
Di sebuah ruang keluarga yang besar, rumah tingkat dua dengan warna coklat sebagai warna catnya. Rindu ada disana, dia datang berkunjung kerumah sang paman yang Rindu tempuh dengan waktu 1 Jam dari rumahnya.
"Cieee.. calon manten dateng," goda Ambar sepupu Rindu.
"Wah, gue tersanjung" saut Rindu tertawa kecil yang menular ke Ambar.
"Numben kesini, Ada apa?" Tanya Ambar penasaran
"Ada sesuatu yang ingin gue tanyankan" ucap Rindu serius
"Tentang?"
"Angan" jawab Rindu singkat yang membuat dahi Ambar menggernyit binggung. " Lo tau Angan kecantol sama siapa?" Tanya Rindu to the point.
Ambar mengelengkan kepalanya, dia memang tidak tau tentang urusan pribadi sepupunya apalagi tentang urusan cinta.
Rindu mendesah lelah, binggung harus bertanya kepada siapa.
"Heeeeehhh.... Eeeehhhh... Tu bocah tertutup banget, kaya aurat" dumel Rindu kesal.
Dia benar-benar buntu soal Angan, tidak ada info yang bisa Rindu korek. Rindu sudah mencari tahu dari orang-orang terdekat Angan, bermula dari Ben asisten pribadi Angan, yang katanya tidak tahu tentang urusan pribadi bosnya itu. Berlanjut keguru guru yang Rindu kenal, yang hasilnya juga nihil tak ada yang tahu. Dan sekarang Rindu berharap kepada sepupunya yang ternyata juga tidak tau menahu..
" HAMBAR!!! Kenapa lo nggak minum vitaminnya????!!! Bentar lagi 'kan mau UAS! Kalo tepar gimana?" Omelan itu sukses membuat mata Ambar dan juga Rindu terbelalak.
Mereka sama sama menoleh kebelakang tepat ke si empunya suara.
Gala ada disana, dengan segelas air putih dan satu buah kapsul di tangannya. Dia menghampiri Ambar, membuka mulut adiknya dan langsung memasukan kapsul vitamin yang tadi ia bawa, plus meminumkan air putihnya tadi.
Ambar bagaikan patung boneka yang tak bisa meronta maupun menolak. Sedangkan Rindu yang melihat itu hanya mengangga heran "Ambar udah gede kali Gal" celetuk Rindu saat dia sudah sadar dari keterkejutannya.
"Iya, udah gede. Tapi bandelnya masih nempel aja sampek sekarang" saut Gala yang membuat Ambar memanyunkan bibirnya.
"Jiwa emak emak lo masih melekat" gumam Rindu mengeleng-geleng
"Jiwa bukan 'nya, calon lo ya mbak?" Goda Ambar yang sukses membuat Rindu tersipu malu.
"Lo ngapain mbak kesini?" Alis Gala naik sebelah, binggung.
Rindu menjentikan jarinya tepat di wajah Gala, membuat remaja berumur 16 tahun itu terkejut.
"AHAAA!!" Pekik Rindu seperti mendapakan sebuah jawaban "seberapa deket lo sama Abang lo?" Tanya Rindu yang membuat alis Gala hampir menyatu.
Rindu yang melihat ekspresi Gala seperti itu, langsung memutar bola matanya malas.
"Heeehhh!!! Gue makan juga lo. Lo tau Angan kecantol sama siapa?" Tanya Rindu meluncurkan pertanyaannya tadi.
"Lo nggak tau?" Tanya Gala yang langsung mendapat jitakan dari Rindu.
"Kalau gue tau nggak mungkin tanya dodol!" Geramnya,
__ADS_1
"AUW! Lo mau tanya apa mau nyiksa gue sih mbak?"
"Mbak mbek mbak mbek, emang gue pedagang jamu!" Sungut Rindu kesal.
"Lanjutkan" celetuk Ambar yang membuat Gala dan juga Rindu menatap kearah, Ambar yang ditatap seperti itu haya menampilkan sederet giginya, temasuk gigi kelinci miliknya.
