
“Tidak, semua baik-baik saja.”
“Benarkah?? Kau yakin tidak melewatkan sesuatu??”
Kang-Joon hanya diam, dia hanya menerawang apa yang sedang terjadi.
“Tidak.”
“Bagaimana dengan ayah Yujin? Apa dia berulah lagi??”
“Tidak, bahkan sekarang ayahnya jarang sekali mabuk dan minta uang ke Yujin. Yujin bercerita bahwa sekarang ayahnya bekerja sebagai buruh angkat di sebuah agen pengiriman barang di dekat rumahnya.”
“Aku juga tidak pernah mendengar Yujin bercerita tentang ayahnya lagi. Tapi tidak ada salahnya kalau kita cek di rumahnya.”
Young-Joo mengangguk tanda setuju.
“Kang-Joon, boleh minta tolong antar kami ke rumah Yujin?”
“Hem.” Kang-Joon langsung menyetujui.
Mereka bertiga berangkat ke rumah Yujin.
Di dalam perjalanan menuju rumah Yujin, So-Hee dan Young-Joo bergantian menghubungi Yujin tapi tidak ada yang berhasil, ponselnya masih tidak bisa dihubungi.
Begitu sampai di rumah Yujin, So-Hee dan Young-Joo segera mengetuk pintu rumah Yujin dengan keras.
“Sudahlah, berhenti. Kalian tahu tidak ada orang di rumah ini kenapa terus-terusan mengetuk dengan keras. Ini sudah malam, kalian bisa didatangi warga sekitar. Lebih baik kita menunggu di dalam mobil.” Kang-Joon mencoba menenangkan So-Hee dan Young-Joo.
Akhirnya So-Hee dan Young-Joo mengekor Kang-Joon masuk ke dalam mobil.
Young-Joo melamun, dia sedang merasa bersalah, sekaligus khawatir. Young-Joo juga masih mengingat-ingat hal yang mungkin dilewatkan sampai membuat Yujin seperti ini.
Satu jam berlalu..
Yujin dan ayahnya sama-sama belum pulang ke rumah.
00:34 AM
Sudah dua jam mereka bertiga menunggu dalam sunyi, tapi masih tidak ada hasil.
“Kau boleh pulang kalau mau, aku dan Young-Joo masih akan menunggu Yujin.” So-Hee merasa tidak enak pada Kang-Joon yang dia seret untuk terlibat.
“Tidak, aku akan menemani kalian sampai selesai. Jangan khawatir.”
Senyum Kang-Joon sedikit membawa tenang di hati So-Hee yangs edang cemas.
“Young-Joo ssi? Kau tidak lapar?” Tanya Kang-Joon.
“Tidak, terimakasih.”
“Kalau begitu aku akan ke minimarket sebentar membeli minum.” Kang-Joon keluar dari mobil berjalan menuju minimarket untuk membeli minum.
Sedangkan So-Hee dan Young-Joo masih terdiam menunggu Yujin di dalam mobil hingga Kang-Joon kembali.
03:40 AM
“Oh.. itu Yujin.” So-Hee segera keluar dari mobil diikuti Young-Joo.
__ADS_1
Kang-Joon baru tersadar dari tidurnya, dia juga segera keluar untuk menyusul.
“Kang Yujin!!” So-Hee meneriaki Yujin.
Yujin terkejut melihat So-Hee, Young-Joo dan Kang-Joon berlari menghampirinya.
“Kau dari mana saja? Kenapa ponsel mu tidak aktif??” Tanya Young-Joo sambil memegang kedua bahu Yujin.
Yujin kaget dan mulai panik, namun dia hanya tertunduk tanpa melihatkan reaksi apapun.
“Kenapa kau berbohong? Kau bilang sakit, tapi nyatanya kau keluyuran memakai seragam cafe hingga jam segini?? Kemana saja kau?” So-Hee sedang dalam mode interogasi.
“Emmm..” Yujin hanya berdiri sambil memeluk tas raselnya yang dia pakai di depan menutupi perutnya.
“Sebaiknya kita duduk dulu.” Kang-Joon menggiring mereka masuk ke dalam mobil.
Yujin terlihat kalut, dia duduk id sebelah Young-Joo, dan masih memeluk ranselnya.
“Amu maldo eobseo?” (*Kau tidak mau bilang apa-apa?) Suara So-Hee mulai meninggi.
Kang-Joon menggenggam tangan So-Hee untuk menenangkannya.
“Yujin-a wae irae?” (*Yujin, kenapa kau diam saja?
“Neon jinjja amu marhae anhae??” (*Kau benar-benar tidak mau mengatakan apa-apa?) So-Hee sekuat tenaga menahan emosinya.
