
So-Hee dan Yujin datang ke pameran pukul dua siang.
"Maaf baru datang, selamat Kang-Joon. Kau hebat." So-Hee memberikan satu buket bunga.
"Terima Kasih."
"Kang-Joon!" Kebetulan sekali Ji-Hye datang.
Ji-Hye memeluk sang anak erat.
"Terima Kasih ibu sudah menyempatkan datang." Kata Kang-Joon.
"Tentu saja, sebenarnya ibu berencana datang saat pembukaan tadi, tapi entah mengapa ibu malas mandi. Ternyata memang ditakdirkan bertemu So-Hee." Ji-Hye mengelus rambut So-Hee.
Pipi So-Hee memerah.
"Kang-Joon ayo makan bersama. Kalian pasti lapar kan?" Tanya Ji-Hye.
"Baiklah, ayo kita ajak Young-Joo dan Yujin." Kang-Joon menyetujui ajakan sang ibu.
So-Hee hanya menurut saja.
Dari jauh Seul-Gi memlerhatikan, "Syukurlah ibunya masih sehat dan cantik."
__ADS_1
–
Kelima orang itu makan di kedai masakan klasik Korea tidak jauh dari tempat pameran.
"Senangnya melihat pasangan muda. Yujin pasti senang punya suami yang bertanggung jawab seperti Young-Joo." Kata Ji-Hye.
"Saya senang karena bisa tinggal bersama Young-Joo. Saya senang setiap tidur bisa mencium baunya." Jawab Yujin sambil tersipu.
"Aigooo.. manisnya, Young-Joo kamu seharusnya merasa bahagia punya istri semanis Yujin." Kata Ji-Hye.
"Saya bahagia sekali." Young-Joo menjawab sambil terpsipu.
"Jadi kalian kpaan akan menyusul Yujin dan Young-Joo?" Ji-Hye menatap Kang-Joon dan So-Hee yang sejak tadi diam saja.
"Kenapa memangnya? Apa ibu salah menanyakan hal itu pada kalian? Di umur kalian ini tentu saja menjalin hubungan pasti memiliki tujuan menikah kan?" Ji-Hye menatap So-Hee.
So-Hee menunduk tidak berani melihat Ji-Hye.
Pelayan datang membawa makanan pesanan mereka.
"Ayo.. ayo.. lekas dimakan keburu dingin." Ajak Ji-Hye.
Lalu semuanya menikmati makanan, namun So-Hee merasa hilang selera akibat omongan ibu Kang-Joon.
__ADS_1
Dia ingat tadi pagi di cafe dua orang teman kuliahnya datang. Salah satunya bersama anaknya, mereka berdua sudah menikah lalu bertanya kapan So-Hee akan menikah. So-Hee bisa menjawab dengan tegas bahwa dia tidak butuh ikatan seperti itu, dia bisa bahagia bahkan tanpa menikah dan dia juga bilang untuk tidak mencampuri urusan orang lain.
Namun, So-Hee tidak bisa menjawab seperti itu pada ibu Kang-Joon.
'Sepertinya ibu Kang-Joon menginginkan dia menikah. Hmm.. sebenarnya kedengaran bagus karena dia tidak menentang hubungan kami, tapi…. kenapa orang-orang selalu menghubungkan cinta dengan menikah? Memang sepenting itu kah menikah?' So-Hee sibuk di dalam pikirannya sendiri.
Selesai makan Ji-Hye langsung pamit, sedangkan yang lainnya kembali ke tempat pameran.
"Emm.. maafkan ibuku. Aku harap kau tidak tersinggung." Kata Kang-Joon sambil menggenggam tangan So-Hee.
"Tidak, ada benarnya juga apa yang ibumu katakan. Tapi aku juga punya pendirian sendiri." Kata So-Hee.
"Hmm.. aku tahu itu. Aku tidak keberatan, aku akan terus menunggumu sampai kau siap."
So-Hee menghentikan langkahnya.
"Kau juga berharap aku mengubah pendirianku?" Tanya So-Hee sambil menatap mata Kang-Joon dengan tatapan serius.
"Emm.. sejujurnya iya, tapi kau jangan terbebani, kita lalui saja seadanya, aku sudah senang dengan perkembangan hubungan kita." Kang-Joon membelai rambut So-Hee.
"Jangan terlalu berharap padaku soal itu Song Kang-Joon. Aku harap kau bisa menghargai pendirianku." So-Hee melepas genggaman tangan Kang-Joon.
" Maaf Kang-Joon sepertinya aku harus pulang." Mood So-Hee benar-benar hancur, dia berharap kekasihnya mendukung pilihannya, nyatanya Kang-Joon tetap ingin menikah.
__ADS_1