"Kalau setahu gue, bang Angan itu suka sama kakak kelas gue, yang berjenis kelamin cewek, rambut panjang.."
"To the point aja, mbambang!!!" Geram Rindu menjambak rambut Gala.
"KDRT lo mbak?!!??!!" Pekik Gala kesakitan
"Habisnya lo ngeselin!!! Tinggal sebut nama aja susah!" Geram Rindu tak melepaskan jambakannya.
"Iya iya, gue jawab tapi lepas!" Pinta Gala yang di sanggupi oleh Rindu.
"Langit Senja" ucap Gala singkat, sambil merapikan rambutnya.
"HAH? Kak Senja?" Pekik Ambar histeris, Gala mengangguk sebagai jawaban.
"KOK BISA?" Tanya Ambar dan Rindu bersamaan. Gala mengedikan bahunya, tak acuh.
"Yang Jelas, Bang Angan itu pernah kasih kode keras sama kak Senja, plus ngelihatin Kak Senja terang terangan." Jelas Gala
Rindu terdiam, dia sedang berpikir dengan logikanya.
Apa mungkin karena nama, Angan bisa tertarik? Atau malah cewek itu terlampau cantik? Atau.. "kelebihan si Senja ini apa?" Tanyanya Penasaran
Dahi Rindu mengkerut mendengar penjelasan sepupunya, "masa cuma karna mata?" Komentarnya, "kalau cantiknya gimana?"
Gala terdiam sejenak, dia masih ingat ucapan sepupunya sewaktu memperhatikan Senja "Bang Angan pernah bilang, Kak Senja itu kaya Ratu bidadari ketegaran"
"Hem???" Gumam Rindu dan Ambar heran.
"Maksudnya gimana tuh?" Tanya Rindu masih tak mengerti.
Gala mengedikan bahunya, "gue nggak tau. Gue nggak pernah ikut campur urusan kakak kelas. Yang jelas, Bang Angan itu suka sama Kak Senja. Dan gue tau itu, dari cara mandang dia, cara bicara bang Angan sama dia juga berbeda sama yang lainnya"
"Gue jadi penasaran sama orangnya" gumam Rindu mengaruk dagunya yang tak gatal.
"Kalau lo penasaran, tanya aja sama seluruh penghuni Vakklilau pasti semua kebanyakan pada kenal sama Kak Senja" usul Gala yang diberi anggukan oleh Rindu.
"Seluruh penghuni kenal sama Kak Senja" cibir Rindu mengulang kalimat Gala, "lo sama Ambar aja enggak!"
"Gue tau orangnya tapi tidak dengan urusan pribadinya" saut Gala yang disetujui oleh adiknya, Ambar.
*****
"Kok kayaknya dia siswi badung ya bu" komentar Rindu melihat data-data Senja. Sekarang Rindu sedang berada di sebuah kafe, yang bernama Java Cafe. Bersama Bu Tara yang notabene guru BK di Vakkilau.
__ADS_1
"Ya, semenjak dia naik kekelas 3, dia suka sekali terlambat, bolos saat jam kosong, dan nilai yang selalu dibawah rata rata"
Ya gila Angan!!! Apa yang spesial dari dia coba??? Batin Rindu tak mengerti.
"Tapi disisi sifat buruknya itu. Senja merupakan orang yang paling sabar, tegar dan tabah yang ibu kenal. Ayahnya meninggal 7 bulan yang lalu karena kecelakaan sewaktu pulang dari rumah sakit bersama istri dan anaknya yang baru lahir. Bunda Senja, mengalami koma berkepanjangan yang entah bagaimana keadaannya sekarang saya kurang tahu. Dan yang paling berat dari itu Senja sudah seperti single Parents yang mengurus anaknya tanpa bantuan siapapun"
"Maksud ibu?" Sela Rindu tak mengerti.
"7 bulan lebih Senja terlambat itu bukan karna alasan dia orang yang suka bermalas-malasan. Tapi karena dia harus mengurus adiknya terlebih dahulu sebelum berangkat kesekolah.
Bayangkan, kalau kamu ada diposisi dia. Ayah sudah tiada, ibu koma, dan dia harus merawat seorang bayi dari kecil sampai sekarang ini.. makanya saya juga tidak tega kalau Senja selalu saya hukum yang berat-berat.
