Why Should Get MARRIED?!

Why Should Get MARRIED?!
Chapter. 32


__ADS_3

Kang-Joon sudah siap dengan semua peralatan campingnya. Senyum merekah sejak bangun tidur, akhirnya hari yang dinanti tiba.


Kang-Joon berangkat menjemput So-Hee di rumahnya.


"Good morning." Sapa Kang-Joon.


"Hmm.. morning." Sapa So-Hee sedikit tidak bersemangat.


"Emm.. kenapa? Ada sesuatu?" Kang-Joon menyadari ada sesuatu pada So-Hee.


"Emm.. ada kendala di cafe. Tapi tidak apa, ayo kita jalan." So-Hee menggandeng Kang-Joon.


Ddrt.. ddrt.. ddrt..


Ponsel So-Hee berdering.


"Maaf Kang-Joon aku jawab telepon dulu."


Kang-Joon mempersilahkan So-Hee mengangkat telepon. Kang-Joon memilih untuk menunggu di dalam mobil.


"Sepertinya masalah yang rumit." Kang-Joon mengamati So-Hee yang sedang menelpon, tampak wajah serius dan percakapan yang cukup lama.


Akhirnya So-Hee selesai, dia mengetuk kaca mobil Kang-Joon dua kali.


Kang-Joon menurunkan kaca mobil.


"Kang-Joon maaf, sepertinya aku tidak bisa pergi bersamamu. Masalahnya belum terpecahkan." Wajah So-Hee tampak ragu untuk mengatakannya.


"Ada masalah apa?" 


"Karyawan baru salah memasukan jumlah stok merchandise. Dia memasukan 10.000 item free merchandise padahal seharusnya hanya 1.000. Order yang masuk sudah 3.000 lebih dan sudah siap kirim. Aku meminta vendor untuk menyediakan 2.500 merchandise tapi mereka hanya bisa memenuhi 1.800 saja. Jadi aku harus memburu merchandise serupa 700, dan harus selesai hari ini." So-Hee tampak sangat gelisah.


"Memangnya karyawanmu tidak bisa menghandle urusan ini?" Kang-Joon kecewa So-Hee lebih memilih pekerjaannya daripada dirinya.


"Aku tidak boleh lepas tanggung jawab begitu saja. Aku ini bos mereka." So-Hee tersulut emosi, pikirannya sedang runyam tapi Kang-Joon malah bereaksi tidak enak seperti itu.


“Lalu kau mau membatalkan rencana kita??”

__ADS_1


“Maaf Song Kang-Joon aku harus ke cafe sekarang juga.” So-Hee pergi begitu saja, tak lama dia memberhentikan taksi.


BRAK!


TIIIIIIIIIIIIN..


Kang-Joon menekan klakson kencang untuk meluapkan emosinya. Ia pergi dari tempat itu, pergi ke tempat tujuan awal tanpa So-Hee.


Hari itu So-Hee tidak menghubungi Kang-Joon sama sekali, alasannya bukan hanya karena dia sibuk tapi dia juga merasa kecewa pada sikap Kang-Joon yang menurutnya tidak dewasa.


Sedangkan Kang-Joon juga tidak berniat menghubungi So-Hee karena menurutnya dia tidak bersalah, So-Hee yang bersalah jadi dia sebagai orang yang tidak perlu menghubungi dulu.


Kang-Joon menikmati kopi instan seduh di depan tenda sambil memandang matahari yang perlahan tenggelam.


Drrrt.. drrrt..


Ponselnya berdering, Kang-Joon cepat-cepat masuk ke dalam tenda.


“Hahh..” Bukan dari orang yang dia inginkan.


“Ada apa Young-Joo?” 


“Hmm.. iya, baik-baik saja kok.” Kang-Joon kembali menyeruput kopinya.


“Emm.. ada yang datang ke studio dan ingin bicara dengan hyeong.” Kata Young-Joo sedikit tidak yakin.


“Hmm?? Siapa?”


“Aku ingin membicarakan kerjasama.” Suara Seul-Gi terdengar dari speaker ponsel Kang-Joon.


“Oh.. ya sudah datang saja kesini kalau urgent.”


“Oke, kirimkan alamatnya.”


“Hmm..” Kang-Joon menutup pembicaraan lalu mengirim alamat ke Seul-Gi.


Tidak butuh waktu lama Seul-Gi datang.

__ADS_1


“Hai.. boleh ikut melamun?” Sapa Seul-Gi saat akhirnya bertemu dengan Kang-Joon.


“Kau sudah datang rupanya, cepat juga.” Kang-Joon mempersilahkan Seul-Gi duduk di kursi lipat berwarna pink yang dia beli khusus untuk So-Hee tapi sia-sia.


“Imut sekali kursi ini.” Seul-Gi tampaknya tahu soal kursi itu.


“Mau kopi?” Kang-Joon tidak ingin menanggapi Seul-Gi soal kursi.


“Boleh.” 


Kang-Joon menyeduh kopi instan untuk Seul-Gi.


“Kau mau bermalam disini? Sendiri?” Tanya Seul-Gi sambil mengedarkan pandangan di sekitar. Kawasan camping ini memang ramai, tapi tenda Kang-Joon sepi.


“Hmm.. jangan harap aku akan mengajakmu menemaniku.” Kang-Joon memberikan secangkir kopi seduh untuk Seul-Gi.


Seul-Gi tersenyum, “Padahal itu yang aku inginkan.”


Kang-Joon menengok, menatap wajah Seul-Gi.


“Apa yang mau kau bahas denganku?”


“Tadinya aku mau membahas soal rencana pameran berikutnya tapi sepertinya tempat ini tidak cocok untuk membahas itu.”


“Lalu kenapa kau kesini?”


Seul-Gi terdiam sesaat,


“Karena sepertinya kau butuh ditemani, aku datang untuk urusan pekerjaan tapi ternyata kau sedang tidak ingin membahas pekerjaan bukan?” Seul-Gi masih sangat tahu bagaimana isi pikiran Kang-Joon hanya dengan membaca raut wajahnya saja.


Kang-Joon menghembuskan nafas kasar.


“Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dia terlalu mencintai pekerjaannya. Tapi itu wajar, karena merintis dari awal dengan segala upaya dan pengorbanan. Aku harap dia bisa sedikit beristirahat dan aku harap menjadi teman beristirahatnya. Tapi aku salah, pekerjaan, karir dan usahanya adalah nomor satu.” Kang-Joon mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


“Anggap saja aku pohon, aku tidak akan menanggapi apapun. Keluarkan saja semua hingga hatimu merasa lega.” Seul-Gi menyeruput kopinya.


Malam itu Kang-Joon menceritakan apa yang dia rasakan, apa yang diharapkan dan apa yang dia inginkan dari So-Hee, namun bukan kepada So-Hee langsung dia bercerita melainkan kepada Seul-Gi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2