ucap Angan tulus
"Itu udah takdir kali" ucap Senja yang disertai senyum manisnya "gue harus ikhlas biar Ayah tenang.. oh iya, lo mau ngajak gue belajar atau ngajak gue curhat?" Ucap Senja menaikan alisnya satu.
Gue mau nemenin lo mikul beban "Senam. Ya belajar lah, lagian buku pelajaran lo mana?" ucap Angan yang mengikuti alur Senja yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Angan menebak kalau itu baru separuh beban kepedihan Senja, bukan seluruhnya.
"Di atas, di meja belajar gue" ucap Senja polos
"Ya diambil dong Tengil,,, masa mau belajar pakek buku Ghaib, nggak terlihat?" Ucap Angan gemas.
"Loh, Lo mau? Gue punya loh" ucap Senja antusias yang membuat Angan tertegun
"eh.. eh.. nggak usah! Nglantur bocah. Mending lo ambil buku pelajaran buat besok khususnya buku Bahasa Inggris karna besok bakalan ada ulangan harian" saran Angan
__ADS_1
"Siap bosss!" Seru Senja dengan posisi hormat yang langsung pergi keatas menuju kekamarnya meninggalkan Angan yang tersenyum kecil kearahnya.