Senja memang selalu tersenyum, terkesan nyebelin dan seperti tak memiliki masalah, namun nyatanya tidak. Kehidupan dia teramat pahit untuk remaja seusianya. Beruntung ada Kak Angan yang mau membantu Senja memberi pelajaran tambahan, sehingga nilai Senja lumayan naik dari sebelumnya. " Jelas Bu Tara Panjang lebar.
Owh! Pantes Angan selalu pulang lebih sore.. karna ngasih pelajaran tambahan ta.. tapi kesamber setan apa dia sampek mau repot-repot ngajarin anak orang. Emm... Kalau didengar dengar dari ceritanya sih, si Senja ini kasian juga ya.. jadi ibu untuk adiknya.
*****
"Alasan lo suka Langit Senja apa?" Tanya Rindu to the point.
Saat ini dia sudah sampai dirumah dan sekarang sudah mejeng manis di ambang pintu kamar adiknya.
Angan terbelalak mendengar ucapan Rindu, dan Rindu bisa menebak apa jalan pikir Angan.
"emm.. karena langit dikala senja itu bagus, bagus banget. Cantik, indah, menenangkan, dan bikin nyaman"
Ohh!! Lo mau pura pura ****? Batin Rindu kesal.
"Oh, karna dia cantik bak Ratu bidadari?, indah untuk dipandangi? Menenangkan singa galak lo? Bikin lo nyaman ngajar dia tiap hari?"
SKAKMAT!!!
"Oh, dan satu lagi. Ketegaran yang tiada tanding" lanjut Rindu membuat mata Angan seperti bernar benar ingin copot.
Sialan! Tau darimana dia soal Tengil??
"Sumber informasi tu ada dimana-mana. Jadi nggak perlu repot-repot nunggu lo curhat" Rindu melontarkan ucapannya tersebut guna menjawab kebingungan di wajah Angan.
"Takdir begitu kejam, memisahkan hati yang sudah mulai nyaman bersamanya. Gue sama dia nggak bisa bersatu,Ndu. Dia udah mau tunangan sama orang lain. Dan gue juga udah nerima perjodohan ini. Jika takdir bisa diubah gue pengen banget bareng bareng sama dia," ucap Angan yang matanya menerawang jauh ke depan.
"Apa yang membuat lo kekueh banget mau bareng bareng sama dia?" Tanya Rindu menarik dagu adiknya menatap kearahnya.
"Karna gue pengen jadi salah satu alasan kenapa dia bisa tegar."dan gue mendapatkan lebih daripada itu Angan memejamkan matanya, yang langsung diserbu berbagai memory dia bersama Senja. Sebulir air mata membasahi pipi Angan yang langsung dia hapus cepat cepat.
Tidak! Dia harus mencoba mengikhlaskan Senja dengan lelaki lain. Lelaki yang lebih pantas dan juga lebih baik daripada dia.
"Lo kalau mau nangis, nangis aja nggak usah diempet." Celetuk Rindu yang sedari tadi matanya tak lepas memperhatikan gerak gerik sang adik.
"Tangisi dia, orang yang benar-benar lo cinta. Jujur, gue juga nyesel lo nggak bisa dapetin cewek kaya dia. Sayang banget loh padahal, cewek mandiri kaya dia itu udah langka, apalagi kesabarnya dan ketegaran itu"
__ADS_1
Angan memandang sang Kakak, perlahan air matanya menetes. Angan tak menghapusnya, dia membiarkan air matanya mengalir bersama kenangan-kenangan yang terus mengalir di pikiran 'nya. Ya dia memang benar-benar sudah terjatuh kedalam hati Senja. Dan dia merasakan penyesalan tentang kenapa bukan dia saja yang dijodohkan dengan Senja? Atau paling tidak Senja lah jodoh yang dipilih oleh Oma Ira.
Ana uhibbuki, Langit Senja. Gue nggak akan ngelupain lo, tapi gue harus menghindar agar gue nggak terlalu sakit saat lo bersama dia.