
Silau, itu yang pertama Angan rasakan. Angan langsung memegang kepalanya yang terasa sakit, dia menatap kepenjuru arah, ternyata dia sudah berada dirumah.
"Kok gue ada dirumah" gumam Angan lemah,
"perasaan gue tadi habis ketemuan sama Ben"
Angan tersenyum mengingat mimpinya tadi, Senja yang tidak sengaja menciumnya.
Eist! Terus kenapa kepala gue? Angan memejamkan matanya mencoba mengingat ingat,
Senyuman langsung terbit diwajahnya yang tampan "barusan gue nggak mimpi?" Gumam Angan girang.
"Ngomong sama siapa lo?!" Celetuk Rindu yang masuk kedalam kamar Angan
"Ndu? Gue kok ada disini?" Tanya Angan memandang Kakaknya,
"Ngan? Emang kamar lo dimana?" Tanya Rindu balik bertanya.
"Ck. Maksud gue, kok gue udah ada dirumah? Bukannya tadi.."
"Pala lo kena balok, terus jatoh dari atas pager, terus ... "
"Siapa yang bawa gue pulang?" Tanya Angan berharap
"Galaksi, siapa lagi" jawab Rindu jujur yang membuat Angan menghela nafas kecewa
"Kenapa lo?" Tanya Rindu heran
"Nggak, nggak papa" saut Angan mengeleng gelengkan kepalanya
"Kaya cewek aja lo" ejek Rindu
"Dah, lah Ndu. Lo keluar, Gue mau istirahat. Jangan ganggu gue!" Usir Angan yang membuat Rindu berang tapi bagaimana lagi lawanya Sekarang tidak asik, lagi loyo..
"Okey, fine! Berhubung lo lagi loyo gue ngalah" tutur Rindu yang langsung melenggang keluar kamar Angan
"Kamfet lo!" Umpat Angan.
*****
"Gimana ya keadaan Angker sekarang?" Gumanya khawatir,
"Apa dia udah sadar" lanjutnya menghela nafas gusar
Ya Allah, semoga dia lekas sembuh ya Allah, dan Semoga dia tidak mengalami cidera yang begitu berat, Aamiin. Batin Senja berdoa.
Hari ini, Senja tidak mendapatkan pelajaran tambahan dari Angan jadi dia membantu Mbak Ola memasak untuk makan malam mereka, Mbak Ola menangkap setiap kali Senja menghela nafas gusar. Tak biasanya putri majikannya ini seperti itu,
"Non kenapa?" Tanya Mbak Ola memberanikan bertanya
"Emang kenapa Mbak?" Tanya Senja binggung
"Lo kenapa non, nggak biasanya lo kelihatan gusar kaya gini. Ada masalah?" Tanya Mbak Ola kepo,
Senja tak bisa membohongi Mbak Ola karena dia sudah kenal cukup lama.
Senja mengaruk kepalanya yang tak gatal, " emm.. gimana ya mbak, gue khawatir aja sama Angker, soalnya kepala dia itu bener bener berdarah mbak"
__ADS_1
"Ya kali non, lo ada ada aja. Masa iya ada balok kayu keras kena kepala nggak berdarah. Iya sih ada, Tapi paling paling akhirnya benjol tuh kepala" Senja hanya tersenyum kecut menangapi lelucon Mbak Ola,
Mbak Ola menghela nafanya sejenak dan menepuk bahu Senja pelan "Mending lo chat atau telpon Den Angan, biar perasaan lo lega" usul Mbak Ola yang membuat Senja berfikir sejenak.
"Emm.. ide bagus. Ya udah, gue telpon dulu dia" ucap Senja meraih handponenya dan mulai menghubungi Angan.
Sudah semenit Senja menunggu jawaban dari Angan tapi yang muncul malah suara mbak mbak operator.
Apa dia lagi istirahat ya? Mungkin.. Batin Senja mengira ngira.
*****
"Jika ini mimpi jangan bangunkan" gumam Angan menatap kelayar handphonenya, nama Tengil tertulis jelas disana, membuat senyum Angan mengembang sempurna.
Apa mungkin dia khawatir sama gue? Batin Angan menerka-nerka.
Handphonenya berhenti bergetar membuat Angan tersadar dan menyesal kalau dia sudah membuang buang waktunya.
Sialan! Kenapa nggak langsung gue angkat!!!? Grutunya yang langsung berhenti karena handponenya yang bergetar lagi, dan nama Tengil tersemat disana.
Cepat cepat Angan menerima telpon itu, dari pada kejadian tadi terulang.
