
Mungkin ini peristiwa langka, sampai-sampai murid yang hendak masuk selalu diam mematung di ambang pintu. Berbagai ritual penyadaran diri mereka lakukan untuk mengecek apakah mereka bermimpi atau itu hanya sekedar halusinasi.
Yeah. Ini benar benar sebuah Fatamorgana yang jarang terjadi akhir-akhir ini.. Senja. Ulangi.. SENJA!!! Dia datang tepat waktu kesekolah? Bahkan datang lebih awal daripada teman temannya. Ohh.. oh.. ayolah bumi belum berhenti bergerak 'kan??? Seorang Senja? Siswi yang terkenal dengan prestasi terlambatnya bisa masuk tepat waktu kesekolah?? Impossible!
"Apakah dia Senja?" Tanya Laras yang menatap horor melihat Senja yang sedang membaca buku, dengan anteng kalem bak ratunya kutu buku.
"Bukan, mungkin hanyalah sebuah fatamorgana" gumam Pika tak lepas memperhatikan Senja.
"Senja?" Panggil Nala mendekati Senja,
Senja mendongak menatap teman temannya yang terlihat binggung dengan kehadirannya yang tidak terlambat itu. "Iya ini gue, si cewek berprestasi tak pernah datang tepat waktu, yang sekarang datang tepat waktu."
"Gue 'kan belum buka hati buat Rama, kenapa lo udah nggak terlambat?" Tanya Pika keheranan.
"Wah! Sadis lo Ka, jadi selama ini lo belum buka hati buat dia? Astaga... Tuh **** jangan diberi pupuk napa, berkembangkan jadinya" celetuk Laras mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Cinta nggak bisa dipaksain kalik!" Kilah Pika
"Tapi cinta bisa datang karena terbiasa" celetuk Senja yang membuat teman temannya menatap dia keheranan.
Pika menyentuh jidah Senja, memastikan suhu tubuh Senja dibatas rata rata.
"Nggak panas tuh, kok lo sekarang jadi kalem kaya gini kenapa?" Tanya Pika keheranan.
"Iya, biasanya dandan 'nya udah kaya tembok rumah sakit, sangking putihnya.. terus tuh lipstik udah kaya emak emak arisan, sama.."
"Lo kira gue anggota in the geng The Star??" celetuk Senja yang langsung membuat Laras terkekeh geli.
"Nah.. ini baru Senja, yang nggak pernah absen buat komentar" ujar Laras masih tertawa.
"Kembali ke topik. Senja numben berangkat lebih pagi, kenapa?" Tanya Nala yang masih keheranan dengan kedatangan Senja yang masih pagi itu.
Senja menghela nafasnya sejenak, heran.. baru berangkat lebih awal aja udah kaya gini interogasinya, gimana kalau gue cerita tentang perjodohan itu.. "Bunda yang minta, sekarang Paduka Tawang gue 'kan udah kembali lagi ke induk nya, hehehe.."
"Oh, iya. Bunda Layung udah dibawa pulang?" Tanya Pika tersadar, Senja mengangguk sebagai jawaban.
Kalau masalah Bundanya yang sudah bangun dari berhibernasinya itu bukan lagi rahasia yang Senja pendam, itu malah kebahagian Senja yang harus ia bagi bagikan
"Wah.. kapan kapan kita main yuk, kerumah Senja.. kangen juga Nala sama Tawang" ajak Nala yang disetujui oleh Pika dan juga Laras.
"Boleh aja.. asal jangan lupa oleh olehnya ya" canda Senja tertawa kecil.
"Dih... Keenakan di elo" celetuk Laras yang hanya ditanggapi Senja dengan tawanya.
"Emm... Kayaknya kita nanti ada Jamkos" ujar Pika yang langsung menatap Senja yang menatapnya binggung "mau bolos nggak?" Tawar Pika yang langsung ditonyor oleh Laras.
"Orang dia udah tobat, lo nya malah ngajak dia kumat" dumel Laras memarahi Pika
"Kan siapa tau, dia tertarik" kilah Pika tak mau kalah.
"Tunggu! Emang Kak Angker.. eh.. Angan maksud gue kemana?" Tanya Senja binggung.