Yujin menahan air matanya. Young-Joo memeluk Yujin, sambil membelai rambutnya.
“Gwaenchana.” Young-Joo menenangkan Yujin.
“Sajangnim!!” Yujin marah dia berusaha merebut tasnya kembali namun gagal.
So-Hee mengeluarkan semua isi tas Yujin.
“Igae mwoya?” (*Apa ini?) So-Hee menemukan dua buah foto USG hitam putih di dalam tas Yujin.
Yujin menangis sesenggukan. Young-Joo tidak paham apa yang sedang terjadi, dia hanya memeluk Yujin yang sedang menangis.
“Kau hamil?” Tanya So-Hee.
“Apa??” Young-Joo kaget mendengar pertanyaan So-Hee.
“Apa kata dokter?” Tanya So-Hee.
“Sudah delapan.. minggu.” Yujin menjawab ditengah tangisannya.
“Kau hamil?” Tanya Young-Joo sambil menengok wajah sang kekasih.
“Hem.”
So-Hee menghela nafas panjang.
Suasana di dalam mobil seketika hening untuk beberapa saat.
“Gyeolhonhaja.” (Ayo kita menikah.)
Seketika Yujin, So-Hee dan Kang-Joon berpusat ke Young-Joo.
__ADS_1
“Hem? Apa kau bilang??” Yujin memastikan apa yang dia dengar tidak salah.
“Jangan bersedih nanti dia juga ikut sedih, aku tidak ingin menjadi ayah yang jahat.” Young-Joo mengelus perut Yujin dengan penuh kasih sayang.
Yujin menangis terharu, dia memeluk erat Young-Joo. “Maafkan aku.”
“Kenapa kau minta maaf?” Young-Joo tidak tahu kenapa Yujin meminta maaf padanya.
Kang-Joon berisyarat untuk mengajak So-Hee keuar dari mobil untuk meninggalkan Yujin dan Young-Joo berdua.
“Sejujurnya aku tidak percaya pada Young-Joo.” So-Hee memulai pembicaraan.
“Kau percaya pada Yujin?”
“Hem.. sejujurnya tidak juga, tapi aku masih lebih bisa percaya Yujin dari pada Young-Joo. Hah.. entahlah.” So-Hee kedinginan beberapa kali dia menggosok-gosok kedua telapak tangan untuk menghangatkan.
Kang-Joon mencopot mantel bludrunya lalu memakaikan ke So-Hee.
“Aku tidak apa-apa.” So-Hee merasa tidak enak pada Kang-Joon, karena udara memang sangat dingin, Kang-Joon pasti juga merasa dingin.
“Pakai saja.”
“Gomawo.”
“Kita tidak boleh ikut campur urusan mereka, biar saja mereka selesaikan berdua.” Kang-Joon.
“Tapi aku tidak bisa diam saja, janin yang ada di dalam rahim Yujin tidak bersalah, dia hadir karena kehendak Tuhan, dan aku tidak bisa membiarkan dia dibunuh oleh ego kedua orang tuanya.” So-Hee memang sangat sensitif untuk hal-hal seperti ini.
“Bukankah sikap mu ini bertolak belakang dengan prinsip hidupmu?” Tanya Kang-Joon.
“Maksudmu sikapku tidak sejalan dengan prinsipku yang tidak ingin menikah?”
"Iya, tapi diluar dari itu aku mohon kau tidak ikut campur urusan mereka.”
So-Hee menarik nafas dalam, dia memncoba menenangkan dirinya sendiri.
“Oke, kita lihat saja bagaimana akhirnya.” So-Hee berjalan.
Kang-Joon menarik tangan So-Hee.
“Mau kemana kau? Ini sudah malam, bahaya pergi sendiri.”
“Aku mau pulang, kepalaku rasanya hampir pecah.” So-Hee berulang kali memijat kepalanya yang terasa pusing.
Kang-Joon menggandeng So-Hee lalu mengajaknya berjalan, So-Hee pasrah, dia menurut namun keduanya tidak saling bicara.
“Taksi.” Kang-Joon menghentikan taksi yang baru saja melintas.
“Ayo kita pulang.” Kang-Joon mengajak So-Hee masuk ke taksi.
“Kau disini saja, aku bisa pulang sendiri. Lagi pula mobilmu masih disini.” So-Hee sudah masuk ke dalam taksi.
“Tidak, aku ikut denganmu.” Kang-Joon masuk ke dalam taksi lalu duduk disebelah So-Hee.
Selama perjalanan So-Hee hanya melamun memandang keluar jendela, Kang-Joon pun sama. Mereka tidak saling berbicara.
Bersambung...
__ADS_1