
Hari ini adalah hari pernikahan Yujin dan Young-Joo. Pesta resepsi di selenggarakan di cafe The S3. Sekitar pukul sebelas siang resepsi dimulai.
“Lihat mereka terlihat sangat bahagia.” Kang-Joon meneguk wine putih.
“Jelas saja, menikah dengan Young-Joo adalah impian Yujin. Aku benar-benar merasa seperti seorang ibu yang menikahkan anaknya.” So-Hee terharu hingga beberapa kali meneteskan air mata.
Kang-Joon menepuk bahu So-Hee.
“Ehmm..” Seung-Yoon mendekat.
“Aa.. sunbae ini adalah Song Kang-Joon seniman yang menempati studio di lantai dua gedung ini. Dan ini adalah seniorku Ji Seung-Yoon.” So-Hee mengenalkan secara resmi Kang-Joon dan Seung-Yoon.
Kang-Joon dan Seung-Yoon bersalaman namun suasananya canggung.
“Emm.. So-Hee ada yang ingin aku bahas denganmu sebentar sebelum aku kembali ke kantor.” Wajah Seung-Yoon berubah serius, tidak ada senyum di bibirnya.
“Oh.. baiklah, aku ke ruanganku dulu.” So-Hee pamit pada Kang-Joon.
So-Hee dan Seung-Yoon masuk ke ruang kerja So-Hee.
“Aku tidak akan basa-basi So-Hee. Apa kau dan seniman itu berpacaran?” Seung-Yoon benar-benar tidak pakai intro.
So-Hee menggigit bibir bawahnya, dia terlihat ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Seung-Yoon.
“Iya sunbaenim.” So-Hee tertunduk.
“Selamat Jang So-Hee akhirnya kau berhasil membuka hatimu, meski sebenarnya aku kecewa. Aku masih berharap akulah orangnya, tapi ya sudah kau sudah menetapkan hatimu. Aku ikut bahagia, jika seniman ibu melukaimu katakan padaku, akan ku beri pelajaran dia.”
So-Hee tersenyum.
“Maaf sunbaenim.”
“Kau tidak salah, kita tidak bisa mengendalikan hati. Emm.. mungkin mulai bulan depan hingga tiga atau empat bulan kedepan kau akan susah dihubungi, jadi mengenai proyek barumu aku percaya seratus persen.”
“Kau mau pergi jauh?” So-Hee merasa sedih.
“Hmm.. aku mau berlibur, aku tidak ingin bekerja selama liburan ini. Aku akan pergi kemana aku mau, bertemu orang-orang baru dan suasana baru. Aku sudah merencanakannya lama, sebenarnya aku ingin pergi tahun depan tapi sepertinya akan lebih baik jika aku segera merealisasikannya.”
“Hmm.. kau sudah lama bekerja, kau pantas mendapatkan cuti sunbae.”
“Hmm.. aku harap aku akan dapat pacar juga saat kembali ke Seoul. Aku pergi dulu.” Seung-Yoon meninggalkan ruangan So-Hee.
So-Hee memijat ujung dahinya pelan, kepalanya tiba-tiba terasa berat.
__ADS_1
“Apa dia begitu karena aku?” So-He duduk termenung.
Tok.. tok..
Kang-Joon masuk ke ruangan So-Hee.
“Ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu antara kau dan senior mu itu? Tadi aku lihat wajahnya benar-benar tidak baik, dia bahkan pergi tanpa berpamitan dengan pengantin.” Kang-Joon duduk di hadapan So-Hee.
“Aku mengaku sudah berpacaran denganmu, lalu dia bilang kecewa. Dia masih berharap dialah yang akan aku pilih saat aku membuka hati.” Pandangan So-Hee kosong menerawang.
“Seharusnya dia tidak seperti itu, hubungan kalian tidak akan sama lagi setelah ini. Kau pasti akan merasa canggung.”
“Hmm.. aku rasa begitu.”
“Kalau begitu kembalikan modal yang ditanam, aku akan menggantikannya.”
So-Hee melirik tidak paham ke Kang-Joon.
“Aku akan menggantikan posisinya sebagai penanam modal di cafemu.”
“Seenaknya saja main memutus kerjasama, aku harus membayar penalti juga kau begitu caranya.”
“Aku akan membayarnya.”
So-Hee tersenyum. “Jadi begini rasanya punya pacar kaya raya.”
“Hmm.. tidak perlu, sunbae akan berlibur tiga atau empat bulan. Aku yakin dia akan kembali seperti biasa lagi.” So-Hee berdiri, dia merapikan rambutnya.
Kang-Joon memeluk So-Hee dari belakang.
“Aku mencintaimu Jang So-Hee.” Kang-Joon mengucapkannya tepat di sebelah telinga So-Hee.
Bulu kuduk So-Hee berdiri, dia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu dari seseorang.
So-Hee membalikan badan lalu mencium bibir Kang-Joon. Untuk beberapa waktu So-Hee dan Kang-Joon menikmati ciuman mereka.
So-Hee tersenyum.
“Lipstik ku menempel semua di bibirmu.” So-Hee membersihkan lipstiknya yang menempel di bibir Kang-Joon.
‘Dia tidak membalasnya, sepertinya So-Hee memang masih meragukan cintaku.’ Batin Kang-Joon.
...----------------...
__ADS_1
Keesokan harinya.
Kang-Joon sedang olahraga di apartemennya.
Ding.. Dong..
“Siapa pagi-pagi begini datang?” Kang-Joon membuka pintu.
“Seul-Gi? Kenapa kau datang kesini? Sepagi ini??”
“Emm.. ada yang harus kita bahas, mengenai pameran.”
“Kau sendiri kan yang bilang kita harus profesional karena kita adalah partner kerja Tapi lihat sikapmu sekarang, kau seenaknya datang ke apartemenku tanpa membuat janji terlebih dahulu.”
“Kang-Joon maafkan aku, sebentar saja aku mohon.” Seul-Gi memeluk Kang-Joon.
Kang-Joon terkejut.
“Ada seseorang yang sedang memata-mataiku. Arah jam sepuluh darimu.” Bisik Seul-Gi.
Kang-Joon melirik ke arah yang Seul-Gi maksud, ternyata benar ada seorang lelaki yang sekilas memakai baju hitam, begitu Kang-Joon melirik orang itu cepat-cepat pergi.
Kang-Joon melepaskan diri dari pelukan Seul-Gi.
“Sudah pergi.”
“Syukurlah, maaf Kang-Joon tadi saat aku sedang dijalan menuju kantor aku merasa ada satu mobil yang sejak lama mengikutiku, lalu aku ingat jalan yang aku lewati tidak jauh dari sini, jadi aku kesini. Maaf.”
“Apa kau punya musuh?”
“Aku rasa itu adalah orang suruhan mantan suamiku.”
Kang-Joon mengerutkan dahi. “Mantan suami??”
“Hmm.. enam bulan lalu akhirnya pengadilan mengetuk palu perceraianku.” Seul-Gi memandang Kang-Joon.
“Hahhh..” Kang-Joon menghembuskan nafas kasar, dia kaget dan merasa simpati pada Seul-Gi, tapi dia tidak tahu harus bersikap bagaimana.
“Kalau begitu aku pergi dulu, terimakasih.” Seul-Gi pamit.
“Lee Seul-Gi.. jika kau butuh teman untuk bercerita aku bisa menjadi temanmu lagi.” KAng-Joon merasa kasihan pada Seul-Gi.
“Gomawo.” Seul-Gi pergi.
__ADS_1
“Apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Bersambung...