"Senja, Senja gue prihatin sama Hp elo" gumam Pika mengeleng-geleng melihat sahabatnya itu. "Ada tapi nggak lo anggep" lanjutnya
"Kayak lo, nggak menganggap Rama ada" celetuk Laras yang membuat Senja memutar bola mata malas.
__ADS_1
"Astaga.. Pika, sebenernya lo tuh udah terbuka sama dia cuma lo 'nya aja nggak tau" ujar Senja yang sudah seperti pawang cinta.. padahal masalah asmaranya saja nol besar!
"Lagak lo udah kaya pawang aja" celetuk Laras
"mending lo buka deh, Nja di grup sekolah tentang informasi terhot disekolah ini" lanjutnya memberi saran.
"Mending kalian cerita aja, gue males buka Hp" ujar Senja membuat sahabatnya mengeleng-geleng
"Okey, Nala cerita. Kak Angan mengundurkan diri dari sekolah, jadi jamkos kita kembali lagi" ucap Nala menceritakan apa yang dia tau.
Senja bergeming mendengar ucapan Nala, dia terkejut bukan main mendengar kalau Angan berhenti menjadi guru di sekolahnya, "Alasannya?" Tanya Senja yang masih terkejut.
Nala, Laras dan Pika mengeleng-geleng, mereka tidak tau alasan apa yang digunakan oleh Angan.
"Tapi kemarin.. dia.. dia kesekolah.. masa iya kemarin itu cuma bayangannya?"
"Kemarin katanya dia mengambil berkas berkas yang tertinggal" jelas Pika yang menatap Senja.
"Kok nggak pamit?" Tanya Senja masih binggung, yang malah mendapatkan tonyoran dari Pika
"Makanya buka group chat. Kak Angan nggak bisa pamitan secara langsung, kemarin seharunya acara berpamitannya, tapi karena dia harus cepat-cepat check-in ke Bandara makanya dia cuma berpamitan lewat via chat. Katanya kalau ada kesempatan dia akan datang kesekolah buat berpamitan secara resmi dan sopan
"Check-in ke Bandara? Buat apa?"
"Menurut lo?" Tanya Laras ogah ogahan
"Emang dia mau kemana?" Tanya Senja lagi seperti orang linglung.
"Mungkin keluar kota, tau keluar negeri" jawab Nala yang sama sekali tidak meringankan beban kebingungan Senja.
"Emang itu pilihannya" celetuk Pika yang membuat Nala langsung cengir kuda.
Apa lo ingin menjauh dari si jahat ini? Si Jahat yang udah buat hati lo sakit. Batin Senja yang hanya bisa menerka-nerka,
Senja menghela nafasnya sejenak
Mungkin gue harus move on dari Angker, gue nggak boleh kaya gini.. ingat Senja lo udah ada yang punya. Dan lo!! Harus menjaga hati untuk orang yang akan membimbing masa depan lo kelak..
Lupakan dia yang hanya sekedar pengisi cerita hidup lo.. gue tau Angker udah berhasil masuk kedalam kehidupan gue, bahkan hadirnya dia itu sungguh berarti banget buat gue.. tapi gue nggak boleh egois.. Angker berhak bahagia dengan wanita yang dia cinta, dan gue juga berkewajiban menyenangkan hati Bunda.
Semoga ini keputusan yang benar..
*****
Layung memang sudah lama tertidur, tapi dia tidak akan lupa dengan sifat anaknya yang sangat berbeda dari biasanya ini. Senja tak pernah mengurung diri di kamar, Senja tak pernah belajar sedemikian giat, dan Senja tak pernah ngemil sedemikian banyak.
Yeah, itu yang membuat Layung heran. Sejak kapan putrinya itu suka ngemil makanan sambil belajar? Biasanya juga kalau belajar dia tidak mau ditawari makanan apapun, kecuali itu makanan kesukaannya.
"Anak Bunda rajin banget, katanya UAS 'nya hari senin" tegur Layung mengusap lembut rambut anaknya. Layung bisa merasakan kekagetan Senja, terbukti saat dia terperanjat kaget.
"Eh, Bunda.." sapa Senja menampilkan senyum manisnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Layung to the point.
