
Pintu terbuka, semua orang menjadikan dia sebagai pusat perhatian. Mereka terkesiap melihat keadaan Angan dengan mata merahnya. Tanpa melontarkan salam maupun sapaan Angan langsung menuju kekamarnya, dengan langkah gontai.
Perasaan Angan benar benar sulit dijelaskan, yang jelas hatinya lelah, sakit dan terluka. Matanya benar benar panas, ingin rasanya dia menumpahkan beban didalam hatinya. Dan entah mengapa, dia tidak bisa..
Angan terduduk di pinggir ranjangnya. Matanya menerawang jauh, ingatan masih berputar tentang pembicaraannya dengan Senja. Baru membayangkan namanya, hati Angan sudah sakit. Angan tidak bisa menyalahkan Senja, juga tak bisa menyalahkan takdir.
*****
~Flashback
"Yeah," Senja mengangguk membenarkan "gue udah ada yang punya"
"Bukannya lo pernah bilang kalau lo..."
Senja mengeleng "itu dulu," jawabnya singkat
Senja menghela nafasnya sejenak "gue udah terikat dalam perjodohan.. bahkan rencananya, gue bakal segera tunangan dengannya"
Dengan siapa Senja??? Lo tau mana calon lo aja enggak! Batin Senja meronta.
Angan mematung mendengar pengakuan Senja, dan entah kenapa pembicaraan yang ia dengar tadi pagi seperti diputar dikepalanya.
"Oh.. yang katanya dijodohkan itu ya??"
"Kak Angan kapan nyusul Pak Yoga yang udah mau tunangan?"
Apa mungkin Tengil akan dijodohkan dengan Yoga? Batin Angan yang sudah berpikir yang tidak-tidak. Mungkin saja bukan? Yoga lah yang dimintai menjaga Tengil di sekolah, dan mungkin terus menjaga Tengil sampai akhir hayatnya
.
Angan mengepal tangannya kuat, menahan amarah yang sebentar lagi mengelegar.
Tidak ada yang tidak mungkin Angan, tidak ada batin Angan menyadarkan dirinya,
Angan menelan ludahnya susah payah, pahit yang ia rasakan, seperti kenyataan ini.."Selamat ya,, moga dia bisa menjaga lo, dengan baik" ucap Angan dengan nada bergetar,
Senja yang mendengar ucapan Angan barusan mematung, hatinya seperti tercubit cubit merasakan sakitnya hati Angan.
__ADS_1
Terkutuklah kau Senja, udah nyakiti anak orang batin Senja
"Jujur, gue pengen jadi salah satu alasan lo tegar, Ngil. Jadi salah satu orang yang lo sayang" aku Angan menatap mata Senja.
Lo udah jadi salah satu, diantara mereka Angker Batin Senja berteriak.
Tapi Senja tidak berani mengatakan itu semua, dia tak mau memberi harapan palsu untuk Angan. Walau Angan 'lah yang sudah membangunkan perasaan Senja yang sudah lama mati, tapi takdir mereka sudah berkata lain.
"Makasih" gumam Senja menunduk,
Angan hanya mengangguk, yang langsung menyalakan motornya, dia tidak kuat jika harus terus bersama Senja. Dia juga harus mengubur rasa sayangnya yang tak berbalas ini.
"Angker?" Panggil Senja yang membuat Angan menoleh kearahnya,
" Ana uhibbuka " ucap Senja tersenyum manis, yang langsung menyalakan motornya dan pergi lebih dulu dari Angan.
Ana uhibbuka? Batin Angan binggung
*****
Angan tersentak dengan kata kata itu, dia mencari Handphonenya dan menulis kata kata itu digoogle. Dan sedetik itu juga, Angan tertegun membaca tulisan yang tertera disana.
Genggaman Angan melemah, otaknya mencoba mencerna semua teka-teki yang tengah terjadi. Tangan Angan membekap mulutnya sendiri, terkejut dengan ringkasan yang ia pikirkan.
Ya tuhan! Jadi Tengil juga punya perasaan sama gue? Dan dia mengorbankan perasaannya? demi pertunangan yang mungkin tidak ia inginkan? Atau malah dia menginginkan hal tersebut. Mengingat siapa yang akan menjadi calon tunangannya.
