Why Should Get MARRIED?!

Why Should Get MARRIED?!
Chapter. 23


__ADS_3

So-Hee dan Kang-Joon berkencan di taman pelangi, mereka menikamti waktu bersama.


Menikmati saat-saat kasmaran.


"Emm.. ayo foto berdua, kita belum punya foto kita berdua." So-Hee menarik tangan Kang-Joon ke sebuah lampion besar berbentuk hati berwarna ungu.


Kang-Joon mengambil ponsel So-Hee, mereka berdua berfoto dengan berbagai macam pose, imut, manis, mesra.


So-Hee mengganti wallpaper ponselnya dengan salah satu foto mereka berdua.


"Katanya orang yang berkencan memakai foto bersama untuk wallpaper ponsel mereka." So-Hee menunjukan ponselnya ke Kang-Joon.


"Kirimkan foto-fotonya, aku juga mau mengganti wallpaper ponselku." Kata Kang-Joon.


So-Hee mengirim semua hasil foto mereka, lalu saat Kang-Joon baru memilih-milih foto sang ibu menelepon.


“Ada apa ibu?” Tanya Kang-Joon.


“Kau sudah melupakan ibumu yang sudah tua ini ya?” Suaranya serak.


“Ibu sakit?”


“Tidak hanya terlalu lelah.”


“Aku akan kesana setelah ini.”


“Setelah apa?”


Kang-Joon melirik So-Hee, So-Hee memberi isyarat tidak masalah jika Kang-Joon mau pulang.

__ADS_1


“Iya, sebentar lagi. Tunggu aku ya bu, bye.” Kang-Joon menutup teleponnya.


“Ayo pulang.” Ajak So-Hee.


Kang-Joon menggandeng tangan So-Hee, mereka berjalan ke parkiran, lalu pulang.


Kang-Joon mengantar So-Hee pulang.


“Maaf ya sekali lagi karena ibuku yang selalu manja padaku kencan kita jadi berakhir dengan cepat.” Kang-Joon merasa tidak enak pada So-Hee.


“Tidak apa, lagi pula tujuan utamaku sudah terpenuhi, hihi.”


“Tujuan utama?”


“Iya aku ingin foto berdua di tempat yang indah bersamamu.”


Kang-Joon tersenyum, manis sekali sikap So-Hee padanya sekaran.


So-Hee berpikir sejenak, dia menginginkannya tapi bagaimana dengan pekerjaannya??


“Kau punya banyak karyawan yang handal, ditinggal sebentar tidak akan membuat cafemu jadi berantakan.” Kang-Joon memegang kedua pipi So-Hee.


“Baiklah kalau begitu, besok kita rencanakan dulu. Karena masih banyak hal yang ingin aku lakukan denganmu.”


“Apapun akan aku  lakukan untukmu.” Kang-Joon mengecup bibir So-Hee dengan lembut.


“Sudah pulang sana, kasihan ibumu menunggu lama. Aku masuk dulu, sampai bertemu besok.” So-Hee berjalan menuju rumahnya.


“Besok pagi aku akan menjemputmu.”

__ADS_1


“Hmmm..”


Kang-Joon masuk ke mobil lalu melaju menuju rumah ibunya.


“Akhirnya anak semata wayangku datang juga. Kau ini sudah punya pacar lalu melupakan ibu, hih.” Ibu Kang-Joon menepuk tangan anaknya.


“Tidak dong.” Kang-Joon memeluk ibunya erat.


“Kau tampak begitu bahagia. Jadi benar kau berpacaran dengan So-Hee pemilik cafe itu?”


“Emm.. iya begitulah.”


“Kalau begitu bawa dia kesini, ibu kan memasakan makanan yang enak.”


“Emm.. tidak perlu terburu-buru bu, kami baru saja berpacaran, aku takut So-Hee akan merasa terbebani.”


“Jadi maksudmu ibumu ini adalah beban??”


“Tidak ibu, bukan begitu. Aku janji setelah pameran aku akan membawanya kesini, oke?”


“Hah.. ya sudah kalau begitu ibu tidak akan datang ke pameranmu.” Pura-pura merajuk.


“Yang benar bu? Yakin ibu tidak akan datang? Bukannya ibu sudah bangga memberitahu semua teman ibu tentang pameranku?” Kang-Joon duduk disebelah ibunya.


“Pijati punggung ibu, rasanya punggungku seperti menggendong bayi, berat sekali.”


“Makanya ibu jagan kebanyakan pergi.”


Kang-Joon dan ibunya memang sangat dekat saktu sama lain, karena bagi Kang-Joon satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat hanya sang ibu. Dan bagi sang ibu kebahagiaan anaknya adalah bahagianya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2