What Makes You Strong??

What Makes You Strong??
#0024


__ADS_3

Hujan dikala senin itu, merupakan surga dunia bagi para siswa maupun siswi. Karna saat itulah mereka tidak merasakan bagaimana rasanya jadi ikan asin yan selalu dijemur. Tapi rasa malas akan berangkat kesekolah juga merayap dibenak mereka, apalagi harus hujan hujan yang membuat baju menjadi basah, oh tidak, lebih baik tidur dikamar dengan selimut tebal yang membungkus tubuh ditemani oleh minuman yang hangat hangat. Hohoho.. itu surga dunia untuk kaum rebahan.


Berhubung minggu depan akan segera dilaksanakan UAS jadilah banyak murid-murid yang masih patuh untuk berangkat ke sekolah. Banyak murid yang datang sama saja dengan banyak jejak sepatu berlumpur yang menghiasi lantai, membuat Pak Ijo tukang bersih-bersih di Vakklilau harus kerja lebih ekstra.


"Yah, Pak Ijo kok di pel?" canda Senja yang melihat Pak Ijo mengepel lantai.


"Iya masa harus dibiarin sih mbak, bisa dipecat Pak Ijo nantinya " saut Pak Ijo, mengubris celetukan Senja, yang radak sinting itu.


Ya, dari pada murid murid yang lain yang hanya menyemangati pekerjaannya saja, dan menyapa sekadarnya saja.


"Pak Ijo nggak kreatif sih, harusnya bapak cari murid yang telat datang terus bapak hukum tuh untuk bersihin ini semua. 'kan lumayan tuh, bisa meringankan kerja bapak" Pak Ijo manggut-manggut membenarkan ucapan Senja.


"Ya, ya ya, bener, bener, bener. Murid yang terlambat hari ini banyak banget Mbak, contohnya aja Mbak Senja sendiri" Senja tertawa mendengar ucapan Pak Ijo.


Iya, sih. Sarananya tadi sama saja menyerahkan diri tapi dia ikhlas kok membantu pria yang sudah berumur itu untuk membersikan kekacauan dari murid-murid yang tidak sadarkan diri.


"Ya, udah kalau gitu biar Senja bantu" ucap Senja merebut pel pelan yang dipegang oleh Pak Ijo


"Eh.. mbak, entar bajunya basah loh" peringat Pak Ijo.


Senja mengibaskan tangannya diudara " udah biasa kalik Pak, setiap terlambat juga kaya gini" saut Senja yang mulai mengepel.


"Ngomong-ngomong adik Mbak Senja udah bisa ngapain? " tanya Pak Ijo yang juga mengepel, dia memang tau tentang kehidupan Senja dan alasan lain yang membuat dia terlambat.


"Udah mulai merangkak, Pak. Agak lambat sih, difase ini mungkin karna tubuhnya yang gembul kali ya Pak?" Senja tertawa mengakiri ucapannya.


"Belum waktunya kalik Mbak. Eh.. ini biar Pak Ijo ganti dulu air nya yah? Mbak Senja disini aja" titah Pak Ijo yang dijawab sebuah anggukan


"Hati-hati loh pak, licin" peringkat Senja.


"Iya! Beres Mbak!" Seru Pak Ijo yang langsung hilang ditikungan.


TIN! TIN!


Suara klakson mobil itu, membuat Senja terperanjat dia menoleh kesumber suara yang berasal dari mobil berwarna hitam pekat itu. Jantung Senja berpacu begitu cepat mengenali siapa pemilik mobil tersebut. Jendela mobil diturunkan yang langsung menampilkan wajah yang amat sangat Senja rindukan.

__ADS_1


Stop Senja! Lo mau nyakitin hati anak orang!??? Rutuk Senja pada dirinya sendiri.


"PAK IJO! TOLONG PAYUNGNYA " Teriak Angan yang belum menyadari kehadiran Senja disana.


Senja menghela nafanya sejenak mengumpulkan segala keberaniannya, dia mengambil payung yang tersedia disana lalu berlari kecil ke mobil hitam pekat Angan. Yang kacanya jendelanya sudah tertutup lagi, Senja mengetuk kaca jendela itu membuat Angan menoleh kearahnya.


Seketika dia diam mematung dengan kehadiran Senja yang membawakan dia payung.


Pak Ijo kapan operasi plastik jadi Tengil? Batin Angan yang masih terdiam.


