
Senja terbangun, bukan karena suara adzan ataupun alarm yang biasanya memekakkan telinga. Tapi karna sebuah gerakan yang berulang yang ia rasakan dikepalanya. Ada yang mengusap rambutnya, dia mendongak menatap siempunya tangan. Seperkian detik kemudian senyumnya terbit melihat bundanya telah sadarkan diri.
"Bunda?" Panggil Senja yang langsung memeluk sang Bunda
"Bunda sadar?" Tanya Senja yang diberi anggukan oleh bundanya.
"Alhamdulillah ya Allah, Terimakasih engkau telah menyadarkan Bunda" ucap Senja bersyukur,
Layung tersenyum melihat anaknya yang menangis terharu, dia mencoba menghilangkan jejak tangis sang anak. Dan menarik kepala Senja pelan untuk mendekat, Layung mencium dahi Senja penuh sayang. Yang membuat perasaan Senja menghangat.
"Kamu apa kabar?" Tanya Layung menatap manik mata anaknya, dia menangkap ada hal ganjil disana membuat Layung cemas juga.
"Kamu nggak papa kan?" Tanya lagi,
" Ayah sama adik kamu mana? Apa mereka berdua selamat?"
Senja lupa dengan keadaan bundanya saat ini. Keadaan saat bundanya membuka mata dan tak bisa melihat orang yang dicintainya lagi. Senja mengigit bibir bawahnya, bagaimanapun Senja harus jujur dengan semua keadaan ini.
"Adek ada kok dirumah, kalau ayah.. " Senja menelan ludahnya susah payah, sebelum menjawab, Bundanya memandangnya cemas
"Ayah udah tenang disurga.." lanjutnya yang langsung membuat bundanya diam seribu bahasa.
Perlahan namun pasti, air mata membasahi pipinya membuat Senja memeluk bundanya erat, menenangkan. Isak 'kan mulai keluar, sungai kecil terus mengalir membuat hati Senja sakit merasakan pedih yang sedang dirasakan bundanya yang juga dirasakannya.
"Bunda yang sabar yah? Ikhlasin ayah" gumam Senja mengusap punggung bundanya.
Layung mengeleng--gelengkan kepalanya, dia seperti tidak terima dengan takdir yang menimpanya
"MAS RAY....!!!" Pekiknya, berharap dengan itu suaminya hadir didepannya.
"Istighfar Bunda, Istighfar" peringat Senja masih menenangkan ibunya.
Para perawat dan juga dokter berbondong bondong masuk kedalam kamar VIP itu. Mereka sedikit terkejut melihat Layung yang sudah sadarkan diri, dan juga kondisi saat ini yang tengah menangis dalam pelukan anaknya, sungguh peristiwa mengharukan.
Beberapa dokter dan perawat membantu Senja menenangkan Layung. Menit kemudian, Layung pingsan karena lelah menangis. Yang langsung dokter gunakan untuk mengecek kondisinya. Dokter Zahra meminta Senja menceritakan kronologis yang baru saja terjadi. Dan Senja menceritakan semuanya.
"Semoga tekanan jiwa Layung tidak terganggu," gumam Zahra yang notabene teman bundanya Senja
"Apa mungkin itu akan terjadi?" Tanya Senja khawatir.
"Aku berharap tidak. Masalahnya disini Bunda kamu baru saja sadar dari komanya, dan sistem saraf yang ada diotak Bunda kamu belum sepenuhnya berjalan seperti semestinya. Bunda kamu butuh motivasi hidup, butuh kekuatan untuk bertahan dan meninggalkan rasa depresinya." Ucap Zahra serius.
"Bagaimana kalau kita pertemukan Bu Layung dengan Tawang? Satu satunya alasan untuk hidup didunia ini adalah anak bukan?" Usul Elsa salah satu dokter yang juga menangani Layung.
Senja mengangguk paham, dia berharap semoga Bundanya tidak terseret dalam rasa depresi.
Ternyata masalah cinta monyet, dan cinta sejati itu berbeda.
Cinta monyet hanya akan bermasalah dengan kata putus.
__ADS_1
Berbeda dengan cinta sejati,
Yang harus berhadapan dengan kematian dan kehilangan..
*****
Pintu terbuka, membuat dia mengalihkan perhatiannya dari televisi ke seorang gadis yang tengah mengendong bayi. Bayi itu begitu imut dan mengemaskan membuatnya tersenyum senang.
"Bunda! Tawang dateng" ucap Senja dengan nada cedal.
