
Cuaca itu udah kaya mood 'nya cewek, Nggak menetu. Kadang cerah lah, kadang juga mendung sampek turun hujan lah.. yeah, seperti sekarang ini yang tadinya cerah ceria kaya dapet hadiah, sekarang hujan deras kaya linangan air mata orang paling sengsara.
Dan sial yang paling Angan benci adalah saat dia bawa motornya dengan kedamaian yang hakiki, tiba tiba tanpa permisi hujan langsung menguyurnya begitu deras, kesialan itu belum cukup, saat Angan berhenti dihalte untuk mengambil jas hujannya ternyata dia tidak membawanya. Angan paling benci jika dia ada diluar saat langit menurunkan hujan.
Suara deru motor yang berhenti menyita perhatian Angan yang hendak menghubungi seseorang untuk menjemputnya. Tindakan itu diurungkan, saat tau siapa yang sedang ikut berteduh bersamanya, ya siapa lagi kalau bukan Senja.
Apa gue harus kena sial dulu? Baru bisa berduaan sama elo Batin Angan yang memandangi wajah Senja.
"Kok nggak pulang?" Tanya Senja membuka suara
"Lah! Lo sendiri kenapa nggak langsung pulang?" Tanya Angan balik bertanya
"Biasa penyakit orang pikun. Nggak bawa jas hujan" aku Senja tertawa kecil yang langsung memandangi air hujan yang berjatuhan.
"Sama" gumam Angan tersenyum
"Gue masih inget sama note yang lo tulis, salah satunya tentang hujan. Lo intinya bilang, minta gue buat tegar kaya hujan yang selalu terjatuh. Gue setuju sama tulisan lo" jujur Senja yang membuat Angan tersenyum lebar
"Hujan juga selalu tegar, walau banyak orang yang membencinya. Dan hujan juga selalu kembali walau pernah dicaci.."
"Padahal dia kembali untuk menyenangkan hati orang yang awalnya mencaci'nya, ya kan?" Senja mengangguk membenarkan.
"Orang mah gitu, bilang nggak butuh, padahal butuh." Tuturnya terkekeh geli
"Namanya juga manusia" imbuh Angan, yang langsung menirukan Senja yang memandang langit.
Sebuah kilatan cahaya menyetak Angan, sedangkan Senja tersenyum senang
"Satu,.." Ucap Senja mulai menghitung, Angan menatap Senja horor
"Dua.." lanjutnya, Senja tidak tau kalau Angan benar benar dalam keadaan bergetar ketakutan.
"Tiga!"
DUAR!!!!
Bersamaan dengan suara gemuruh petir yang mengelegar, Angan langsung memeluk tubuh Senja yang malah tertawa kegirangan, karna dia suka petir. Tapi tawa itu tadi terhenti saat dia merasakan dingin tubuh Angan, dan juga tubuh Angan yang mengigil, belum lagi pelukan dari Angan yang begitu erat yang membuat Senja seperti tersengat aliran listrik berjibun Watt.
Ada rasa yang selama ini mati, dan tiba tiba kembali
"Ker?" Panggil Senja dengan nada khawatir, Angan tak menggubris, ini alasan kenapa Angan benci jika dia berada diluar rumah saat hujan, bahkan didalam rumah pun dia masih merasakan ketakutannya akan petir yang mengelegar.
"Lo.. takut sama petir ya?" Tebak Senja yang dijawab anggukan dari Angan.
Senja membalas pelukan Angan tak kalah erat, membuat Angan tersadar dari tindakanya tersebut yang diluar kesadaran.
"Jangan takut.." gumam Senja meminta, "petir baik kok, dia tuh membantu petani dalam menyuburkan tanah, membunuh bakteri dan kuman, bahkan mempertebal lapisan ozon, bermanfaat banget 'kan? Gue aja suka kok"
"Hah?" Pekik Angan tidak percaya
__ADS_1
DUAR!!!
"WUAAAA!!?" Pekik Angan ketakutan yang langsung mengeratkan pelukannya.
Senja bukannya risih, tapi Senja malah tertawa mendapat pelukan erat dari Angan "hohoho.. ternyata gini rasanya" gumam Senja yang malah membuat Angan binggung
"Rasa apa?" Tanya Angan penasaran
"Rasa yang Ayah rasakan pas gue meluk dia saat ada petir" aku Senja tersenyum jail.
"Katanya lo suka petir" tutur Angan heran.
Senja tertawa kecil menginggat masa kecilnya, "gue emang suka petir.. karna kalau ada petir gue bisa meluk Ayah sekencang kencangnya, bahkan Ayah juga akan meluk gue buat nenangin gue yang pura pura takut petir" akunya terkekeh geli, yang menular ke Angan.
"Jail lo ya" tuturnya menyentil dahi Senja.
DUAR!!!
Lagi lagi Angan memeluk Senja erat, dia tidak bisa berbohong dengan ketakutannya yang satu ini.
