
"eh.. Senja, tumben jam segini baru datang" sapanya melihat arloji di pergelangan tangannya.
Senja tersenyum manis kepada perawat yang amat sangat ia kenal itu
" Iya, mbak. Nggak ada jamkos hari ini"
"Oh, pantes." Ucap Dyra (Nama Perawat tersebut) manggut manggut paham.
"Mbak Dyra? emm.. gimana keadaan Bunda sekarang?" Tanya Senja takut takut.
Dyra tersenyum, senyum yang selalu Senja lihat setiap Dyra menguatkan seseorang
"Setidaknya keadaan Bunda Layung tidak menghawatirkan, kondisinya masih sama. Nyenyak dengan tidurnya" ucap Dyra mencoba menguatkan Senja.
Layung adalah Bunda Senja yang sedang dalam keadaan koma, 6 bulan yang lalu orang tua Senja mengalami kecelakaan, sewaktu pulang dari rumah sakit pasca Layung selesai melahirkan adik Senja, Tawang Gemintang. Kecelakaan itu melayangkan nyawa Ayah Senja, Raymond.
Dan meninggalkan Senja yang harus memikul beban yang begitu berat, merawat Tawang.
Orang tua Senja adalah anak tunggal dan mereka sama sama sudah yatim piatu.
Jadi tak heran kalau Senja seperti hidup sebatang kara, beruntung harta warisan kedua orangtuanya cukup untuk mencukupi kebutuhannya dan juga adiknya.
Senja menyerahkan seluruh kepercayaan kepada Rumah Sakit dalam merawat Bundanya karna dia sadar, kalau dia tidak sanggup merawat Bundanya dan juga Tawang secara bersamaan.
Namun, Setiap hari Senja selalu menyempatkan dirinya untuk berkunjung kerumah sakit Sang Jaya, tempat Bundanya dirawat.
Senja selalu merawat sang Bunda dengan penuh ketelatenan, dia juga selalu membacakan Al Qur'an didekat Bundanya dan melafalkan doa-doa sebisanya, harap harap dengan begitu Bundanya cepat sadarkan diri.
"Bunda??" Panggil Senja setelah membacakan Al Qur'an.
Dia mengusap rambut Bundanya yang mulai memutih, Senja tersenyum getir melihat Bundanya berbaring tak berdaya.
"Bunda nggak kangen sama Senja?" Rengek Senja
"Bunda nggak pengen gitu? Meyuk Senja? Meyuk Tawang juga" ucapnya tertawa kecil
"Senja lega loh Bunda, Alhamdulillah banget,... Pertumbuhan Tawang cukup memuaskan, sekarang aja dia udah bisa duduk sendiri bunda, udah Senja kasih makan juga.. lahap banget lo Bunda makannya. Untungnya dia nggak pernah rewel, nurut banget sih Tawang 'nya" ucap Senja yang mencoba tertawa, tapi yang terdengar hanyalah kepiluan
"Maaf ya Bunda, Senja belum bisa bawa Tawang kesini. Bukan maksud Senja nggak kasih liat bunda ke Tawang, tapi Senja takut kalau Tawang, Senja bawa kesini nanti dia malah terkena virus yang nggak baik buat kesehatannya. Sekali lagi maaf ya Bunda" tutur Senja mencium kening Bundanya
"Bunda.. Senja minta maaf lagi, Senja harus pulang. Ada jagoan kecil yang harus Senja aja main" Pamit Senja mengusap-usap tangan Bundanya, dia mencium kedua mata Bundanya yang terpejam, pipinya dan keningnya serta punggung tangan Bundanya.
"Cepat bangun ya Bunda, Senja Sayang Bunda" ucap Senja lembut yang langsung keluar dari ruangan Bundanya.
__ADS_1
Didepan pintu kamar rawat bundanya Dyra, beberapa kali menyeka air matanya. Ini terjadi setiap dia melihat dan menguping pembicaraan monolog Senja dengan ibunya.
"Salam ya, buat Tawang" ucap Dyra serak menepuk pelan pundak Senja dan berbalik pergi meninggalkan Senja yang kebingungan dengan sikap Dyra.
