
Dua setengah jam berlalu, akhirnya pertemuan para seniman dengan promotor pameran berakhir.
“Senang bekerjasama dengan anda.” Seul-Gi bersalaman dengan para seniman.
Kang-Joon hanya menatap Seul-Gi dari kursinya, dia masih belum bergerak. Sekarang semua orang sudah pulang, tinggal Seul-Gi dan Kang-Joon di ruangan itu.
“Jadi ini yang kau maksud?” Tanya Kang-Joon dengan nada serius.
Seul-Gi tersenyum. “Kau menjadi orang yang sangat dingin sekarang. Kalimat itu yang keluar padahal kita sudah lama tidak bertemu. Kau bahkan tidak menanyakan bagaimana kabarku, bagaimana bisa aku ada disini? Kau tidak penasaran?” Seul-Gi berdiri di sebela Kang-Joon, dia menyandarkan badannya pada ujung meja lalu menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Aku tidak ingin tahu.” Kang-Joon berkemas bersiap untuk meninggalkan ruangan itu, namun Seul-Gi menahannya, dia menarik tangan Kang-Joon.
“Aku tidak melanggar janji kita saat putus, aku menghubungimu bukan karena urusan pribadi, aku menghubungimu karena urusan bisnis. Sekarang kita partner dalam berbisnis jadi aku harap kedepannya kita bisa saling menyapa.” Seul-Gi masih memegang tangan Kang-Joon.
“Hmm.. kita akan bekerjasama dengan profesional, jadi tolong lepaskan tanganmu dari tanganku nona Seul-Gi.” Kang-Joon menarik paksa tangannya, lalu pergi meninggalkan ruang itu.
“Dia masih marah padaku? Apa itu artinya dia masih menginginkanku?” Seul-Gi menggumam sendiri.
Lee Seul-Gi, tiga puluh enam tahun. Gadis blasteran Korea dan Belanda itu adalah mantan kekasih Kang-Joon. Mereka adalah teman kuliah, mereka menjalin hubungan selama lima tahun, namun mereka putus karena Seul-Gi memilih untuk menikah dengan seorang anak pemilik sebuah galeri seni terkenal di Belanda.
...----------------...
Kang-Joon membawa mobilnya melaju kencang. Dia harus pergi ke pelabuhan untuk mengurus bahan untuk karya seninya yang dia import dari Jerman.
Di dalam mobil pikiran Kang-Joon kacau, secara otomatis otaknya memutar kenangan-kenangan indah maupun buruk bersama Seul-Gi. Bergantian dengan wajah So-Hee yang muncul berikutnya, kedua wanita ini berputar-putar di dalam otaknya.
“Hasssh..” Kang-Joo memutar balik mobilnya e tempat pertemuan, dia mengendarai mobil dengan kecepatan maksimal yang diperbolehkan hukum untuk menemui Seul-Gi.
Seul-Gi terkejut melihat mobil Kang-Joon berhenti di sebelah mobilnya.
Kang-Joon keluar mobil lalu mendekat ke Seul-Gi.
__ADS_1
Seul-Gi memandang heran, wajah Kang-Joon tampak marah namun dia tidak hanya diam.
“Katakan sesuatu, aku tidak dapat membaca otakmu.” Kata Seul-Gi.
“Aku belum sempat memaki-makimu, hari dimana kau memutuskan hubungan kita adalah hari dimana kau bertunangan dengan lelaki itu. Lalu dua minggu kemudian kau menikah. Duniaku runtuh, setengah mati aku mencoba melupakanmu, tapi sekarang kau dengan sangat berani muncul begitu saja dihadapanku??”
Mata Seul-Gi berkaca-kaca.
“Kau adalah wanita, ah.. tidak.. kau adalah manusia yang paling jahat di dunia ini. Aku sudah memiliki kekasih jadi aku harap kau bisa menjaga batasan dengan baik, batasan partner kerja. Senang bekerja sama denganmu nona Lee Seul-Gi.” Kang-Joon tersenyum licik, dia memberi hormat lalu pergi.
Kang-Joon sengaja bersikap seperti itu.
...----------------...
Setelah seharian mengurus pekerjaan Kang-Joon menemui So-Hee saat cafe sudah tutup.
Kang-Joon memandang So-Hee dari luar sejak baru dia masuk ke cafe.
Kang-Joon sedikit terkejut So-Hee bisa bersikap semanis ini.
“Aku merindukanmu.” Kata So-Hee sambil memeluk erat Kang-Joon.
Kang-Joon mengelus rambut So-Hee perlahan.
“Aku suka Jang So-Hee yang seperti ini.” Lalu mengecup bibir So-Hee.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Tanya So-Hee
‘Sepertinya waktunya tidak tepat jika aku menceritakan tentang Seul-Gi.’ Dalam hati Kang-Joon.
“Kenapa kau diam saja?” Tany So-Hee.
__ADS_1
“Oh.. iya semua berjalan sesuai rencana.” Jawab Kang-Joon.
“Syukurlah.” So-Hee dan Kang-Joon berjalan menuju kursi.
“Aku akan membereskan ini semua lalu kita pergi ke taman lampion, kata Yujin tempat itu sangat cocok untuk kencan.” So-Hee tampak begitu semangat.
“Kencan?”
“Iya, tidak perlu meluangkan waktu satu hari kita bisa kencan saat malam hari setelah bekerja, begitu aku mengatur urusan bisnis dan kencan kita. Bagaimana? Kau setuju?”
Kang-Joon tersenyum, baginya saat ini So-Hee terlihat begitu menggemaskan.
“Setuju.”
“Oke!! Mulai hari ini serahkan padaku untuk tempat-tempat kencan kita, aku sudah membuat daftarnya.” So-Hee menunjukan catatannya pada Kang-Joon.
Kang-Joon tersenyum, So-Hee versi kasmaran sangatlah berbeda dari So-Hee versi biasa.
Kang-Joon mengangguk.
“Mari lakukan apapun yang kau mau Jang So-Hee.” Kang-Joon menarik dan So-Hee lalu dengan sigap menciumnya, awalnya hanya ciuman biasa namun menjadi keterusan.
‘Sial.. Apa yang harus aku lakukan setelah ini?’ So-Hee menikmati ciuman mereka namun kekhawatiran akan dirinya yang masih amatrir dalam kencan muncul begitu saja.
Kang-Joon menarik badannya.
"Ayo kita ke tempat yang kau maksud."
'D*mn apa yang aku pikirkan? Dasar So-Hee mesum!!' Dalam hati So-Hee.
"Hmm.. Ayo." Mereka pergi ke taman lampion.
__ADS_1
Bersambung...