Layung menggernyit mendegar ucapan Senja " Tawang?" Tanyanya yang dijawab sebuah anggukan oleh Senja
"Tawang Gemintang,"
Layung masih binggung membuat Senja tersenyum maklum, "ini adek bunda" jelasnya yang membuat mata Layung membulat
"Ya Allah! Beneran? Ini adik kamu?" Tanya yang langsung merengkuh tubuh Tawang,
"Ya Allah, gembulnya anak Bunda. Ganteng lagi" ucap Layung menciumi anaknya,
Senja tersenyum senang melihat Bundanya tampak bahagia, bahkan Bundanya seperti tak ada beban saat melihat wajah mengemaskan anaknya.
"Iya lah.. 'kan Bundanya cantik" puji Senja yang langsung ikut duduk di brankar Bundanya.
"Kakak bisa aja" ucap Layung tersipu malu, " ngomong-ngomong Tawang usah bisa apa?" Tanya Layung menatap Senja.
"Usah bisa ngrangkak dong Bunda, kan udah 7 bulan"
"Nggak papa Bunda, kan ada aku" saut Senja yang membuat Layung menatapnya kembali.
"Kakak ngerawat adek sedirian?" Senja mengeleng
"Sama Mbak Ola" aku Senja jujur
"Ya, ampun. Pasti berat banget ya ngerawat adek sama sekolah?" Tanya Layung prihatin.
"Nggak kok Bunda. Senja seneng kok malah, udah bisa belajar ngerawat anak" canda Senja yang langsung tertawa kecil.
"Ck. Anak bunda pikirannya, emang udah siap kalau disuruh menikah?"
"Ya biarkan Senja lulus dulu dong bunda, terus kuliah, kerja baru membina rumah tangga. Yang jelas, biarkan Senja kenal dulu sama calon Senja" ucap Senja tersenyum manis,
Layung mengeryit mendengar ucapan anaknya yang lumayan berbeda itu "maksud kamu?" Tanya Layung binggung.
Senja tersenyum manis "Senja nerima lamaran dari Oma Yaya"
Layung terkesiap mendengar pengakuan anaknya, dulu Senja menolak lamaran yang diajukan oleh Oma Yaya yang amat sangat berjasa dalam hidupnya itu.
"Kamu serius?" Tanya Layung tak yakin
__ADS_1
"Serius Bunda"
"Ada hal lain yang mempengaruhi kamu untuk menerima lamaran beliau?"
*****
"Kok Oma tanya gitu?" Tanya Angan heran, jujur dia malas menceritakan sebab kenapa dia menerima perjodohan itu. Karna kalau Angan jelaskan dia juga malu sendiri dengan dirinya.
"Ya aneh aja, kamu bilang mau menerima perjodohan ini."
"Oma mau? Angan berubah pikiran?" Tanya Angan menantang.
"Oh, no.. no.. no.. nggak ada kata penolakan lagi " Ucap Oma Ira mengoyang-goyangkan tekunjuknya.
Bagus, sekarang tinggal menghindar
"emm.. Tapi ada satu syarat" ucap Angan yang membuat pasang mata memandanginnya.
"Jangan yang aneh aneh" celetuk Wening
"Iya, jangan jangan entar lo mau cerai sama dia, kalau udah genap satu tahun" celetuk Rindu ikut menuding
"Gue nggak sebrengsek itu. Angan cuma mau cepet-cepet ikut gabung di Advaya group aja, dan meninggalkan dunia mengajar Angan selama ini" ucap Angan mengutarakan keinginannya.
Oma Ira mengangguk setuju, begitu juga dengan Yudha.
"Memang sepatutnya sudah begitu" ucap Yudha yang disetujui ibunya.
"Numben. Kenapa? Lo mau menghindar dari dia?"
DEG!
Kenapa Rindu selalu tau jalan pikir gue??? "Enggak. Gue cuma mau sesuatu yang bisa gue banggakan, seperti hal nya uang hasil keringat gue sendiri"
"Jadi guru kan juga depet uang" celetuk Rindu masih kekueh mengorek ngorek kehidupan Angan.
"Tapikan nggak segede kalau kerja di kantor sendiri" saut Angan
"Bener kata Adik kamu, lagian Angan 'kan memang harus ikut gabung diperusahaan" ucap Wening menengahi.
Diam diam Angan menghela nafas lega, saat ibunya membelanya.
"Owh, berarti dia matre kalo liat elo dari segi harta" ujar Rindu memanas manasi, Wening mencubit lengan anaknya bermaksud memperingati. Dia menatap anaknya, memberi Isyarat tentang keberadaan Oma Ira. Tapi Rindu tak mengacuhkan itu semua. Dia sudah lelah dijalankan seperti halnya robot.
"Dia tidak seperti yang ada dipikiran kamu" tutur Oma dingin.
"Maaf" gumam Rindu memanyunkan bibirnya,
Bibir Angan tersenyum miring tapi hatinya tidak dan Rindu mengetahui itu, dari mata Angan.
__ADS_1
Lo nggak mau ngomong? Okey fine. Sumber informasi gue datangnya dari mana mana.