"Lo kenapa sih takut Petir?" Tanya Senja heran
"Gue nggak suka, suara gemuruh petir. Apalagi yang ada kilatannya, itukan bahaya banget" Aku Angan
"Gue akui, bener kata lo. Tapi gimana lagi, gue 'kan suka" tuturnya tertawa kecil
" Apa yang membuat lo kuat,???" Dahi Senja mengkerut mendengar pertanyaan yang terlontar dari Angan.
"Dari semua musibah yang melanda lo," ucap Angan menangkap manik mata Senja,
Aneh, biasanya padangan Senja begitu menusuk, tapi kenapa sekarang tidak.
Apa gue udah terbiasa? Sampek jadi kebal sama tatapannya Batin Angan mengira ngira.
Senja tersenyum begitu manis sebelum menjawab pertanyaan Angan tadi membuat Angan terpaku oleh senyum manis Senja itu, "kasih sayang dan orang orang yang gue sayang, yang membuat gue kuat, dan kasih sayang itu juga yang membuat gue tegar" akunya tak melepaskan senyum manis yang ia punya.
"Lagian, kenapa kita harus mengeluh? Toh, ini yang namanya kehidupan. Roda yang berputar, tertawa setelah menangis, kesuksesan setelah berjuang, manis setelah pahit. Jalani semua Skenario yang dibuat Allah tanpa mengeluh, karna nantinya lo nggak akan merasakan kepedihan yang baru saja menimpa lo barusan. Allah memang memberi kita berjibun ujian, tapi itu merupakan cara-Nya dalam mengetes kesabaran dan ketegaran kita"
"Dan lo, berhasil melalui ujian ujian itu dengan penuh ketegaran" puji Angan
"Ya balik lagi ke awal, karna kasih sayang dan juga orang orang yang gue sayang" ucapnya lembut
"Gini ya, bayangin aja kalau gue nggak sabar, dalam mengurus Tawang. Mungkin gue lagi bertapa di rumah sakit jiwa sekarang" tutur Senja tertawa yang menular ke Angan.
"Tapi Serius ya Ngil, ngurus bayi itu nggak mudah. Dan lo.."
"Udah.. entar balik lagi, balik lagi ke awal. Mending kita pulang, udah lumayan reda hujannya" ajak Senja yang membuat Angan tersadar akan hal itu.
"Oh, iya kok nggak sadar ya" Ada Tengil sih, yang buat gue tenang batin Angan senang.
__ADS_1
"Keasikan meluk gue sih" celetuk Senja yang langsung disadari oleh Angan yang masih memeluknya, Senja tertawa melihat kegugupan Angan barusan. Tapi entah kenapa, Senja seperti tidak rela kalau Angan melepaskan pelukannya.
Tapi ya nggak mungkin lah ya, harus pelukan terus emang mereka teletabis.
Senja hendak memakai helm nya, tapi urung karena cekalan yang ia dapat dari Angan.
"Terus jadi cewek yang paling kuat yang pernah gue kenal ya" Pinta Angan lembut
Senja tersenyum dan mengangguk "Insyaallah"
"Dan lagi," ucap Angan masih mencekal tangan Senja.
"Gu- gue.. ma- mau..." Buset! Kenapa gue jadi gugup gini.. padahal ini waktu yang pas
"Mau apa?" Sela Senja yang membuat Angan tersentak
"Eh.. emm.. gue mau ijin dateng terlambat ngajar lo hari ini" okey, gue belum siap!
"Kalau lo 'nya, sibuk sibuk banget jangan dipaksain lah.. libur aja dulu"
"Nggak bisa, lo kan sebentar lagi bakalan UAS!! Masa iya, bolos belajar" tutur Angan garang
"Seharusnya gue namain lo Angker Killer deh" tutur Senja serius
"'Sayang' aja biar lebih gampang" canda Angan terkekeh geli
"Kata 'Sayang' mah, udah biasa." Ujar Senja mengkibaskan tangannya
"Oh, makanya lo manggil gue Angker Killer, biar lebih spesial gitu?" Singgung Angan
"Iya lah," saut Senja yang membuat Angan tertegun.
"emm.. ngomong-ngomong Spesial kok gue pengen bakso ya?" Gumam Senja yang langsung tersenyum lebar
"mau bakso nggak?" Tawar Senja,
Angan berpikir sebentar dan mengangguk "boleh enak kayaknya"
"Okey, yuk. Lo yang traktir ya" ucapnya antusias
"Tunggu. Tunggu. Biasnya kalau orang ngajak itu yang mentraktir lah, ini kok lo yang minta?" Protes Angan
"Ini kan Langit Senja, harus beda" ucap Senja yang langsung nyengir kuda.
Angan menyentil dahi Senja Karna lo spesial "Dasar darah kental orang gratisan"
"Yang penting bukan pecundang" ujar Senja menjulurkan lidahnya
"udah yuk, traktir 'kan ya?"
__ADS_1
"Iya, Tengil. Gue yang traktir" tutur Angan yang langsung memakai helmnya begitupun Senja yang tak lepas dengan senyum senangnya