Angan menelan semua kepahitan hidupnya hari ini. Dia tidak menyangka kalau Senja juga berada diposisinya, tapi bedanya Senja tahu siapa yang akan dijodohkan dengannya, berbeda dengannya yang belum tahu dengan siapa dia akan dijodohkan.
Angan tak bisa menutupi rasa kagumnya terhadap Senja, Senja yang selalu kuat, Senja yang selalu tegar dan Senja yang selalu tabah. Angan belajar banyak dari Senja, dan sampai kapan pun Angan tidak akan pernah melupakan Senja dalam kehidupannya.
Tapi dia juga tidak kuat kalau harus melihat Senja dan Yoga, yang Angan ketahui sebagai calon pasangan yang akan segera menata masa depan mereka. Hanya satu yang berada dipikiran Angan sekarang, menjauh dari dua insan tersebut.
...Koma yang ku buat ternyata lelah...
...Bukan karna aku menyerah...
...Tapi karna takdir yang menyeretku untuk pasrah...
__ADS_1
...Dan mengalah.....
*****
Yang berpikir Senja tegar, dan sekuat baja tak sepenuhnya benar. Senja sama seperti wanita lainnya, dia juga rapuh apalagi menyangkut perasaan. Seperti saat ini, Senja hanya bisa mengadu kepada bundanya yang tengah berbaring lemah.
Tangis Senja juga belum kunjung reda.
Sakit rasanya telah menyakiti hati orang yang dia cinta, orang yang tidak tahu apa apa tapi mencoba mencari tahu, dan orang yang mau berubah, demi menjadi satu alasan dia tegar.
"Bun-da... "Isak Senja yang membaringkan kepalanya didekat tangan sang bunda.
"Hiks hiks Sen-ja hiks ja-jahat bun-da.." ucap Senja sesenggukan,
"u- udah nya-kiti o-rang yang u-dah sa-yang sama Sen-jaaa..." Lanjutnya.
Gue nggak pantes buat orang sebaik Lo, Angker.. enggak.. batin Senja mengingat Angan.
Tangis Senja semakin kencang, hanya karna mengingat nama Angan dan juga kenangan dia bersama Angan. Senja ingin bersama Angan, ingin sekali.. hanya Angan yang mau menerima keadaannya, hanya Angan yang mau membantu Senja untuk berdiri dan berjuang demi masa depannya. Senja sayang dengan Angan,Senja...
Tittttt!!!!!!!!
Senja tersentak dari lamunannya, suara nyaring itu yang menyadarkan. Otak Senja tak bisa berpikir jernih, dia seperti orang linglung saat para dokter dan suster masuk kedalam ruangan.
Dyra membantu Senja untuk berdiri dan keluar dalam ruangan bunda 'nya. Senja benar benar linglung sampai dia tetap diam saja saat Dyra menghapus jejak air matanya.
"Tenang ya, Bunda kamu pasti nggak apa apa" ucap Dyra meyakinkan.
Senja tersentak dengan ucapan Dyra, kesadaran mulai menyusun diotaknya. "Bunda kenapa mbak?" Tanya Senja yang sudah tersadar.
"Bunda kamu..."
"Bunda kamu tidak papa,, hanya tadi denyut nadinya melemah. Sekarang sudah lebih baik, bahkan normal dan bagus" Jelas Zahra, dokter yang menangani bunda Senja.
Senja mengigit bibir bawahnya, apa mungkin karna dia lupa dengan janjinya? Nyawa sang Bunda hampir menghilang?
"Maafin Senja bunda" gumam Senja menatap ibunya yang masih berbaring di brankar ruamh sakit.
__ADS_1
Senja kembali masuk kedalam ruangan bundanya, dia mengusap lembut wajah sang bunda. Dan mencium pipi, dahi, dan mata sang bunda.
Senja enggan pergi dari dekat bundanya, jadilah Senja duduk lagi dikursinya tadi dan mulai mengaji untuk sang Bunda. Harap harap bukan bundanya saja yang tenang tapi juga hatinya.