"Hallo, Ker?" Ucap Senja dari seberang telepon
Ya Allah, suaranya.. Apa iya Tengil khawatir sama gue? Batin Angan yang mengigit gemas gulingnya
"Angker???" Suara Senja semakin cemas,
"woy! Angker Killer??? Masih nyambung nggak sih ini..? Oh.. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, nggak jawab salam nanti dikutuk jadi batu." Cerocos Senja kesal yang membuat Angan semakin gemas mengigit gulingnya,
Hohoho.. Akhirnya gue bisa bikin lo kesel juga, batin Angan bangga.
"Udah sadar lo?"
"Belum, gue udah tidur!" Saut Angan sekenanya
"Oh!! Jadi ini yang ngangkat telponnya nyawa Angker, ??"
"Ck. Mulai deh" grutu Angan yang bisa mendengar tawa kecil Senja,
"Btw, ngapain telpon? Kangen yakk?" Tuding Angan dengan nada menggoda
"Heeh, kangen." Saut Senja dari seberang, membuat Angan seperti melayang mendengar pengakuan Senja
"Kangen ngerjain elo! Hahahaha... "
Habis melambung, engkau yang menjatuhkan batin Angan kesal
"Tengil!!!" Gemas Angan yang masih membuat Senja terkekeh geli,
"Gue tutup loh, nih.. sambungan telpon kalau lo 'nya masih ketawa" ancam Angan yang berhasil membuat Senja terdiam..
"Baperan! Hahaha.. gue nelpon elo cuma pengen nanyain keadaan jidat lo, udah mendingan apa belom?" Tanya Senja serius
"Udah dong, kan tadi dicium elo" goda Angan yang membuat Senja diam seribu bahasa, sedangkan Angan terkekeh geli membayangkan ekspresi wajah Senja.
"Lo yang cari kesempatan" kilah Senja berusaha senetral mungkin
__ADS_1
"Ohh??? Gitu???"
"Yup. Pusing nggak tuh pala kena balok?"
"Menurut anda?"
"I don't know, gue kan nggak pernah ngerasain "
"Mau ngerasain?" Tawar Angan dengan suara jail
"Nggak usah repot-repot, lagian gue lagi diet dari barang barang kek gitu"
"Emang lo kira, balok yang buat nimpuk elo kue balok?"
"Hehehe.. nggak papa kali, ngenyangin daripada nyakitin"
"Nggak mau disakitin?"
"Nggak lah, emang gue setegar itu sampek minta rasa sakit?"
"Bukan gitu, gue cuma mau bilang gue nggak akan nyakitin kok"
"Iya iya lah, lo nggak akan nyakitin gue, emang lo penjahat?"
Masya Allah, ingin rasanya gue ajak nikah aja nih anak, biar dia tau kalau gue udah jatuh kedalam hatinya..
"Iya! Gue penjahat, gue bisa bikin orang nangis cuma gara gara bawang merah"
" Emm.. maaf pak? Bapak nyindir atau nyinyir?" Sindir Senja yang membuat Angan tertawa,
Dia masih ingat kejadian sewaktu memasak dirumah Senja, Senja itu memang suka memasak tapi dia tidak tahan dengan bawang merah, setiap dia motong atau berurusan dengan bawang merah pasti dia menangis, sudah seperti dongeng bawang putih bawang merah..
"Ehem! Kenapa lo manggil gue pak? Atau Bapak? Mau gue cium ?hah?" Ancam Angan dengan nada garang
"Oh, tidak bisa Kita kan terpisah jarak,.."
"Emang kenapa kalau terpisah jarak?" Sela Angan
"Ya nggak deket dong, Angker" geram Senja
"Makanya, jangan jauh jauh dari gue, yeah?" Pinta Angan meluncurkan kodenya
"Gue kan punya rumah, ngapain gue ngikutin lo mulu" saut Senja dari seberang,
Angan langsung menampilkan senyum terpaksanya,
Kadar ketidak pekaan sudah mencapai stadium akhir,
Angan menghela nafasnya sejenak menguatkan mentalnya dalam menghadapi Senja
"ya harus dong, dari pada lo disangka durhaka"
"Heh? Emang lo bunda?" Tanya Senja tak mengerti
Allahu akbar! Kuatkan kesabaran dan rasa sayang hambamu ini !!!
"Eh! Udah ya Ker. Gue ada tamu tuh. Istirahat gih, biar cepet sembuh. Get Well soon Angker Killer?!! Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam" gumam Angan yang langsung memutus sambungan telepon, Angan lansung mengigit gulingnya gemas harap harap teriak bahagia tidak dia lontarkan,
Pasti Tengil sayang, gue akan istirahat biar cepet sembuh dan bisa ada dideket lo lagi, walau kadar kepekaan lo udah mencapai stadium akhir, tapi perhatian lo itu udah kaya stamina isi ulang gue Batin Angan Senang,