Senja kembali mengetuk kaca jendela membuat Angan langsung tersadar yang kemudian langsung membuka pintu mobilnya. Suara deru hujan langsung merayap di indera pendengarannya, begitu juga bau tanah yang basah langsung tercium olehnya.


"Ini Pak Ijo?" Tanya Angan yang membuat Senja mendelik kearahnya.


"Bukan, ini Pak Krisna" tutur Senja kesal, yang langsung menyodorkan payung tadi ia bawa.


Angan bukannya menerima payung sodoran Senja tapi malah merebut pegangan payung Senja, yang membuat mereka berdua berada dibawah satu payung yang sama.


Mata mereka beradu, sebuah pancaran kerinduan menghiasi mata mereka berdua. Senja dapat merasakan hembusan nafas teratur Angan, begitupun Angan bisa mencium bau harum tubuh Senja yang selalu melekat ditubuhnya. Mata Senja tak mengunci Angan lagi, tapi sebaliknya mata Angan lah yang menguncinya didalam.


"Kan bisa gue bukain" ucap Senja


"Males bawa sendiri" kilah Angan lagi


"Ini juga yang bawa, elo"


"Bisa kepentok gue kalau elo yang bawa, elo kan pendek" ejek Angan yang membuat Senja memincingkan matanya.


"Pendek pendek kayak gini juga gemesin, ya kan?" Ucap Senja menaik turunkan alisnya.


Mereka seperti lupa tentang perjodohan diantara mereka yang membuat mereka tak bisa bersama. Mereka malah terhanyut dalam rasa yang ada diantara mereka.


"Nggak tuh" celetuk Angan "cuma ngangenin" lanjutnya yang membuat pipi Senja memerah.


Senyum Angan melebar melihat pipi Senja merah merona. Itu seperti kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri untuk Angan, karena berhasil membuat cewek super paling tidak peka seperti Senja tersipu malu.

__ADS_1


TIN! TIN!


Suara klakson mobil itu membuat dua sejoli, sepayung, itu terperanjat kaget, dia menoleh kesumber suara. Yang kaca mobilnya langsung diturunkan dan menampilkan orang yang membuat Angan teringat dengan perjodohan dan hati yang sakit.


"Senja? Boleh minta payungnya satu?" Tanya Pak Yoga dari dalam mobil, Senja tersadar dengan payung yang berada di genggamannya cepat-cepat Senja membuka payung tadi dan berlari kecil menuju ke mobil Pak Yoga. Meninggalkan Angan yang tersenyum miris melihat pemandangan tersebut


Ribuan tetes air hujan pernah jadi saksi kebahagiaan ini terukir


Dan sekarang ribuan tetes air hujan itu,


Juga sebagai saksi tersayatnya hati ini.


Angan berbalik, dan langsung membawa payung yang seharusnya tadi dia gunakan bersama Senja. Meninggalkan dua pasangan yang harus segera Angan hindari sebelum hatinya habis tersayat-sayat.


"Terimakasih" ucap Pak Yoga tulus, Senja mengangguk dia menoleh kebelakang mencari keberadaan Angan yang ternyata sudah tidak ada ditempat. Ada raut wajah kecewa dan binggung saat Angan tidak menunggunya.


"Ayo, kamu mau diam disini terus?" Ajak Pak Yoga menyadarkan Senja.


"emang saya patung diam terus?" Celetuk Senja yang ikut sepayung dengan Pak Yoga.


"Mulai deh kamu, bikin saya naik darah" dumel Pak Yoga kesal, Senja hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan gurunya itu.


"Oh iya Senja, saya dengar Bunda kamu sudah sadar ya?" Tanya Pak Yoga membuka sebuah Topik pembicaraan.


Senyum Senja terbit, dia mengangguk membenarkan "yeah. Alhamdulillah Bunda udah sadar, dan sekarang juga udah dibawa pulang" ucap Senja bersyukur.


"Syukurlah kalau gitu. Saya jadi seneng dengernya." Ucap Pak Yoga tulus.


"Hari senin 'kan UAS. Saya harap kamu belajar yang bersungguh-sungguh. Raih nilai yang tak pernah kamu raih" ucap Pak Yoga menyemangati.


Numben nyemangatin gue, biasanya juga bikin down batin Senja heran.


"Kalau belajarnya sih tentu. Kalau soal nilai.. em ... Saya ragu" gumam Senja dengan ekspresi serius.


"Coba aja dulu"

__ADS_1


__ADS_2