What Makes You Strong??

What Makes You Strong??
#0020


__ADS_3

"Baik Oma, Angan pulang" Oma Ira tertegun mendengar suara lembut nan manis yang baru saja cucunya lontarkan.


"Itu tadi beneran Angan?" Tanyanya tidak percaya, anak, mantu dan cucunya mengangguk membenarkan.


Oma Ira bergeming mencerna apa yang barusan terjadi. Tadi Wening menawarkan diri untuk menelpon Angan, tapi Oma langsung melarangnya karena biasanya Angan pasti tak akan menurut kalau tidak ia omeli dulu. Tapi nyatanya..


"Mengejutkan bukan?" Tanya Rindu membuka suara, Oma Ira mengangguk membenarkan


"How come???" Tanyanya heran, Rindu mengedikan bahunya tidak tau.


"Udah satu bulan lebih" ucapnya yang masih membuat Oma Ira binggung.


"Apa Angan mempunyai pacar?" Tanya Oma Ira dengan nada serius. Dan saat Oma Ira menggunakan nada itu, ada syarat ketidak sukaan didalamnya, seperti dikomando Yudha, Wening dan Rindu sama sama mengeleng,


"Kita nggak tau, Oma" ucap Yudha membuka suara.


"Nggak ada yang berani mengusik urusan privasi Angan," kecuali Oma saut Rindu yang tidak mau disemprot api kemarahan Oma.


"Mungkin Angan sudah sadar Oma, kalau dia sudah dewasa dan harus menggunakan tata Krama nya" ucap Wening


"Tidak mungkin. Pasti ada wanita lain di dalam kehidupan Angan, Oma yakin itu"


"Oma..." Tegur Yudha halus


"Apa? Salah kalau ibumu ini memilihkan pendamping yang terbaik untuk anak mu?" Semprot Oma Ira yang membuat Yudha tak bisa berkutik.


"Bukan gitu Oma,"


"Lalu apa? Kamu ingin anakmu menikah dengan wanita yang hanya senang menghambur hamburkan uang, dan hidup berfoya-foya? Gitu" tuding Oma Ira tak ada henti


"Oma.. Wening yakin kok, Angan nggak akan memilih pasangan yang seperti itu"


"Kamu tau dari mana? Kalau kalian semua saja tidak berani mengusik urusan pribadi dia"


"Ya buktinya udah ada Oma.. Angan sekarang udah rajin shalat, udah nggak kaya Tarzan lagi, teriak teriak " saut Rindu membantu sang adik, dia sebenarnya juga tidak tega kalau adiknya selalu diperlakukan seperti boneka robot bernyawa.

__ADS_1


Hanya karna dia anak laki-laki dikeluarganya dan juga cucu laki-laki tertua dia harus menanggung berbagai beban. Kuliah di luar negeri lah, tata krama lah, itu alasan kenapa Rindu masih bersikap kekanak-kanakan. Dia ingin mengusik kehidupan sang adik agar tidak terlalu kaku, Rindu ingin ada derai tawa di kehidupn Angan bukan hanya harta, karir dan kerja.


"Bagus kalau gitu. Biar dia pantas bersanding dengan pilihan Oma" seru Oma masih keras kepala.


"HAH?!" Pekiknya dari ambang pintu, yang membuat semua mata langsung tertuju kearahnya.


"Angan?" Gumam Rindu melihat Angan yang berdiri diambang pintu dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.


"Apa maksud Oma, dengan kata-kata 'pilihan Oma'?" Tanya Angan tidak mengerti.


"Oma ingin menjodohkan kamu dengan wanita pilihan Oma" ucap Oma Ira to the point.


Angan mengeleng-geleng tidak mengerti "kenapa harus Angan oma?! Angan nggak mau, Angan udah punya pilihan!" Seru Angan tidak terima.


Rindu, Yudha, Wening dan Oma Ira terkesiap mendengar pengakuan Angan.


"Jadi benar dugaan Oma? Kalau sifat kamu berubah karena seorang wanita?" Tanya Oma Ira yang dijawab sebuah anggukan dari Angan.


"Ya, dan dia bukan hanya wanita biasa, tapi dia wanita paling tegar yang pernah Angan kenal!" Ucap Angan menyakinkan


"Kenapa Angan nggak boleh milih pasangan Angan sendiri? Kalau Rindu aja boleh, bahkan dia akan segera menikah dengan lelaki pilihannya!!!"


"Karna kamu beda!"


"Aku beda dari mana Oma? Aku sama Rindu sama sama cucu Oma! Galaksi sama Ambar juga! Kenapa harus kehidupan Angan yang Oma usik? Kenapa!!?" Suara Angan mulai meninggi wajahnya juga memerah menahan amarah!


"Karna lo penerus utama Advaya group, ****! Sebelum Gala gabung juga" seru Rindu membuka suara, Angan menatapnya dan kembali lagi menatap sang Oma.