"Mbak Dyra kenapa deh? Kok nangis" gumam Senja menatap kepergian Dyra.
*****
"Dasar mobil sialan!! lo Nggak tau apa gue lagi suntuk, Jalanan udah sepi, tambal ban masih jauh, HP mati, SEMPURNA SUDAH KESIALAN HIDUP GUE HARI INI!!! " dumelnya memaki mobil yang tak berdosa itu.
"Gimana pak? Udah keganti ban 'nya?" Sindirnya yang membuat Angan langsung memandang kearahnya.
"Ck. Ngapain lo disini!" Bentaknya
"Ini jalan udah atas nama Bapak ya?" Sindirnya lagi yang langsung membuat Angan melotot.
"Bisa nggak lo jangan manggil gue Bapak? ..."
"Enggak, 'kan bapak guru " tutur Senja santai
"Ini diluar sekolah. Jadi nggak usah manggil gue Bapak. Emang gue bokap lo!"
"Lah.. emang bukan Pak.."
"Lebih tepatnya Angker" gumam Senja
"APA?!" Pekik Angan tidak terima.
Angan melotot tajam tepat di manik mata Senja, yang langsung disesali olehnya karena tatapan Senja ternyata lebih mematikan daripada tatapannya dan entah kenapa tatapan Senja seperti menguncinya didalamnya.
Angan menelan ludahnya susah payah, entah sejak kapan keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.
"Emang bapak nggak bisa ya, ganti ban mobil sendiri?" Tanya Senja memutuskan tatapan menusuknya.
"gue bukan montir jadi nggak bisa ganti ban mobil sendirian!" Jawabnya ketus,
Angan mulai mencoba menerima panggilan dari Senja itu, walau dalam hati masih ada rasa yang menjanggal.
"Pinjem Hp lo!" Todong Angan membuat kening Senja mengeryit.
"Buat..?"
"Buat tambal Ban! Ya, buat nelpon montir lah!"
__ADS_1
Senja menyerahkan handponenya, yang langsung diterima oleh Angan.
"Kok mati?!"
"Lobet pak"
"Kenapa nggak bilang!" Serunya mengembalikan handphone Senja.
"Kan tadi udah bilang"
"Ck. Ya udah! Anterin gue pulang" titahnya membuat Senja menganga
"Nggak! Nggak mau" tolak Senja
"Lo jadi orang bisa nggak sih, berguna sedikit, hemm?" Tutur Angan dingin
"ada orang minta tolong di bantu! Bukan di tolak!"
"Okey.. akan dibantu" tutur Senja santai yang langsung berjalan ke belakang mobil membuka bagasi dan mengeluarkan seperangkat alat ganti ban.
Mata Angan terbelalak melihat hal itu "lo mau ngapain!?"
"Mau bertapa di gunung Fuji. Ya, mau ganti ban lah pak" ucap Senja yang langsung mengendurkan baut Ban.
"Emang lo bisa?" Tanya Angan tak percaya,
Senja mengangguk mantap membuat Angan geram dengannya
"KENAPA LO NGGAK BILANG?!????!!!!"
"Nunggu bapak tanya" saut Senja santai
"Argh!! Nyebelin banget sih lo!" Seru Angan kesal
"Eh.. pak, ini nanti kalau ban 'nya jalan duluan jangan salahin gue ya Pak"
"HAH??"
"Soalnya gue cuma modal liat" plus praktek.
"Maksud lo.. ini baru uji coba?!" Tanyanya tak percaya
"Istilah yang bagus" puji Senja, membuat mulut Angan mengangga tak percaya. Senja yang tau hal itu langsung tertawa terbahak bahak, karena melihat wajah konyol Angan yang berhasil dia kerjai.
__ADS_1
Angan yang melihat Senja tertawa sadar kalau dia sedang dikerjai olehnya " Oh, lo ngerjain gue ya dari tadi!? Awas lo ya!?" Serunya yang langsung menggelitiki Senja, dan hanyut dalam derai tawa.