"Maksud Bunda?" Tanya Senja perlahan
__ADS_1
Layung menghela nafasnya sejenak, lalu menatap anaknya itu intens "Lo itu ada dalam perut gue selama kurang lebih 9 bulan, dari kecil sampek segede ini juga gue yang ngurus elo. Apa kurang alasan gue buat bilang kalau gue kenal deket sama lo??!"
Senja menelan ludahnya susah payah, sifat Bundanya tak akan pernah berubah, kalau ngomel pasti mengunakan lo-gue, bukan lagi aku-kamu.
"Bunda mau 'nya apa?" Tanyanya yang juga menatap Bundanya intens.
"Gue pengen lo jujur sama gue, lo kenapa? Hemm??? Cerita sama gue" todong Layung yang sudah ikut duduk dikursi sebelah Senja.
"Masalah cinta?" Tebak Layung yang membuat Senja memanyunkan bibirnya.
"Bunda.. Senja.."
"Sama siapa?" Selanya yang sudah punya firasat anaknya tidak akan jujur.
"Ya elah, Bunda. Kalau Bunda nyela gue kaya gini gimana gue mau cerita" cerocos Senja mendumel,
"Makanya to the point, dong" sergah Layung tersenyum.
"Bunda udah tau cucunya oma Yaya? Yang katanya dijodohkan sama gue?" Tanya Senja menatap Bundanya.
"Kenapa? Lo ngebet pengen ketemu dia? Jujur nih.. gue sih belum ketemu sama dia pas udah gede, tapi pas dia masih kecil gue pernah liat dia. Dia tuh bening, ganteng, manis, gembul.. emm.. pokoknya gemesin.. itu pas dia waktu umur 5 tahun. Saat itu dia dateng buat jenguk gue sewaktu selesai persalinan ngeluarin elo dari rahim gue" jelas Layung yang membuat dahi Senja mengeryit.
"Tunggu! Dia jengukin gue pas lahir kedunia?" Tanya Senja yang diberi sebuah anggukan oleh Layung.
"Bukan cuma itu, sebelumnya dia sering main kesini main sama lo, ya sampek sekitar satu tahunan lah.. tapi, karna dia sibuk sekolah jadi dia nggak bisa main lagi sama elo, tinggal deh lo sendiri" Layung tertawa mengakhiri kalimatnya.
"Curang! Gue belum pernah liat mukanya, dia malah udah puas liat muka gue" grutu Senja memanyunkan bibirnya.
"Dih, siapa bilang? Pas lo kecil enggak gue tutup kali tuh mata, jadi nggak ada kata tidak melihat wajahnya"
"Tapi kan itu pas gue masih kecil bunda" rengek Senja merajuk "Senja mana ingat?!"
"Hehehe.. gue aja juga lupa. For Information tuh nama juga dia yang kasih ide"
"Eh?" Pekik Senja kaget.
"Heeh, waktu itu, gue ditempatkan diruangan yang ada kaca jendelanya gede, terus pemandangan langit tuh keliatan banget. Dan dia nujuk nujuk ke langit bilang 'Langit Senja'. Nah! Saat itulah gue punya ide buat kasih itu nama buat elo" cerocos Layung menjelaskan kejadian 17 tahun yang lalu.
"Nama dia siapa bunda?" Tanya Senja penasaran
"em... Gue lupa, lupa, lupa. Tapi intinya lo manggil dia tuh Gigi" ujar Layung yang membuat Senja mendesah kecewa.
Padahal dia berharap kalau anak yang dimaksud Bundanya itu Angan. Tapi ternyata bukan..
"Terus dia manggil lo.."
"Pasta gigi?" Tebak Senja geram
Layung tertawa melihat wajah masam anaknya itu, "bukan. Tapi Lala"
"Lala? Dapet nama gue Lala dari mananya?" Protes Senja
"Dari Langit"
"Langit? Jatuh gitu dari Langit?"
__ADS_1
"Astaga... Pinternya anak gue!!! Maksud gue kata Langit di nama lo! Dia lebih suka manggil lo Langit, tapi karena susah jadi dia manggil lo Lala" Perjelas Layung yang membuat membuat Senja berpikir matang matang.
"Gigi? Lala? Gi.la?" Gumam Senja yang langsung membuat Bundanya tergelak, sedangkan Senja memasang ekspresi sedatar mungkin.