"Bener apa kata Rindu, Oma?" Tanya dengan nada bicara yang rendah


"Hanya karna Oma takut harta Oma yang tidak bisa dibawa mati itu, Oma mau mengorbankan perasaan Angan?!" Lanjutnya mengeleng-geleng tak percaya. "Angan kecewa sama Oma!" Pungkasnya yang langsung pergi meninggalkan rumahnya, dan membawa motor sport hitamnya melaju di jalanan.


Sesak hati Angan dia tuangkan semua kedalam laju kendaranya. Angan gila, benar benar gila. Dia membawa motornya dengan kecepatan gila gilaan, sumpah serapah dan seruan klakson bahkan tidak mempan untuk menghentikan laju kendaranya.


Dia tidak habis pikir kenapa Omanya itu selalu ikut campur dalam urusan pribadinya, dia memang sering menjalin hubungan dengan wanita mana pun tapi semua itu Angan lakukan secara diam diam. Prinsipnya jangan sampai Oma tau. Tapi bertambahnya usia Angan bukanlah kebebasan yang ia rasakan, tapi malah rasa tertekan yang semakin membekapnya. Angan yakin, pilihan Oma tidak sebaik dan setegar Senja. Angan yakin itu..

__ADS_1


Sekarang Angan tidak peduli kemana pikirannya membawa dia terus melaju. Yang Angan tau sekarang dia ingin mengeluarkan sesak didalam dadanya, walau saat terakhir dia melakukan aksinya ini, dia ditemukan terkapar dijurang. Beruntung nyawa Angan tidak melayang tapi terganti rasa sakit disekujur tubuhnya yang membantu Angan melupakan sakit saat dia dihianati. Yeah, peristiwa itu terjadi saat dia mengetahui kalau Felicita berselingkuh.


WWWWEEEESSS!!!!!!


Angan tersentak saat sebuah motor menyalip laju kendaraannya, dia mengenali motor tersebut bahkan tadi dia berjumpa dengan motor trail berwarna oranye itu.


Senja. Dia membawa laju motornya kesuatu tempat, memang bermaksud mengiring Angan menuju ke tempat itu. Senja yakin, Angan dalam keadaan kurang baik, terbukti dari cara Angan membawa motornya yang gila gilaan tersebut.


Bisa-bisa gue besok pakek baju serba item kalau tuh orang masih kacau dumel Senja saat dia mencoba menyeimbangi laju motor Angan.


Senja membawa Angan kelapangan luas, tapi posisi lapangan itu berada didataran tinggi membuat mereka bisa melihat langit senja yang menyelimuti kota saat itu.


Senja melepas helmnya setelah mematikan mesin motornya, begitu juga Angan walau dalam keadaan kacau matanya tak berlepas dari keindahan alam yang sedang terjadi. Ada rasa hangat, tenang dan nyaman melihat langit dikala senja saat itu. Angan menoleh ke Senja yang juga tengah mengagumi keindahan alam yang tersemat dinamanya.


"Udah tenang?" Tanya Senja membuka suara, Angan mengernyit binggung dengan pertanyaan Senja. Pertanyaan yang muncul diotaknya pertama kali adalah dari mana dia tau, kalau gue lagi kacau?


Angan malas membahas, jadi dia hanya mengangguk membenarkan.


"Ngil" pangil Angan dengan suara parau, Senja menaikan alisnya satu heran, tapi dia menunggu juga kelanjutan ucapan Angan.


Angan menarik nafasnya, dan menghembuskannya perlahan mencoba mencari ketenangan.


"Gu-e sayang sama elo" ucap Angan gugup yang membuat Senja langsung diam mematung.


"Gu-e mau lo.."


"Maaf Ker, gue nggak bisa." Sela Senja tersenyum kecut. Sekarang dia tahu, kalau Angan menaruh rasa untuknya. Tapi janji tetaplah janji dan Senja sudah terikat didalamnya. Walau hatinya meronta tersiksa.


Giliran Angan yang diam mematung, belum sempat dia mengucapkan ajakannya tapi Senja sudah menolaknya.


"Ada Alasan?" Tanya Angan menangkap manik mata Senja, Senja mengalihkan pandangannya dia masih teringat dengan ucapan Mbak Dyra tentang matanya dan dia tidak mau kalau Angan menangkap hal yang ganjil dimatanya.


"Yeah" Senja mengangguk membenarkan "gue udah ada yang punya" lanjutnya yang seperti merasakan hatinya tersayat. Begitu juga dengan Angan, hatinya bukan hanya tersayat tapi juga seperti di jadikan bahan uji coba peluru.


Angan tidak tahu, tangan Senja mengepal begitu keras. Begitupun juga Senja, dia tidak tahu kalau mata Angan sudah berkaca kaca siap menumpahkan kepedihannya.

__ADS_1


Dalam satu hari, hati ini bagaikan masuk kelubang duri, yang langsung di uji dan dipelantingkan jauh kedasar bumi.


__ADS_2